Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Malam di Long Island selalu membawa keheningan yang mewah, namun di dalam kamar utama St. Clair Manor, suasana terasa jauh lebih hangat dan intim. Setelah hiruk-pikuk Gala Awards yang menguras energi, Andreas tidak membiarkan satu pelayan pun menyentuh istrinya. Baginya, melayani Sera adalah hak istimewa yang tidak akan ia berikan pada siapa pun.
Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan pendar kekuningan yang lembut dari lampu tidur. Aroma esensial lavender dan sandalwood memenuhi ruangan, menciptakan oasis ketenangan bagi Sera yang kini sedang bersandar lemas di tumpukan bantal sutra.
"Kakiku rasanya seperti membengkak dua kali lipat, Andreas," gumam Sera dengan suara serak yang manja. Ia masih mengenakan jubah mandi satin putih setelah mandi air hangat yang disiapkan suaminya.
Andreas masuk ke kamar dengan membawa wadah kayu berisi air hangat yang telah dicampur dengan garam Epsom dan kelopak bunga mawar. Ia meletakkannya di lantai, tepat di bawah kaki Sera. Tanpa ragu, pria yang beberapa jam lalu dipuja jutaan orang sebagai aktor paling berkarisma itu berlutut di lantai marmer yang dingin.
"Sini, Sayang. Biarkan aku melakukannya," ucap Andreas lembut.
Ia mengangkat kaki Sera satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah kaki itu terbuat dari kristal paling mahal di dunia. Saat kaki mungil yang sedikit membengkak itu masuk ke dalam air hangat, Sera mendesah lega, memejamkan matanya rapat-rapat.
"Oh, God... itu enak sekali," bisik Sera.
Andreas mulai memijat telapak kaki Sera. Jemari tangannya yang kuat namun lentur menekan titik-titik lelah dengan tekanan yang pas. Ia tahu persis di mana rasa sakit itu berkumpul setelah Sera berdiri berjam-jam di atas high heels tadi malam.
Sambil memijat, Andreas mendongak, menatap wajah istrinya dengan pemandangan yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali: wajah Sera yang polos tanpa riasan, dengan rona merah alami dan rambut yang sedikit berantakan.
"Kau sangat luar biasa semalam, Sera. Tapi melihatmu kesakitan seperti ini membuatku ingin membakar semua sepatu hak tinggimu," gurau Andreas, membuat Sera terkekeh kecil.
Setelah selesai dengan kakinya, Andreas mengeringkan kaki Sera dengan handuk lembut. Ia kemudian naik ke atas ranjang, duduk di belakang Sera sehingga punggung Sera bersandar pada dada bidangnya.
Andreas mulai memijat bahu dan leher Sera. Tangan besarnya meremas otot-otot yang tegang dengan ritme yang menenangkan. Sera menyandarkan kepalanya di bahu Andreas, menikmati setiap inci perhatian yang diberikan suaminya.
"Andreas..." panggil Sera pelan.
"Hmm?"
"Apa kau tidak menyesal? Maksudku... kau sedang di puncak karier, dan sekarang kau di sini, memijatku dan mengurus bayi, sementara teman-teman aktormu sedang berpesta di Los Angeles."
Andreas menghentikan pijatannya sejenak. Ia melingkarkan tangannya di perut buncit Sera yang besar dan indah, merasakan hangatnya kehidupan di sana. Ia mengecup bahu Sera yang terbuka.
"Sera, dengarkan aku," bisik Andreas tepat di telinganya. "Pesta di LA itu fana. Tepuk tangan di karpet merah itu hanya kebisingan yang akan hilang dalam semalam. Tapi ini..." ia mengusap perut Sera yang tiba-tiba memberikan tendangan kecil, "...ini adalah realitaku. Menjadi suamimu dan ayah dari anak ini adalah peran terbaik yang pernah aku dapatkan seumur hidupku. Tidak ada piala Oscar yang bisa menandingi rasanya memijat kakimu setiap malam."
Sera tersenyum, hatinya terasa penuh. Ia meraih tangan Andreas yang berada di perutnya, mengunci jemari mereka menjadi satu.
Andreas kemudian menuntun Sera untuk berbaring miring, posisi yang paling nyaman untuk usia kehamilan yang sudah tua. Ia mengambil minyak pijat khusus kehamilan yang beraroma jeruk segar, lalu mulai mengoleskannya pada punggung bawah Sera yang sering terasa pegal.
Gerakan tangan Andreas sangat ritmis, memutar lembut, memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Sera. Tidak ada nafsu yang menggebu dalam sentuhan itu, yang ada hanyalah pemujaan dan rasa terima kasih yang mendalam.
"Dia bergerak lagi," bisik Andreas saat tangannya merasakan pergerakan aktif dari dalam perut Sera.
Ia mendekatkan wajahnya ke perut Sera, membisikkan kata-kata manis yang hanya diketahui oleh mereka bertiga. "Hai, jagoan kecil. Jangan terlalu kuat menendang Ibu, ya? Dia sedang lelah. Ayah di sini, Ayah menjagamu."
Sera memperhatikan Andreas dengan mata berkaca-kaca. Pria yang dulu dikenal sebagai "Si Dingin St. Clair" kini telah berubah menjadi pria yang begitu hangat dan penuh kasih. Perubahan itu terjadi hanya karena dirinya—dan karena nyawa kecil yang mereka ciptakan bersama.
Pijatan itu berlangsung hampir satu jam sampai akhirnya Sera mulai merasa mengantuk. Andreas menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu menarik Sera ke dalam dekapannya. Ia memastikan posisi Sera benar-benar nyaman, menyangga perut buncit itu dengan bantal tambahan.
"Tidurlah, Nyonya St. Clair," gumam Andreas sambil mencium puncak kepala Sera.
"Terima kasih untuk pijatannya, Andreas. Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu, Sera. Lebih dari yang bisa kau bayangkan."
Malam itu, di kediaman St. Clair yang megah, tidak ada drama, tidak ada mantan yang mengganggu, dan tidak ada kamera yang mengintai. Hanya ada seorang suami yang memuja istrinya, dan seorang istri yang merasa paling aman di dunia dalam dekapan suaminya. Bagi Andreas, kemewahan yang sesungguhnya bukanlah pada nama besarnya, melainkan pada kemampuan tangannya untuk meredakan lelah wanita yang menjadi pusat dunianya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰