Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karavan Tulang Putih
Dua hari setelah penghancuran Pos Cabang 3, hutan di sepanjang Jalan Raya Barat menjadi sunyi senyap. Tidak ada bandit, pemburu hadiah, tidak ada mata-mata. Seolah-olah seluruh penjahat di wilayah itu tahu ada malaikat maut yang sedang lewat.
Ren Zhaofeng berjalan di tengah jalan utama. Jubah hitamnya berkibar pelan.
"Mereka menarik diri," gumamnya. "Cerdas."
Aliansi Ular Hitam tidak bodoh. Setelah kehilangan Tiga Taring Maut dan satu Kapten Pos, mereka menyadari bahwa mengirim kroco hanya akan memberi makan pedang Zhaofeng. Mereka pasti sedang mengumpulkan kekuatan di markas utama di Kota Perbatasan.
Zhaofeng tidak keberatan. Semakin banyak musuh berkumpul di satu tempat, semakin mudah menghabiskannya sekaligus.
Menjelang sore, Zhaofeng melihat iring-iringan panjang di depan.
Itu adalah sebuah karavan besar. Puluhan kereta kuda yang ditarik oleh Kuda Bertanduk berjalan lambat. Bendera mereka bergambar tengkorak putih di atas latar hitam.
Karavan Tulang Putih.
Salah satu dari tiga serikat dagang terbesar di dunia bawah tanah. Mereka berdagang apa saja: budak, mayat, racun, dan informasi. Mereka netral, kejam, dan sangat kaya.
Zhaofeng mempercepat langkahnya, menyusul karavan itu.
Para penjaga karavan—kultivator bayaran yang berwajah garang—segera waspada.
"Berhenti! Siapa kau?" bentak seorang penjaga berkuda.
Zhaofeng mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan separuh wajahnya di bawah caping.
"Hanya pengembara yang ingin menumpang sampai kota," jawab Zhaofeng.
Penjaga itu hendak mengusirnya, tapi kemudian dia melihat Pedang Hitam di punggung Zhaofeng. Dia juga merasakan aura darah yang samar namun pekat yang menyelimuti pemuda itu.
"Tunggu," suara wanita terdengar dari dalam kereta kuda paling mewah di tengah barisan.
Tirai kereta dibuka. Seorang wanita paruh baya yang gemuk dengan banyak perhiasan emas melongok keluar. Matanya sipit tapi tajam seperti mata pedagang licik.
"Anak muda," kata wanita itu, yang dipanggil Nyonya Gu. "Jalan ini berbahaya belakangan ini. Banyak pos hancur. Kau berjalan sendirian dengan aura seperti itu... apa kau yang melakukannya?"
Zhaofeng tidak menjawab ya atau tidak. Dia hanya melempar satu keping emas ke arah Nyonya Gu.
"Saya membayar untuk tumpangan. Bukan untuk interogasi."
Nyonya Gu menangkap keping emas itu, menggigitnya sedikit, lalu tertawa renyah. "Emas murni. Baiklah. Aku suka orang yang tidak banyak bicara. Kau boleh naik di kereta barang belakang. Tapi ingat, Karavan Tulang Putih tidak memihak. Jika ada musuhmu yang menyerang, kami tidak akan membantumu."
"Adil," kata Zhaofeng.
Dia melompat naik ke atas tumpukan peti kayu di kereta paling belakang. Di sana sudah ada beberapa penumpang lain—pengembara miskin dan buronan kecil yang mencari perlindungan di balik bendera Tulang Putih.
Zhaofeng duduk bersila di sudut, memeluk pedangnya. Dia memejamkan mata (seperti biasa), tapi telinganya memindai seluruh karavan.
Isi kereta: Kereta 1-5: Budak (suara rantai dan tangisan tertahan). Kereta 6-10: Bahan racun dan herbal terlarang. Kereta Nyonya Gu: Emas dan artefak curian.
Dan ada satu suara yang menarik perhatiannya.
Di kereta barang tepat di depannya, ada peti besi besar yang disegel dengan kertas mantra.
Dari dalam peti itu, terdengar suara detak jantung yang sangat lambat... DUM... DUM... Sekali setiap satu menit. Dan setiap detakan itu mengirimkan getaran resonansi yang membuat Pedang Hitam Zhaofeng sedikit bereaksi.
"Ada sesuatu yang menarik di sana," batin Zhaofeng.
Malam harinya, karavan berhenti untuk berkemah. Api unggun dinyalakan. Para penjaga mabuk-mabukan, sementara para budak diberi makan bubur encer.
Zhaofeng duduk sendirian di atas atap kereta, mengunyah dendeng kering.
Tiba-tiba, seorang gadis kecil kurus dengan pakaian compang-camping memanjat naik ke atap kereta. Dia membawa mangkuk kayu berisi air.
"Tuan..." cicit gadis itu takut-takut. "Nyonya Gu menyuruh saya memberikan ini."
Zhaofeng "melihat" gadis itu. Tulangnya kecil, perutnya buncit karena kurang gizi. Dia adalah salah satu budak yang diangkut.
"Kenapa kau?" tanya Zhaofeng.
"Nyonya bilang... Tuan terlihat menakutkan. Tidak ada yang berani mendekat. Jadi... dia menyuruh saya."
Zhaofeng menerima mangkuk air itu. Tidak beracun. Nyonya Gu rupanya ingin menjalin hubungan baik (atau sekadar basa-basi bisnis).
"Siapa namamu?"
"Xiao Yu."
"Xiao Yu, kembali ke tempatmu. Di sini dingin."
Gadis itu mengangguk, tapi dia ragu-ragu. "Tuan... apakah Tuan seorang Pendekar? Apakah Tuan akan membebaskan kami?"
Pertanyaan polos yang menusuk.
Zhaofeng terdiam. Dia bukan pahlawan. Dia punya misi sendiri. Menyelamatkan budak akan membuatnya berkonflik dengan Karavan Tulang Putih, yang berarti menambah musuh baru di saat dia sedang diburu Aliansi.
"Aku bukan pahlawan, Nak," jawab Zhaofeng dingin. "Aku cuma pembunuh yang kebetulan lewat."
Mata Xiao Yu meredup. Dia menunduk dan turun dari kereta.
Zhaofeng menghela napas. Hatinya sedikit terusik, tapi logikanya menahan.
Prioritas: Aliansi Ular Hitam.
Tepat saat itu, telinga Zhaofeng menangkap suara langkah kaki banyak makhluk dari dalam hutan. Bukan dari jalan, tapi mengepung dari sisi kiri dan kanan.
"Musuh?"
Zhaofeng menyentuh gagang pedangnya.
Tapi suara langkah kaki itu... berat, lincah, dan disertai suara geraman rendah.
"Bukan manusia," simpul Zhaofeng.
UAAAAGH!
Raungan primata yang mengerikan memecah keheningan malam.
Lusinan makhluk setinggi dua meter dengan bulu hitam lebat dan mata merah menyala melompat keluar dari pepohonan.
Kera Iblis Hutan. Monster yang dikenal karena kekuatan fisiknya yang brutal dan kegemarannya menculik manusia.
"Serangan Monster! Kera Iblis! Bangun!" teriak penjaga karavan panik.
Kekacauan terjadi. Kera-kera itu menyerang membabi buta, membalikkan kereta dengan tangan kosong, memukul kuda sampai mati, dan menarik para budak dari keretanya.
"Tolong!" Xiao Yu menjerit saat ditarik oleh seekor Kera Iblis yang besar.
Penjaga karavan sibuk melindungi kereta harta Nyonya Gu, mengabaikan kereta budak. Bagi mereka, budak bisa diganti, tapi emas tidak.
Zhaofeng melihat (mendengar) semua itu. Dia bisa saja diam. Kera Iblis tidak akan bisa menyentuhnya jika dia tidak bergerak.
Tapi suara jeritan Xiao Yu...
"Cih. Merepotkan."
Zhaofeng berdiri.
Dia melompat dari atap kereta.
Di udara, dia mencabut Pedang Hitam-nya.
"Seni Pedang Tanpa Wujud: Gema Jatuh."
Zhaofeng mendarat tepat di atas bahu Kera Iblis yang memegang Xiao Yu.
CRASH!
Berat tubuh Zhaofeng ditambah gravitasi pedangnya menghancurkan tulang selangka kera itu seketika.
Kera itu meraung kesakitan dan melepaskan Xiao Yu.
Zhaofeng menangkap Xiao Yu dengan satu tangan, pedang di tangan lain.
"Pegang erat-erat," kata Zhaofeng.
Dia menatap lusinan Kera Iblis yang kini menoleh ke arahnya, memamerkan taring mereka.
"Kalian mengganggu istirahatku."
Zhaofeng menerjang. Malam ini, hutan akan kembali bermandi darah. Tapi kali ini, darah monster.
💪