"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris diperkosa
Keesokannya,
Mereka pergi ke hotel besar di ujung kota,
"Pak Juna tau dari mana kalau disini ada bazar?" tanya Nila tak henti mengamati sekeliling,
Entah kenapa dia merasakan firasat buruk yang akan terjadi. Mereka berdua menunggu di sebuah lounge room, fasilitas hotel yang biasanya digunakan untuk bersantai atau pertemuan pribadi.
Juna menyadari kalau gadis itu mulai menaruh curiga, namun dia dengan santai berdalih. "Info dari relasi,"
"Di lantai atas ada aula utama, bazarnya diadain disana. Setengah jam lagi dimulai, jadi kita tunggu disini dulu.." semakin lihai mengucapkan kebohongan.
Sebenarnya Juna telah berencana untuk menjebak gadis itu agar bisa tidur dengannya. Dia sengaja memesan ruang dan telah menyediakan minuman bercampur obat bius,
"Minum dulu airnya, nanti ga fokus kalau kurang minum." seru Juna mengambil gelas yang tak diberi obat, agar tak menimbulkan curiga.
Nila menurut meraih segelas air lalu meneguknya pelan, kebetulan tenggorokannya terasa kering.
"Ng?" Alisnya mengernyit, tiba-tiba kepalanya berputar begitu cepat. Merasakan pandangan yang mulai kabur. "Hh--kenapa kepalaku pus---"
Bruk!
Tubuhnya ambruk terkulai lemas di atas sofa, rencana berhasil dengan lancar. "Kena kamu,"
Juna menyeringai puas melihat umpan yang dipasang telah menjerat mangsanya. Tanpa berlama-lama dia membawa tubuh Nila ke salah satu kamar,
Membaringkan gadis yang masih pingsan tadi ke atas ranjang.
"Semua berjalan mulus, akhirnya ga akan ada lagi yang mengganggu kita." gumam Juna memandang Nila dengan penuh nafsu,
Kakinya bertumpu pada ranjang, menundukkan tubuh demi membelai urai rambut yang menutupi wajah Nila. "Kamu benar-benar cantik,"
"Sayang sekali, kalau wanita secantik kamu cuma dapat pria buta." bisik Juna terpesona, gejolak hasratnya semakin besar.
"Setelah ini, kita lihat apa reaksi suamimu kalau tau istrinya sudah tidur dengan pria lain."
"Ng?" rintih Nila berusaha membuka mata, sepertinya efek bius tadi perlahan hilang.
Berulang kali dia berkedip agar pandangannya menjadi jelas, menatap langit kamar. "Hh?!"
"Kenapa aku ada disini?" batin Nila terbelalak, menyadari tubuhnya terbaring di tempat berbeda.
Pandangannya beralih mendapati Juna yang tersenyum kepadanya. "Bagaimana bisa--"
"Airnya! Bapak menambahkan sesuatu ke dalam air tadi.." sontak Nila menyadari rencana jahat yang telah Juna lakukan.
"Jadi kamu udah tahu? Iya, airnya aku kasih obat bius." sahut Juna mulai angkuh, tak menyesal mengakui.
Nila berusaha bangkit namun tubuhnya begitu lemas hingga tak kuasa mengangkat tangan, "Ergh--tubuhku ga kuat bangun."
"Harusnya kamu tidur aja. Tapi gapapa, meski udah bangun efek biusnya ga akan hilang semudah itu." lugas Juna tak henti tersenyum,
Dia berdiri tegak bersiap membuka kancing kemeja setelah melepas jas di tubuhnya.
Nila tampak panik dibuat ketakutan, "Bapak mau apa?!" ingin sekali melawan tapi sayang tubuhnya benar-benar tidak bisa dikendalikan.
Bak hewan buas yang siap menerkam, Juna menaiki ranjang dengan tangan yang sibuk mengendorkan sabuk. "Aku ingin memuaskanmu,"
"Biar kamu bisa bandingin, enakan aku atau suamimu." berbisik lembut, "Pasti suami butamu itu ga bisa memuaskanmu kan? Matanya aja ga berguna."
Nila terjebak, dadanya terasa sesak dengan nafas tak karuan. Keringat mulai mengucur membasahi dahi, begitu jijik melihat pria yang terus memandanginya penuh nafsu.
Tak sudi rasanya, Nila tidak rela kalau tubuhnya disentuh apalagi dinikmati oleh pria lain. Tangannya mengepal kuat, berusaha keras untuk bergerak mundur.
"Tolong!" jerit Nila sangat keras, berharap akan ada seseorang yang mendengar raungannya.
Juna tertawa tampak meremehkan, menganggap usaha Nila yang hanya berakhir sia-sia. "Percuma kamu teriak, ga akan ada yang nolong."
"Pasrah aja, biar enak. Aku janji ga akan main kasar," bujuk Juna merendahkan suara, bergerak mengendus leher Nila.
"Tolong!" pekiknya sekali lagi.
"Siapapun tolong aku," batin Nila merintih, air matanya terjatuh. Tak berdaya menghadapi pria bejat yang mulai menyibak rambutnya.
BRAK!!
Suara dobrakan keras terdengar, pintu itu berhasil dibuka secara paksa. Tentu saja hal ini mengejutkan Juna, beranjak pergi melihat siapa yang telah berani mengganggu kesenangannya.
"P-pak direktur," ucap Juna terbata-bata mendapati atasannya datang bersama dua pengawal.
Tanpa hitungan detik, dia diseret ke lain sisi dengan brutal. "Tunggu pak, saya cuma main-main."
Kedua pengawal itu memegang erat lengan Juna hingga tak berkutik, pergi menghadap pria yang tak disangka kehadirannya.
"Kamu?!" ujar Juna terbelalak menatap pria buta yang tak lain adalah suami Nila.
Masih ingin membela diri, Juna tak malu berteriak. "Ini salah paham pak! Wanita itu yang menggoda saya,"
Bagaimana bisa dia kesana bahkan menyusul bersama direktur perusahaan mereka?
"Tutup pintunya." suruh Herman memberi isyarat tangan pada pengawal. Pintu sengaja ditutup agar tak ada orang luar yang mengusik,
BUG! Satu pukulan keras mendarat pas ke tengah wajah,
"Beraninya kamu memukulku!" sontak Juna tak terima mendapat hukuman dari Elang.
Namun pria itu justru semakin mendaratkan pukulan lain hingga membuat tubuh Juna menunduk lemas. BUG! BRAK! PLAK!
Tangannya mengepal kuat, Elang menggertakkan gigi menatap Juna dengan rasa geram.
Herman hanya diam mengawasi Elang yang terus memukul tanpa rasa ampun. Rasa sakit itu pantas dia terima karena berani mengusik atasannya,
"Berhenti memukulku," bergumam lirih, dengan suara serak Juna mendongak meminta bantuan. "Pak direktur, tolong saya.."
"Hhh, asal tahu saja. Wanita yang mau kamu tiduri--itu istri pimpinan perusahaan." bisik Herman mendengus puas, melihat penderitaan yang Juna terima.
Kedua matanya terbelalak, apa yang baru saja Juna dengar? Siapa sebenarnya pria itu. Juna mendongak dengan raut kaget.
"Sudah paham? Sesuai dugaanmu. Pria yang sedang menghajarmu ini--dia pimpinan perusahaan. Dan kamu sudah berani menyentuh istrinya," tambah Herman terus berbisik, lalu menepuk singkat punggung Juna.
Sedikit prihatin melihat luka-luka di tubuh Juna, dia pasti tak pernah menyangka kalau sedang berurusan dengan pria berbahaya. "Kamu salah pilih lawan."
Di sisi lain,
Nila yang melihat kedatangan Herman merasa lega, karena sekali lagi pria itu datang di waktu yang tepat.
"Apa yang terjadi?" pikirnya mendengar suara hantaman yang muncul bertubi-tubi.
Penasaran karena setelah Juna diseret oleh dua pengawal, Herman ikut pergi dan belum kembali.
Nila berusaha bangun meski sangat sulit, efek bius yang belum hilang membuat tubuhnya tak terkendali. Tanpa sengaja dia menjatuhkan lampu tidur di samping ranjang,
KRAK! Suara itu terdengar ke semua sisi, jangan sampai gadis itu tahu perbuatan Elang.
"Bereskan sisanya." memberi perintah pada pengawal,
Dia bergegas berjalan ditemani Herman untuk menghampiri Nila,
"Hhh? Elang--" batin Nila tercengang,
Langkah pria itu berjalan semakin mendekat, "Kenapa? Kenapa dia ikut kesini--" benak Nila merasa panik,
"Apa yang akan dia pikirkan? Padahal baru kemarin dia melarangku---tapi sekarang, aku malah berduaan dengan pria lain di kamar hotel." gerutunya dalam hati, merasa sangat kotor.
Batin Elang terusik menatap raut Nila yang terlihat menyedihkan, "Sial!" Menyesal karena tak bisa datang lebih cepat,
Tangannya meraba perlahan menaiki ranjang, mengulurkan tangan ke arah gadis tadi sambil berkata. "Kamu baik-baik saja?"
Nila menangis tersedu menyentuh tangan yang menggapainya, tubuhnya terangkat maju dibawa ke dalam dekapan. "Aku takut,"
"Aku takut sekali," rintih Nila tak henti menangis, kulitnya terasa dingin dan gemetaran. Rambutnya basah dipenuhi keringat,
Elang terdiam mengeratkan rangkulannya, tak membayangkan betapa takutnya Nila beberapa saat lalu. Untung saja Herman melihat mereka pergi bersama dan melaporkannya kepada Elang,
Elang yang merasa curiga dengan cepat bergerak mengerahkan bawahan guna mencari dan berhasil membuntuti mereka sampai ke hotel,
"Semua udah baik-baik saja." ucap Elang tengah menenangkan,
Gadis itu mendongak sambil sesegukan, lalu menganggukan kepala. "Terima kasih sudah datang menolongku,"
"Tapi---bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Nila dengan lirih, menoleh ke arah Herman yang berdiri di samping ranjang.
Herman terlihat panik mencari alasan, tak mungkin dia berkata sejujurnya. "Mm--Elang menelponku, katanya kamu belum pulang."
"Karena khawatir, jadi aku tanya anak kantor terus ada yang lihat kamu pergi ke hotel." lugas Herman berhasil membuat alibi,
"Pak Juna bilang di lantai 2 ada stand bazar. Dia mengajakku katanya ini bagus untuk menambah ide produk---karena Pak Herman memberi waktu sebulan buat menunjukkan hasil kinerjaku, jadi aku setuju." ucap Nila memicu kemarahan Elang.
Dia menoleh ke arah Herman meski tertutup kacamata, hal itu tetap membuat batin Herman terguncang. "Padahal aku tidak bermaksud jahat.."
Herman tahu kalau Elang sedang melihatnya dengan tatapan sinis karena dia bisa merasakan aura membunuh di sekelilingnya. "Aku ga mau dipecat!" berteriak dalam hati.
"Apa ada yang luka?" sontak Elang terdengar khawatir,
Nila menggelengkan kepala. "Tidak. Kalian datang tepat waktu,"
"Kita sedang ada di lantai dua, pria itu sengaja ingin membohongimu." lugas Elang merendahkan suara,
"Iya, seharusnya aku ga ikut gitu aja. Aku ga nyangka dia bakal sejahat ini," sesal Nila merasa bersalah.
"Ya udah, lupakan semuanya. Yang penting kamu baik-baik aja---dan lain kali jangan pergi tanpa izin dariku." tegasnya memberi penekanan,
"Paham?"