NovelToon NovelToon
Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.

Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Keduapuluh

Alex tak mau kesempatan emasnya pergi begitu saja, mencari hotel tempat Laras menginap. Dirinya mendekati Laras hanya untuk menguras hartanya saja. Dengan bujuk rayu ia yakin Laras akan luluh.

"Laras, dengarkan aku. Ku bisa jelaskan semuanya!" Alex mengejar Laras yang baru saja keluar dari hotel.

Dio tak suka istrinya dikejar-kejar, menarik bahu Alex ke belakang. "Jangan pernah mengganggunya!" Dio menunjukkan wajah menahan emosi.

"Aku yang lebih dulu mengenalnya. Harusnya aku yang bersamanya!" ucap Alex dengan lantang.

"Tapi, aku yang berhasil menikahinya!" kata Dio tak mau kalah.

"Kalian menikah karena dipaksa bukan keinginan Laras!" ucap Alex lagi.

"Ya, waktu itu aku memang tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi, sekarang aku sangat mencintai dan menyayanginya!" Laras mendekati suaminya dan menggenggam erat jemarinya.

Dio melihat ke arah tangan yang digenggam istrinya.

"Aku tidak percaya kamu mencintainya!" Alex geleng-geleng kepala pelan.

"Terserah kamu mau percaya atau tidak!" ucap Laras.

"Kamu dengarkan kalau dia memilih aku," Dio melemparkan senyum seringai.

"Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu!" ancam Alex kemudian berlalu.

Laras menghela napas panjang, ia tak menyangka urusan dirinya dengan Alex sangat ribet.

"Tak usah dipikirin, aku akan melindungimu!" janji Dio.

-

Alex tiba di salah satu penginapan yang ada di kota itu. Kekasihnya telah menunggunya di atas ranjang. Membuka jaket mantel, meletakkannya sembarangan lalu naik ke atas ranjang.

"Aku tidak berhasil memerasnya!"

"Lain waktu coba lagi!" kata si wanita sembari membelai wajah Alex dengan jemarinya.

"Semua karena suaminya yang sialan itu!" geram Alex mengingat ancaman dari Dio.

"Masih ada sepupumu, biarkan dia juga bekerja. jangan cuma menikmati uangmu saja!" kata si wanita.

"Ya, benar juga. Aku akan menyuruhnya buat menghancurkan mereka!" kata Alex seringai.

***

Tiga minggu telah berlalu, Dio dan Laras kembali ke tanah air. Kepulangan mereka disambut orang tuanya Dio yang sengaja menjemput keduanya menggunakan mobil sewaan.

Maya memeluknya karena sangat merindukannya, sejak menikah putra dan menantunya itu belum sempat mengunjunginya. "Bagaimana di sana? Apa kamu tidak kedinginan?"

Dio menggaruk pelipisnya dan tersenyum tipis.

"Buktinya foto yang dikirim, Kakak pakai jaket yang tebal. Pasti di sana sangat dingin?" tebak Diana.

"Ya, memang di sana dingin. Enak buat tidur," ucap Dio tertawa.

Selepas memeluk putranya, Maya berpindah mendekati menantunya, "Selama kalian menikah dia tak pernah menyakitimu, 'kan?"

"Tidak, Bu." Laras berucap sembari melirik suaminya.

"Oh, syukurlah. Kalau dia berani menyakitimu, Ibu akan memukul kepalanya biar otaknya bekerja!" kata Maya sekilas menoleh ke arah Dio.

"Tambah bodoh aku kalau Ibu memukul kepalaku!" Dio memanyunkan wajahnya.

"Makanya, jadi suami yang baik dan benar!" tukas Maya.

"Hmm, aku sangat lapar. Bagaimana kalau kita makan?" ajak Laras.

"Itulah yang kami tunggu-tunggu dari tadi. Perut Ayah sudah lapar. Cuma Ibumu heboh sekali dia, mau cepat-cepat jemput kalian. Padahal, dua jam kami menunggu di sini!" sahut Derry dengan semangat.

"Kita cari restoran terdekat!" kata Laras.

"Jangan dekat sini, harga makanan dan minumannya sangat mahal. Sedikit jauh saja, lebih murah dan enak!" ucap Derry yang tak mau makan di restoran dekat bandara karena bagi dirinya yang penghasilannya sangat rendah tak pantas menikmati makanan di restoran itu. Apalagi dia dan keluarganya tak mau dianggap menyusahkan menantunya.

"Tidak apa-apa, Yah. Biar aku yang bayarin!" kata Laras.

"Makanya, kita cari yang murah saja. Ada restoran kecil makanan yang sangat enak. Ayah pernah ditraktir makan di sana!" ucap Derry memilih restoran pilihannya.

"Ya sudah kita ke sana saja!" sahut Maya.

"Baiklah, kalau begitu!" Laras pun setuju.

Mereka pun berangkat ke restoran itu, jarak yang ditempuh dari bandara sekitar 30 menit. Mobil dikendarai keponakannya Derry karena pria paruh baya itu tak bisa mengendarai mobil.

-

Tiga jam setelah tiba di tanah air, sepasang suami istri itu sampai dikediamannya. Dio yang sangat gerah bergegas membersihkan diri di kamar tamu karena kamar mandi di kamar tidurnya sedang digunakan Laras.

Setelah itu, Laras dan Dio tidur karena perjalanan yang mereka tempuh berpuluh jam.

Dua jam kemudian, Laras dan Dio terbangun. Temannya Laras datang berkunjung. Kebetulan akhir pekan jadi temannya Laras sedang libur kerja ada juga yang bekerja paruh waktu.

"Kami rindu denganmu!" Cella memeluk Laras.

"Aku juga. Aku sudah membelikan oleh-oleh buat kalian!" kata Laras. Ketika menikmati makan siang bersama keluarga suaminya, ia mengirimkan pesan kepada teman-temannya, mengajak mereka berkumpul di rumahnya.

"Wah, senangnya aku!" sahut Lola bertepuk tangan sangking bahagianya dibelikan oleh-oleh.

"Bagaimana liburan kalian di sana?" sapa Rea yang ternyata ikut juga, posisi dirinya dibelakang Yuna sehingga Laras tak melihatnya jelas.

Laras sejenak terdiam melihat ke arah Rea.

"Kamu masih marah padaku?" Rea memasang wajah pura-pura sedih.

Laras tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Rea begitu senang karena Laras tak membencinya.

"Aku membeli kalian semua oleh-oleh!" kata Laras.

"Suamimu mana, Ras?" tanya Rea sedari tadi dia tak melihat keberadaan Dio.

"Lagi di kamar," jawab Laras.

"Apa sebentar lagi kalian akan memberikan kami keponakan?" tanya Yuna.

Laras hanya tertawa mendengar pertanyaan temannya.

"Pasti dia sangat lucu!" kata Cella.

"Kita lihat saja nanti, apakah liburan kami di sana berhasil menjadi sesuatu," ucap Laras sambil tertawa.

"Semoga saja berhasil!" kata Yuna diiringi tawa. Cella dan Lola juga ikutan tertawa.

Selang 30 menit, Rea melihat Dio keluar dari kamar menuju dapur. Rea lalu berpamitan kepada Laras dan ketiga temannya dengan alasan ingin membuang air kecil.

Rea tak ke kamar mandi, ia melangkah ke dapur menghampiri Dio yang sedang meneguk air putih. Kemunculan Rea tentunya membuat Dio terkejut.

"Maaf, kalau membuatmu kaget!" kata Rea tersenyum.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Dio gelagapan karena cuma dirinya dan Rea saja takut akan menjadi salah paham.

"Aku mau menemui kamu," jawab Rea.

"Ya, ada keperluan apa kamu menemui aku?" tanya Dio.

"Bagaimana liburan kamu dengan Laras? Apa sangat menyenangkan? Apa benar kalian sudah melakukannya?" cecar Rea.

Dio lantas mengernyitkan dahinya mendengar beberapa pertanyaan secara bersamaan.

"Aku sarankan jangan terlalu serius sekali menjalani rumah tangga kalian. Laras itu juga bakalan kembali dengan mantan kekasihnya," kata Rea.

"Aku rasa tidak. Kami pernah bertemu dengan mantan kekasihnya. Aku juga sudah memberikan peringatan," ucap Dio.

Rea mendekati Dio dan memegang lengan pria itu dan bertanya, "Dia tak menghajarmu, 'kan? Apa dia sudah memukulmu?"

Dio mundur 2 langkah ke belakang, "Tak ada pemukulan atau perkelahian."

"Syukurlah, aku senang mendengar kamu baik-baik saja. Aku begitu khawatir jika terjadi apa-apa denganmu!" kata Rea tersenyum.

"Terima kasih atas perhatiannya!" Dio tersenyum singkat kemudian berlalu.

Dari dapur, Rea ke kamar mandi setelah itu ia kembali bergabung dengan temannya. Laras melihat ke arah Rea tampak curiga karena temannya itu sangat lama berada di kamar mandi.

"Perutku sakit. Aku duluan pulang, ya!" pamit Rea.

"Mau aku antar pulang?" Yuna menawarkan diri memberikan antaran pulang menggunakan mobilnya.

"Aku naik taksi saja," kata Rea menolak.

"Baiklah, hati-hati!" ucap Yuna.

Selang 10 menit Rea meninggalkan kediaman Laras setelah berpamitan kepada pemilik rumah dan ketiga temannya.

Sebelum memasuki taksi, Rea melihat ke arah balkon rumahnya Laras tampak Dio sedang berdiri melihat pemandangan sekitar kediamannya. Keduanya sempat saling berpandangan, Rea lalu melemparkan senyuman manis kepadanya.

"Apa yang sedang direncanakannya?" gumam Dio sembari melihat taksi yang dinaiki Rea berlalu.

1
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
Loh kok tamat thor?
Dew666
🍭💎
Dew666
💜💜💜
Dew666
🍡🪸💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!