Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04: Selamat Tinggal Akademi.
Beberapa hari kemudian...
Jantung Riko berdebar bukan karena harap, melainkan karena rasa sesak yang teramat sangat. Hari ini adalah hari pengumuman keberhasilan para calon tamtama.
Kini, ia berdiri di tengah kerumunan peserta seleksi Akademi Kepolisian, bukan karena antusias, tetapi karena terpaksa. Ia sudah tahu namanya takkan dipanggil. Karena dirinya sendiri yang sudah menggagalkan diri. Sejujurnya, ia ingin sekali bersembunyi di kamarnya, menarik selimut, dan mengubur diri dalam kesunyian. Tapi, ia harus menghadapi kenyataan ini. Ia harus datang dan melihat pengumuman itu, demi menghormati proses yang telah ia lalui.
Suara-suara di sekelilingnya terdengar bising dan mengganggu. Para peserta lain tampak tegang dan berharap-harap cemas, tapi Riko merasakan mati rasa. Ia bagai berdiri di tengah keramaian, namun terisolasi dalam gelembung rasa sakit. Sekuat apapun ia meyakinkan diri bahwa pilihannya tidak salah, tetap saja ia merasa sedih.
Tatapan matanya kosong, hanya tertuju pada bibir perwira yang memegang daftar nama. Sebentar lagi, mimpi yang telah ia korbankan akan diumumkan secara resmi di hadapan semua orang.
"...Dan peserta terakhir yang dinyatakan lolos adalah... Bagas Darmawan!"
Dunia Riko seolah berhenti berputar. Namanya benar-benar tidak dipanggil. Kakak dari kekasihnya yang lolos. Bagas, yang ia tahu tidak memiliki bakat dan kemampuan sepertinya. Bagas, yang kini telah menggapai mimpinya berkat pengorbanannya.
Sorak sorai dan tepuk tangan menggema di lapangan. Namun, bagi Riko suara-suara itu terasa seperti hinaan yang menyayat hati. Ia berusaha untuk tidak menangis, untuk tidak menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya. Ia ingin terlihat tegar, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
Riko melihat Bagas melompat kegirangan, dipeluk oleh orang tuanya dengan bangga. Ia melihat Laras berlari ke arah Bagas, memeluk kakaknya erat-erat. Riko mencoba tersenyum, namun senyumnya terasa pahit dan dipaksakan.
Ia berbalik dan berjalan menjauh dari kerumunan. Ia tidak ingin melihat kebahagiaan orang lain saat dirinya sedang merasakan kesedihan yang mendalam. Ia ingin sendiri, menyendiri dan meratapi nasibnya.
"Riko!"
Suara Laras menghentikan langkahnya. Riko berbalik dan melihat Laras berlari ke arahnya dengan wajah berseri-seri.
“Sini!" Laras menarik tangan Riko menuju tempat yang agak sepi.
“Ada apa?" Riko mengerutkan kening tak mengerti. Ia tak tahu, Laras sengaja mengajak menjauh agar tak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu lihat, kan? Kak Bagas lolos! Akhirnya, kakakku bisa jadi polisi!" seru Laras dengan nada gembira, memeluk Riko erat-erat.
Riko membalas pelukan Laras dengan kaku. Ia berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan. Ia senang karena Laras bahagia, meskipun kebahagiaan itu meminta pengorbanannya.
"Selamat ya, Laras," ucap Riko dengan suara yang berusaha ia buat seceria mungkin. "Aku ikut senang untuk Mas Bagas."
"Terima kasih, ya. Aku tahu kamu pasti senang juga, Riko," balas Laras, mencium pipi Riko dengan mesra. "Ini semua berkat kamu. Kalau kamu tidak mengalah, Kak Bagas pasti tidak akan lolos."
Riko tersenyum pahit. Laras memujinya atas pengorbanan itu. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa bangga atau sedih mendengar perkataan Laras.
"Aku mencintaimu, Riko," ucap Laras dengan suara yang lembut. "Kamu adalah orang yang paling baik dan pengertian yang pernah aku kenal. Aku janji, aku akan selalu bersamamu."
Riko menatap mata Laras. Ia percaya pada kata-kata gadis itu. Ia percaya bahwa Laras benar-benar mencintainya.
"Aku juga mencintaimu, Laras," jawab Riko memeluk Laras erat-erat. Ia berharap, dengan memeluk Laras, ia tertawa bahagia, melupakan semua kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan. Tanpa ia tahu, di belakang punggungnya Laras tersenyum mengejek.
"Lalu, kapan kita akan menikah," tanya Riko.
Laras melepaskan pelukan mereka. Dalam hatinya mengumpat, tapi ia tak boleh dulu membuat Riko marah. "Secepatnya, setelah Kak Bagas diangkat menjadi polisi, kita akan segera melangsungkan pernikahan. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istrimu." Janji yang terdengar begitu manis membuat senyum Riko semakin lebar.
"Baiklah,” jawab Riko tersenyum. "Aku akan menunggu dengan sabar, Laras," jawab Riko. Ia membayangkan masa depannya bersama Laras. Mereka menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia selamanya. Namun, apakah masa depan benar-benar akan seperti apa yang ada dalam bayangan?
"Tentu saja," ucap Laras, menggenggam tangan Riko. "Kita kan saling mencintai?”
Riko memeluk Laras semakin erat. Mimpinya untuk memiliki keluarga yang bahagia akan segera menjadi kenyataan.
Meskipun jauh di lubuk hatinya, Riko masih merasakan kesedihan, namun ia bahagia.
"Oh, iya. Kamu tadi mau pulang, ya?" Laras melepas tangan Riko. "Kalau begitu, aku pergi dulu, ya? Nanti hati-hati di jalan," pamit yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari riko. Gadis itu berlari menjauh kemudian bergabung dengan keluarganya yang sudah berkumpul di dekat gerbang Akademi.
Riko yang ditinggal begitu saja merasa kecewa. Kenapa Laras tidak membawanya untuk menyapa keluarga nya? Bukankah seharusnya Laras memperkenalkan dirinya dengan kedua orang tua nya?
Riko menggelengkan kepala mencoba mengusir rasa kecewa. "Mengkin mereka buru-buru," gumamnya tetap mencoba berpikir positif. Mengangkat wajah ke atas, menatap sekali lagi gedung tempat beberapa bulan terakhir ia menimba ilmu, mengejar mimpi.
"SELAMAT TINGGAL, AKADEMI," gumamnya sebelum membalikkan badan, melangkah pergi.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄