Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Konspirasi Gagal Total
Teriakan Rudi yang menuduh Banyu memberikan "air got" masih menggema di lorong kosan. Dia berdiri dengan napas memburu, telunjuknya masih menuding hidung Banyu, wajahnya penuh kemenangan seolah baru saja membongkar skandal korupsi triliunan rupiah.
Namun, reaksi yang dia harapkan tak kunjung datang.
Banyu, yang dituduh, hanya diam. Dia menaruh gelas kosong ke meja dengan gerakan lambat, lalu perlahan memutar tubuhnya menghadap Rudi. Mata Banyu menatap tajam, dingin, dan menusuk. Kalau tatapan bisa membunuh, Rudi pasti sudah jadi perkedel sekarang.
"Lu ngomong apa barusan?" suara Banyu rendah, nyaris berbisik, tapi getarannya bikin bulu kuduk merinding. "Coba ulangin lagi. Gue belum denger jelas. Gue... ngeracunin Laras?"
Rudi menelan ludah. Jakunnya naik turun. Tiba-tiba nyalinya menciut drastis. Dia lupa kalau Banyu sekarang bukan lagi pemuda penyakitan yang bisa didorong-dorong seenaknya. Aura Banyu saat ini lebih mirip preman pasar yang siap ngajak tawuran.
Tapi Rudi sudah terlanjur basah. Gengsinya sebagai pegawai kantoran "sukses" (menurut dia sendiri) dipertaruhkan di depan Laras. Dia memberanikan diri, meski suaranya agak gemetar.
"Gu-gue berani ulangin sepuluh kali kalau perlu! Lu kasih Laras minum air bekas nyiram tanaman, kan? Gue liat pake mata kepala gue sendiri! Lu ambil air dari ember itu!" Rudi menunjuk ember plastik di dekat kebun dengan dramatis. "Itu air mentah! Air kotor! Lu gila ya?!"
Banyu baru mau membuka mulut untuk membalas, tapi sebuah suara lembut namun tegas mendahuluinya.
"Mas Rudi, cukup."
Itu suara Laras. Nadanya dingin, sedingin AC kantor yang remote-nya dipegang bos pelit.
Rudi menoleh kaget. Dia berharap Laras akan muntah-muntah atau pingsan, lalu berterima kasih padanya. "Laras, Mas cuma mau nyelametin kamu dari-"
"Aku percaya sama Mas Banyu," potong Laras tajam. Tatapan matanya yang biasanya ramah kini menyorot Rudi dengan rasa tidak suka. "Tolong, jangan jelek-jelekkin dia di depanku lagi."
Jleb.
Hati Rudi rasanya seperti ditusuk garpu somay. Hancur berkeping-keping.
"Ta-tapi Ras... aku liat sendiri..." Rudi gagap, otaknya konslet. Kenapa skenarionya jadi begini? Harusnya dia jadi pahlawan, kok malah jadi public enemy?
"Mas Rudi," lanjut Laras, "Aku yang minum, aku yang ngerasain. Faktanya, pusingku ilang dan badanku jadi seger banget sekarang. Jadi tolong, berhenti bikin keributan. Malu didenger tetangga."
Rudi bengong seperti sapi ompong. Dia menatap Banyu, lalu menatap Laras. Akhirnya, dengan wajah merah padam menahan malu, dia menunjuk Banyu dengan jari gemetar.
"Oke... Oke kalau kamu lebih percaya sama tukang kebun ini..."
Rudi mendengus kasar, lalu berbalik badan dengan langkah hentak-hentak kaki persis anak kecil yang ngambek gak dibeliin es krim. Dia masuk ke kamarnya dan membanting pintu sekeras mungkin.
BRAKK!
Sebenarnya, Rudi itu "pintar tapi bodoh". Coba saja kalau tadi dia langsung teriak sebelum Laras minum, mungkin Laras akan ragu. Tapi dia malah menunggu Laras minum dulu demi efek dramatis. Hasilnya? Laras sudah merasakan khasiat air itu, jadi tuduhan Rudi otomatis mental. Senjata makan tuan.
Sepeninggal Rudi, suasana kembali tenang. Banyu menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Dia menoleh ke Laras sambil nyengir kuda.
"Makasih ya, Ras. Udah belain gue. Padahal kalau dipikir-pikir, omongan si Rudi ada benernya dikit. Itu emang bukan air mineral kemasan sih," kata Banyu jujur, sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.
Laras tersenyum manis, senyum yang bisa bikin diabetes kalau dilihat kelamaan. "Gak apa-apa, Mas. Faktanya, air itu emang ampuh kok. Kalau bukan karena Mas Banyu yang nangkep aku tadi, mungkin sekarang aku udah di IGD."
"Namanya juga tetangga, harus sedia payung sebelum hujan, sedia tangan sebelum jatoh," canda Banyu.
Laras terkekeh. Namun, tawa itu terhenti saat matanya menangkap bercak merah di lengan baju kiri Banyu. Darah segar kembali merembes karena aksi heroiknya menangkap Laras tadi.
"Ya ampun! Mas Banyu! Tanganmu berdarah lagi!" Laras panik, naluri keibuannya keluar. Dia mendekat, hendak memeriksa luka itu.
Banyu refleks menarik tangannya ke belakang punggung. "Eh, santai, Ras. Ini cuma lecet dikit kena ranting tadi pas bersih-bersih. Biasa, kulit cowok kan emang harus ada seninya dikit."
"Seni apaan?! Itu darahnya nembus baju lho! Jangan-jangan butuh dijahit?" Laras makin cemas, matanya berkaca-kaca karena merasa bersalah. "Ayo ke Puskesmas sekarang, atau ke klinik 24 jam depan gang. Biar aku yang bayar."
"Gak usah, beneran," tolak Banyu halus tapi tegas.
Gila aja ke klinik. Nanti dokter bingung melihat lukanya yang sudah menutup sendiri seperti magic. Bisa-bisa dia dikira punya ilmu rawa rontek atau pesugihan. Lagipula, sayang duitnya.
"Saya alergi sama bau rumah sakit, Ras. Dan lebih alergi lagi sama tagihannya," tambah Banyu. "Darahnya udah berenti kok, cuma sisa yang nempel di baju aja."
Laras cemberut, tapi dia tahu Banyu keras kepala. "Dasar... Yaudah, tapi janji ya, lukanya jangan kena air kotor lagi. Awas kalau besok bengkak, aku seret kamu ke dokter, gak pake penolakan!"
"Siap, Bu Dokter," Banyu memberi hormat main-main.
Laras melirik jam tangannya, lalu menghela napas panjang. "Aduh, aku harus balik ke kantor nih. Masih banyak kerjaan yang numpuk."
Banyu melongo. "Lho? Baru juga enakan, masa mau kerja lagi? Istirahat aja napa? Tipe budak korporat banget sih kamu."
"Gak bisa, Mas. Deadline proyek gila-gilaan. Kalau aku ngilang, satu tim bisa kena semprot bos," Laras merapikan rambutnya, lalu menatap Banyu lekat-lekat. "Pokoknya makasih banget ya, Mas Banyu. Nanti kalau proyek ini kelar dan aku gajian, aku traktir makan enak deh. Terserah Mas mau makan apa."
Mata Banyu berbinar. "Wih, serius nih? Awas ya, selera makan saya brutal lho. Nasi Padang pake rendang dua, ayam pop satu, plus perkedel."
"Iya, iya, tenang aja. Nasi Padang mah lewat," Laras tertawa renyah. Senyumnya begitu memikat hingga membuat Banyu lupa cara berkedip. "Dah, Mas Banyu! Aku berangkat dulu!"
Laras melambai dan berjalan pergi dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat dia datang tadi. Khasiat air campuran itu memang juara.
Banyu memandangi punggung Laras yang menjauh sampai hilang di belokan gang. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena penyakit, tapi karena bucin.
Di balik jendela kamar yang gelap, sepasang mata penuh kebencian mengawasi. Rudi meremas gorden jendelanya sampai kusut. Rasa malunya berubah jadi dendam kesumat.
"Ketawa aja lu sekarang, Banyu... Gue bakal cari cara buat bikin lu nyusruk. Liat aja nanti..." desis Rudi pelan.
---
Tiga hari kemudian.
Rencana jahat Rudi belum terlaksana, tapi rencana bisnis Banyu berjalan mulus seperti jalan tol baru diresmikan.
Waktunya panen raya jilid dua.
Berkat siraman rutin Cairan Ajaib yang sekarang stoknya melimpah (5 tetes per siklus!), kebun belakang kosan Pak Rahmat benar-benar berubah jadi hutan sawi. Tanaman-tanaman itu tumbuh subur, hijau pekat, dan ukurannya jumbo.
Banyu mulai memanen sejak pagi buta. Dia menumpuk sawi-sawi itu ke dalam keranjang plastik besar. Satu keranjang penuh bisa berbobot 50 kilogram lebih.
Dulu, Banyu pasti butuh bantuan orang lain untuk mengangkatnya, atau minimal menyeretnya sambil ngos-ngosan. Tapi sekarang?
"Hap!"
Banyu mengangkat keranjang itu seolah-olah isinya cuma kapas. Dia menaikkannya ke atas bak gerobak motor dengan satu tangan menahan beban, sementara tangan lainnya mengatur posisi. Otot lengannya sedikit menegang, tapi napasnya tetap santai.
"Gokil juga tenaga gue sekarang," gumam Banyu kagum pada diri sendiri. "Kalau bisnis sayur bangkrut, gue bisa daftar jadi kuli panggul pelabuhan. Pasti jadi karyawan teladan."
Tak lama, gunung sawi hijau sudah tersusun rapi di atas motor gerobak bututnya. Total estimasi ada sekitar 200 kilogram lebih.
Sambil mengelap keringat dengan handuk kecil di leher, Banyu mengeluarkan HP barunya. Dia mencari kartu nama yang diberikan Chef Gunawan tempo hari, lalu menekan nomornya.
Tuuuut... Tuuuut...
"Halo? Siapa nih?" Suara di seberang terdengar agak bad mood. Sepertinya Chef Gunawan lagi sibuk atau baru kena marah GM hotel.
"Halo, selamat pagi, Chef! Ini Banyu, supplier sawi yang waktu itu," sapa Banyu dengan nada ceria. "Masih inget kan? Yang sawinya manis kayak gula?"
Hening sejenak di ujung telepon. Lalu, nada suara Chef Gunawan berubah drastis 180 derajat. Dari yang tadinya bete, jadi antusias parah seperti anak kecil dapet mainan baru.
"Woi! Banyu! Astaga, ke mana aja lu?!" seru Chef Gunawan ngegas. "Gue tungguin telepon lu dari kemaren! Lu tau gak, tamu-tamu VIP gue pada nagih sayur lu! Stok kemaren udah ludes des des! Sampe ada bule yang nanya, 'Is this magic vegetable?' Hahaha!"
Banyu tertawa mendengar itu. Strategi "barang langka"-nya berhasil.
"Waduh, sampe segitunya ya, Chef? Tenang aja, ini saya baru panen lagi. Kualitasnya malah lebih mantep dari yang kemaren. Chef masih minat?"
"Pake nanya lagi lu! Bawa sini semua! Berapa banyak lu punya?"
"Ada sekitar dua kuintal, Chef."
"Bawa semua! Jangan sisain selembar pun buat orang lain! Awas lu ya kalau jual ke hotel sebelah, gue blacklist lu!" ancam Gunawan bercanda tapi serius.
"Siap, Chef! Otw meluncur ke TKP. Jangan lupa siapin amplopnya ya," canda Banyu.
"Aman! Duit ready! Buruan sini, sebelum dapur gue didemo tamu!"
Banyu menutup telepon dengan senyum lebar. Dia menepuk jok motornya.
"Ayo, Beib. Kita cari duit."
Mesin motor gerobak itu menderu, membawa muatan emas hijau menuju hotel bintang lima. Masa depan Banyu yang cerah bukan lagi sekadar mimpi siang bolong.