Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam di Tengah Malam dan Hati yang Membatu
Malam itu, suhu udara di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya setelah hujan rintik-rintik mengguyur sejak sore. Di dalam rumah mungil yang terhimpit bangunan beton, suasana sunyi mencekam. Namun, di kamar kecil berukuran dua kali tiga meter, Syifa mengerang pelan. Tubuh mungilnya meringkuk di bawah selimut tipis yang sudah mulai kasar kainnya. Bibirnya pucat, dan nafasnya terdengar berat serta panas.
Hilman, yang baru saja hendak memejamkan mata di kursi kayu ruang tamu, segera terjaga saat mendengar suara rintihan itu. Dengan langkah seribu, ia menghampiri putrinya. Begitu tangannya menyentuh kening Syifa, ia tersentak. Panasnya luar biasa, seolah-olah kulit anak itu sedang terbakar api yang tak terlihat.
"Syifa... Sayang, bangun," bisik Hilman cemas.
Syifa membuka matanya sedikit, namun sorot matanya sayu dan tidak fokus. "Ayah... dingin... kepala Syifa sakit sekali..."
Tanpa pikir panjang, Hilman segera berlari ke kamar utama. Ia mengetuk pintu dengan terburu-buru. "Andini! Dek! Bangun, Dek! Syifa badannya panas sekali, kita harus bawa dia ke dokter sekarang!"
Tidak ada jawaban dari dalam. Hilman mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Andini! Tolong buka pintunya!"
Setelah ketukan kelima, terdengar suara gerendel pintu digeser dengan malas. Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Andini yang tertutup masker wajah berwarna putih keperakan. Rambutnya dibungkus hair net, dan aroma parfum mawar yang mahal langsung menusuk hidung Hilman—sangat kontras dengan bau minyak kayu putih yang baru saja ia oleskan ke tubuh Syifa.
"Berisik banget sih, Mas! Ini jam berapa? Aku baru saja pulang dari salon jam sembilan tadi, maskernya baru menempel sepuluh menit!" bentak Andini dengan suara yang tertahan karena masker yang mengeras di wajahnya.
"Maaf, Dek, tapi ini darurat. Syifa demam tinggi, dia menggigil. Kita harus ke rumah sakit sekarang, Mas takut dia kena tipes atau demam berdarah," ucap Hilman, suaranya bergetar karena panik.
Andini memutar bola matanya, ekspresinya sangat dingin. "Paling cuma masuk angin biasa. Kasih obat penurun panas yang ada di kotak obat saja, nggak usah lebay sampai ke rumah sakit malam-malam begini. Aku nggak bisa keluar rumah sekarang."
"Kenapa nggak bisa? Ini anak kita, Andini!"
"Mas, dengar ya. Aku baru saja selesai treatment pengencangan kulit dan masker kolagen. Kata terapisnya, aku nggak boleh terkena udara malam atau polusi selama dua belas jam supaya hasilnya maksimal. Biayanya mahal, Mas! Kalau aku keluar sekarang dan mukaku jadi iritasi, Mas mau ganti rugi jutaan rupiah?" Andini berkacak pinggang, menatap suaminya dengan penuh kejengkelan.
Hilman tertegun. Ia menatap istrinya seolah-olah wanita itu adalah orang asing yang tak punya hati. "Jadi, kulit wajahmu lebih penting daripada nyawa anakmu sendiri?"
"Jangan mulai deh pakai kata-kata dramatis begitu. Syifa itu kuat, dia mirip kamu kan? Kulit badak. Sana, urus sendiri kalau memang Mas merasa perlu ke dokter. Jangan ganggu aku lagi, aku mau tidur!" Brak! Pintu dibanting tepat di depan hidung Hilman.
Hilman berdiri terpaku. Dadanya terasa sesak, lebih sesak daripada saat ia memanggul berkarung-karung biji plastik di pabrik. Air mata kemarahan hampir tumpah, namun ia segera menghapusnya. Syifa membutuhkannya. Ia tidak punya waktu untuk mengemis empati pada wanita yang hatinya sudah membatu karena kesombongan.
Hilman kembali ke kamar Syifa. Dengan tangan yang gemetar namun hati yang teguh, ia membungkus tubuh Syifa dengan kain jarik dan jaket tebalnya sendiri. Ia menggendong putri kecilnya itu di punggungnya. Syifa lemas, kepalanya terkulai di bahu Hilman yang keras dan lelah.
"Bertahan ya, Sayang. Ayah di sini," bisiknya menenangkan.
Karena motornya masih bermasalah pada bagian lampu depan akibat kehujanan kemarin, Hilman tidak berani mengambil risiko mengendarainya di kegelapan malam dengan membawa anak kecil yang sakit. Ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju jalan raya, berharap ada angkutan umum atau ojek yang lewat, meski di jam dua pagi itu adalah harapan yang tipis.
Langkah demi langkah ia tempuh. Beban Syifa di punggungnya memang tidak seberat karung-karung di pabrik, namun rasa cemas membuatnya merasa setiap langkah adalah beban berton-ton. Ia berjalan cepat, hampir berlari, di bawah lampu jalan yang remang-remang. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, bersatu dengan panas tubuh Syifa yang menempel padanya.
"Ayah... Syifa haus..." rintih anak itu lirih.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai di puskesmas atau klinik," sahut Hilman, meski ia tahu puskesmas terdekat masih berjarak dua kilometer.
Setelah berjalan selama lima belas menit, sebuah mobil pribadi melintas. Hilman melambaikan tangannya dengan putus asa, namun mobil itu justru mempercepat lajunya, mungkin takut karena melihat pria berpakaian lusuh sedang menggendong anak di tengah malam. Hilman tidak menyerah. Ia terus berjalan hingga akhirnya sampai di sebuah klinik 24 jam yang kecil.
"Tolong, Sus! Anak saya!" teriak Hilman saat memasuki pintu klinik.
Perawat segera mengambil alih. Syifa diletakkan di atas brankar. Dokter jaga memeriksa suhu tubuhnya. "39,8 derajat. Ini hampir masuk fase kejang, Pak. Kenapa baru dibawa sekarang?" tanya dokter itu dengan nada menegur.
Hilman tertunduk. "Maaf, Dok... saya... saya baru tahu tadi malam." Ia tidak sanggup mengatakan bahwa istrinya lebih memilih masker wajah daripada anaknya.
Selama Syifa ditangani, Hilman duduk di kursi tunggu kayu yang keras. Ia terus berdoa, jemarinya yang kasar bertaut rapat. Ia teringat Andini yang mungkin saat ini sedang tidur nyenyak di bawah selimut hangat, sementara putri mereka sedang berjuang melawan rasa sakit di atas kasur rumah sakit yang dingin.
Pukul empat subuh, Syifa akhirnya stabil setelah diberikan obat melalui infus. Ia tertidur karena pengaruh obat. Hilman mendekati ranjang anaknya, mengelus rambut Syifa dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum bisa memberimu kehidupan yang layak. Ayah belum bisa memberimu Ibu yang penuh kasih," bisiknya lirih.
Hilman kemudian merogoh sakunya. Ia menghitung sisa uang yang ada. Biaya klinik ini akan menguras sisa uang makannya untuk seminggu ke depan. Namun, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil di tas pinggangnya. Itu adalah botol vitamin mahal yang sempat ia beli untuk Andini karena istrinya mengeluh sering lemas. Ia menghela nafas. Vitamin itu akan ia simpan untuk Syifa saja nanti.
Pagi harinya, Hilman kembali ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian ganti Syifa. Saat ia masuk, ia melihat Andini sedang duduk di meja makan sambil menyesap kopi, wajahnya tampak cerah dan halus setelah perawatan semalam.
"Gimana si Syifa? Sudah sembuh kan?" tanya Andini tanpa rasa bersalah, matanya sibuk melihat pantulan wajahnya di layar ponsel.
"Syifa harus dirawat di klinik, Dek. Dia butuh infus," jawab Hilman datar, tanpa menatap istrinya. Ia langsung menuju lemari pakaian.
"Apa? Dirawat? Berarti keluar uang lagi dong? Mas, bulan depan itu aku ada undangan pernikahan teman sekolah, aku butuh baju baru. Jangan sampai uang di tabungan dipakai semua buat biaya klinik itu!" Andini mengomel, suaranya melengking memenuhi dapur.
Hilman berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Andini dengan tatapan yang belum pernah dilihat Andini sebelumnya—tatapan tajam yang penuh dengan luka dan kekecewaan yang sudah mencapai puncaknya.
"Andini... uang bisa dicari. Tapi kalau terjadi sesuatu pada Syifa, kamu tidak akan pernah bisa membelinya kembali dengan semua tas dan baju mewahmu itu," ucap Hilman dengan suara rendah yang bergetar.
Andini terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian suaminya. Namun, egonya segera mengambil alih. "Halah! Mas jangan sok menasehati. Kalau Mas memang laki-laki hebat, Mas nggak akan biarkan kami hidup susah sampai Syifa harus sakit-sakitan begini. Mas itu yang nggak becus jadi kepala keluarga!"
Hilman tidak membalas lagi. Ia sudah tahu, bicara dengan Andini seperti menuang air ke atas batu. Ia membawa tas berisi pakaian Syifa dan segera keluar rumah. Ia tidak peduli lagi pada ocehan istrinya. Yang ia pedulikan hanyalah kembali ke klinik untuk memastikan Syifa baik-baik saja.
Di perjalanan menuju klinik, Hilman kembali batuk. Kali ini, ia merasakan ada sesuatu yang hangat di telapak tangannya. Saat ia melihat ke bawah, ada noda merah segar di sana. Darah.
Hilman tertegun sejenak. Ia mengusap tangannya ke celana, mencoba mengabaikan rasa sakit yang kini mulai menjalar di dadanya. Tidak sekarang, Tuhan. Tolong, jangan sekarang. Anakku masih butuh aku. Istriku... meskipun dia begitu, dia belum punya siapa-siapa selain aku.
Hilman mempercepat langkahnya, menyimpan rahasia tentang darah itu dalam-dalam, sama seperti ia menyimpan cinta dan pengorbanannya yang tak pernah dianggap.
Ia tidak tahu, bahwa diagnosa dokter tentang kondisinya sendiri jauh lebih mengerikan daripada demam yang dialami Syifa. Dan ia juga tidak tahu, bahwa keputusannya untuk merahasiakan penyakitnya akan menjadi pukulan paling telak yang akan menghancurkan hati Andini di masa depan—saat wanita itu menyadari bahwa selama ini ia sedang menghina seorang pria yang sedang bertaruh nyawa untuknya.