NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Cakrawala yang Terkunci

​Suara deru mesin helikopter AgustaWestland menenggelamkan semua pikiran Aruna. Di bawah sana, daratan kota yang penuh dengan lampu-lampu pucat perlahan menjauh, digantikan oleh hamparan samudra yang hitam pekat di bawah langit malam. Aruna duduk di kursi kulit yang empuk, matanya menatap kosong ke luar jendela kecil. Di sampingnya, Dante Valerius duduk dengan kaki bersilang, sebuah tablet di tangan dan segelas wiski di tangan lainnya.

​Dante telah mengganti kemejanya yang berdarah dengan sweater kasmir hitam yang elegan. Luka gores di pipinya telah dibersihkan, namun aura kegelapan yang ia bawa dari pembantaian di pesta tadi masih terasa sangat kental.

​"Kita akan ke mana?" suara Aruna hampir tenggelam oleh suara baling-baling.

​Dante tidak segera menjawab. Ia menyesap wiskinya, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan pergerakan radar keamanan. "Tempat di mana tidak ada Don Salieri, tidak ada pengkhianat, dan tidak ada peluru yang bisa mencapaimu."

​"Pulau pribadi?" Aruna menebak, suaranya mengandung nada getir.

​"Isola del Sangue. Pulau milik keluargaku selama tiga generasi," Dante menoleh, menatap Aruna dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Di sana, kau tidak perlu lari ke balik pilar marmer untuk bertahan hidup. Di sana, aku adalah hukumnya."

​Aruna memejamkan mata. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dipindahkan ke kotak yang lebih aman, namun tetap saja, ia masih berada di atas papan permainan pria ini.

​Dua jam kemudian, helikopter mendarat di sebuah landasan beton di puncak bukit sebuah pulau yang tampak seperti mimpi. Villa besar di pulau itu dibangun langsung dari tebing karang, dengan dinding kaca yang menghadap ke laut lepas. Aroma garam laut dan bunga liar malam hari menyambut mereka saat pintu helikopter terbuka.

​Marco dan beberapa penjaga bersenjata lengkap sudah berada di sana, namun Dante memberikan isyarat agar mereka tetap di kejauhan. Ia menggendong Leonardo yang tertidur di dalam tas bayi portabel, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Aruna.

​Dante menuntun Aruna masuk ke dalam villa. Interiornya jauh lebih minimalis dan modern dibandingkan mansion di kota, namun setiap sudutnya tetap memancarkan kekayaan yang luar biasa.

​"Ini kamarmu," Dante membuka sebuah pintu kayu jati besar. "Leonardo akan berada di kamar sebelah, terhubung dengan pintu rahasia. Kau bisa menemuinya kapan saja tanpa harus keluar ke koridor."

​Aruna melangkah masuk ke balkon kamar itu. Angin laut menerpa wajahnya, menerbangkan rambut hitamnya yang kini berantakan. Ia menatap ke bawah; tebing itu sangat curam, langsung menuju deburan ombak yang menghantam karang tajam ratusan meter di bawah sana.

​"Ini bukan perlindungan, Dante. Ini isolasi," bisik Aruna tanpa menoleh. "Kau membawaku ke tempat di mana aku tidak punya siapa pun untuk dimintai tolong."

​Dante berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Aruna. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Aruna, menarik tubuh gadis itu agar bersandar pada dadanya. "Siapa yang kau butuhkan, Aruna? Teman-teman kampusmu yang pengecut? Atau polisi yang gajinya kubayar setiap bulan? Di dunia ini, satu-satunya orang yang bisa menjamin napasmu tetap mengalir adalah aku."

​Dante memutar tubuh Aruna agar menghadapnya. "Tidakkah kau mengerti? Malam ini aku hampir kehilanganmu. Saat lampu itu padam dan tembakan pertama dilepaskan, aku menyadari satu hal. Aku tidak peduli pada yayasan itu. Aku tidak peduli pada tamu-tamu itu. Aku hanya peduli bahwa mawar merahku tidak tertembak."

​"Kenapa?" Aruna menantang mata Dante. "Karena aku sumber nutrisi anakmu? Karena aku pengganti Isabella?"

​Mata Dante berkilat. "Jangan sebut nama itu lagi."

​Dante mencengkeram rahang Aruna, memaksa gadis itu mendongak. "Aku membawamu ke sini karena aku mulai menyukai cara kau menatapku dengan benci namun tetap membutuhkan dekapanku saat kau takut. Aku menyukai cara kau menjadi milikku sepenuhnya tanpa gangguan."

​Tiba-tiba, suara Leonardo menangis dari kamar sebelah. Tangisan yang lapar dan menuntut.

​Dante melepaskan cengkeramannya, senyum dingin kembali muncul di bibirnya. "Lakukan tugasmu, Aruna. Dan setelah itu, kita akan bicara tentang aturan baru di pulau ini."

​Aruna duduk di kursi goyang di depan jendela kaca besar yang menghadap samudra luas. Sambil menyusui Leonardo, ia menatap cakrawala yang tak berujung. Di satu sisi, ia merasa lega karena ia dan bayi itu aman dari peluru musuh. Namun di sisi lain, ia merasa jiwanya perlahan-lahan terkikis.

​Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di laci meja kecil di samping kursi goyang. Sebuah buku kecil bersampul kulit tua yang tampak sudah lama tidak disentuh. Aruna membukanya dengan satu tangan.

​Itu adalah buku harian. Namun, bahasa yang digunakan bukan bahasa yang Aruna kenal—tampak seperti bahasa Italia kuno atau kode keluarga. Di halaman pertama, ada sebuah sketsa wajah seorang wanita yang sangat mirip dengannya, namun dengan tatapan yang jauh lebih hancur.

​Di bawah sketsa itu tertulis sebuah tanggal: 30 Desember 1995.

​Jantung Aruna berdetak kencang. Jika Isabella meninggal beberapa tahun yang lalu, siapa wanita di sketsa ini? Apakah obsesi Dante pada "tipe" wanita tertentu sudah berlangsung jauh sebelum Aruna lahir?

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Dante masuk dengan nampan berisi makanan mewah dan sebotol wine. Ia melihat buku di tangan Aruna.

​Suasana ruangan itu berubah seketika. Hawa dingin merayap dari lantai marmer. Dante meletakkan nampan itu dengan suara denting yang tajam.

​"Aku tidak suka jika tamuku menyentuh barang-barang yang bukan miliknya," suara Dante sangat tenang, namun Aruna tahu itu adalah ketenangan sebelum badai.

​Dante berjalan mendekat, mengambil buku itu dari tangan Aruna. Ia menatap sketsa di dalamnya sejenak sebelum melemparkannya ke dalam perapian yang menyala di sudut ruangan.

​"Dante! Itu sejarah keluargamu!" teriak Aruna.

​"Itu adalah kutukan, bukan sejarah," Dante mencengkeram bahu Aruna, menariknya berdiri meski Aruna masih mendekap Leonardo. "Dengar baik-baik, Aruna. Di pulau ini, tidak ada masa lalu. Hanya ada sekarang. Dan sekarang, kau akan makan, kau akan menyusui anakku, dan kau akan belajar cara mencintai monster yang menjagamu tetap hidup."

​Dante menarik Aruna ke arah meja makan kecil, memaksanya duduk. Ia menuangkan wine ke gelas Aruna. "Minumlah. Kau butuh ketenangan untuk memproduksi susu yang berkualitas bagi pewarisku."

​Aruna menatap api yang melahap buku harian itu. Ia menyadari bahwa di Isola del Sangue, rahasia tidak hanya dikubur—mereka dibakar hingga menjadi abu. Dan ia, Aruna Salsabila, adalah bahan bakar terbaru untuk api obsesi Dante Valerius.

​ ini?

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!