NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu tahun

Sesampainya di rumah Arga, Anya merasa terkejut dan terpukau dengan kemegahan dan kemewahan rumah tersebut. Rumah itu terlihat sangat besar dan megah, jauh berbeda dengan rumahnya sendiri yang meskipun juga besar, namun tidak semegah dan semewah rumah Arga.

Ini adalah pertama kalinya Anya berkunjung ke rumah Arga setelah mereka menikah. Ia merasa sedikit gugup dan tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan keluarga Arga.

Namun, belum sempat Anya mengagumi kemegahan rumah Arga lebih lama, Arga sudah berlari masuk ke dalam rumah dengan riang dan bersemangat, melupakan Anya yang tertinggal di belakangnya dengan perasaan kesal dan jengkel.

Anya menghela napas, mencoba menenangkan diri. Ia tidak boleh terpancing emosi. Ia harus tetap menjaga sikap di depan keluarga Arga.

Dengan langkah anggun, Anya memasuki rumah mewah itu. Interiornya didominasi warna emas dan putih, memberikan kesan mewah dan elegan. Berbagai lukisan mahal terpampang di dinding, menambah kesan artistik.

"Arga!" panggil Anya dengan nada sedikit tinggi, berusaha mencari keberadaan suaminya.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan senyuman ramah di wajahnya menghampiri Anya. Pria itu mengenakan setelan jas mahal yang semakin menegaskan statusnya sebagai orang yang kaya raya dan berkuasa. Siapa lagi kalau bukan Pramudya Angkasa, ayah dari Arga dan juga orang yang telah menjodohkan Anya dengan putranya.

"Selamat datang di rumah kami, Anya," ucap Pramudya dengan nada yang hangat dan bersahabat.

Anya memaksakan sebuah senyuman canggung di wajahnya dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pramudya. "Senang bertemu dengan Anda, Ayah," jawab Anya dengan nada yang terpaksa dan berusaha untuk mengingat teguran yang diberikan oleh ayahnya pagi ini.

Meskipun begitu, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Anya masih merasa sangat kesal dan marah terhadap pria yang berdiri di hadapannya ini. Gara-gara Pramudya dan ayahnya yang telah menjodohkan dirinya dengan Arga, Anya harus mengorbankan kebahagiaannya dan menjalani pernikahan yang terasa seperti mimpi buruk baginya.

Pramudya tersenyum lebar, terlihat sangat senang mendengar Anya memanggilnya dengan sebutan "Ayah". Ia menggenggam tangan Anya dengan erat, seolah menyambutnya sebagai bagian dari keluarga mereka.

"Saya merasa sangat senang dan lega karena kamu akhirnya bersedia datang ke rumah ini, Anya," ucap Pramudya dengan nada yang tulus dan tatapan mata yang penuh dengan harapan. "Saya yakin kamu pasti merasa sangat lelah dan terbebani dengan sikap dan perilaku Arga selama beberapa hari terakhir ini."

Anya memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya dan berusaha untuk menjawab pertanyaan Pramudya dengan jujur dan apa adanya. "Sejujurnya, Ayah, selama saya berada di dekat Arga, ada banyak sekali hal-hal yang sulit untuk saya terima dan pahami dari dirinya."

"Saya merasa bahwa saya bukanlah istri yang tepat untuk Arga dan saya juga tidak memiliki kemampuan atau kapasitas yang cukup untuk membantu Arga," lanjut Anya dengan nada lirih, mengungkapkan keraguannya.

Pramudya menghela napas panjang, menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya tahu ini tidak mudah untukmu, Anya," ucap Pramudya dengan nada lembut. "Tapi saya mohon, bersabarlah sedikit lagi."

Anya terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Pramudya.

"Arga memang berbeda dari orang lain," lanjut Pramudya. "Tapi dia memiliki hati yang tulus dan sangat menyayangimu."

Anya tersenyum sinis dalam hati. Sayang? Arga menyayanginya dengan cara yang aneh dan membuatnya tidak nyaman.

"Saya tahu ini terdengar egois," ucap Pramudya lagi. "Tapi saya mohon, jangan tinggalkan Arga. Dia sangat membutuhkanmu."

Anya menatap Pramudya dengan tatapan tajam. "Kenapa Ayah begitu memaksakan kehendak Ayah padaku?" tanya Anya dengan nada yang mulai meninggi. "Kenapa aku harus berkorban demi Arga? Apa yang akan aku dapatkan dari pernikahan ini?"

Pramudya terkejut mendengar pertanyaan Anya yang begitu jujur dan menusuk. Ia tidak menyangka Anya akan mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya dengan begitu terus terang.

"Ayah pastikan kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan, Anya. Ayah akan memberikan apa pun yang kamu minta," ucap Pramudya dengan nada membujuk, mencoba menenangkan Anya.

"Ini bukan tentang kemauan Ayah, ini tentang ketidakmampuan aku, Ayah! Aku tidak mampu menjalani pernikahan ini lebih lama lagi!" balas Anya dengan nada putus asa.

"Anya, sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri pernikahan ini, apakah kamu sudah mempertimbangkan bagaimana nasib perusahaan keluarga kamu nantinya?" tanya Pramudya dengan nada yang berubah menjadi dingin dan mengancam, seolah-olah sedang menekan Anya dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya.

"Ayah sudah berusaha membantu kamu dengan menyetujui pernikahan ini, meskipun Ayah tahu bahwa pernikahan ini juga terjadi karena adanya paksaan dari kedua belah pihak. Tapi coba kamu pikirkan lagi baik-baik, Anya, kalau kamu tetap bersikeras ingin bercerai dari Arga, maka kamu tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Pramudya dengan nada mengancam, berusaha memanipulasi Anya agar tetap bertahan.

Lagi dan lagi, ancaman itu berhasil meruntuhkan semua pertahanannya yang telah ia bangun dengan susah payah. Bukan karena cinta atau kasih sayang, melainkan karena perusahaan keluarganya yang menjadi taruhan, ia rela mengorbankan segalanya sampai sejauh ini.

Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa pasrah dan menerima segala ancaman yang datang dari keluarganya dan juga keluarga Arga yang seolah-olah tidak ingin melepaskannya dari pernikahan yang sangat memuakkan ini.

"Baiklah, Ayah," ucap Anya dengan nada pasrah, namun ada tekad tersembunyi di dalamnya. "Tapi ada satu hal yang aku inginkan, dan Ayah harus memenuhinya!"

"Katakan saja, apa pun yang kamu inginkan akan Ayah kabulkan," jawab Pramudya dengan cepat, merasa lega karena Anya akhirnya luluh.

Anya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia harus memastikan rencananya berjalan lancar.

"Aku ingin satu tahun," ucap Anya dengan nada tegas, menatap Pramudya tanpa gentar.

Pramudya mengerutkan kening, bingung. "Satu tahun? Satu tahun untuk apa?" tanyanya.

"Aku ingin diberi waktu satu tahun untuk mencoba menjadi istri yang baik untuk Arga," jelas Anya. "Jika setelah satu tahun aku masih merasa tidak bisa, aku ingin Ayah mengizinkanku untuk bercerai dari Arga tanpa ada paksaan atau ancaman apapun."

Pramudya terdiam, tampak berpikir keras. Ia tidak menyangka Anya akan mengajukan permintaan seperti itu.

"Kenapa kamu ingin waktu selama itu?" tanya Pramudya, menyelidik.

"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Arga," jawab Anya, berbohong. "Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak berusaha semaksimal mungkin."

"Baiklah," ucap Pramudya akhirnya, menyetujui persyaratan Anya. "Aku akan memberikanmu waktu satu tahun. Tapi ingat, jika setelah satu tahun kamu sudah mencintai Arga dan tetap meminta untuk bercerai, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari keluarga Angkasa."

Anya tersenyum tipis, menyembunyikan rasa lega dan keyakinan di balik senyumnya. "Aku mengerti, Ayah," ucap Anya, merasa bahwa ia telah memenangkan satu langkah dalam permainannya.

Ia sangat yakin bahwa dirinya bisa keluar dari pernikahan ini tanpa terikat perasaan apa pun. Ia juga sangat yakin bahwa hatinya tidak akan pernah jatuh cinta pada Arga, tidak peduli apa yang terjadi selama satu tahun ke depan.

Setelah berdiskusi panjang lebar, Pramudya mengajak Anya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Arga saat ini. Dengan langkah yang berat dan enggan, Anya berjalan di samping Pramudya menuju ke tempat yang dituju.

Pramudya membawa Anya ke sebuah kamar yang terletak di lantai dua rumah megah ini. Ternyata, kamar tersebut adalah kamar pribadi milik Arga.

Dengan perlahan, Pramudya membuka pintu kamar Arga. Pemandangan yang menyambut mereka sungguh memilukan. Arga meringkuk di pojok kamar, menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat boneka kelinci kesayangannya.

Tanpa ragu sedikit pun, Pramudya langsung masuk ke dalam kamar dan berlari menghampiri putranya yang sedang menangis. Dengan penuh kasih sayang, Pramudya memeluk Arga dengan erat dan berusaha menenangkannya. "Arga, ini Ayah, Nak," ucap Pramudya sambil mengusap-usap punggung Arga dengan lembut.

Anya yang melihat pemandangan tersebut merasa sangat bingung dan tidak mengerti. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Arga? Padahal, saat mereka tiba di rumah ini, Arga terlihat sangat senang dan bersemangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!