"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Makam Ginah
Sastro memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju area pemakaman desa. Dia terlihat tak sabar untuk segera tiba ke tempat dimana istrinya dimakamkan.
Tiba di depan area pemakaman, Sastro segera memarkirkan kendaraannya. Kemudian dia menghampiri beberapa penggali makam yang sedang duduk beristirahat di dekat gerbang pemakaman.
"Assalamualaikum Bapak-bapak," sapa Sastro.
"Wa alaikumsalam ...," sahut para penggali makam serempak.
"Kenalin saya Sastro. Kemarin siang saya dan keluarga memakamkan istri saya di sini. Tapi tadi saya dapat telpon dari orang ga dikenal, katanya ada sesuatu yang terjadi sama makam istri saya. Kira-kira Bapak semuanya tau ga siapa yang menghubungi saya?" tanya Sastro.
"Saya Pak," sahut pemuda bernama Danu.
Sastro pun tersenyum. Dia lega karena yang menelpon adalah penggali makam yang menyiapkan pemakaman istrinya kemarin. Dia memang belum sempat bertanya nama sang penggali makam karena kondisinya yang kacau.
Setelah saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri, Danu meminta Sastro mengikutinya.
"Mari ikut saya Pak," kata Danu sambil melangkah memasuki area pemakaman.
Sastro pun mengangguk lalu mengikuti Danu yang melangkah cepat ke makam Ginah. Sastro mulai merasa cemas. Dari jauh dia melihat makam Ginah terlihat tak seperti sebelumnya.
Semakin dekat Sastro bisa melihat apa yang terjadi. Makam Ginah terlihat berantakan, papan nisan tumbang, taburan bunga dan gundukan tanah tampak berserakan seolah baru saja diacak-acak.
"Astaghfirullah aladziim. Ini kenapa Mas, kenapa makam istri saya berantakan begini?!" tanya Sastro.
"Saya ga tau Pak. Waktu sampe sini tadi pagi, saya dan temen saya ngeliat makam ini udah kaya gini," sahut Danu.
"Kok bisa. Siapa yang tega ngacak-ngacak makam kaya gini. Apa hal kaya gini sering terjadi di sini Mas?" tanya Sastro.
"Ga juga. Dulu pernah, tapi makin ke sini kami udah ga pernah nemuin makam yang berantakan begini lagi," sahut Danu.
"Terus makam istri saya diacak-acak sama siapa dong. Jangan-jangan sama binatang ya. Kalo emang iya, artinya kalian kurang dalam menggalinya kemarin," kata Sastro sedikit kesal.
"Kami menggali seperti biasa dan sesuai aturan. Lagian kami juga bukan baru pertama menggali makam Pak, jadi ga sepantasnya Bapak meragukan kami," sahut Danu.
Mendengar nada bicara Danu yang lebih tinggi dari sebelumnya Sastro pun tersentak. Setelahnya dia meminta maaf kepada Danu.
"Maafin saya Mas Danu, harusnya saya berterima kasih karena udah dikasih tau soal ini. Sungguh, saya ga bermaksud nyalahin Mas Danu atau siapa pun. Saya cuma kaget ngeliat makam istri saya begini. Saya khawatir ini jadi pertanda buruk buat saya dan keluarga saya. Tolong maafin saya ya Mas," kata Sastro gusar.
Danu nampak menghela nafas panjang mendengar ucapan Sastro. Jauh di lubuk hatinya dia juga merasa iba pada pria di hadapannya itu.
"Kalo gitu saya bantu ngerapiin makam istri Bapak ya. Setelah itu kita ngobrol lagi, ga di sini tapi di tempat lain. Soalnya ada sesuatu yang saya mau omongin. Itu pun kalo Pak Sastro setuju," kata Danu kemudian.
"Saya setuju Mas. Makasih," sahut Sastro antusias.
Danu mengangguk lalu mulai mengayunkan cangkulnya untuk merapikan tanah makam Ginah. Sastro pun ikut membantu. Tak lama kemudian makam Ginah kembali rapi seperti sebelumnya.
Setelah berdoa di depan makam Ginah, Sastro dan Danu keluar dari area pemakaman.
"Saya bersih-bersih sebentar ya Pak. Ga lama kok. Bapak tunggu aja di depan," kata Danu.
"Iya, silakan Mas," sahut Sastro.
"Tapi tolong ga usah ngomong apa-apa sama yang lain ya Pak. Saya mau ini jadi rahasia kita aja," pinta Danu.
Meski tak mengerti, tapi Sastro mengiyakan permintaan Danu. Sambil menunggu Danu membersihkan diri, dia pun duduk bergabung dengan para penggali makam di depan gerbang. Banyak hal yang mereka bicarakan dan itu membuat Sastro sedikit terhibur.
Dua puluh menit kemudian Danu terlihat sudah berganti pakaian. Penampilannya yang jauh berbeda dari sebelumnya membuat Sastro terpaku sejenak. Jika sebelumnya Danu tampil lusuh dengan kaos kedodoran dan celana selutut, kali ini Danu mengenakan kemeja lengan pendek warna hitam dan cela*a panjang denim warna biru.
Sebelum pergi, Sastro sempat memberikan sejumlah uang kepada para penggali makam.
"Buat nambahin beli rokok," kata Sastro sambil tersenyum.
"Wah, makasih Pak!" sahut para penggali makam dengan antusias.
"Sama-sama," sahut Sastro sambil mengikuti Danu yang telah lebih dulu melaju dengan motornya.
Setelah melaju sepuluh menit, Danu pun berhenti di tepi jalan tepat di depan hamparan sawah. Sastro nampak mengerutkan kening karena tak menyangka Danu akan membawanya ke sana.
"Kenapa berhenti di sini?. Kalo mau ngobrol lebih baik cari tempat yang lebih enak," kata Sastro.
"Maksudnya gimana Pak?" tanya Danu.
"Cari warung kopi atau rumah makan gitu lah Mas. Kan lebih santai. Kalo di sini banyak debu, berisik lagi," sahut Sastro sambil mengamati sekelilingnya sejenak.
Danu tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Yang saya mau omongin ini terlalu rahasia Pak. Saya khawatir ada orang lain yang denger dan itu bikin Bapak ga nyaman nanti," kata Danu.
Sastro terkejut. Dia menatap Danu sejenak seolah ingin mencari kejujuran di mata pemuda itu. Setelah tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, Sastro pun mengangguk dan mempersilakan Danu bicara.
"Maaf kalo lancang. Makam istri Bapak bukan cuma diacak-acak tapi juga dikencingi Pak. Pas datang pagi tadi, saya dan teman saya mencium bau pesing air kencing manusia di sana. Baunya emang udah menguap setelah terkena matahari, jadi Bapak ga bisa menciumnya tadi," kata Danu hingga mengejutkan Sastro.
"Apa cuma makam istri saya aja yang dikencingi Mas?" tanya Sastro.
"Iya Pak," sahut Danu.
"Saya ga paham, untuk apa orang ngencingin makam?" tanya Sastro.
"Tujuannya jelas, dia ingin menyakiti istri Bapak," sahut Danu.
"Mau menyakiti gimana Mas. Istri saya kan udah meninggal, itu artinya dia ga bisa ngerasain sakit lagi. Percuma kan orang ngelakuin itu," kata Sastro.
"Saya maklum kalo Bapak ga percaya. Saya cuma mau ngasih tau, yang dilakukan orang itu bukan hanya kencing di atas makam istri Bapak tapi juga baca mantra khusus untuk mengendalikan arwah istri Bapak itu. Karena setelah makamnya dikencingi, arwah istri Bapak bakal ga tenang. Lebih buruk lagi, dia bisa gentayangan dan mengganggu orang lain nanti. Saya yakin telah terjadi sesuatu di desa semalam. Iya kan?" tanya Danu.
Tanpa sadar Sastro mengiyakan pertanyaan Danu. Ya, berita tentang pocong Ginah yang gentayangan telah sampai ke telinganya. Berita itu juga yang telah membuat anak sulungnya menangis tadi.
"Apa ini bisa dihentikan Mas?" tanya Sastro setelah terdiam beberapa saat.
"In syaa Allah bisa Pak. Tapi ... " ucapan Danu terputus karena Sastro memotong cepat.
"Lakukan Mas. Berapa pun biayanya saya akan bayar," kata Sastro cepat.
"Bukan soal itu Pak. Jujur saya ga bisa melakukannya sendirian. Saya butuh bantuan orang lain. Kalo bisa orang yang menguasai ilmu agama. Apa Bapak bisa bantu saya cari orang yang saya maksud?" tanya Danu.
"Bisa. Sebenernya yang mengurus pemakaman istri saya kemarin adalah ustadz Firman. Kita bisa ke rumahnya sekarang dan minta bantuan beliau," sahut Sastro.
Danu pun tersenyum lalu menganggukkan kepala. Setelahnya giliran Sastro yang memimpin jalan, kali ini mereka menuju ke rumah ustadz Firman.
\=\=\=\=\=
hadeh emang bener ya klo mulut mu harimau mu
meski sdh mati aja masih bikin onar 👻👻👻🤣🤣🤣
apa.jangan2 itu jin suruhan narti dan burhan yg bikin laras g dpt jodoh akhirnya jd neror gutu kah 👻👻👻👻
bukanya udah selesai kok masih ge tanyangan ya
blm semlat dpt ampun dah wafat dlu dia aishhh