NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku di sini bersamamu

Elang mencengkram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terjulur ke belakang, mencoba menyentuh kaki Kanara yang terkulai di pangkuan Nura.

Di kursi belakang, Nura bergerak cepat. Ia membungkus tubuh kecil itu dengan kardigannya, menggosok pipi, telapak tangan, dan kaki Kanara dengan gerakan ritmis yang konstan.

“Kanara, dengar Kak Nura,” bisiknya. “Tarik napas, Sayang. Bernapas.”

Kepala Kanara sempat mendongkak sedikit seolah mencari udara, tapi kembali jatuh terkulai.

“Nura…,” suara Elang pecah, bergetar hebat di antara deru mesin. “Tolong bilang kalau ini bukan–”

“Jangan selesaikan kalimat itu, Pak!” potong Nura tajam. “Kanara masih di sini. Fokus menyetir!”

Lampu merah diterobos. Sahutan klakson yang memekakkan telinga dari kendaraan lain tidak lagi dihiraukan. Fokus Elang hanya jalanan di depannya.

Nura mulai menghitung napas Kanara. jantungnya sendiri berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. Satu… dua… tiga… terlalu lambat.

“Syok ekstrim,” gumam Nura, lebih kepada dirinya sendiri. “Tubuhnya shutdown.”

Elang menggigit bibirnya hingga berdarah. Rasa sakit itu adalah satu-satunya cara agar kesadarannya tidak ikut tumbang.

Mobil berhenti dengan sentakan keras di area drop zone rumah sakit. Tanpa sempat menutup pintu, Elang melompat turun lalu membuka pintu belakang dengan tergesa-gesa, tangannya gemetar saat membantu Nura menurunkan Kanara dengan hati-hati.

Segera tim medis mendekat dengan brankar darurat. “Apa yang terjadi?” tanya perawat dengan suara tegas, namun lembut, saat mereka menempatkan Kanara di atas brankar.

“Dia pingsan setelah serangan panik hebat, tubuhnya sangat dingin tapi wajahnya sempat memerah tadi,” jelas Nura dengan cepat. Tangannya masih enggan melepas jemari lemas Kanara hingga brankar itu didorong menjauh.

Di dalam ruang tindakan, monitor di pasang, selimut darurat di bentangkan.

Elang hanya berdiri membeku di ambang pintu, tatapannya kosong, sementara Napasnya memburu pendek-pendek.

Dokter segera melakukan pemeriksaan darurat. Dahinya mengerut ketika menyentuh dahi dan telapak tangan Kanara. “Suhu tubuhnya di bawah normal. Ada tanda-tanda syok akibat stres ekstrim dan kelelahan emosional.”

Beberapa perawat mendekat.

“Segera berikan cairan infus,” instruksi dokter pada perawat. Ia lalu menoleh dan mendapati Elang masih di situ. “Pak, tolong tunggu di luar. Kami butuh ruang untuk bekerja.”

Langkah Elang goyah saat Elang melangkah mundur. Dunianya seakan melambat. Suara dengung lampu koridor menyakitkan telinga.

Elang jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin. Ia menunduk dalam, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.

“Aku gagal,” lirihnya. “Aku seharusnya bisa melindunginya, Nura. Aku payah.”

Nura menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia duduk di samping Elang, tidak menyentuh atau memeluknya. Hanya hadir menemani.

“Ini bukan kegagalan, Pak,” ujar Nura dengan nada yang dipaksakan stabil. “Ini hanya trauma yang belum tuntas. Kita tidak bisa melawan ingatan hanya dengan keinganan.”

Elang mengangkat wajahnya, matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi juga karena luka yang menganga. “Aku hampir kehilangan dia.”

Nura menatap lurus ke pintu IGD yang tertutup rapat. “Tapi dia masih di sini. Kanara sedang berjuang, dan kita harus melakukan hal yang sama.”

**********

Elang tidak tahu, berapa lama ia duduk di kursi besi yang dingin itu. Di balik pintu IGD, Kanara sendirian. Pikiran itu menggerogoti Elang tanpa henti.

Ia menunduk menatap telapak tangannya, yang masih menyisakan sensasi dingin dari tubuh Kanara. Dingin yang asing, yang seharusnya tidak pernah dirasakan oleh tubuh mungil anak berusia enam tahun.

“Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku tidak membiarkannya sekolah. Seharusnya aku tidak melepaskan pandanganku darinya,” gumamnya pedih.

Kata ‘seharusnya’ menjelma menjadi beban yang kian menghimpit dadanya.

Beberapa langkah darinya, Nura berdiri bersandar pada dinding koridor. Wajahnya mulai tenang, tapi ketegangan di bahunya belum seluruhnya luruh.

“Nura,” panggil Elang lirih.

Nura menoleh, mendapati sosok pria yang biasanya tegar itu kini tampak rapuh.

“Kalau saja hari ini, aku tidak memaksa Kanara sekolah–”

“Pak Elang,” potong Nura. Suaranya lembut tapi memiliki ketegasan yang menenangkan. “Trauma tidak bekerja mengikuti logika kita. Kejadian ini bukan karena Bapak memintanya sekolah.”

Elang tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Tapi mereka tidak mengerti… yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana adalah anakku.”

Nura terdiam. Ia tahu, dalam kondisi begini, tidak ada kata-kata yang bisa menghibur Elang.

Hening kembali menyelimuti mereka, hanya menyisakan dengan suara dengung lampu koridor yang monoton.

“Aku sudah kehilangan ibunya,” ujar Elang pelan, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Aku sudah berjani pada diriku sendiri… Kanara tidak akan pernah kehilangan siapa pun lagi. Aku akan melindunginya dari apapun.”

Ia menarik napas panjang yang gemetar. “Tapi, hari ini,” lanjutnya. “Aku bahkan hampir kehilangan dia… tepat di depan mataku sendiri.”

Melihat kerapuhan itu, Nura perlahan duduk kembali di samping Elang. Masih seperti tadi, ia tidak memberikan kontak fisik berlebihan, namun kehadirannya terasa begitu nyata. “Pak Elang tidak sendirian menghadapi ini. Tidak hari ini, tidak juga nanti.”

Elang mengangkat wajahnya. Untuk beberapa detik, pandangannya beradu dengan Nura.

Di balik mata Elang yang memerah, Nura melihat luka yang sangat dalam.Tiba-tiba jantung Nura berdegup kencang tidak karuan. Ada getaran aneh yang menyusup ke dadanya.

Nura segera memalingkan wajah, untuk menyembunyikan rona panas yang mulai menjalar di pipinya. Dengan suara bergetar, ia memberanikan diri melanjutkan. “Aku tahu ini tidak akan langsung menghapus rasa takut Bapak. Tapi… aku di sini. Aku bersama Bapak.”

Elang menatap lama wajah yang menunduk itu. Dahinya sedikit berkerut. Ada sesuatu pada wanita muda ini yang seolah ingin berbagi beban dan kelelahan yang selama ini ditahannya sendiri.

Pandangan Elang terputus saat pintu IGD akhirnya terbuka.

Seorang dokter melangkah keluar dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Elang seketika berdiri, disusul Nura yang mengekor di belakang dengan cemas.

“Bagaimana keadaan putri saya anak, Dok?” tanya Elang tanpa basa-basi.

“Secara fisik tidak ada yang luma, tapi guncangan emosionalnya sangat hebat,” jelas dokter dengan nada serius. “Tubuhnya melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara ‘shutdown’ atau pingsan sementara.”

Elang memejamkan mata sesaat, sedangkan Nura tertahan dalam napasnya.

“Kapan dia akan sadar?” suara Elang terdengar parau.

“Segera,” jawab dokter. “Suhu tubuh mulai merangkak naik ke angka normal, tapi dia membutuhkan observasi ketat dan istirahat total untuk memulihkan sistem sarafnya.

Hembusan napas lega keluar dari mulut Elang, meski kekhawatiran belum sepenuhnya menghilang.

“Dan satu hal lagi,” lanjut Dokter, menatap Elang dengan tajam. “Setelah ini, pastikan lingkungannya stabil. Jangan sampai ia mengalami syok ekstrim yang sama dalam waktu dekat. Itu bisa berbahaya bagi perkembangan psikisnya.”

Elang mengangguk mantap. “Apapun akan saya lakukan, Dok.”

Dokter kemudian beralih menatap Nura. “Ibu keluarganya?”

Nura tertegun. Ada jeda sepersekian detik yang terasa canggung sebelum ia menjawab, “Saya… saya terapisnya, Dok.”

Dokter itu mengangguk paham. “Bagus. Pasien merespon terhadap kehadiran Anda tadi. Tetap di sampingnya saat dia sadar nanti. Dia butuh wajah yang dia kenali dan dia percayai.”

Elang menoleh ke arah Nura. Matanya yang masih merah menyiratkan rasa terima kasih dan banyak hal yang tidak sanggup ia ucapkan.

Nura hanya mengangguk pelan, menyanggupi janji yang kini jauh terasa lebih personal daripada sekadar tugas seorang terapis.

**********

Di dalam bilik IGD yang tenang, hanya terdengar suara monitor jantung yang berbunyi teratur. Elang duduk di sisi ranjang, jemarinya bergerak ragu namun lembut, merapikan rambut Kanara yang berantakan.

Di sisi lain, Nura berdiri berjaga tepat di dekat kepala Kanara. Ia tidak melepaskan genggamannya pada tangan mungil itu, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatannya pada Kanara.

Tidak berapa lama kemudian, sebuah gerakan kecil terjadi. Kelopak mata Kanara mulai bergetar, laku terbuka sedikit demi sedikit. Tatapannya masih tampak kabur dan bingung, namun saat matanya menangkap sosok Nura yang paling dekat dengannya, Kanara seketika meremas tangan Nura.

Nura membalas remasan itu dengan usapan lembut di punggung tangan Kanara. “Kanara… ini Kak Nura. Kamu sudah aman, Sayang,” bisiknya. Pertahanan Nura akhirnya jebol. Air mata lolos dan membasahi pipinya.

Kanara mengangguk sangat pelan. Bibirnya yang pucat tampak bergerak-gerak, berusaha membentuk kata tanpa suara.

Nura menatap Elang dengan isyarat bingung. Elang pun mengernyitkan dahi, ikut mencoba membaca gerakan bibir putrinya.

Secara serempak, Nura dan Elang membungkuk. Mereka mendekatkan telinga sedekat mungkin dengan bibir Kanara, menahan napas agar tidak melewatkan suara sekecil apapun.

Mata keduanya seketika membelalak. Suara itu begitu lirih, hampir berupa bisikan pelan. Tapi mereka mendengar dengan jelas.

“Kak… Nura…,” ucap Kanara dengan napas yang masih tersenggal. “Jangan… pergi….”

Deg.

Jantung keduanya berdegup kencang.

1
Ayank~Oma
Jaga jarak, jaga hatimu Nura, manusia kayak gitu sulit untuk berubah. Jangan harap menjalani hubungan serius dengan Elang akan berjalan mulus tanpa kendala.
Ayank~Oma
Jadi curiga sama bapaknya sendiri. Jangan jangan Darmawan ingin menghancurkan anaknya sendiri 🤔
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
seneng bgt interaksi semakin membaik 🥺
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
pak, apakah ini sebuah kecemburuan? /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
duh bener2 hrs diperhatikan inimah, semoga tepat keputusan nura buat stay dirumah elang
PrettyDuck
elang ini mungkin tipe yang susah ngungkapin rasa sayang ya, makanya kanara susah deket sama dia 🥲
PrettyDuck
yaudah, ajak pacaran dulu minimal /Chuckle/
-Thiea-
Nura itu wanita istimewa mas. percayalah.🤭
-Thiea-
sekarang emang belum jadi siapa-siapa. tapi nanti siapa yang tahu🤭
Ramun🍓😈
siapa iblis itu. kok aku merasa itu ayahnya. Krena keknya mencurigakan cara bicaranya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
memang tugasnya. tapi, setidaknya kamu bisa melihat. hanya Nura yang bisa membuat Kanara nyaman. eh /Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
saking sunyinya. bahkan elang merindukan kekacauan yang di buat oleh anaknya /Whimper/
Alessandro
wahhh..... wah...... babak baru, nih... bs berlanjut
Alessandro
org2 dg panic attack bgini.. bs hidup dg normal gasi?
kasian kl tiba2 histeris
Ramun🍓😈
Kita kan tidak bisa mencegah kemana hati kita akan berlayar Nura😩. positif thinking saja, smoga pak Elang juga menyukaimu
WDY
cie cie mulai tumbuh ni kayaknya benih benih cinta🤭🤭🤭
WDY
keluarga cemara 😄😄😄😄 dah lah jadiin terus Thor mereka
Meee
Hm. Kayaknya mereka emang harus jadi satu keluarga beneran, deh. Soalnya Kanara keknya bakal makin parah traumanya semisal dipisah dari Nura. Sedangkan untuk kerja terus-terusan kan gak mungkin juga. Mumpung sama-sama single, ya... yaudah. Marketing KUA berhasil tandanya 🤣
Meee
Mungkin karena itu aku gabisa jadi kek Nura. Soalnya sarannya Zoya terasa menggiurkan untuk dicoba 🤣
An_ Nas ywa
Hallo Author ... aku baru bergabung d platform ini krn mengikuti Author kesayanganku dr platform F. Yang akhirnya aku menemukan 1 cerita yg membuat aku tertarik utk baca. Tentang Nura, Elang & Kanara. Smp Akhir nya mulai baca Karya Author yg lain ...
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍
Nuri_cha: waaah, terima kasih banyak ya kak 🥺🙏
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!