Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kegelisahan Ara
Empat sekawan akhirnya meninggalkan supermarket, di tengah perjalanan Atika dan Sintia saling sikut- sikutan. Mereka benar-benar kepo pada Pria yang baru mereka temui, apa hubungannya dengan Luna.
" Lun, tadi itu siapa. Pacar kamu ya. "
Atika yang sudah penasaran tingkat dewa akhirnya memutuskan untuk bertanya, Luna yang masih melamun akhirnya menjawab dengan bingung setelah lengannya di sentuh oleh Sintia.
" Hm... ada apa Sin " Tanya Luna. Tika dan Tia saling pandang.
" Itu Lun, soal Pria tadi. Tika nanya apa hubungan mu dengan Pria tadi. "
Luna dengan cepat menggeleng
" Bukan kok, dia itu anak kepala desa di kampung ku. " Jawab Luna.
Atika dan Sintia pun tersenyum, tandanya mereka masih punya kesempatan buat pedekate sama cowok tampan itu.
Ternyata bukan hanya Atika yang ingin tau tapi juga Ara, Ia sejak tadi menguping pembicaraan tiga sahabatnya, meskipun pura-pura fokus menyetir.
" Masuk dulu yuk, kita minum dulu sebentar. "
Luna menawarkan Atika, Sintia dan juga Ara untuk ikut masuk kedalam kontrakannya, namun karena sudah terlalu sore ketiganya memilih untuk pulang.
" Pingin sih Lun tapi nanti ya, sekarang aku harus pulang sebelum Om nyariin. "
Ketiganya kompak mengatakan alasan yang sama, akhirnya Luna hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Baru saja para genk gadis kembali dan Luna membuka pintu kontrakan nya terdengar sebuah suaranya memanggil namanya.
" Luna. "
Luna segera menoleh dan nampak Abi melangkah kearahnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
" Mas Abi. "
Luna melihat kanan dan kiri, memastikan kalau tidak ada yang melihat kedatangan Abi saat ini.
" Iya, rupanya kamu tinggal disini. " Abi memperhatikan rumah kontrakan Luna dengan seksama.
Luna menjadi takut, Ia takut Abi akan mengatakan pada Ayahnya kalau dirinya mengontrak di tempat itu.
" Aku mencari mu beberapa hari ini Lun tapi nggak ketemu. Ternyata kamu ngontrak disini, tapi bukankah Abah bilang kamu tinggal sama orang gedongan teman Abah kamu dulu. "
Luna mengajak Abi untuk duduk bersamanya, Ia tidak mau sampai Pria itu menceritakan bagaimana kondisi dirinya pada Ayahnya di kampung.
" Duduk dulu sini Mas, maaf di luar saja. Nggak nyaman di lihat tetangga. "
Abi mengangguk, Ia juga bukan cowok nakal yang pikirannya tentang ************ doang. Ia masih mengingat pesan Ibunya dengan baik.
" Tolong jangan bilang ke Ayah kalau aku ngontrak disini, aku nyaman kok disini. "
Abi memandang Luna heran, kalau ada tempat yang lebih nyaman kenapa harus ngontrak, begitu pikirnya.
" Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun, tapi kenapa. Apa kamu tidak menemukan mereka atau bagaimana. " Tanya Abi lagi.
Tujuannya ke Jakarta untuk mengucapkan cinta mendadak hilang, Ia malah khawatir pada Luna yang malah memilih ngontrak.
Luna menggeleng, tidak mungkin Ia jujur kalau karena kebodohan nya alamatnya hilang di bawa angin, yang ada Ia bisa di tertawakan Pria di sampingnya itu.
" Nggak kok Mas, aku sudah menemukan nya. Hanya saja aku merasa nggak enak numpang, mereka orang kaya dengan rumah gede bakal istana. Mas kan tau kalau aku terbiasa dengan rumah seperti ini, walaupun kecil tapi tenang dan yang pasti tidak banyak aturan. "
Abi manggut-manggut, Ia bisa menerima alasan Luna karena memang Luna adalah gadis yang sederhana. Meskipun rumahnya di kampung juga tidak keci- kecil amat. Bisa di bilang mewah untuk kategori perumahan di kampung.
" Ya sudah, tapi kamu benarkan nyaman disini. " Tanya Abi memastikan.
Luna kembali mengangguk, dirinya memang nyaman disini. Para tetangga yang baik dan selalu memberi Dia makanan kalau mereka memasak terlalu banyak.
" Syukurlah kalau begitu, lalu sekarang kamu kuliah di kampus mana. Apa boleh aku tau Lun. "
Lagi-lagi Luna mengangguk dan menunjuk kampus yang terdekat dari tempatnya sekarang.
"Iya Mas, aku kuliah di kampus yang ada di depan pertigaan sana. "
Abi manggut-manggut, sebelum akhirnya Ia pamit pulang. Hatinya merasa sedikit lega, meskipun belum mengutarakan maksud hatinya namun Ia sudah menemukan dimana tempat tinggal Luna.
" Ya sudah Lun, aku pulang dulu. Makasih sudah menerima aku, bolehkah nanti aku mampir kemari lagi atau bertemu dengan mu lagi. "
Abi bertanya dengan hati- hati, takut Luna akan menjadi takut padanya.
" Silahkan saja Mas, kalau Mas mau. "
Bagaikan mendapat angin segar, Abi kembali dengan perasaan bahagia.
" Pelan tapi pasti Abi, jangan terlalu terburu-buru. " Abi menyemangati dirinya.
***
Di tempat lain
Setelah mengantar ketiga sahabatnya dengan selamat sampai kerumah mereka masing-masing, Ara kembali ke kediamannya.
Di dalam kamar Ia mondar mandir dengan macam - macam gaya. Entah apa yang membuatnya gelisah, yang pasti saat ini ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
" Sayang, cantiknya Mama kenapa nih. Apa sudah ketemu hasilnya. "
Mom Nayla yang sejak tadi berdiri di depan pintu Putri kesayangannya menjadi bingung, ekor matanya ikut mengawasi kemana saja langkah Putrinya bahkan tangannya pun ikut mempraktekkan apa yang di lakukan Putrinya.
" Ah Mama, sejak kapan Mama disini, kok nggak ketuk pintu. Ara kaget tau. "
Sifat manjanya langsung keluar, Ia langsung memeluk Mamanya menyembunyikan wajahnya di dada Nayla.
" Ish perawannya Mama, gimana Mama mau ngetik pintu, lah wong dari tadi pintunya terbuka lebar. Jadi Mama masuk saja, ada apa sayang. Kok mondar-mandir, apa sudah ketemu hasilnya. "
Nayla mengelus rambut Putrinya dengan lembut, Ara mendongakkan wajahnya menatap Ibunya.
" Hasil apa Ma. " Tanya Ara bingung.
" Ya hasil, berapa luas kamarnya Ara kan. Apa ada tugas kampus yang sulit begitu, tidak biasanya anak gadisnya Mama nampak bingung begini. "
Ara tertawa dan menepuk jidatnya pelan mendengar ucapan Ibunya.
" Mama ada ada saja deh, masa ada tugas kampus mengukur luas kamar sendiri. "
Kedua tersenyum bahagia dalam versinya masing-masing.
" Lalu ada apa sayang, ada masalah apa. Apa Ara mau beli sesuatu atau apa, cepat katakan sama Mama atau Mas mu, tapi jangan minta nikah karena baik Mama Papa atau Mas Alwi belum mengijinkannya. "
Ara melongo mendengar ucapan Nayla, bisa- bisanya Ibunya memikirkan pernikahan yang bahkan hal itu belum pernah terbesit di pikirannya.
" Mama....... ! Ih siapa juga yang mau nikah. Mama ada- ada saja, Ara bahkan belum kepikiran itu, atau Mama saja yang nikah, dari pada Papa jarang pulang. "
Akhirnya terjadilah candaan garing antara kedua Ibu dan anak itu.
" Apa kamu ingin melihat Mama tinggal nama saja, Ayahmu akan membunuh Mama kalau Mama menikah lagi. "
Keduanya tertawa lepas tanpa beban, inilah definisi bahagia itu sederhana.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu