Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA KERJA
Mobil yang di kendarai Allegra, berhenti rumah sakit. Gadis itu memilih parkir dokter biasa. Ia tidak mau memarkirkan mobilnya di tempat khusus petinggi rumah sakit.
Allegra nampak segar dengan kecantikan alami yang ia miliki. Rambut panjang bergelombang senada dengan netra hazel. Memiliki tubuh proporsional tidak terlalu tinggi, namun tidak juga pendek, gadis itu begitu mempesona. Terlebih ia adalah sosok ramah pada siapa saja yang ia jumpai.
Seperti sekarang ketika keamanan yang berjaga-jaga menyapanya dengan hormat karena tahu siapa Allegra yang merupakan putri dokter Valentino dan dokter Giana yang turut membangun Monica hospital sedari awal hingga berkembang seperti sekarang.
Alle membalas dengan senyum ramah pada semuanya.
Ketika menuju lift pun, gadis itu lebih memilih berbaur dengan pegawai lainnya. Naik lift umum ketimbang masuk kedalam lift khusus bagi petinggi rumah sakit.
Tingkah Allegra itu pun tak luput dari perhatian Allegri yang juga baru datang. Kehadiran pimpinan rumah sakit tersebut, langsung di sambut oleh karyawan yang terlihat berjejer di pintu lobby.
Posisi lift umum dan khusus yang berhadapan, membuat Allegra dan Allegri sempat bertukar pandang. Namun tak lama karena Alle segera mengalihkan tatapannya sebelum pintu lift tertutup rapat.
"Oh my god, atasan kita sangat tampan", bisik-bisik beberapa karyawan wanita yang ada di dalam lift. Alle mendengar semuanya dengan jelas.
"Tampan apanya, mereka tidak tahu saja atasan mereka adalah laki-laki yang menyebalkan", ujar Allegra ketika ia sendirian di dalam lift menuju lantai dua puluh.
Ting..
Alle langsung keluar lift menuju ruangannya. Langkahnya terhenti ketika ada yang memanggil namanya.
Alle melihat pria muda yang tadi berjalan bersama Allegrilah yang memanggilnya.
"Nona Allegra, anda di minta tuan Allegri keruangan nya sekarang", ucap laki-laki parlente itu. Dari name tag yang tersemat di pakaiannya, laki-laki itu bernama Giuliano. Allegra tidak tahu siapa dia.
"Mari ikut saya nona", ujar Giuliano sopan. "Perkenalkan, saya asisten tuan Allegri", sambungnya memperkenalkan diri.
Allegra menganggukkan kepala. Baru mengerti siapa laki-laki itu. Namun kedua netra Allegra membulat sempurna, ketika Giuliano mengetuk pintu yang tepat berada di sebelah ruangannya. Ternyata kantornya bersebelahan dengan ruang kerja Allegri.
Terdengar sahutan dari dalam, mempersilahkan masuk. Giuliano segera membuka pintu. Didalam terlihat Allegri sedang memakai jas dokter.
"Aku ada visit memeriksa pasien ku pagi ini. Beberapa jam lagi aku ada operasi. Kau selesaikan memeriksa dokumen-dokumen itu", ujar Allegri pada Allegra sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
"Giuliano akan mengajari mu. Aku ingin setelah selesai operasi, berkas itu sudah siap", tegasnya.
Tanpa menatap Allegra yang tak bergeming, Allegri pergi.
Sesaat Alle memejamkan matanya, sambil menggerutu dalam hatinya. Karena pekerjaan seperti itu tentu saja bukan menjadi tugasnya yang berprofesi sebagai dokter. Menyangkut surat menyurat tentunya menjadi tugas sekertaris.
"Giuliano..Apa atasan kita tidak ada sekertaris?", tanya Allegra mulai bekerja memeriksa dokumen-dokumen penting di hadapannya.
"Nona Liliana sedang cuti melahirkan. Tuan Allegri tidak mau mencari sekertaris baru", jawab Guiliano dengan telaten mengajari Allegra memisahkan mana-mana dokumen penting dan mana dokumen yang tidak penting.
Terdengar hembusan nafas Alle. "Aku akan protes nanti pada Allegri. Yang benar saja kalau ia akan menempatkan aku menggantikan sekertaris nya yang sedang cuti melahirkan", batin Allegra.
*
Waktu terus bergulir. Kini matahari sudah meninggi. Allegra merentangkan kedua tangannya.
Rambut yang tadi pagi nampak rapi kini sudah diikat tinggi secara acakan. Pada akhirnya ia sendirian yang mengerjakan tugas Allegri, karena Guiliano harus pergi menggantikan Allegri urusan pekerjaan. Sementara Allegri belum selesai juga melakukan operasi jantung pada salah satu pasiennya.
Alle mengambil air mineral dingin di dalam kulkas, kemudian melangkah ke dekat jendela kaca. Pemandangan yang sama saat berada di ruangannya.
Gadis itu meneguk minuman. Sesekali menatap tumpukan berkas yang baru selesai di kerjakan setengahnya. Masih ada setengah lagi yang harus ia selesaikan, sebelum Allegri kembali.
Gadis itu menatap jam di dinding Sudah menyentuh angka tiga menjelang sore. Bahkan ia belum menyentuh makan siang sama sekali. Karena pekerjaannya begitu banyak membuat Alle tidak merasa lapar sama sekali.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini, tentu saja aku tidak mau Allegri marah dengan kata-kata ketusnya itu. Membuat telinga ku panas saja", ucap Allegra kembali duduk di kursi melanjutkan pekerjaannya.
Tak selang berapa lama, pintu terbuka. Ternyata pemiliknya telah kembali dengan wajah tampak kelelahan.
Allegra melihatnya. Ia tahu yang di rasakan Allegri, memang melelahkan setelah melakukan operasi besar dengan intens waktu yang begitu panjang.
Allegri menuju sofa panjang, merebahkan tubuhnya. "Kenapa kau belum makan? Sekarang sudah sore", ucapnya tanpa merubah posisi tubuhnya.
"Pekerjaan ku belum selesai. Aku tidak lapar", jawab Allegra tetap fokus bekerja.
"Bagaimana operasi pasien mu? Apa semua baik-baik saja?".
"Pasien komplikasi dengan lonjakan gula darah mencapai angka lima ratus. Menyebabkan pasien tersebut mengalami serangan jantung secara tiba-tiba dengan penurunan pompa jantungnya. Hari ini gula darahnya sudah stabil, namun berimbas pada ginjalnya yang memburuk", ujar Allegri sambil memijat keningnya.
"Kini pemulihan pasca operasi, pasien masih memiliki resiko tinggi harus di pantau dua puluh empat jam kedepan".
"Huhhh...ternyata sulit sekali menjadi spesialis jantung. Aku tidak mau mengambil sub jantung seperti mu. Aku lebih menyukai dokter anak atau dokter bedah seperti daddy", ujar Allegra lugas.
Dari sofa tempatnya rebahan Allegri bisa leluasa memandang wajah cantik Allegra yang terlihat fokus membaca satu persatu dokumen penting. "Sekarang dia sudah dewasa. Tapi tetap tampil polos apa adanya, padahal sudah bertahun-tahun tinggal di kota Manhattan yang glamor", pikir Allegri tentang Allegra yang berada dalam satu ruangan dengannya. Tepat dihadapannya.
Kini sudah mulai senja.
Perlahan kelopak mata Allegri terbuka. Lakititu sempat tertidur dan harus terjaga karena ketukan di pintu. "Masuk!"
Guiliano yang membuka pintu.
"Bagaimana hasil rapatnya?", ujar Allegri berdiri dari sofa. Sekilas ia melihat Allegra masih berkutat dengan pekerjaannya. Namun tidak banyak lagi.
"Semua lancar tuan. Hasil pertemuan tadi sudah saya kirim ke email tuan.", jawab Guiliano.
Allegri menganggukkan kepalanya.
"Alle, sebaiknya kita pulang. Sekarang sudah malam, aku akan mengantar mu", ujar Allegri.
"Tapi pekerjaan ku belum selesai. Sedikit lagi–"
"Sudah tinggalkan saja. Guiliano yang akan menyelesaikannya. Besok kamu harus masuk pagi. Bahkan kau belum makan apapun hari ini", ujar Allegri menatap makanan di atas meja tak tersentuh.
"Iya nona Allegra, nona istirahat saja. Saya yang akan menyelesaikannya pekerjaan anda", ujar Guiliano tersenyum ramah.
"Tapi aku membawa mobil. Aku bisa pulang sendiri, sekarang baru pukul delapan belum terlalu malam. Masih aman kok", jawab Allegra sambil berdiri dari kursi.
“Besok pagi aku akan menjemputmu. Kau pergi bekerja bersama ku”.
Alle menatap Allegri dengan mata membulat sempurna. "Tidak usah!! Oke... sekarang aku pulang bersama mu. Tapi besok biar Marco saja yang mengantar ku bekerja karena jadwal mu pasti sangat padat", jawab Allegra. Untuk pertama kali ia tersenyum manis pada Allegri.
Sesaat Allegri menatap gadis itu dengan intens. “Whatever...”
Kemudian Allegri melangkah keluar ruang kerjanya.
Allegra tersenyum mendengar jawaban Allegri. Artinya ia setuju dengannya.
"Dahhh Guiliano, aku pulang duluan ya".
Allegri masih bisa mendengar perkataan Alle pada asistennya.
...***...
To be continue