Ciuman pertama ku, tubuh ku, cinta dan perasaan ku hanya akan aku berikan kepada satu laki - laki saja yang betul - betul pantas untuk mendapatkan hal itu.
Namun engkau datang di hidup ku dengan sejuta masa lalu, dengan kehidupan malam mu.
Aku jatuh cinta bukan pada laki - laki baik
Aku jatuh cinta pada laki - laki tidak seperti yang ku harapkan.
Haruskah aku melanggar setiap janjiku, memberikan segala yang aku miliki untuk bisa menjadi milik mu?
Aku mencintaimu dengan tulus, dan berharap engkau juga seperti itu...
Namun hampir setiap hari aku melihat engkau bercumbu dengan banyak wanita.
Nona Diandra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ribka Kurniawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALBUM KENANGAN CINTA
Pagi ini di salah satu pemakaman khusus, nampak satu mobil mewah masuk ke dalam tempat parkir.
Dari dalam mobil tersebut turun keluarga inti dari Louis.
"Louis ayo sebentar lagi upacara pemakaman itu dilaksanakan."
"Iya bu ini juga Louis sedang ganti pakaian, Louis kan baru pulang dari rumah sakit."
Louis memberikan jawaban dari dalam mobil sambil mengantikan pakaiannya, sebenarnya Louis enggan sekali datang ke dalam upacara kedukaan, karena bagi Louis hal - hal seperti ini sungguh sangat membuang waktunya.
Namun pagi ini, Louis terpaksa harus ikut karena sang ibunda dan juga ayah nya ingin mengikuti upacara pemakaman tersebut.
"Ibuk tau, kau sebenarnya enggan bukan datang di dalam upacara kematian seperti ini?"
Sang ibunda mengatakan hal itu ketika Louis membuka pintu mobilnya.
"Nah itu ibu tau, sebenarnya Louis mengantuk bu."
Sang ibunda pada akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengarkan alasan yang dibuat oleh Louis.
"Kau belum pernah merasakan kehilangan orang terdekat mu Louis itu sebabnya kau bisa dengan gampang mengatakan hal itu, akan menjadi satu permasalahan yang berbeda ketika engkau sudah pernah merasakan arti dari kehilangan."
Ibunda Louis mengatakan hal ini panjang kali lebar, ibunda Louis yang kini hidup sebatang kara memiliki rasa empati paling tinggi di dalam keluarga nya.
"Sudah sayang jangan beradu mulut dengan anak mu sendiri di pemakaman."
Mr Richard yang melihat tanda - tanda keributan antara istri dan sang anak segera menengahinya.
"Ya pak, kau betul, ayo Louis kita harus masuk ke dalam."
Ibunda Louis mengatakan hal tersebut sambil melangkahkan kakinya tanpa memandang Louis lebih lagi.
Sedangkan sang ayah hanya melambaikan tangan seolah - olah memberikan isyarat agar Louis tidak lagi menjawab perkataan sang ibunda dengan alasan - alasan tidak masuk akal bagi sang ibunda.
Sesampainya di pemakaman, upacara pemakaman telah berlangsung, salah satu pemuka agama mulai untuk melakukan ibadah penghiburan di dalam pemakaman tersebut.
Mata Louis langsung tertuju pada satu sosok gadis yang sejak tadi tidak pernah berdiri dari pusaran makam tersebut.
Ya Louis melihat wajah sendu, wajah penuh air mata dari gadis yang bernama Diandra, gadis yang sehari yang lalu menjadi gadis yang sangat histeris saat mendengarkan kematian sang ibunda.
Dan satu - satunya gadis yang membuat Louis memiliki empati untuk memeluk nya saat menangis.
Apakah kehilangan anggota keluarga itu begitu menyakitkan? aku melihat wajah mu begitu sedih.
Hal tersebut Louis katakan di dalam hatinya sambil ke mata terus tertuju kepada Diandra yang saat ini masih menangis.
"Nduk ibuk turut berdukacita yah."
Selesai upacara pemakaman ibu Sekar Ayu langsung mendekati Diandra, memeluk Diandra dan mengatakan hal tersebut kepadanya.
"Terima kasih bu Sekar sudah menyempatkan datang bersama dengan keluar, padahal kan saya hanya pelayan di rumah ibu Sekar."
Diandra mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk mengusap air matanya.
"Nduk, Tuhan tidak pernah membeda - bedakan status sosial kita, hanya manusia yang membedakan hal itu, ibuk malah berterima kasih karena kehadiran mu sekarang Louis rajin untuk sarapan pagi."
"Nduk ibuk juga sudah sebatang kara, ibuk hanya memiliki suami dan Louis, jadi ibuk mengerti rasanya apa kamu alami saat ini."
"Nduk kalau kamu butuh teman untuk bercerita, kamu kangen sama ibuk kamu, kamu boleh datang ke rumah ibu, atau menghubungi ibuk ya nduk."
Senyum yang di pancarkan ibu Sekar ke arah Diandra sungguh sangat teduh dan itu sedikit membuat hati Diandra menjadi tenang.
"Terima kasih Bu Sekar."
"Nduk Diandra."
Suara kakek Surjono datang dari arah belakang Diandra dengan sepasang suami istri di sampingnya.
"Kek ini ini Sekar, dan Mr. Richard orang tua dari dokter Louis yang Diandra pernah ceritakan."
Kakek Surjono langsung menjabat tangan Louis dan anggota keluarga sebagai bentuk tanda penghormatan.
"Terima kasih sudah berempati terhadap keluarga kami pak, bu."
"Sama - sama pak, baiklah kami pamit pulang dulu ya pak, mbak Diandra kalau mau main ke rumah pintu rumah kami selalu terbuka untuk mbak Diandra yah."
Mr Richard mengatakan hal tersebut dengan senyum hangatnya dan setelah itu Louis dan keluarga langsung meninggalkan tempat pemakaman.
"Nduk, ada yang mau kakek bicarakan dengan mu."
Kakek Surjono mengatakan hal tersebut sambil memandang Diandra dan sepasang suami istri tersebut secara bergantian.
"Perkenalkan ini mbak Anindita dan ini mas Aditya ada beberapa hal yang ingin mereka sampaikan kepadamu."
Diandra langsung menatap tajam sepasang suami yang saat ini berdiri di hadapannya itu
Mata Diandra menyelidiki setiap gerak gerik sepasang suami istri tersebut untuk hal apa yang akan dibicarakan nanti.
"Dek, mbak Anindita ingin berbicara hal penting dengan mu, tapi tidak di pemakaman seperti ini, akan lebih baik untuk kita berbicara di rumah saja bagaimana?"
Anindita pada akhirnya memulai percakapan nya karena sejak tadi Anindita hanya melihat tatapan tajam Diandra tanpa kata - kata yang keluar dari mulutnya.
"Boleh mbak, ayo kita pulang."
Anindita langsung menatap suaminya Aditya dan kakek Surjono secara bergantian dan dengan anggukan kepala yang Anindita peroleh dari mereka seolah -olah menjadi sebuah persetujuan untuk mereka menceritakan hal ini di rumah saja.
"Jadi apa yang akan mbak bicarakan dengan ku?"
Sesampainya di rumah masih dalam suasana duka, Diandra langsung mengatakan hal tersebut kepada Anindita dan Aditya yang kini sudah duduk di ruang tamu.
Sejenak Anindita melihat - lihat rumah yang Amanda dan Diandra tempati dan Anindita langsung sadar bahwa tidak ada satupun foto Giandra Wijaya yang di pajang di dalam rumah tersebut.
"Dek, maafkan mbak Anindita yang baru datang kemari dan dalam keadaan seperti ini, namun ibu mu yang melarang mbak Anindita dan mas Aditya untuk datang bertemu dengan mu."
"Ibuk yang melarang?"
Diandra yang belum mengerti arah pembicaraan Anindita kini kembali bertanya kepada Anindita lebih dalam lagi.
"Ini."
"Apa ini mbak?"
Anindita yang meletakan satu kotak besar di atas meja langsung meminta Diandra untuk mengambilnya.
"Ini adalah foto - foto almarhum ayah mu."
Deg
Tangan Diandra langsung bergetar hebat saat mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Anindita.
"Ayah? ayah sudah meninggal?"
"Ya dek, nama ayah mu adalah Giandra Wijaya, beliau adalah salah satu pengacara terkenal di Jakarta."
Sambil mendengarkan cerita Anindita, Diandra mulai membuka kotak besar tersebut di dalam kotak tersebut berisikan satu album berukuran sedang.
Dengan perlahan Diandra mulai membuka album foto tersebut dan seketika hati Diandra sangat sedih ketika melihat foto pernikahan yang sangat dia kenal.
"Ini foto pernikahan ibuk?"
"Ya dek itu foto pernikahan mas Giandra dan mbak Amanda."
"Lalu ini apa mbak?"
masa endingnya menderita trus dari emak sampe anaknya...
dan selanjutnya derita sampe anak cucu 🤭
ini mungkin yg dinamakan nasib buruk tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh kelokan