Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Sulit untuk ikhlas
Saat waktu istirahat tiba, Hari beranjak dengan langkah yang tergesa. Dia menunggangi kuda besinya yang ia jalankan dengan kencang. Perasaan cemas akan keadaan istrinya membuat dia tak tenang.
Setelah tiba di kediaman Surya, Hari memarkirkan motornya dengan asar, segera berlari membuka pintu dengan tergesa. Lamanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga sampai terperanjat kaget oleh kedatangan pria yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
"Ada apa, Har?" tanya Surya yang melihat raut cemas dari wajah Hari.
"Enggak, Wa Haji, maaf udah ngagetin," jawabnya, namun pandangannya menelisik kesemua ruangan mencari sosok istrinya yang tak terlihat.
Haji Surya hanya menggeleng melihat tinggal keponakannya. "Resa kemana, Wa?" akhirnya Hari bertanya setelah tidak menemukan keberadaan Resa.
"Ada di dalam. Dari tadi gak keluar kamar, Wa juga khawatir, coba lihat sana, mungkin dia sakit," jawab Haji Surya yang membuat Hari makin tak enak hati.
Dia melihat ke meja makan, terlihat masih banyak makanan. Sudah pasti dari pagi, istri nya belum makan apapun. Kakinya melangkah memasuki kamar.Resa Berbaring di kasur, memunggungi pintu. Dengan langkah cepat, Hari mendekati Resa, gadis itu tak bergeming. Hari mengelus kepala istrinya.
"Ai, kamu baik-baik aja kan? Kenapa gak keluar kamar, kamu juga belum makan dari tadi pagi," tanya Hari dengan perasaan khawatir. Dia baru menyadari bahwa istrinya sudah terbiasa sarapan di pagi hari, namun hari ini dia berangkat kerja tanpa memperhatikan kebiasaan istrinya. Mungkin Resa juga merasa canggung karena belum terbiasa di rumah itu.
Karena menghargai sang suami, akhirnya Resa bangkit dari tempat tidur, bersila di samping suaminya dengan memalingkan muka ke arah lain. Hari yang merasa bersalah mendekap tubuh istrinya. Rupanya pria kaku ini tak pandai membujuk, pantas saja sering di juluki "manusia kulkas" oleh teman kerja nya.
"Ai, lihat aa. Aku sedih liat kamu murung gini," kata Hari dengan suara lembut.
"Maaf, AA banyak buat salah sama kamu, tapi apapun yang AA lakukan,itu karena takut kehilangan kamu," kata Hari dengan perasaan bersalahnya.
"Apa gunanya takut kehilanganku. Tapi selalu mengulang hal yang bikin aku sakit. Apa gunanya berkali-kali minta maaf untuk hal yang sama, yang selalu kamu ulangi. Katanya mencintaiku dan berjanji tidak akan seperti itu lagi. Tapi kamu mengulangi hal yang sama lagi berkali-kali. Aku tidak ingin memaklumi hal yang sama berulang kali. Aku capek dan aku sakit."
Resa berbicara dengan suara yang lemah, tapi penuh dengan emosi.Dia merasa seperti telah dipukul berkali-kali oleh janji-janji yang tidak dipenuhi. Dia merasa seperti telah kehabisan tenaga untuk memaafkan dan memulai kembali.
Hari tak bisa berkata-kata, tapi dia berusaha meyakinkan Resa bahwa cinta nya sangat tulus untuk istrinya. Dia mengambil tangan Resa dan menatapnya dengan mata yang penuh dengan emosi.
Dia berusaha untuk mengungkapkan perasaannya, tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokannya. Dia hanya bisa menatap Resa dengan harapan bahwa istrinya akan memahami perasaannya.
Hari kemudian memeluk Resa erat, berharap bahwa sentuhan fisik itu akan dapat mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Dengan ragu, Resa menatap suaminya. Hari tersenyum lembut dengan tatapan mendalam, seolah menghipnotis Resa dengan mata indah yang menyejukkan hati. Dan akhirnya Resa kalah, dia terbuai oleh mata yang selalu membuatnya luluh seketika.
Hari mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dan siang itu berakhir dengan pergulatan suami istri di atas kasur yang membuat perasaan Hari berbunga-bunga.
"Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan aku, Aini. Akan ku pastikan kamu mengandung buah hati cinta kita di dalam rahim ini," batin Hari mengusap lembut perut mulus istrinya setelah pergulatan mereka selesai.
Hari beranjak untuk membersihkan diri, sedangkan Resa masih terbaring di atas kasur di bawah selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Setelah selesai mandi, Hari membawa sepiring nasi dan segelas air ke dalam kamar, lalu menyimpannya di atas meja yang berada di samping ranjang.
"Ai, ini AA udah siap makan siang buat kamu. AA harus balik ke tempat kerja dulu ya. Kalau sudah mandi, jangan lupa makan. Nanti pulangnya mau di belikan apa?" Resa menggeleng sebagai jawaban. Hari mengelus sayang rambut yang terurai di balik selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Ya udah, AA berangkat sekarang," pamit Hari melangkah pergi. Namun sebelum pintu kamar terbuka, suara Resa menghentikan langkahnya.
"Aku mau pulang ke rumah Bapak," lirih Resa dengan suara pelan.
Hari memejamkan mata, berusaha berpikir positif. Mungkin istrinya jenuh karena tak ada yang menemaninya. Hari membalikan badan, menatap pada Resa yang masih memunggungi dirinya.
"Iya, Ai, nanti hari Minggu. Saat AA libur kerja, kita ke rumah Bapak, ya!"
Tak ada jawaban dari Resa. Hari mengira istrinya paham akan penjelasannya. Dia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke tempat kerja, tak lupa berpamitan juga pada Haji Surya yang masih standby di depan TV.
Tak berselang lama dari kepergian Hari, datang ibu Tika dengan menuntun seorang anak yang persis dengan wajah Hari. Seakan takut tak diakui, wajah anak kecil itu sangat mirip dengan ayahnya.
Ibu Tika membuka pintu sambil mengucap salam. "Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam," jawab Haji Surya yang sedang menonton siaran olahraga yang tayang di layar TV.
Resa yang sedang berada di dalam kamar keluar setelah mendengar suara ibu mertuanya. Dia menghampiri wanita paruh baya itu, menarik tangan untuk menyalami beliau.
Sedetik kemudian, tatapannya terpaku pada gadis kecil yang duduk anteng di atas kursi. Dia menatap Resa dengan raut wajah tak terbaca.
Resa berusaha mengatur nafas yang bergemuruh dalam dadanya, seakan luka yang baru mengering kini menganga kembali.
"Resa, mamah titip Umai sama kamu yah, gak papa kan? Biar kamu ada temennya juga ya!" Resa tersenyum kikuk, mencari jawaban dari tindakan ibu mertuanya.
Seolah mengerti, ibu Tika menjelaskan alasan di menitipkan cucunya pada Resa. "Kamu tenang aja, Umai anaknya penurut, gak akan merepotkan kamu ko. Anggap aja perkenalan, biar kalian makin akrab."
Resa tak bisa menjawab perkataan mertuanya, dia hanya tersenyum canggung dengan mengangguk kecil.
"Ya udah, mamah tinggal dulu ya, bentar lagi kajiannya akan dimulai, nanti kalau kajiannya udah selesai, mamah jemput lagi Umai ya," pamit Bu Tika kepada menantu dan cucunya.
Kemudian, wanita paruh baya itu berjalan ke ruangan sebelah untuk berpamitan pada kakanya, Surya.
Resa bingung harus berbuat apa, dia menatap anak kecil yang sedang duduk manis di atas kursi dengan memainkan boneka yang di bawanya. Rasa kecewa pada suaminya membuat gadis itu kesal pada sosok anak yang tak berdosa itu.
Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan anak itu sendirian. Resa membanting tubuhnya ke atas kasur, berusaha meredam emosi yang bergejolak dalam dirinya.
Kekesalannya makin bertambah setelah membaca pesan yang ia baca dari suaminya. "(Aini, AA nyuruh mamah buat antar Umai kesana, biar kamu ada temennya, dengan begitu kamu gak kesepian lagi karena AA tinggal kerja. Nanti sebagai gantinya, kita jalan-jalan sore, ok, cantik)"
Resa mendengus sambil melempar ponsel yang di pegangnya. "Dasar om kulkas jahat, gak peka, gak punya perasaan. Bukannya bikin keadaan aku membaik, malah menghadirkan dia yang menjadi sumber dari luka yang timbul ini," umpat Resa dalam hati yang bergemuruh dengan derai air mata yang membasahi pipinya.
Resa mengatur nafas yang terasa menyesakkan dada. Dalam hati dia berdoa:
"Ya Allah, dalam hati yang sakit ini aku meminta dengan tulus padamu, ampuni dosaku. Angkatlah derajatku dan tunjukkanlah jalan menuju keadaan yang baik, aku belum tahu rahasia apa yang engkau simpan dari kejadian yang memilukan ini.
Ya Rabb, rasanya begitu sakit, hancur berkeping-keping aku bahkan tidak tahu harus kemana dan bagaimana melangkahkan hidupku, maka dengan kelemahan ku melalui hal berat ini bantulah aku untuk menjalani hidup dengan penuh ketabahan dan kuatan."
Resa berusaha keras untuk meredam emosinya saat ini. "Sabar Resa, sabar. Kamu boleh marah, kecewa, sama perlakuan suami mu. Tapi jangan lampiaskan pada dia yang tak tahu apa-apa," batin Resa, namun bisikan jahat memenuhi pikirannya yang kalut saat itu. "Biarin aja Resa, untuk apa peduli pada anak itu. Suamimu saja tega membuat perasaanmu hancur seperti ini."
Resa mengerang di balik bantal yang membekap mulutnya. Terlalu sulit untuk dia bisa ikhlas menerima keadaannya saat ini.