Sekuel Suamiku Tuan Cacat
Semua orang mendambakan pernikahan. Dimana dua insan menyatu dalam satu ikatan sakral yang sah untuk membentuk keluarga kecil yang bahagia.
Namun nyatanya hal itu tidak berlaku untuk Flora. Wanita berusia 25 tahun itu terpaksa menikah dengan Kevin Dirgantara, pria kaya yang terkenal arogan dan kejam hanya karena kesalahpahaman.
Mereka di pergoki keluarga Kevin saat berdua di dalam kamar. Dan sialnya kondisi Flora saat itu membuat mereka berfikir yang tidak-tidak hingga akhirnya mereka seenaknya memutuskan untuk menikah mereka tanpa mau mendengarkan penjelasan Flora.
Menikah dengan orang yang tidak kita cintai, apakah mereka akan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sengaja
Sepanjang perjalanan, Flora mendiamkan Kevin. Bahkan setelah sampai di perusahaan pun, Flora tidak lagi menjalankan perannya sebagai pasangan yang romantis dan lebih memilih berjalan terlebih dahulu.
Namun Kevin tidak marah. Dia justru tersenyum melihat tingkah istrinya. Dan hal itu membuat para karyawan yang melihatnya merasa gemas.
"Kau marah?" tanya Kevin
"Sudah tahu kenapa masih bertanya?" sungut Flora
Kevin hanya tersenyum. Ia mempercepat langkahnya menyusul Flora dan langsung menggendongnya ala bridal.
"Eh ... Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!!" pinta Flora
"Cium aku!! Baru ku lepaskan," seru Kevin
Flora berdecak dan memalingkan wajahnya kesal. Namun semua karyawan yang melihatnya justru merasa iri melihat keromantisan keduanya.
Bagaimana tidak, Flora sedang marah tapi Kevin justru menggodanya. Bukankah itu terlihat manis? Ini pertama kalinya mereka melihat sisi lembut bos mereka.
"Sudah tidak ada yang melihat, cepat turunkan aku!" ucap Flora saat mereka berada di dalam lift
Kevin melirik sekilas dan menurunkan Flora pelan. "Sampai kapan kau akan marah padaku?" tanya Kevin
"Sampai kau meminta maaf padaku."
Kevin mendorong pelan tubuh Flora dan menghimpitnya. "Meminta maaf? Bukankah harusnya kau yang meminta maaf, hm?"
"Kenapa aku? Memangnya apa salahku? Kau saja yang tidak mau mendengarkan penjelasan ku dan langsung ... "
"Langsung apa?" goda Kevin
Flora memalingkan wajahnya malu mengingat apa yang Kevin lakukan padanya. Walaupun Kevin hanya melampiaskan amarahnya saja, namun itu pertama kali untuknya.
Tidak ia pungkiri, walaupun terkesan kasar namun saat lidah Kevin menari-nari di tubuh bagian atas miliknya, Flora merasa ada getaran aneh yang ia rasakan.
Sekujur tubuhnya meremang, rasa geli bercampur nikmat membuat akal sehatnya berhenti. Ia seolah menginginkan lebih namun rasa takut yang ia rasakan lebih mendominasi. Itu sebabnya ia hanya bisa menangis.
"Lupakan saja. Dasar menyebalkan." Flora melengos keluar dari lift dan berjalan lebih dulu ke ruang kerja milik Kevin. Sementara pria itu hanya tersenyum tipis dan menyusul istrinya.
Saat masuk ke ruang kerjanya, wajah Kevin sudah berubah serius. Dia duduk di kursi kebesarannya dan mulai memeriksa dokumen yang sudah menumpuk di meja kerjanya. Sedangkan Flora hanya duduk membaca majalah dengan wajah cemberut.
TOK TOK TOK
"Masuk!!" ucap Kevin
Alan masuk setelah mendapatkan ijin dari si empunya. Dia membawa sebuah tablet dan mulai membacakan jadwal Kevin hari ini.
"Sebentar lagi, anda ada jadwal meeting dengan Mahen Group untuk membahas kerjasama yang sempat tertunda kemarin," seru Alan
Flora tertegun mendengarnya. Jika hari ini Kevin kembali meeting dengan Mahen Group, itu artinya ia akan bertemu lagi dengan Satria. Apa Kevin sengaja? Dia pikir setelah kejadian kemarin, Kevin akan membatalkan kerjasamanya dengan Satria. Tapi ternyata mereka kembali mengadakan meeting. Apa sebenarnya yang Kevin rencanakan?
"Persiapkan semuanya untuk menyambut tamu kita nanti. Aku akan mempelajari proposal milik perusahaan Mahen Group terlebih dahulu," seru Kevin
"Baik tuan." Alan membungkuk dan pamit undur diri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kevin tanpa menoleh sedikitpun.
"Ti-tidak ada," sahut Flora
"Tenang saja. Aku tidak akan mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Itu sebabnya aku membuat janji dengan Tuan Satria untuk kembali membahas kerjasama kami. Lagi pula, keuntungan yang akan kami dapatkan lumayan menggiurkan."
"Cih ... Apa kau kekurangan uang sampai-sampai kau tergiur dengan proyek dari Satria?"
Kevin tersenyum. Dia menutup dokumen yang ia periksa dan menghampiri Flora. "Sama halnya dengan pernikahan kita. Di antara kita tidak ada yang ingin rugi. Aku memberikan mu uang bulanan dan setelah setahun kita menikah, kita akan bercerai dan aku akan memberikan kompensasi yang besar. Tapi selama kau berstatus sebagai istri ku, kau harus melayaniku dan bersikap romantis di depan umum. Dengan begitu, kita akan sama-sama untung bukan?"
Flora terdiam sesaat. Dia baru ingat jika selama ini hubungan mereka terikat kontrak. Padahal dia sempat menikmati perannya. Tapi dia harus di tampar kenyataan jika pernikahan mereka hanya sandiwara saja.
"Tidak perlu kau ingatkan. Aku tahu peran dan tugasku," gerutu Flora
Kevin tersenyum. Dia menyentuh syal yang melingkar di leher Flora. "Sudah waktunya meeting. Ayo!!" ajak Kevin
"A-aku di sini saja ya," tolak Flora
"Bukan kah tadi kau bilang jika kau tahu peran dan tugasmu, hm?"
Flora menghela nafas panjang dan menerima uluran tangan Kevin. Mereka berjalan beriringan menuju ruang rapat, dimana mereka akan bertemu dengan Satria.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," batin Flora
Kevin dan Flora masuk keruang meeting dimana Satria dan asistennya sudah menunggu di sana. Kevin hanya menyeringai dan menghampiri keduanya.
"Maafkan saya tuan, sudah membuat anda menunggu," sesal Kevin
"Tidak apa-apa tuan. Kami juga baru saja sampai," sahut Satria. Walaupun dia berbicara dengan Kevin, namun kedua matanya terus menatap Flora yang menunduk, menghindari kontak mata dengannya.
"Silahkan duduk tuan Satria," ujar Kevin
Satria mengangguk pelan dan duduk di kursinya. Dan tidak berapa lama, Alan masuk ke ruang rapat dengan membawa sebuah dokumen. Dia mulai menjelaskan kembali poin-poin penting di proposal milik Satria yang menurut mereka kurang menguntungkan.
Satria mendengarkan dengan serius dan setuju dengan usulan dari pihak Kevin. Hingga akhirnya mereka saling membubuhkan tandatangan kontrak yang sudah di siapkan sebelumnya.
"Terima kasih tuan. Akhirnya kita resmi menjalin kerja sama ini. Semoga kerjasama kita berjalan lancar," seru Satria
"Tentu tuan," sahut Kevin.
Satria terdiam sejenak menatap tangan Kevin yang terluka. Melihat hal itu, Kevin langsung berujar, "tanganku tidak sengaja tergores pecahan kaca. Makanya aku membalutnya dengan perban,"
"Oh begitu. Aku tidak menyangka tuan Kevin bisa ceroboh juga," seru Satria yang di sambut tawa pelan oleh Kevin. Tapi kemudian, mata Satria tertuju pada syal yang melingkar di leher Flora. Hari ini sangat panas, kenapa Flora memakai syal? Apa dia sakit? Pikir Satria
"Flo, apa kau sakit?" tanya Satria
"Ti-tidak, aku baik-baik saja tuan."
"Lalu kenapa kau memakai syal?" tanya Satria lagi
Kevin tersenyum sinis dan menoleh menatap Flora. "Iya sayang, aku tadi juga penasaran kenapa kau memakai syal?" tanya Kevin
Flora melirik sinis Kevin. Sudah jelas pria itu tahu alasan ia memakai syal. Tapi sekarang pria itu bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
"Aku baik-baik saja sayang," sahut Flora
"Jika kau baik-baik saja, lepas saja syalnya!! Hari ini sangat panas tapi kau justru memakai syal." Kevin melepas syal yang melingkar di leher Flora tanpa memperdulikan Flora yang terus menolak.
"A-aku tidak apa-apa Vin. Aku hanya sedang ingin memakainya saja." Flora mencoba menghentikan gerakan tangan Kevin. Namun percuma, syal tersebut sudah tergeletak di lantai.
"Flo!!" Satria menatap tak berkedip tanda merah di leher Flora. Tanda itu adalah tanda bibir. Apa Flora dan Kevin sudah melakukan nya?
"Astaga, ternyata kau menggunakan syal untuk menutupi tanda percintaan kita semalam ya." Kevin mengambil kembali syal yang ia buang dan melingkarkan nya kembali di leher Flora tanpa memperdulikan pelototan wanita itu.
"Maaf tuan, anda harus melihat hal ini," ucap Kevin menyesal.
Satria terdiam dengan tangan yang mengepal erat di bawah meja. "Aku tahu kau sengaja Vin. Kau sengaja memperlihatkan tanda itu padaku untuk menunjukkan jika Flora adalah milikmu. Tapi sayangnya aku tidak akan menyerah," geram Satria dalam hati