Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ima, Ai ni Yukimasu (Be Whit you)
Bambang dan Wawan hanya mengantar Digta sampai kosan selebihnya mereka menyerahkan urusan Digta kepada Raisa. Seperti halnya Yanto mereka pun harus segera pergi ke kampus.
"Kamu udah minum obat?" tanya Raisa memastikan.
"Udah tadi pagi," sahut Digta sambil duduk di meja belajar, tampaknya dia sedang sibuk memilih beberapa CD film.
"Mau makan?" tanya Raisa lagi mulai mendekat ke arah Digta, menawarkan perhatian.
"Nggak, tadi aku udah makan di rumah sakit," Sahut Digta, tampaknya Digta sudah menemukan judul film yang akan dia tonton bersama Raisa.
"Hmm, mau nonton film nggak?" tanya Digta sambil menujukan sebuah CD kepada Raisa.
"Kamu nggak pengen istirahat, tiduran," kata Raisa sambil menyimpan obat-obatan itu di atas meja, khawatir dengan kondisi Digta.
"Udah 3 hari tiduran terus bosen," ungkap Digta, merasa jenuh dengan rutinitasnya.
"Mau nonton film nggak?" Tanya Digta lagi, tidak menyerah.
"Boleh," jawab Raisa akhirnya mengalah.
"Mau nonton apa," kali ini Raisa balik bertanya, memberikan pilihan kepada Digta.
"Ima Ai ni yukimasu," Sahut Digta sambil menujukan CD itu lagi kepada Raisa.
"Filmnya bercerita tentang apa?" Raisa mulai penasaran dengan film yang dipilih Digta.
"Kalau di kasih tau namanya spoiler dong," ungkap Digta sambil memutar film itu di PC miliknya.
"Kamu suka Drama Jepang nggak?" tanya Digta lagi, mencari tahu selera Raisa.
"Emm, dulu sih suka nonton di tv," jawab Raisa sambil tersenyum mengingat masa lalunya.
Kemudian mereka duduk berdekatan sambil menikmati film itu, menciptakan suasana yang nyaman dan romantis.
Tidak lupa Digta mengeluarkan cemila dan minuman ringan dari dalam lacinya, melengkapi momen kebersamaan mereka.
"Sambil ngemil,"ungkap Digta lagi, menawarkan makanan ringan kepada Raisa.
Raisa hanya tersenyum sambil mengambil sebungkus keripik, merasa senang dengan perhatian Digta.
Mereka pun menonton film itu dengan hikmat, larut dalam cerita yang mengharukan. Tak terasa air mata Raisa jatuh ke pipi Digta yang menyadari hal itu kemudian tertawa kecil.
"Ih kok ketawa," ungkap Raisa sedikit sewot, merasa malu karena ketahuan menangis.
Sambil kembali fokus menonton film itu, Digta malah fokus memperhatikan Raisa dari pada fokus pada filmnya, terpesona dengan kecantikan gadis itu.
"Kok kamu malah liatin aku," ucap Raisa sambil mengarahkan kepala Digta untuk fokus menonton film, merasa risih dengan tatapan Digta.
"Kamu kalau lagi nangis tambah cantik yaa," ucap Digta masih memperhatikan Raisa, membuat pipi gadis itu merona merah.
"Iih, apaan sih," Raisa mulai salting, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Apa aku bikin kamu nangis aja ya setiap hari," ungkap Digta lagi, menggoda Raisa dengan senyum nakal.
"Diih jahat banget," mata Raisa mulai mendelik ke arah Digta, merasa kesal dengan godaan Digta.
"Di bikin nangisnya, pake film maksudnya," Digta Tersenyum tipis sambil kembali memperhatikan alur cerita film itu, menjelaskan maksudnya.
Tak terasa film itu pun akhirnya selesai, meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya.
Raisa sibuk menghapus air matanya, mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Kamu tuh gampang banget nangis yaa," ungkap Digta sambil mengeluarkan CD film itu dari CPU, memperhatikan Raisa dengan lembut.
"Soal aku ngerti banget rasanya," Digta menoleh ke arah Raisa saat mendengar ucapannya, penasaran dengan apa yang ada di pikiran gadis itu.
"Aku percaya lho, semua itu bisa terjadi," ungkap Raisa lagi membuat Digta semakin serius memperhatikannya, merasakan ada sesuatu yang istimewa dalam diri Raisa.
"Maksudnya?" Digta mulai penasaran dengan ucapan Raisa, ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu.
"Kesempatan ke 2, untuk bersama orang yang kita cintai," Raisa mulai menjelaskan, mengungkapkan isi hatinya.
"Kalau kamu di kasih kesempatan untuk hidup lagi," Digta tak meneruskan bicaranya dia menyimpan CD film itu di atas meja, menunggu jawaban Raisa.
"Apa yang akan kamu lakukan," Sambung Digta menyelesaikan kalimatnya, menatap Raisa dengan penuh harap.
"Eugh," mata mereka kini saling bertemu, menciptakan koneksi yang kuat di antara keduanya.
"Aku akan selalu berada di samping orang yang aku cintai, aku ingin memastikan dia bahagia," ungkap Raisa dia berhenti berbicara sejenak, mengatur napasnya.
"Aku akan memperbaiki semua, sehingga tidak akan ada penyesalan lagi," Raisa menyelesaikan kalimatnya, mengungkapkan tekadnya.
"Kalau kamu?" Raisa balik bertanya, memberikan kesempatan kepada Digta untuk mengungkapkan perasaannya.
"Emm,"Digta berpikir sejenak mata masih menatap Raisa tajam, mencari jawaban yang tepat.
"Aku akan menjaganya dan melindungnya walau pun aku harus mati," Digta mejawab dengan nada yang serius, mengungkapkan cintanya yang tulus.
"hust, jangan suka ngomong sembarangan," Raisa tampak kaget mendengar ucapan Digta, khawatir dengan apa yang akan terjadi.
"Aku akan melindungi orang yang aku cintai bagaimanapun caranya," kata Digta lagi, meyakinkan Raisa tentang perasaannya.
"Eugh..."
Mereka saling menatap cukup lama seperti ada perasaan sakit yang cukup dalam yang mereka simpan di dalam hati, merasakan beban masa lalu yang masih menghantui.
"Udah akh, aku nggak mau kamu ngomong yang aneh-aneh," Raisa sedikit sewot, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kamu kenapa-kenapa, apa menurut kamu, orang yg kamu cintai akan baik-baik saja," Raisa mulai berbicara serius, mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku berharap kamu akan baik-baik saja," Digta menatap Raisa sambil tersenyum, memberikan harapan.
"Heuuh" Raisa sedikit terkejut mendengar ucapan Digta, tidak menyangka dengan jawaban Digta.
"Kamu bener nggak tau siapa yang aku maksud?" kata Digta lagi Raisa hanya diam dia tak sanggup berkata-kata, merasa gugup.
"Eugh, orang yg aku cintai itu, gampang banget nangis, orangnya sedikit aneh suka tiba-tiba datang, pokoknya absurd," Ungkap Digta mimik mukanya seolah sedang menggoda Raisa, membuat gadis itu tersipu malu.
"Waah selera kamu aneh ya," Raisa tertawa agak di paksakan, mencoba menutupi kegugupannya.
"Hehehehe"
"Iya selera ku, memang payah sih," kata Digta lagi masih tersenyum ke arah Raisa, menikmati momen itu.
"Sialan," ucap Raisa pelan, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Apa?"
"Waktunya minum obat," ucap Raisa mengalihkan pembicaraan, merasa salah tingkah.
"Tapi harus makan dulu," ucap Raisa lagi, memberikan perhatian kepada Digta.
"Kan tadi udah makan kripik kentang," sahut Digta, mencoba menghindar.
"Itu kan kripik bukan Nasi," kata Raisa dengan nada tegas, tidak mau kalah.
"Itu kan juga karbo," sahut Digta mendebat, mencari alasan.
Raisa sedikit melotot ke arah Digta membuat Digta ciut akhirnya dia memilih untuk diam, takut dengan tatapan Raisa.
"Tadi aku bikinin bubur buat kamu," Raisa mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya, menunjukkan perhatiannya.
"Tapi kayanya udah dingin harus di angetin," sambung Raisa, khawatir dengan kondisi bubur itu.
"Haah..."
Digta mulai menghela nafasnya, merasa pasrah.
"Sini biar aku aja yang angetin," ungkap Digta, menawarkan bantuan.
"Nggak, biar aku aja," sahut Raisa sambil beranjak menuju Dapur umum yang Digta tunjukan, tidak mau merepotkan Digta.