NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. DIFFERENT WORLD

Abad 21

“Babe, lihat novel yang aku baca!”

Suara nyaring itu terdengar tepat di telinga Jane. Seorang wanita berambut pendek langsung menjatuhkan dirinya di sofa, menempel terlalu dekat. “Seru banget, sumpah. Pemerannya cantik-cantik, ganteng-ganteng. Terutama Putra Mahkota William—aaa, aku terpana.”

Jane mendecih pelan. Tangannya masih sibuk membersihkan senjata api di pangkuannya, gerakannya tenang, terlatih, tanpa sedikit pun rasa gugup.

“Kutu buku,” gumamnya datar. “Bisakah kau menjauh? Aku masih harus menyimpan senjataku.”

“Ah, lebay,” sahut wanita itu—Kaesh, sahabatnya—sambil tersenyum lebar. Tanpa izin, Kaesh menyingkirkan senjata dari genggaman Jane dan menyodorkan sebuah buku dengan sampul berkilau. “Ayolah, lihat ini.”

Jane menatap buku itu seolah benda asing. Alisnya terangkat tipis, bukan tertarik—lebih seperti menilai ancaman.

“Lihat dan baca. Menurutmu bagus tidak?” Kaesh menatapnya penuh harap.

Jane mendengus. Tatapannya meluncur malas ke ilustrasi sampul: bangsawan berambut perak, mata tajam, bersenjata pedang. Ia membaca sekilas beberapa baris, lalu—

“Idih.”

Buku itu melayang dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara tumpul.

“Yaaak, Jane!” Kaesh melonjak berdiri. “Kenapa kamu melemparnya?! Itu buku kesayanganku!”

Jane hanya meroling matanya. “Cerita terlalu manis. Dunia tidak bekerja seperti itu.” Nada suaranya dingin, tanpa emosi. “Putra mahkota, perang, cinta—semuanya terasa palsu.”

Kaesh memungut buku itu, mengelap sampulnya dengan hati-hati seolah menenangkan sesuatu yang terluka. “Kamu terlalu sinis. Kadang dunia lain itu perlu.”

Jane berdiri, menyelipkan senjata ke sarungnya. “Dunia lain tidak ada. Yang ada hanya ini.” Ia menunjuk ke arah jendela—lampu kota, bayangan gedung tinggi, dan hiruk-pikuk dunia nyata yang kejam. “Dan aku cukup paham bagaimana dunia bekerja.”

Kaesh membuka mulut, hendak membalas—

Namun langkah Jane tiba-tiba terhenti.

Pandangan Jane berkunang sesaat. Suara kota meredup, seperti ditelan kabut tebal. Lantai terasa menjauh.

“Jane?” Kaesh memanggil, suaranya terdengar jauh.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu semuanya gelap.

Keheningan.

Bukan suara sirene. Bukan bau logam atau darah.

Yang ada hanya kehangatan aneh, seperti diselimuti cahaya matahari pagi.

Jane membuka mata.

Langit-langit tinggi berornamen emas menyambutnya. Tirai sutra bergoyang pelan. Udara dipenuhi aroma bunga—lembut, asing, menyesakkan.

“Apa… ini?” bisiknya.

Tangannya terangkat. Kulitnya lebih halus. Lebih kecil.

Bukan tangannya.

Detak jantungnya stabil—terlalu stabil untuk seseorang yang seharusnya berada di dunia modern beberapa saat lalu.

Pintu kayu terbuka perlahan.

“Nona Anthenia…” suara lembut seorang pelayan menggema. “Anda sudah bangun.”

Jane menatapnya tajam.

Nama itu—

bukan miliknya.

Namun entah kenapa, dunia ini terasa… nyata.

Dan jauh di dalam kepalanya, halaman-halaman sebuah novel yang ia ejek dengan jijik mulai terbuka satu per satu.

.....

Anthenia.

Nama itu kembali bergema di kepalanya, berat, asing—namun anehnya akrab.

Jane—tidak, jiwa Jane—menarik napas pelan. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa terlalu bersih. Tidak ada bau mesiu. Tidak ada aroma darah. Tidak ada dengung kota yang tak pernah tidur.

Ini bukan mimpi.

Ia duduk perlahan di atas ranjang besar berhias ukiran emas. Kain seprai selembut awan menyentuh kulitnya, membuatnya semakin sadar bahwa tubuh ini… bukan tubuhnya.

“Di mana aku?” tanyanya dingin, menatap pelayan yang berdiri menunduk di dekat pintu.

Pelayan itu terkejut, lalu tersenyum gugup. “Anda berada di Kediaman Duke Blackwood, Nona. Anda pingsan setelah terpeleset di taman.”

Terpeleset.

Jane hampir tertawa.

Ia menurunkan pandangannya ke tangannya sendiri. Jari-jari ramping, kuku rapi, tanpa bekas luka. Tidak ada kapalan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang keras.

Tubuh ini terlalu… rapuh.

“Cermin,” ucapnya singkat.

Pelayan itu segera mengangguk dan menggeser cermin besar ke hadapannya.

Pantulan di sana membuat napasnya tertahan sesaat.

Rambut panjang berwarna gelap berkilau jatuh hingga punggung. Wajah lembut dengan mata besar yang biasanya—ia tahu entah bagaimana—selalu menunduk takut. Cantik. Terlalu cantik untuk dunia yang ia kenal.

“Anthenia Blackwood,” bisiknya.

Nama itu tidak lagi asing.

Seperti banjir, ingatan yang bukan miliknya mengalir masuk—

seorang gadis kecil yang bersembunyi di balik jubah ayahnya,

suara lembut seorang ibu yang tersenyum sebelum akhirnya terbaring tak bernyawa,

dan rasa takut… takut pada dunia, pada suara keras, pada tatapan orang lain.

Jane mengepalkan tangan.

Tidak.

Rasa takut itu bukan miliknya.

Pelayan kembali bicara dengan hati-hati, “Duke… Duke Kaelen Blackwood akan segera datang. Beliau sangat khawatir.”

Nama itu membuat naluri Jane bergerak cepat.

Duke Blackwood.

Tangan kanan Kaisar.

Tokoh penting dalam novel murahan yang ia lempar dengan jijik.

Langkah kaki berat terdengar di luar pintu.

Pelayan langsung berlutut. “Yang Mulia Duke.”

Pintu terbuka.

Seorang pria tinggi dengan aura menekan memasuki ruangan. Rambut hitamnya tersisir rapi, wajahnya keras, tatapannya tajam—tatapan seorang pria yang terbiasa memerintah dan membunuh tanpa ragu.

Namun saat matanya jatuh pada Anthenia…

Tatapan itu retak.

“Anthenia.” Suaranya rendah, tertahan. Ia melangkah mendekat, seolah takut gadis di depannya akan menghilang. “Apakah kau baik-baik saja?”

Jane menatapnya balik. Ia membaca bahasa tubuh itu dengan mudah—kekhawatiran tulus, protektif, nyaris posesif.

“Ayah,”bisik ingatan gadis itu.

Ia menjawab dengan tenang, terlalu tenang untuk Anthenia yang lama. “Aku baik.”

Duke Kaelen terdiam sesaat. Alisnya mengernyit. “Kau… bicara berbeda.”

Jane menyadarinya. Ia seharusnya gugup, menunduk, berbicara pelan.

Namun ia tidak akan berpura-pura lemah.

“Sedikit,” jawabnya datar. “Mungkin karena aku hampir mati.”

Udara di ruangan itu mendadak menegang.

Duke Kaelen menatap putrinya lama—terlalu lama. Ia tidak marah. Tidak juga tersenyum. Namun ada sesuatu di matanya… kewaspadaan.

“Beristirahatlah,” akhirnya ia berkata. “Tak seorang pun akan mengganggumu.”

Ia berbalik, lalu berhenti di ambang pintu. “Dan Anthenia…”

Jane mengangkat wajahnya.

“Jika ada yang mengganggumu—siapa pun—katakan padaku.”

Nada suaranya bukan permintaan.

Itu janji.

Atau ancaman.

Pintu tertutup.

Jane bersandar di sandaran ranjang, menatap langit-langit emas itu lagi.

Sebuah dunia kerajaan.

Tokoh-tokoh yang ia ejek.

Dan satu nama yang terlintas tanpa ia inginkan—

William Whiston.

Putra Mahkota.

Sudut bibirnya terangkat tipis, dingin.

“Baiklah,” gumamnya pelan. “Jika ini dunia berbeda…”

Matanya mengeras, penuh perhitungan.

“Aku akan hidup di sini—dengan caraku sendiri.”

...

..

Malam turun perlahan.

Cahaya lentera kristal menerangi kamar Anthenia dengan kilau keemasan yang menenangkan—atau setidaknya, seharusnya begitu. Jane—jiwa yang kini bersemayam di tubuh itu—berdiri di depan jendela, menatap taman luas Kediaman Blackwood.

Teratur. Terlalu teratur.

Penjagaan ketat. Sudut pandang luas. Jalur keluar-masuk jelas.

Naluri lamanya bergerak tanpa diminta.

Jika ini markas… titik buta ada di sana. Dan di sana.

Ia menutup mata sesaat. Mengatur napas. Menenangkan pikiran yang terus menimbang kemungkinan terburuk.

Buku itu.

Novel yang dilemparnya.

Potongan cerita kembali menyusup—nama, wajah, takdir. Putra Mahkota William. Permaisuri Lunara. Istana Araluen. Dan gadis bernama Anthenia Blackwood yang seharusnya hidup tenang, jauh dari intrik.

“Aku berada di dalam cerita itu,” gumamnya.

Pintu diketuk pelan.

“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.

Pelayan yang sama melangkah masuk, membawa baki perak berisi minuman hangat. “Nona, Anda belum makan sejak siang.”

Jane menoleh. Tatapannya tajam, menilai. Pelayan itu menunduk, jujur—tidak ada niat jahat. Ia mengendurkan bahu.

“Letakkan di sana.”

Pelayan itu patuh. Sebelum keluar, ia ragu. “Nona… Anda berbeda hari ini.”

Jane tersenyum tipis. Bukan senyum ramah—lebih seperti pengakuan sunyi. “Mungkin aku akhirnya bangun.”

Pintu tertutup.

Ia mengangkat cangkir, menghirup aromanya. Aman. Tidak beracun. Ia meneguk sedikit, lalu duduk di tepi ranjang.

Jika ini dunia novel… maka aku tahu aturan mainnya.

Ia tidak akan menjadi pion.

Langkah kaki kembali terdengar—kali ini lebih ringan, namun tergesa. Pintu terbuka tanpa ketukan.

“Anthenia!”

Seorang gadis kecil berambut terang menerobos masuk, wajahnya cerah penuh kekhawatiran. Ingatan lama bergetar—kerabat jauh? Tidak. Tamu istana yang sering berkunjung. Seorang putri kecil yang ceria.

“Nelia Whiston,” bisik ingatan.

Nelia berhenti di depan ranjang, menatap Anthenia dengan mata berbinar. “Kau baik-baik saja? Aku dengar kau pingsan! Kakak—maksudku—ayahku khawatir.”

Jane menatapnya lembut, refleks yang tidak ia sangka. Ada ketulusan murni di sana—tanpa agenda, tanpa kepalsuan.

“Aku baik,” jawabnya jujur. “Terima kasih sudah datang.”

Nelia menghela napas lega, lalu tersenyum lebar. “Syukurlah! Kalau tidak, Kakak Liam—”

Ia terdiam mendadak, menutup mulutnya sendiri.

Jane mengangkat alis. “Kakak Liam?”

Nelia terkikik kecil, pipinya merona. “Ah—tidak apa-apa. Pokoknya… kau harus cepat sembuh. Kau akan diundang ke istana.”

Undangan.

Itu cepat.

Jane menegakkan punggungnya. “Kapan?”

“Segera,” jawab Nelia ceria. “Permaisuri ingin bertemu denganmu.”

Nama itu membuat udara terasa lebih berat.

Permaisuri Lunara Aurelius.

Seorang wanita yang membaca manusia seperti papan catur.

Jane mengangguk pelan. “Aku akan siap.”

Nelia tersenyum puas, lalu berbalik pergi. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh lagi. “Anthenia… kau terlihat lebih kuat hari ini.”

Jane tidak menyangkal.

Pintu menutup, menyisakan keheningan.

Ia berdiri kembali di depan jendela. Jauh di kejauhan, menara istana menjulang—tujuan berikutnya. Di sanalah permainan sesungguhnya dimulai. Di sanalah Pedang Emas Kaisar berdiri.

Sudut bibirnya melengkung samar.

“Putra Mahkota William,” bisiknya. “Kita akan bertemu.”

Di dunia berbeda ini, Jane tidak datang untuk mencari cinta.

Ia datang untuk bertahan.

Dan jika perlu—

menguasai segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!