NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Perjalanan Ke Klan Naga Biru

Sinar matahari pagi menyinari sungai lebar yang memisahkan wilayah Klan Naga Merah dengan tanah Klan Naga Biru. Rombongan yang kini telah bertambah besar dengan bergabungnya dua puluh prajurit terbaik Klan Naga Merah berlabuh di tepian sungai, menyaksikan ombak yang kuat dan deras mengalir dengan cepat.

“Klan Naga Biru tinggal di pulau terpencil di tengah Danau Biru yang luas,” jelas Li Mei sambil menunjukkan ke arah kejauhan di mana hamparan air biru kristal memanjang sejauh mata memandang. “Mereka menguasai kekuatan air dan arus, menjadikan wilayah mereka hampir tidak bisa ditembus oleh orang luar.”

Feng melihat ke arah danau yang luas dengan mata yang penuh perhatian. Dia merasakan getaran lembut dari Pedang Naga di pundaknya—energi air di sekitar sini begitu kuat, seolah sedang menyapa mereka dengan kedalaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan menyebrangi danau tidaklah mudah. Arusnya sangat kuat, dan ombak besar menghantam perahu kayu mereka berkali-kali. Namun dengan bimbingan Li Mei dan keahlian beberapa prajurit Klan Naga Merah yang terbiasa dengan jalur ini, mereka berhasil menjaga keseimbangan perahu.

Tiba-tiba, arus mendadak menjadi lebih ganas. Air mulai berputar membentuk pusaran besar yang mengancam untuk menghanyutkan perahu mereka. Dari dalam pusaran itu, bentuk besar muncul—seekor ular air raksasa dengan sisik berwarna biru kebiruan yang mengkilap.

“Ini adalah penjaga perbatasan Klan Naga Biru!” teriak Ye Chen sambil menarik pedangnya. “Kita harus membuktikan bahwa kita datang dengan damai!”

Namun Feng mengangkat tangannya untuk menghalangnya. Dia berdiri di bagian depan perahu, mengeluarkan Pedang Naga dengan hati-hati. Cahaya keemasan dari bilahnya menyala dengan lembut, dan dia mulai menggerakkannya dengan gerakan yang lambat dan mengalir seperti aliran air.

“Kita datang dengan tujuan yang baik,” ujar Feng dengan suara yang jelas dan tenang, seolah berbicara langsung kepada makhluk air itu. “Kami ingin berbicara dengan pemimpin Klan Naga Biru tentang menyatukan kekuatan untuk melindungi Tanah Seribu Pegunungan.”

Makhluk air itu terdiam sejenak, lalu mulai bergerak lebih dekat. Matanya yang besar berwarna hijau menyaksikan Feng dengan cermat. Saat melihat Pedang Naga yang menyala di tangannya, ia mengeluarkan suara seperti dering lonceng yang lembut, kemudian perlahan menyebarkan tubuhnya dan membuat arus menjadi tenang kembali.

“Kamu telah mendapatkan izin untuk masuk,” suara lembut terdengar di benak mereka semua, seolah datang dari dalam air itu sendiri. “Namun kamu harus melewati ujian kecil sebelum bertemu dengan pemimpin kita.”

Dengan bimbingan makhluk air itu, mereka sampai di dermaga kecil yang terletak di bibir pulau. Pulau itu tertutup hutan hijau lebat dengan sungai-sungai jernih yang mengalir ke segala arah. Di tengah pulau, sebuah pemukiman yang indah terlihat dengan bangunan-bangunan yang terbuat dari batu putih dan kayu yang diperlakukan khusus, dengan atap yang berbentuk seperti ombak yang sedang melonjak.

Mereka diantar ke sebuah kuil besar yang terletak di atas bukit kecil, menghadap langsung ke danau yang luas. Di dalam kuil, seorang pemuda dengan rambut berwarna biru muda dan mata seperti laut yang dalam berdiri dengan sikap tegas. Di sisinya berdiri seorang wanita tua dengan wajah penuh kedalaman pengalaman—pemimpin Klan Naga Biru, Shui Lan.

“Selamat datang, Chen Feng dan tamu-tamu kita,” ujar Shui Lan dengan suara yang merdu seperti aliran air. “Kita telah mengetahui tentang perjalananmu dan tujuanmu untuk menyatukan klan pemburu naga. Namun sebelum kita bisa membicarakan aliansi, kamu harus melewati ujian yang akan menguji sejauh mana kamu mengerti kekuatan air.”

Ujian dilakukan di kolam khusus di belakang kuil. Air di kolam itu tampak tenang, namun Feng bisa merasakan kekuatan besar yang tersembunyi di dalamnya.

“Air bisa menjadi lembut dan penuh kasih sayang, namun juga bisa menjadi ganas dan menghancurkan,” jelas pemuda berambut biru yang diperkenalkan sebagai Liu Hai, putra tunggal pemimpin klan. “Jika kamu bisa menunjukkan bahwa kamu mengerti kedua sisi itu, maka kamu layak untuk mendapatkan dukungan kita.”

Feng masuk ke dalam kolam dengan hati-hati. Dia memegang Pedang Naga dengan lembut, membiarkan energi dari pedangnya menyatu dengan air di sekitarnya. Perlahan-lahan, dia mulai menggerakkan tubuhnya seperti aliran sungai yang lambat namun pasti. Saat dia bergerak, air di sekitarnya mulai mengikuti gerakannya, membentuk pola yang indah seperti arus laut yang sedang bergerak.

Mendadak, air di kolam menjadi ganas. Ombak besar muncul dari dalam kolam, menyerang Feng dari segala arah. Namun dia tidak membendungnya dengan kekuatan—dia hanya mengalir bersama dengan arus, menggunakan kecepatannya untuk menghindari dan mengarahkan energi air itu agar tidak menyakiti siapa pun.

Akhirnya, dia mengangkat Pedang Naga dengan tenang. Cahaya keemasan dari bilahnya menyatu dengan air di sekitarnya, dan dari dalam kolam itu muncul bunga-bunga air yang indah yang mulai mekar di tengah ombak yang tadinya ganas.

“Kamu benar-benar mengerti,” ujar Liu Hai dengan suara yang penuh kagum. “Kita selalu berpikir bahwa kekuatan air harus menguasai segala sesuatu dengan kekerasan, namun kamu telah menunjukkan bahwa kekuatan juga bisa datang dari kesediaan untuk menyatu dan mengikuti aliran alamiah.”

Malam itu, perayaan besar diadakan di pemukiman Klan Naga Biru. Api unggun menyala di tepian danau, dan suara musik khas yang dimainkan dengan alat-alat dari bambu dan kulit ikan mengisi udara. Anggota klan menari dengan gerakan yang mengalir seperti air, sementara makanan laut segar dan buah-buahan lokal disajikan dengan murah hati.

Feng berdiri di tepian danau bersama Liu Hai dan Linglong, menyaksikan pemandangan bulan yang tercermin di permukaan air yang tenang.

“Klan kita telah tinggal terisolasi selama berabad-abad karena kita takut akan konflik luar,” ujar Liu Hai dengan suara yang lembut. “Namun kamu telah menunjukkan bahwa ada cara lain untuk hidup—bersama-sama, saling melindungi satu sama lain.”

“Setiap klan memiliki kekuatan unik yang bisa memberikan kontribusi besar,” jawab Feng. “Kekuatan air kamu bisa membantu kita mengendalikan bencana alam dan menyediakan sumber kehidupan bagi banyak orang. Bersama-sama, kita bisa membuat Tanah Seribu Pegunungan menjadi tempat yang lebih baik.”

Di kejauhan, Shui Lan berdiri bersama dengan Li Mei dan Ye Chen, menyaksikan pemandangan itu. “Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri isolasi kita,” ujarnya dengan suara yang penuh harapan. “Kita telah menyimpan kekuatan kita terlalu lama. Sekarang saatnya untuk menggunakannya untuk kebaikan bersama.”

Keesokan paginya, puluhan prajurit Klan Naga Biru siap berangkat bersama rombongan. Mereka membawa perahu-perahu khusus yang bisa bergerak dengan cepat di atas air dan darat, serta pengetahuan tentang kekuatan air yang bisa digunakan untuk melindungi dan menyuburkan tanah. Jalannya untuk menyatukan semua klan pemburu naga masih panjang, namun kini mereka telah memiliki dasar yang kuat—sebuah aliansi yang dibangun atas rasa saling menghargai dan tujuan bersama untuk membawa perdamaian dan kebaikan bagi semua orang di Tanah Seribu Pegunungan.

Saat mereka berlayar menjauh dari pulau Klan Naga Biru, makhluk air penjaga muncul sekali lagi di permukaan danau. Ia mengeluarkan suara seperti doa perlindungan, kemudian menyembunyikan diri kembali ke dalam air yang jernih. Semua orang tahu bahwa mereka tidak lagi sendirian—kekuatan alam itu sendiri telah menyaksikan tekad mereka dan siap memberikan dukungan ketika diperlukan.

 

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!