Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*33
Paris yang terlahir cukup peka tentu tahu apa yang sedang terjadi dengan istri barunya itu. Dia lihat kembali harga potongan baju yang Mika kembalikan ke tangannya. Paris semakin mengerti kenapa Mika mengembalikan baju tersebut.
"Tunggu di sini sebentar. Aku ada urusan."
"Iya ... baiklah."
Paris beranjak mendekat ke salah satu karyawan. Dengan sopan, karyawan itu menyambut Paris.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak. Bisa tolong saya sebentar?" Paris pun menyampaikan niat hatinya pada si pelayan mall. Si pelayan mengangguk paham.
"Baik, Pak. Saya akan bantu."
Ternyata, Paris meminta si pelayan untuk memilihkan ukuran yang tepat buat sang istri. Mulai dari piyama, hingga beberapa gaun. Paris membelikan baju-baju itu untuk Mika.
"Mika."
"Hm."
"Ayo!"
Paris yang datang dengan beberapa paper bag di tangan membuat Mika cukup bingung. "Apa itu, Mas?"
"Barang."
"Barang?"
"Hm."
Mika masih merasa penasaran, tapi bibirnya terlalu berat untuk berucap. Dia pun memilih untuk menyimpan rasa penasarannya itu dalam hati.
Paris Dieno yang jarang berbelanja di mall, karena istri barunya malah muncul di sana. Mana berjalan dengan membawa barang lagi. Sungguh pemandangan yang tidak biasa.
Dalam keramaian mall pusat kota, sepasang mata langsung membulat ketika melihat wajah Paris yang sangat dikenalinya dengan sangat baik.
"Pak Paris." Orang itu berucap dengan nada tak percaya.
"Dengan siapa pak Paris keluar sekarang? Dia, dia bukan mbak Naya."
Gegas, tangan si wanita yang baru saja melihat Paris berjalan dengan wanita lain itu mengeluarkan ponselnya. Niat ingin mengambil foto. Tapi sayang tidak sempat. Alhasil, si wanita malah memilih segera menghubungi Naya untuk memberikan laporan.
"Halo."
"Mbak Naya. Mbak di mana?"
"Di rumah. Ada apa?"
"Mbak. Ada kabar mengejutkan. Saya baru saja melihat suami mbak Naya jalan dengan wanita lain. Sumpah, mbak. Saya tidak bohong."
Deg. Jantungnya tidak bisa bersikap normal walau dia tahu, yang jalan dengan Paris pastilah Mika. Si istri kedua yang dia bawa masuk ke dalam rumah tangganya.
"Mbak."
"Iya. Biarkan saya. Yang jalan dengan suamiku adalah adik sepupu jauhnya yang baru datang ke kota." Bohong Naya dengan nada gugup yang masih terasa sangat jelas.
"Sepupu jauh?"
"Iya. Sepupu jauh Paris yang baru datang. Dia ingin jalan-jalan, suamiku menemaninya."
"Oh, aku pikir dia orang ketiga tadi, mbak. Ya sudah kalau gitu, maafkan aku yang sudah mengganggu waktunya mbak Naya."
"Hm. Iya."
Panggilan itu langsung berakhir. Bersamaan dengan berakhirnya panggilan dari seseorang yang mengenali Naya, hembusan napas berat pun Naya perdengarkan. Manik matanya berkaca-kaca.
"Sepupu jauh. Aku terlalu naif dan bodoh. Setelah aku datangkan orang ketika, hatiku malah merasa tidak rela saat tahu suamiku berjalan dengan istri barunya. Sungguh hati yang tidak bisa aku jaga."
Bagaimanapun rela nya wanita di madu, tapi kata ikhlas itu tidak akan pernah tercapai. Karena, tidak ada hati yang ikhlas di bagi.
Naya terdiam dengan tatapan kosong lurus ke depan. Hatinya mulai bimbang dengan keputusan yang sudah dia ambil. Keputusan mendatangkan orang ketiga dalam rumah tangganya mulai dia pertanyakan kebenarannya. Tapi, cepat Mika membimbing hati agar tidak merasa ragu.
"Sadarlah, Naya. Kesalahan yang telah kamu perbuat, sudah pasti harus di tebus. Dan, keputusan yang telah kamu ambil adalah keputusan yang paling tepat."
*
"Apa? Semuanya, Mas? Sebanyak ini?"
"Hm. Tentu saja. Bukankah aku sudah bilang kalau lemari kosong yang ada di samping ranjang itu perlu di isi, Mika? Jadi, aku penuhi tanggung jawabku sebagai suami kamu buat mengisi lemari tersebut."
Ucapan dengan wajah tulus tanpa beban yang Paris perlihatkan membuat Mika benar-benar merasa serba-salah. Di satu sisi, wanita ini bahagia. Sangat bahagia. Tapi, di sisi lain hatinya malah merasa tidak nyaman. Seperti, merasa bersalah pada seseorang.
"Iya ... terima kasih. Tapi, hanya kali ini saja. Kedepannya, jangan begini lagi," ucap Mika ragu-ragu.
"Kenapa? Bukankah aku punya tanggung jawab atas kehidupan mu, Mi?"
"Iya ... kamu memang punya tanggung jawab, Mas. Tapi, pernikahan kita hanya-- "
"Mikaila. Aku sudah bilang berulang kali, pernikahan kita sah di mata agama dan negara. Karenanya, aku punya tanggung jawab atas dirimu. Jangan merasa tidak enak dengan apa yang aku lakukan. Karena aku tidak ingin di cap sebagai suami pelit di mata Tuhan ku. Aku harap kamu mengerti, Mika."
Mika hanya diam saja. Dia kehabisan kata-kata sekarang. Karena barusan, Paris malah membawa nama Tuhan. Jadinya, Mika tidak lagi bisa membantah.
Di sisi lain, Naya yang sedang banyak pikiran malah tidak sengaja tergelincir ketika dia menuruni anak tangga. Kaki si wanita terkilir. Naya terluka cukup serius akibat jatuh dari tangga. Si bibi pun langsung menghubungi Paris untuk mengabari kondisi Naya saat ini.
"Iya, Bi. Ada apa?"
"Pak Paris. Non Naya kena musibah, Pak. Saat ini, kami sudah ada di rumah sakit. Non Naya jatuh dari tangga, Pak."
Paris yang mendengar ucapan si bibi langsung bangun dari duduknya. "Apa? Naya jatuh? Kok bisa?"
"Saya juga tidak tahu apa penyebabnya, Pak. Tapi, kondisi non Naya cukup serius. Kepalanya terluka. Dan, kakinya terkilir."
Wajah cemas Paris terlihat dengan sangat jelas. "Kirimkan padaku alamat rumah sakitnya sekarang. Aku ke sana sekarang juga."
Tanpa pikir panjang lagi, Paris langsung meraih jas miliknya yang ada di atas meja. Karena terlalu cemas, Paris lupa jika dia saat ini tidaklah sedang sendirian. Ada istri keduanya yang sedang berada di ruangan yang sama dengan dirinya. Sayang, rasa cemas Paris membuat dia lupa segalanya.
Mika yang melihat hal tersebut tiba-tiba merasakan perasaan perih yang menyusup ke dalam relung hati. Rasa perih itu sungguh sangat nyata. Sampai sulit untuk Mika tahan.
Mika mengukir senyum pahit. Berusaha menyadarkan diri dengan mengusap wajah sesaat. "Ayolah, Mika. Perasaan macam apa ini yang sedang kamu rasakan?"
"Dia pergi. Itu wajar. Istrinya masuk rumah sakit, Mika. Istrinya terluka. Kamu kenapa bisa merasa pilu seperti ini. Kamu siapa, hm?"