Teluh Kiriman Tetangga

Teluh Kiriman Tetangga

1. Pulang Setelah Merantau

Sartika nampak berlari tergopoh-gopoh dari sawah menuju ke rumah. Orang-orang yang melihatnya berlari tanpa sandal itu pun heran.

"Ada apa Tika. Kenapa lari-lari begitu?!" tanya Ginah, tetangga yang juga kakak ipar Sartika.

"Anakku pulang Mbak. Azam pulang!" sahut Sartika lantang.

"Alhamdulillah. Setelah bertahun-tahun pergi tanpa kabar, akhirnya Azam pulang juga," gumam Ginah.

"Kira-kira apa yang dibawa Azam setelah merantau bertahun-tahun ya Bu?" tanya Padmi.

"Pasti uang lah," tebak Lia.

"Atau Mantu plus cucu," sela Ruwina.

"Daripada penasaran, mending kita liat aja langsung yuk," ajak Ginah.

Padmi, Lia dan Ruwina pun mengangguk. Kemudian empat wanita yang tadi berbincang di teras rumah Padmi itu pun bergegas melangkah mengikuti Sartika. Tapi langkah mereka terhenti di depan rumah karena terhalang sebuah mobil besar yang parkir di halaman rumah Sartika.

"Wah hebat banget si Azam. Abis merantau pulang-pulang bawa mobil. Kayanya masih baru, catnya aja masih mengkilap begitu," puji Padmi.

"Belum tentu. Siapa tau itu mobil sewaan," kata Ginah.

"Sewa gimana maksudnya Bu Gin?" tanya Ruwina tak mengerti.

"Sewa itu artinya pinjem. Dipulangin setelah selesai dipake. Biasanya sewanya dihitung per jam atau harian. Jadi setelah selesai dipake ya dikembaliin ke yang punya sambil ngasih uang. Gitu Na," sahut Ginah gemas.

"Kalo itu saya juga tau Bu. Maksud saya ... " ucapan Ruwina terputus karena Ginah memotong cepat.

"Udah ga usah nanya lagi. Tuh liat, apa yang Azam kasih buat ibunya," kata Ginah sambil memberi isyarat dengan ujung dagunya.

Disaksikan semua orang, Azam memberikan satu set perhiasan emas kepada sang ibu. Saat Sartika masih terpukau tak percaya, sang anak justru membantunya memakaikan semua perhiasan itu.

"Wah ... bagusnya. Ini beneran emas Le?" tanya Sartika sambil mengamati gelang dan cincin di tangannya dengan seksama.

"Ya iya lah Bu. Masa untuk Ibuku aku beliin yang imitasi. Kalo Ibu ga percaya, Ibu bisa kok cek perhiasan ini ke toko emas di pasar," sahut Azam cepat.

"Ga perlu. Ibu percaya sama kamu kok," kata Sartika dengan mata berbinar.

Azam pun tersenyum lebar mendengar ucapan sang ibu.

"Nah gimana, Ibu suka ga?" tanya Azam setelah selesai mengenakan kalung di leher Sartika.

"Suka banget Le. Makasih," sahut Sartika sambil memeluk Azam dengan erat.

"Iya Bu, sama-sama," sahut Azam sambil tersenyum.

"Ngomong-ngomong itu mobil siapa Le?" tanya Sartika kemudian.

"Mobil aku lah Bu," sahut Azam bangga.

"Mobil kamu?" ulang Sartika tak percaya.

"Iya. Ibu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ambil barang yang ketinggalan di mobil," sahut Azam sambil bergegas keluar rumah.

Saat membuka pintu mobil, tak sengaja Azam melihat empat tetangganya berdiri mengamati dari belakang mobil. Setelah mengambil beberapa paper bag, dia segera mendekati Ginah dan ketiga rekannya sambil tersenyum lebar.

"Wah, udah pulang kamu Zam," sapa Ginah dengan ramah.

"Iya Bude," sahut Azam sambil mencium punggung tangan Ginah dengan takzim.

"Bude kirain kamu udah ga inget pulang Zam," kata Ginah.

"Kok Bude bisa nebak begitu sih?" tanya Azam tak mengerti.

"Abisnya kamu pergi lama banget, mana ga ada kabar lagi. Pasti kerjamu enak ya di kota," kata Ginah.

"Saya ngasih kabar kok, walau jarang tapi ibu tau dimana saya. Selama ini saya yang minta sama ibu supaya ga usah cerita apa pun tentang saya. Bukan apa-apa, kabar saya kan cuma penting untuk ibu tapi ga penting untuk diketahui orang lain. Terus soal kerjaan, Bude bisa liat sendiri hasilnya. Kalo ga enak, mana mungkin saya pulang bawa oleh-oleh istimewa buat ibu saya," sahut Azam sambil tersenyum penuh makna.

Ucapan Azam membuat Ginah dan ketiga tetangganya terdiam sambil saling menatap. Mereka tak menyangka akan mendapat jawaban yang kurang mengenakkan. Tapi rasa tak nyaman itu lenyap saat Azam memberikan bingkisan kepada mereka.

"Ini ada sedikit oleh-oleh buat semuanya. Mudah-mudahan suka ya," kata Azam.

"Wah repot-repot segala. Tapi makasih ya Mas Azam," kata Ruwina mewakili rekan-rekannya.

"Sama-sama. Tapi maaf Bude dan semuanya, sekarang saya masuk dulu ya. Saya capek banget nih, mau istirahat. Maklum lah, saya nyetir sendiri dari kota ke sini," kata Azam sesaat kemudian.

"Kenapa ga nyewa supir sekalian Zam?. Biasanya kan rental nyediain jasa supir juga," tanya Ginah.

"Saya ga pake supir karena saya masih mampu bawa sendiri. Lagian ini mobil saya bukan mobil rental Bude," sahut Azam sambil tersenyum.

"Masa sih. Beli cash atau kredit?" tanya Ginah sambil mengamati mobil dan pemiliknya bergantian.

"Cash Bude," sahut Azam dengan sabar.

"Tapi ... " ucapan Ginah terputus karena Padmi memotong cepat.

"Eh, udah yuk. Saya lupa masih ada cucian piring di rumah. Kalo gitu kami pamit, makasih sekali lagi ya Mas Azam," kata Lia sambil menarik lengan Ginah agar menjauh.

"Ck, ngapain narik-narik sih. Aku kan belum selesai ngomong tadi," protes Ginah sambil menepis tangan Lia.

"Kamu bukan ngomong tapi ngajak berantem tadi Gin. Makanya sebelum terjadi, lebih baik aku ajak balik," sahut Lia hingga membuat Ginah melengos kesal.

"Tapi dari pengakuan Azam tadi kita jadi tau sesuatu. Keliatannya Sartika lebih kaya dari Ginah sekarang. Iya kan," kata Padmi.

Ucapan Padmi yang memprovokasi itu membuat Ginah meradang.

"Ck, aku yakin itu mobil rental. Tunggu aja seminggu lagi, mobil itu pasti udah ga ada di rumahnya," sahut Ginah.

"Kalo ga, gimana?" tanya Padmi.

Ginah mengabaikan pertanyaan Padmi. Dia melangkah pergi sambil mendengus kesal dan meninggalkan rekan-rekannya begitu saja.

Mengetahui Ginah terpancing dengan ucapannya tadi, Padmi pun tersenyum puas.

"Kenapa kamu ngomong gitu sih Mi. Liat tuh, Ginah jadi emosi," tegur Lia.

"Gapapa, biar seru aja," sahut Padmi sambil melenggang masuk ke dalam rumahnya.

Lia dan Ruwina nampak menggelengkan kepala melihat tingkah Padmi dan Ginah. Keduanya hapal betul apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu di dalam rumah terlihat Sartika dan Azam yang berdiri sambil mengawasi keempat tetangganya itu.

"Kenapa budemu Le, kok mukanya ditekuk begitu?" tanya Sartika.

"Bude Ginah kesel pas tau mobil yang aku bawa itu mobilku Bu," sahut Azam.

"Ga usah diambil hati ya Le. Budemu itu kan emang dari dulu begitu. Paling ga suka kalo ada orang yang lebih maju dari dia," kata Sartika.

"Itu iri namanya Bu. Kalo dia kaya gitu, aku justru makin semangat buat manas-manasin dia nanti," sahut Azam.

"Ga usah Le, ora ilok. Yang ada malah ribut nanti," kata Sartika.

"Kenapa, Ibu takut?" tanya Azam.

"Bukan takut. Ibu cuma ... " ucapan Sartika terputus karena Azam memotong cepat.

"Ibu ga usah takut lagi. Sekarang aku punya uang banyak dan aku bakal beli kesombongannya itu pake uang nanti," kata Azam.

Sartika nampak menghela nafas panjang mendengar ucapan sang anak. Dalam hati dia berharap Azam hanya sekedar bicara dan menganggapnya angin lalu.

Tapi sayang harapan Sartika tak terbukti.

Keesokan harinya Azam nampak mengajak beberapa orang pria ke rumah. Saat Sartika pulang dari sawah dia terkejut melihat mereka sedang mengukur rumahnya.

"Ada apa ini Le?. Kenapa rumah kita diukur-ukur begini. Jangan bilang kamu mau jual rumah peninggalan bapakmu ini !" kata Sartika panik.

"Aku bukan mau jual rumah ini. Justru aku mau benerin rumah ini biar lebih bagus Bu," sahut Azam.

"Lebih bagus?" ulang Sartika.

"Iya. Pokoknya Ibu tenang aja. Rumah ini bakal disulap jadi bagus dan mewah, biar pas sama mobilku," sahut Azam.

"Tapi apa urusannya mobilmu sama rumah ini Le?. Kan mobilmu ada di halaman, ga di dalam rumah," tanya Sartika tak mengerti.

"Ya ada dong. Masa mobil bagus parkir di rumah jelek, ga pantes Bu. Selain aku perlu garasi buat naro mobilku, rumah ini juga udah ketinggalan jaman. Makanya aku renov biar keliatan bagus dan kekinian," sahut Azam.

"Tapi Le ... " ucapan Sartika terputus.

"Ssttt ... udah ya Bu. Sekarang Ibu masuk gih, urusan renovasi rumah serahin aja sama aku," kata Azam sambil mendorong sang ibu ke dalam rumah.

Sartika tak bisa berbuat apa-apa dan hanya menurut saja saat rumah peninggalan sang suami telah dipugar oleh anak laki-lakinya itu.

Renovasi dadakan dan besar-besaran yang dilakukan Azam pada rumah orangtuanya mau tak mau menarik perhatian warga desa.

Rumah yang semula sederhana itu dirubah menjadi rumah megah bak istana.

Sebagian warga mulai mempertanyakan apa pekerjaan Azam di kota hingga bisa membeli mobil dan merenovasi rumah.

"Pergi ke kota beberapa tahun, pulang-pulang bisa bawa mobil dan uang banyak buat merenovasi rumah. Pasti gaji Azam gede ya," kata salah seorang warga.

"Kayanya sih gitu," sahut warga lainnya.

"Kira-kira Azam mau ga ya ngajak anak saya kerja. Siapa tau saya bisa ketularan kaya," kata pria bernama Parto tiba-tiba.

Semua orang menoleh kearah Parto lalu tersenyum. Jika dirunut ke belakang, sebenarnya Parto adalah orang yang bisa dibilang berjasa dalam hidup Azam. Dulu Parto adalah juragan kambing dan Azam adalah salah satu karyawannya. Sayangnya Parto mengalami kebangkrutan setelah ditipu oleh rekannya.

"Coba aja Pak. Yah, nasib orang kan ga ada yang tau. Buktinya Azam, dulu cuma menggembala kambing Bapak, eh setelah merantau malah jadi sukses begitu," sahut Sabri kemudian.

"Betul juga. Yuk, kita tanya sama Azam," ajak Parto sambil melangkah mendekati Azam yang sedang berdiri mengawasi pembangunan rumahnya.

\=\=\=\=\=

Terpopuler

Comments

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

ehh nemu bacaan yg baru
bru baca soalnya

2026-02-19

2

💎hart👑

💎hart👑

dapet notif ada cerita baru dari ummibebs cus langsung baca...

2026-02-01

2

JEJE @●@

JEJE @●@

Tetangga rempong sekali cari tau cash atau kredittttt

2026-03-15

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pulang Setelah Merantau
2 2. Janji Azam
3 3. Berdebat
4 4. Aku Malu Bu ...
5 5. Jeritan Laras
6 6. Calonnya Laras
7 7. Penyakit Kiriman
8 8. Benci Itu ...
9 9. Cuaca Memburuk
10 10. Diikuti Sesuatu
11 11. Pocong Ginah ?
12 12. Makam Ginah
13 13. Kenapa ... ?
14 14. Ketakutan Padmi
15 15. Rahasia Ginah
16 16. Rahasia Lain
17 17. Permohonan Padmi
18 18. Mendadak Dilalap Api
19 19. Qorin Padmi
20 20. Pengakuan ...
21 21. Mengundang Semua
22 22. Diludahi Pocong
23 23. Silakan Memilih ...
24 24. Khodam Suami Padmi
25 25. Narti Hilang ...
26 26. Sup Rahasia
27 27. Karma Untuk Narti
28 28. Menuntut Kejujuran
29 29. Arwah Menangis
30 30. Jengkel ...
31 31. Belum Tuntas !
32 32. Malam Ke 40 ...
33 33. Meminang ...
34 34. Liat Juga ...
35 35. Mau Ikut ...
36 36. Ibu ... !
37 37. Bongkar ... ?
38 38. Harus Yudha !
39 39. Mengambil Buhul
40 40. Permintaan Pocong Ginah
41 41. Diganggu Kuntilanak
42 42. Meledak !
43 43. Bertemu Laras
44 44. Masa Lalu Danu
45 45. Mimpi Itu ...
46 46. Penasaran
47 47. Dikejar Kelabang
48 48. Khawatir ...
49 49. Harsa Sakit Dan ...
50 50. Melepaskan ...
51 51. Tak Terima !
52 52. ...
53 53. Mungkin Irma
54 54. Dia Lagi ...
55 55. Kok Bisa Yah ... ?!
56 56. Mulai Ritual ...
57 57. Pagar Ghaib
58 58. Ternyata Tetangga
59 59. Hikmah ...
60 60. Hampir ...
61 61. Mitos Penunggu Pabrik
62 62. Kenalan Sama Kepala
63 63. Siuman ...
64 64. Suara Yang Hilang
65 65. Melanjutkan Hidup ...
66 66. Tentang Azam
67 67. Pura-pura Berubah
68 68. Teluh Untuk Azam
69 69. Kok Beda ... ?
70 70. Akhiri Saja
71 71. Bingung
72 72. Dicuci ...
73 73. Serangan Balik
74 74. Berencana Membalas
75 75. Mirip Leak ...
76 76. Setuju ...
77 77. Aroma Darah
78 78. Sakit Dan Sakit
79 79. Azam Hilang
80 80. Pengantin Sang Penyembah Setan
81 81. Terima Kasih ...
82 82. Gaduh !
83 83. Menarik Persembahan
84 84. Liat Pak ...!
85 85. Gila ?!
86 86. Kasian ...
87 87. Datang Untuk Menagih
88 88. Jeritan Fatia
89 89. Dimangsa Leak ...
90 90. Menjaring Leak
91 91. Menghukum
92 92. Gen Busuk ?
93 93. Udah Tau
94 94. Rahasia Yang Terbongkar
95 95. Resiko Sebuah Pilihan
96 96. Melepas Dia
97 97. Mendadak Nikah
98 98. Benda Tak Lazim
99 99. Setelah Dilabrak Narsih
100 100. Jangkung Dan Aneh
101 101. Saya Orangnya ...
102 102. Perjanjian Kedua ...
103 103. Membantu Kinar
104 104. Dia Datang ...
105 105. Pergi Ke Dunia Lain
106 106. Kinar ...!
107 107. Satu Lagi ...
108 108. Dalam Kobaran Api
109 109. Pergi Tapi ...
110 110. Sindiran Jadi Bumerang
111 111. Teluh Setelah Akad
112 112. Mengerti ...
Episodes

Updated 112 Episodes

1
1. Pulang Setelah Merantau
2
2. Janji Azam
3
3. Berdebat
4
4. Aku Malu Bu ...
5
5. Jeritan Laras
6
6. Calonnya Laras
7
7. Penyakit Kiriman
8
8. Benci Itu ...
9
9. Cuaca Memburuk
10
10. Diikuti Sesuatu
11
11. Pocong Ginah ?
12
12. Makam Ginah
13
13. Kenapa ... ?
14
14. Ketakutan Padmi
15
15. Rahasia Ginah
16
16. Rahasia Lain
17
17. Permohonan Padmi
18
18. Mendadak Dilalap Api
19
19. Qorin Padmi
20
20. Pengakuan ...
21
21. Mengundang Semua
22
22. Diludahi Pocong
23
23. Silakan Memilih ...
24
24. Khodam Suami Padmi
25
25. Narti Hilang ...
26
26. Sup Rahasia
27
27. Karma Untuk Narti
28
28. Menuntut Kejujuran
29
29. Arwah Menangis
30
30. Jengkel ...
31
31. Belum Tuntas !
32
32. Malam Ke 40 ...
33
33. Meminang ...
34
34. Liat Juga ...
35
35. Mau Ikut ...
36
36. Ibu ... !
37
37. Bongkar ... ?
38
38. Harus Yudha !
39
39. Mengambil Buhul
40
40. Permintaan Pocong Ginah
41
41. Diganggu Kuntilanak
42
42. Meledak !
43
43. Bertemu Laras
44
44. Masa Lalu Danu
45
45. Mimpi Itu ...
46
46. Penasaran
47
47. Dikejar Kelabang
48
48. Khawatir ...
49
49. Harsa Sakit Dan ...
50
50. Melepaskan ...
51
51. Tak Terima !
52
52. ...
53
53. Mungkin Irma
54
54. Dia Lagi ...
55
55. Kok Bisa Yah ... ?!
56
56. Mulai Ritual ...
57
57. Pagar Ghaib
58
58. Ternyata Tetangga
59
59. Hikmah ...
60
60. Hampir ...
61
61. Mitos Penunggu Pabrik
62
62. Kenalan Sama Kepala
63
63. Siuman ...
64
64. Suara Yang Hilang
65
65. Melanjutkan Hidup ...
66
66. Tentang Azam
67
67. Pura-pura Berubah
68
68. Teluh Untuk Azam
69
69. Kok Beda ... ?
70
70. Akhiri Saja
71
71. Bingung
72
72. Dicuci ...
73
73. Serangan Balik
74
74. Berencana Membalas
75
75. Mirip Leak ...
76
76. Setuju ...
77
77. Aroma Darah
78
78. Sakit Dan Sakit
79
79. Azam Hilang
80
80. Pengantin Sang Penyembah Setan
81
81. Terima Kasih ...
82
82. Gaduh !
83
83. Menarik Persembahan
84
84. Liat Pak ...!
85
85. Gila ?!
86
86. Kasian ...
87
87. Datang Untuk Menagih
88
88. Jeritan Fatia
89
89. Dimangsa Leak ...
90
90. Menjaring Leak
91
91. Menghukum
92
92. Gen Busuk ?
93
93. Udah Tau
94
94. Rahasia Yang Terbongkar
95
95. Resiko Sebuah Pilihan
96
96. Melepas Dia
97
97. Mendadak Nikah
98
98. Benda Tak Lazim
99
99. Setelah Dilabrak Narsih
100
100. Jangkung Dan Aneh
101
101. Saya Orangnya ...
102
102. Perjanjian Kedua ...
103
103. Membantu Kinar
104
104. Dia Datang ...
105
105. Pergi Ke Dunia Lain
106
106. Kinar ...!
107
107. Satu Lagi ...
108
108. Dalam Kobaran Api
109
109. Pergi Tapi ...
110
110. Sindiran Jadi Bumerang
111
111. Teluh Setelah Akad
112
112. Mengerti ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!