Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Kampus Seni Budaya sore itu menjadi saksi sejarah yang paling tidak masuk akal. Di koridor depan studio lukis, Pangeran Kholid—yang biasanya hanya menyentuh gelas kristal dan kain sutra—kini terlihat seperti orang yang baru saja selamat dari badai cat minyak. Ia mengenakan celemek kain kumal untuk melindungi kemeja bermereknya, sementara tangannya memegang sapu lidi.
Freya duduk di kursi kayu tinggi sambil asyik mengunyah kuaci. Dengan gerakan yang sangat sengaja dan penuh drama, ia membuang kulit kuaci itu tepat ke lantai marmer yang baru saja disapu Kholid.
"Aduh, sorry... licin banget nih tangan gue," ujar Freya dengan nada bicara yang dibuat-buat, membuat Jihan yang duduk di sampingnya terkikik geli sambil menutup mulut. "Kholid, tolong bersihin ya. Biar kinclong kayak masa depan gue."
Kholid menggeram, rahangnya mengeras. "Freya, ini sudah sepuluh kali kamu membuang sampah di tempat yang sama."
"Eits! Panggil apa tadi?" Freya menaikkan alisnya.
"Nona... Freya," desis Kholid lewat celah giginya.
"Pinter! Nah, mumpung lo lagi di bawah, gue laper nih. Beliin batagor di kantin belakang dong! Pakai bumbu kacang yang banyak, kecapnya dikit aja, kasih perasan jeruk nipis dua. Jangan lama! Cepetan dong, Aspri lelet banget sih!"
Kholid meletakkan sapunya dengan kasar, namun saat ia melihat layar ponselnya yang menampilkan foto Buyut sedang tersenyum (sebagai pengingat ancaman pencabutan gelar), ia terpaksa melangkah pergi menuju kantin.
"Gila lo, Frey. Lo bener-bener bikin Pangeran jadi babu," bisik Jihan setelah Kholid menjauh.
"Dia butuh pelajaran, Ji. Biar tahu kalau dunia nggak cuma muter di sekitar egonya doang," jawab Freya santai.
Tiga puluh menit kemudian, Kholid kembali dengan napas tersengal dan dua bungkus batagor plastik. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan karena harus berdesakan dengan mahasiswa lain yang berebut antrean.
"Ini. Puas?" Kholid menyodorkan bungkusan itu.
Freya menerimanya, lalu mulai makan dengan lahap bersama Jihan. Kholid hanya berdiri diam, wajahnya memerah karena malu dilihat oleh banyak mahasiswa yang berbisik-bisik di sekitarnya. Namun, setelah Freya menghabiskan makanannya, ekspresi gadis itu melunak.
Ia berjalan ke arah tasnya, mengambil sebuah es krim cone cokelat yang tadi sempat ia beli di minimarket kampus dan ia simpan di cooler bag kecilnya.
"Nih," Freya menyodorkan es krim itu tepat ke arah wajah Kholid.
Kholid mengerutkan kening. "Apa ini?"
"Es krim lah. Masa granat," sahut Freya. "Anggep aja upah lo karena udah seharian jadi budak gue. Makan gih, biar otak lo nggak panas mulu isinya mau ngejatuhin orang."
Kholid tertegun. Ia menatap es krim itu, lalu menatap mata Freya yang kini tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan kejujuran yang aneh. Dengan ragu, Kholid menerima es krim itu. "Terima kasih... Nona."
"Nah, gitu dong. Besok jangan telat ya, Aspri!" Freya menepuk bahu Kholid dengan santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menyentuh bahu seorang bangsawan tinggi dengan tangan yang sedikit bau bumbu kacang.
"Naik."
Saat jam pulang tiba, Kholid sudah membukakan pintu mobil sedannya untuk Freya—tugas terakhirnya hari ini. "Silakan masuk, Nona. Saya akan antar Anda pulang sesuai perintah Buyut."
Freya baru saja akan melangkah masuk, namun tiba-tiba sebuah mobil SUV hitam besar dengan kaca gelap berhenti tepat di belakang mobil Kholid. Pintu belakang terbuka, dan sosok Kaisar keluar dari sana.
Aura di sekitar mereka seketika berubah menjadi dingin. Kaisar tidak mengenakan jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung rapi, tapi otoritas yang ia pancarkan jauh lebih kuat dari siapa pun.
"Freya," suara Kaisar berat dan mutlak. "Naik ke mobilku."
Kholid tertegun, tangannya masih memegang gagang pintu mobilnya. "Kaisar? Aku asisten pribadinya sekarang. Aku yang bertanggung jawab mengantarnya pulang."
Kaisar melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kholid, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Tugasmu melayani dia di kampus sudah selesai untuk hari ini, Kholid. Urusan keluarga setelah ini adalah bagianku."
Kaisar kemudian beralih ke Freya, matanya sedikit melembut tapi tetap tegas. "Naik."
Freya berkedip bingung. "Eh, Kai... Mau ke mana? Gue kan udah janjian mau diantar Kholid biar dia tahu jalanan macet arah rumah gue."
"Tidak perlu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Kaisar. Tanpa menunggu persetujuan Freya, ia mengambil tas lukis Freya dari tangan Kholid dan memasukkannya ke bagasi mobilnya sendiri.
Kholid hanya bisa terdiam, rahangnya mengeras melihat sepupunya itu bertindak posesif. "Kau tidak bisa selalu mengatur semuanya, Kaisar."
Kaisar tidak membalas. Ia hanya membukakan pintu mobil untuk Freya. "Freya, sekarang."
Freya, yang merasakan ketegangan luar biasa antara dua pria ini, memutuskan untuk mengikuti instingnya. Ia melambaikan tangan pada Kholid yang terlihat merana. "Dadah Aspri! Sampai ketemu besok!"
Begitu pintu SUV tertutup, suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi. Kaisar duduk di samping Freya, namun ia tidak langsung menyuruh supir jalan. Ia justru menatap ke arah luar jendela, ke arah Kholid yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Lo kenapa sih, Kai? Tiba-tiba dateng kayak penggerebekan narkoba," tanya Freya sambil memperbaiki posisi duduknya.
Kaisar menoleh. Matanya menatap Freya dengan intensitas yang membuat Freya merasa seperti sedang diaudit. "Aku tidak suka melihatmu terlalu akrab dengan Kholid."
"Hah? Akrab apanya? Gue kan cuma ngerjain dia!"
"Memberinya es krim adalah sebuah interaksi sosial yang berlebihan bagi seorang asisten," sahut Kaisar dingin.
Freya melongo, lalu tawa keras meledak dari bibirnya. "Ya ampun, Kai! Lo cemburu?! Sama sepupu lo sendiri? Gara-gara es krim seharga lima ribu perak?"
Wajah Kaisar mendadak kaku. "Aku tidak cemburu. Aku hanya... menjaga reputasimu."
"Halah, alasan! Muka lo tuh kalau bohong makin kayak kanebo kering, tahu nggak?" Freya menyenggol lengan Kaisar. "Tapi tenang aja, Pangeran Robot. Lo tetep nomor satu di daftar orang paling menyebalkan buat gue."
Kaisar terdiam sejenak, lalu perlahan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita tidak pulang ke rumahmu sekarang."
"Terus ke mana?"
"Buyut memintaku membawamu ke sebuah acara pameran lukisan pribadi di luar kota. Hanya kita berdua. Beliau ingin kau mulai belajar bagaimana menilai aset seni kerajaan," jelas Kaisar.
Freya mendesah dramatis. "Lagi-lagi tugas negara. Tapi oke deh, asal lo yang bayar bensinnya."
Saat mobil mulai melaju, Freya tidak menyadari bahwa Kaisar terus memperhatikannya dari sudut matanya. Di balik sikap kaku itu, Kaisar sadar bahwa ia mulai merasa tidak nyaman jika ada pria lain—siapa pun itu—yang mendapatkan perhatian dari gadis rebel di sampingnya ini. Perjalanan panjang mereka ke luar kota baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada protokol yang bisa mengatur detak jantung Kaisar yang mulai tidak beraturan.