Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KEHENINGAN DI BALIK BADAI
Setelah kejadian di ruang musik, Alsya pulang ke rumah dalam keadaan hancur. Dia tidak lagi melawan saat Mama Luna mengambil tasnya, tidak pula membantah saat Papa Saga memaki-makinya karena "terbukti" hanya dimanfaatkan oleh laki-laki berandalan.
Alsya hanya diam, duduk di tepi tempat tidurnya dengan mata kosong. Dunianya yang baru saja mulai berwarna kembali menjadi abu-abu. Eliza sering datang ke kamarnya, membawakan susu hangat dan kata-kata manis yang kini terasa seperti duri dalam daging.
"Gue udah bilang, Sya. Orang luar itu nggak bisa dipercaya," bisik Eliza sambil mengelus rambut Alsya. "Untung gue denger percakapan mereka. Kalau nggak, loe bakal makin jauh terjebak."
Alsya hanya mengangguk pelan. Dia merasa mati rasa.
Sementara itu, di sebuah gang gelap di samping sekolah, Samudera sedang meluapkan amarahnya. Dia baru saja menghajar tembok hingga buku jarinya berdarah. Dia tahu Revaldi telah merekam percakapan mereka dan mengeditnya sedemikian rupa, atau mungkin menggunakan alat perekam yang hanya mengambil bagian-bagian tertentu dari kalimatnya.
"Sialan!" umpat Samudera.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal—tapi dia tahu ini dari kaki tangan Revaldi.
Pesan: Kalau loe mau jelasin semuanya ke Alsya, dateng ke lapangan basket malem ini jam 8. Dia bakal ada di sana buat ngambil barang-barangnya yang ketinggalan. Tapi kalau loe macem-macem, foto loe lagi 'nyerang' Revaldi bakal gue kirim ke polisi.
Samudera tahu ini jebakan lagi. Tapi dia tidak peduli. Dia tidak bisa membiarkan Alsya menganggapnya sebagai monster.
Malam itu, jam 8 tepat, Samudera sampai di lapangan basket sekolah yang sepi. Lampu hanya menyala remang-remang. Dia melihat siluet seorang gadis berdiri di tengah lapangan.
"Sya?" panggil Samudera pelan.
Gadis itu berbalik. Tapi itu bukan Alsya. Itu Eliza. Di sampingnya, Revaldi muncul dari kegelapan bersama dua orang satpam sekolah dan supir pribadi keluarga Anantara.
"Mana Alsya?" desis Samudera, matanya berkilat marah.
"Alsya nggak bakal dateng, Sam," ucap Eliza dengan nada puas. "Dia benci banget sama loe. Dia bahkan nggak mau denger nama loe lagi. Gue ke sini cuma mau pastiin kalau loe nggak bakal ganggu dia lagi."
"Loe bener-bener licik, El," Samudera melangkah maju, tapi kedua satpam itu langsung menahannya.
"Jangan kasar, Samudera," sela Revaldi sambil menunjukkan layar ponselnya yang sedang merekam kejadian itu secara live.
"Kalau loe nyentuh Eliza, loe bener-bener bakal masuk penjara kali ini. Kasus loe yang dulu bakal gue bongkar habis-habisan."
Samudera berhenti. Dia menatap Eliza dengan tatapan yang sangat dingin hingga membuat gadis itu sedikit bergidik. "Loe pikir loe menang, El? Loe mungkin bisa jauhin gue dari dia secara fisik. Tapi loe nggak bisa hapus kenyataan kalau Alsya jauh lebih bahagia sama gue daripada sama keluarga sampah kayak kalian."
"Bawa dia keluar dari sini!" perintah Eliza pada satpam.
Samudera diseret keluar dari area sekolah. Dia terduduk di trotoar, menatap gerbang sekolah yang tertutup rapat. Dia merasa gagal. Namun, di saat dia nyaris menyerah, dia teringat sesuatu. Dia teringat sketsa-sketsa di belakang buku matematika Alsya.
Ada satu tempat yang pernah Alsya sebutkan dalam sketsanya—sebuah tempat impian yang ingin dia kunjungi jika dia bebas.
"Gue nggak bakal nyerah, Sya," gumam Samudera.
Di kamarnya, Alsya menemukan sebuah sobekan kertas kecil yang terselip di dalam saku jaketnya yang sempat dipinjam Samudera tempo hari. Tulisan tangan yang kasar namun sangat dia kenali.
Bukit Bintang, besok pagi jam 5. Kalau loe masih percaya sedikit aja sama gue, datenglah. Gue bakal jelasin semuanya tanpa ada orang lain yang denger.
Alsya menatap kertas itu. Apakah ini jebakan lagi? Ataukah ini satu-satunya kesempatan baginya untuk mendengar kebenaran yang sesungguhnya?
Pertarungan batin Alsya dimulai! Antara mengikuti logika Eliza atau perasaannya pada Samudera.
Bersambung....