NovelToon NovelToon
Suara Hati DARREN

Suara Hati DARREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Berbaikan / Anak Genius / Murid Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.

Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya

Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.



Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekecewaan Gilang Dan Darka

Darren saat ini berada di kamarnya. Dia tampak tak baik-baik saja saat ini. Setelah mengetahui kebenarannya tentang statusnya di keluarga Smith dan Garcia.

"Aarrgghh!" teriak Darren sekeras mungkin. "Kalian benar-benar brengsek. Kalian semua bukan manusia!" teriak Darren untuk yang kedua kalinya.

Prang..

Darren membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Dia benar-benar marah saat ini. Selama ini keluarganya tidak benar-benar menyayanginya. Selama ini mereka semua pura-pura menyayangi. Terbukti ketika kejadian penyerangan terhadap ibu dan neneknya hingga mengakibatkan keduanya meninggal, ayah dan kakak-kakaknya langsung membencinya dan menyebutnya sebagai pembunuh. Bahkan ayahnya tidak ingin memiliki anak seperti dirinya.

Prang..

"Aarrgghh!"

Darren kembali membanting sisa-sisa barang yang ada di dalam kamarnya disertai dengan teriakan yang keras.

"Aku membenci kalian semua! Tunggu saja pembalasan dariku. Aku akan membalas kalian semua!"

^^^

Di lantai bawah, di ruang tengah dimana Erland dan keempat putranya beserta Marco terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan serta teriakan keras dari dalam kamar Darren. Bahkan mereka juga mendengar suara barang-barang yang dibanting.

"Kalian lihat sekarang! Putra dan adik yang kalian benci justru berbalik membenci kalian. Dia sudah sangat kecewa dengan kalian. Kekecewaan pertama belum hilang, sekarang bertambah kekecewaan kedua ketika tak sengaja mendengar obrolan kita. Dan kalian!" tunjuk Marco kearah Erland dan keempat keponakannya. "Apa kalian masih tetap bungkam, hah?! Apa tidak ada diantara kalian untuk menjelaskan bahwa kalian adalah ayah dan kakak-kakak kandungnya?"

Hening..

Erland dan keempat putranya yaitu Davin, Andra, Dzaky dan Adnan tetap bungkam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Melihat reaksi kakak dan keempat keponakannya itu membuat Marco hanya menggelengkan kepalanya.

Setelah itu, Marco mengambil ponselnya di saku celananya. Dia akan menghubungi ketujuh dari Darren melalui video call dan meminta mereka untuk datang. Untuk saat ini hanya ketujuh sahabat-sahabatnya itu yang bisa menghibur keponakannya itu.

Detik kemudian..

"Hallo, Paman Marco!" terdengar suara ketujuh sahabat-sahabatnya Darren di layar ponselnya Marco.

"Kalian sibuk?"

"Tidak!"

"Bisa kalian datang kesini."

"Ke rumah Paman Erland?" tanya Jerry.

"Iya. Darren butuh kalian saat ini."

"Apa terjadi sesuatu, Paman?" tanya Axel.

"Biasalah. Apalagi masalahnya kalau bukan ayah dan kakak-kakaknya."

"Baiklah, kami akan segera kesana."

"Baiklah, Paman tunggu!"

Pip..

Marco langsung mematikan panggilannya setelah mendapatkan jawaban dari ketujuh sahabat-sahabat keponakannya.

"Aku akan buat kalian menyesal hingga kalianlah yang mengejar-ngejar Darren," batin Marco.

Beberapa menit kemudian..

Tin..

Tin..

Tin..

Terdengar bunyi klakson mobil dari luar pagar.

Security yang berjaga di depan langsung membukakan pintu pagar tersebut.

^^^

"Selamat sore, Om Marco!" sapa ketujuh sahabat-sahabat Darren sembari melangkah menuju ruang tengah.

Mendengar suara dari ketujuh sahabat-sahabat keponakan, Marco langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Erland dan keempat putranya.

"Ach, syukurlah kalian sudah datang. Langsung saja kalian ke kamar Darren di lantai dua," ucap Marco.

"Baiklah!"

Setelah itu, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya Darren di lantai dua.

^^^

Kamar Darren..

Darren saat ini duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya di pinggiran tempat tidur. Tatapan matanya menatap kosong ke depan. Hatinya saat ini benar-benar hancur. Air mata tak hentinya mengalir.

Cklek..

Pintu dibuka oleh seseorang. Setelah itu, masuklah tujuh pemuda tampan ke dalam kamar Darren.

Setibanya di dalam kamarnya Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren terkejut ketika melihat begitu banyak pecahan kaca dan pecahan lainnya berserakan di lantai. Mereka menelisik sekitarnya untuk mencari keberadaan sahabatnya.

Axel dan Rehan mendapatkan sosok sahabatnya duduk di lantai dengan bersandar di pinggiran tempat tidur. Kemudian keduanya menghampiri sahabatnya itu, diikuti oleh yang lainnya.

"Ren," panggil Axel dan Rehan yang kini sudah duduk di lantai samping kiri dan kanan Darren. Sementara yang lainnya duduk di depannya dengan tatapan khawatir.

Darren melihat kearah ketujuh sahabat-sahabatnya yang kini menatap dirinya khawatir.

Tes..

Seketika Darren menangis di hadapan ketujuh sahabat-sahabatnya. Dia benar-benar hancur saat ini.

"Kasih tahu gue kalau gue selama ini punya banyak kesalahan sehingga hidup gue endingnya jadi gini, gue akan menebusnya." Darren berucap dengan nada terdengar lirih.

Mendengar ucapan dari Darren membuat hati ketujuh sahabat-sahabatnya sesak. Ini untuk pertama kalinya mereka melihat Darren hancur.

"Gue anak yang tidak berbakti terhadap kedua orang tuanya, gue adik yang kurang aja terhadap kakak-kakaknya hingga menyebabkan Mama dan Oma meninggal."

"Katakan sama gue. Bagaimana caranya buat gue menebus semuanya agar keadaan kembali membaik seperti dulu?"

Tes..

Seketika air mata ketujuh sahabat-sahabatnya jatuh membasahi pipinya ketika mendengar ucapan yang menyayat hati dari Darren. Seketika mereka mengepal kuat tangannya.

"Lo nggak punya salah apapun, Ren! Gue berani bersumpah bahwa lo adalah anak dan adik yang baik dan penurut," ucap Qenan.

"Selama gue jadi sahabat lo, gue nggak pernah melihat lo melakukan kesalahan. Jangan melakukan kesalahan, menyakiti orang saja, lo nggak pernah!" Willy berucap dengan berlinang air mata.

"Lo pemuda yang memiliki hati yang baik. Saking baiknya, lo nggak membalas seseorang yang menghina dan membully lo," ucap Darel.

"Mereka yang bodoh karena menyia-nyiakan lo. Di luar sana banyak yang ingin punya anak kayak lo, tapi keluarga lo malah menyia-nyiakan lo," ucap Jerry.

Tanpa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya ketahui, diluar kamar ada dua kakaknya yang menguping. Kedua kakaknya itu adalah Gilang dan Darka. Keduanya mendengar apa yang dikatakan oleh Darren.

Gilang dan Darka seketika menangis ketika mendengar ucapan dari Darren ketika bertanya kepada ketujuh sahabat-sahabatnya.

Setelah puas mendengar pembicaraan adiknya dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Gilang dan Darka memutuskan pergi.

Gilang dan Darka ada disana karena tak sengaja mendengar obrolan ayahnya, keempat kakaknya bersama Pamannya yaitu Marco. Kebetulan keduanya baru sampai di rumah.

Ketika tiba di ruang tengah, Gilang dan Darka hanya berhenti sebentar. Setelah itu, keduanya pergi menuju lantai dua.

^^^

"Gilang, Darka!" panggil Marco.

"Bagaimana dengan adik kalian?"

Gilang dan Darka tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang Paman. Justru keduanya menatap kearah ayah dan keempat kakaknya.

"Teruslah kalian bersikap seolah-olah tidak peduli terhadap Darren. Jangan sampai kalian menyesal nantinya karena pada saat kalian menyesal, maka semuanya itu sudah tidak ada gunanya lagi." Gilang berucap dengan tatapan kecewa menatap ayah dan keempat kakaknya.

"Satu lagi dan kalian harus tahu ini. Aku dan Gilang tidak percaya kalau Darren yang telah menyebabkan Mama dan Oma meninggal. Kita selama ini percaya padanya. Kita berdua diam selama ini karena kita berusaha melindungi Darren dari amukan kalian."

"Jika aku dan Darka membela Darren terang-terangan, maka kalian akan semakin menjadi-jadi menyakiti Darren bahkan kalian akan memukulnya."

"Dan kami berdua bahagia karena untuk pertama kalinya kami telah melakukan tugas kami sebagai kakak untuk Darren dengan membelanya ketika di rumah sakit seminggu yang lalu. Seharusnya sejak dulu kami melakukan hal itu."

Gilang berbicara dengan sorot matanya yang tampak kecewa terhadap sikap ayah dan keempat kakaknya. Begitu juga dengan Darka.

Sementara Darka hanya diam dengan sorot matanya menatap ayah dan keempat kakaknya. Disini Darka yang lebih kecewa bahkan hatinya hancur setiap melihat perlakuan buruk dan mendengar ucapan kasar dari ayah dan keempat kakaknya terutama kedua kakak tertuanya untuk adiknya. Bagi Darka bahwa Darren adalah kehidupannya, semangat hidupnya dan adik kesayangannya. Dia dan adiknya itu seperti memiliki ikatan batin kayaknya saudara kembar.

Deg..

Erland dan keempat putra tertuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Gilang. Mereka tidak menyangka jika selama ini Gilang dan Darka lebih mempercayai Darren.

"Kalian bukan saja menyakiti adikku, tapi kalian juga menyakitiku." Darka tiba-tiba bersuara. Dia menangis. "Jika kalian menyakitkan adikku secara langsung. Sementara denganku, kalian menyakitiku tanpa tersentuh dan berucap."

"Apa maksud kamu, Darka?" tanya Andra bingung.

Darka seketika tersenyum miris ketika mendengar pertanyaan dari kakak keduanya itu. Begitu juga dengan Gilang.

"Kalian tidak lupakan bagaimana kedekatanku dengan Darren dari kecil hingga tumbuh dewasa? Setelah beranjak dewasa. Selama sama Mama, siapa diantara kita tempat Darren mengadu? Siapa diantara kita tempat Darren yang ingin bermanja-manja? Siapa diantara kita tempat Darren berkeluh-kesah? Siapa diantara kita ketika Darren ingin menunjukkan hasil ujiannya? Dan siapa diantara kita ketika Darren ingin meminta sesuatu? Jawabannya adalah aku. Akulah orangnya."

Air mata Darka semakin deras mengalir membasahi pipinya. "Dia adikku, adik kesayanganku sekaligus semangat hidupku."

Darka menatap penuh kekecewaan ayah dan keempat kakaknya itu. "Kalian telah menyakitiku melalui adik kesayanganku!" bentak Darka.

Setelah mengatakan itu semua, Darka pun pergi menuju kamarnya, disusul oleh Gilang.

Namun seketika langsung Gilang dan Darka terhenti karena tatapan matanya tak sengaja melihat Darren yang dipapah oleh sahabat-sahabatnya.

"Darren!" Marco seketika berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekati keponakannya itu.

Mendengar teriakkan dari Marco membuat Erland dan keempat putra tertuanya langsung melihat kearah Darren.

"Ke-kenapa wajah Darren pucat sekali?" batin Erland dan putra-putranya, termasuk Gilang dan Darka.

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Marco yang tampak khawatir.

"Paman, kita harus segera bawa Darren ke rumah sakit!" seru Dylan.

Setelah itu mereka pun pergi membawa Darren ke rumah sakit, diikuti oleh Marco.

1
Miftahur Rahmi23
cerita nya bagus thor. bahasanya ringan, mudah dimengerti
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
lagi kak
sri wahyu
up yg banyak
penasaran kelanjutannya
sri wahyu
makasih kak
semangat
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semangat kak
up lagi ya
Glastor Roy
up
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
makasih kak semangat updatenya
sri wahyu
baru sadar setelah satu tahun benci
sri wahyu
semangat kak
sri wahyu
menyesal kan
sri wahyu
semngat kak
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semngat kak
sri wahyu
jantungnya kambuh kah


kasian Darren
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
emang enak di cuekin
semangat trus kak
Glastor Roy
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!