Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Terakhir
Pagi keempat, Kakek membangunkanku dengan cara yang berbeda.
Bukan perintah keras seperti biasanya, bukan ketukan mendesak di pintu yang membuatku tersentak—melainkan aroma. Aroma sup ikan segar yang jarang ia masak, yang hanya muncul di hari-hari istimewa ketika desa merayakan panen atau di hari ulang tahunku yang tanggal sesungguhnya tidak pernah benar-benar kuketahui.
Aku terbangun sendiri dengan kebingungan mengaburkan pikiran—matahari sudah cukup tinggi, jauh melewati waktu latihan yang biasanya dimulai sebelum fajar. Kenapa Kakek tidak membangunkanku?
Keluar dari kamar, aku mendapati Kakek di dapur dengan punggung menghadapku, mengaduk panci besar di atas kompor kayu yang menyala dengan api kecil yang berderak. Asap tipis mengepul membawa aroma rempah dan ikan yang membuat perutku bergemuruh meski baru saja bangun.
"Kakek? Kenapa tidak membangunkanku untuk latihan?"
Ia berbalik, tersenyum. Senyum yang berbeda. Lebih tenang. Lebih damai. Seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan menerima konsekuensinya.
"Hari ini kita istirahat dari latihan," katanya dengan nada yang hampir lembut—suara yang jarang kudengar dari lelaki tua yang biasanya tegas dan langsung pada intinya. "Tubuhmu perlu pemulihan. Dan aku ingin menghabiskan hari bersama cucuku. Bukan bersama muridku."
Cucuku.
Kata itu mengapung di udara. Ia jarang mengatakannya—biasanya hanya "Kael" atau "anak muda" dalam nada datar yang tidak menyiratkan emosi apa pun.
Tapi hari ini dadaku terasa hangat.
Dan entah mengapa, juga terasa sesak—seperti ada sesuatu yang menggenggam jantungku dengan lembut namun menyakitkan.
"Duduklah. Sarapan hampir siap."
Aku duduk di meja kayu bundar yang permukaannya sudah usang, penuh bekas sayatan pisau dan noda tinta yang tidak pernah benar-benar hilang. Kakek menyajikan dua mangkuk besar—sup ikan dengan sayuran masih mengepul panas, roti hangat di sampingnya dengan mentega yang sudah mulai meleleh. Porsinya lebih besar dari biasanya, seolah ia ingin aku kenyang untuk waktu yang lama.
Kami makan dalam keheningan yang nyaman—bukan keheningan canggung yang membuat orang gelisah mencari topik percakapan, melainkan keheningan dua orang yang sudah saling mengenal terlalu baik untuk merasa perlu mengisi setiap detiknya dengan kata-kata kosong.
Tapi aku tahu. Aku tahu ada sesuatu di balik ketenangan ini.
Seperti langit yang cerah sebelum badai.
"Kakek," ucapku pelan sambil meletakkan sendok dengan hati-hati. "Apakah kamu... apakah kamu baik-baik saja?"
Ia menatapku—mata tuanya yang biasanya tajam kini tampak lelah, dengan kerutan di sudut-sudutnya yang lebih dalam dari yang kuingat. Kemudian tersenyum lagi, tapi kali ini senyum yang berbeda.
Senyum yang sedih.
"Aku baik-baik saja, Kael. Hanya sedang memikirkan banyak hal." Ia menghabiskan supnya dalam beberapa sendok terakhir, lalu bangkit dengan gerakan yang sedikit kaku—usia mulai menunjukkan dirinya. "Ayo. Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu."
Kami berjalan keluar desa menuju tepian Wilderness Expanse, meninggalkan rumah-rumah kayu yang ditinggalkan penghuninya untuk bekerja di ladang atau hutan. Tapi bukan ke arah yang biasa kami tuju untuk latihan—bukan ke timur menuju lapangan tempat aku berlatih ayunan pedang, bukan pula ke selatan menuju sungai untuk latihan keseimbangan.
Kali ini, Kakek membawaku ke sebuah bukit kecil di sisi barat—tempat yang belum pernah kami kunjungi meski aku sudah tinggal di desa ini tujuh belas tahun.
Pendakiannya tidak sulit—hanya sekitar dua puluh menit menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rumput liar dan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Tapi Kakek berjalan lambat, sangat lambat, seperti seseorang yang menikmati setiap langkah dan tidak ingin perjalanan ini berakhir terlalu cepat.
Di puncak bukit, pemandangan terbentang luas di hadapan kami seperti lukisan yang terlupakan oleh waktu. Ashfall tampak kecil di bawah—rumah-rumah kayu dengan asap yang mengepul dari cerobong, jalan-jalan tanah yang berkelok seperti ular yang malas, ladang gandum di tepian desa berayun lembut ditiup angin. Di kejauhan, Wilderness Expanse membentang hijau gelap hingga cakrawala, kabut tipis menutupi pucuk-pucuk pinus seperti selimut pagi yang belum sempat ditarik.
Kakek duduk di atas batu besar dengan permukaan yang rata, menepuk tempat di sampingnya dengan gerakan yang mengundang.
Aku duduk.
"Indah, bukan?" katanya pelan, suaranya hampir ditelan angin.
"Ya."
"Pertama kali aku datang ke sini tiga puluh tahun lalu," ia melanjutkan sambil menatap cakrawala dengan mata yang seolah melihat jauh melampaui yang terlihat—melihat masa lalu, mungkin, atau masa depan yang tidak akan pernah terjadi. "Lelah, terluka. Mencari tempat untuk menghilang. Dan aku menemukan Ashfall. Desa kecil yang tidak ada di peta mana pun, terlupakan bahkan oleh pemerintah kerajaan. Sempurna."
Aku menatapnya dengan rasa penasaran yang tidak pernah terpuaskan sepenuhnya—ini pertama kalinya ia bercerita tentang masa lalunya tanpa aku meminta lebih dulu, tanpa perlu dibujuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang hati-hati.
"Para penduduk curiga padaku," ia tersenyum tipis pada kenangan yang mungkin pahit atau manis. "Seorang asing dengan bekas luka pedang di sekujur tubuh, datang tanpa penjelasan, tanpa nama yang jelas, tanpa masa lalu yang bisa diceritakan. Tapi mereka baik hati. Membiarkanku tinggal. Membantu membangun rumah kayu yang kini menjadi rumah kita. Perlahan, sangat perlahan, aku menjadi bagian dari mereka."
Angin berhembus lembut membawa aroma rumput dan tanah yang lembab—aroma yang familiar, menenangkan.
"Kemudian tujuh belas tahun lalu, orang tuamu datang terburu-buru di tengah malam yang dingin." Ia menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. "Membawa kamu, masih bayi kecil terbungkus kain lusuh. Dan hidupku berubah lagi. Aku sudah memutuskan untuk hidup sendiri, mati sendiri di desa ini tanpa ada yang mengingat namaku. Tapi kemudian, tiba-tiba ada seorang bayi dalam gendonganku—bayi bermata ungu yang menatapku seolah aku berarti. Seolah aku bukan hanya hantu dari masa lalu."
Suaranya bergetar sedikit, hampir tak terdengar.
"Aku tidak tahu cara merawat bayi, Kael. Aku seorang prajurit. Aku tahu cara membunuh dalam seratus cara berbeda, bukan cara merawat makhluk kecil yang rapuh. Tapi entah bagaimana, dengan bantuan Bu Marta dan perempuan-perempuan desa lain yang mengajariku hal-hal dasar, kamu bertahan. Dan aku pun bertahan—menemukan sesuatu yang kukira sudah hilang. Tujuan."
Aku menelan ludah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
"Aku tidak pernah menikah, tidak punya anak dari darahku sendiri," ia melanjutkan dengan suara yang semakin mengecil. "Tapi kamu memberiku sesuatu yang tidak pernah kusangka akan kumiliki di usia tua. Alasan untuk bangun di pagi hari ketika tulang-tulangku sakit. Alasan untuk terus hidup ketika mimpi buruk tentang masa lalu menyerangku setiap malam."
Ia menarik napas panjang—napas seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu di dalam dadanya.
"Dan sekarang aku harus mempersiapkanmu untuk kehilanganku."
"Kakek—"
"Dengarkan dulu." Ia mengangkat tangan dengan gerakan yang tegas tapi tidak kasar. "Aku tidak tahu pasti kapan—mungkin besok, mungkin minggu depan, mungkin bahkan malam ini. Tapi mereka akan datang, Kael. Dan ketika itu terjadi, kamu harus berjanji padaku sekarang, di tempat ini, dengan pemandangan Ashfall sebagai saksi. Kamu akan lari. Kamu tidak akan mencoba menjadi pahlawan bodoh yang ingin menyelamatkan lelaki tua yang sudah siap mati. Kamu akan mengikuti rute yang kuberikan, pergi ke Arcanum Academy, dan hidup—benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu mati sendirian—"
"Kamu harus." Suaranya berubah keras seperti baja. "Karena jika kamu mati mencoba menyelamatkanku dengan kekuatan yang belum kamu kuasai, maka semua yang kulakukan selama tujuh belas tahun ini—semua waktu dan usaha yang kucurahkan untuk melatih dan mempersiapkanmu—semuanya sia-sia. Dan aku tidak bisa menerima itu."
Aku tidak bisa berbicara—tenggorokan tercekik oleh sesuatu yang lebih besar dari kata-kata.
Kakek kembali menatap kejauhan, ke cakrawala yang mulai berubah warna seiring matahari yang semakin tinggi. "Kamu tahu... dulu di medan perang, aku pernah punya julukan. Mereka memanggilku 'Hantu Medan Perang'. Karena aku bergerak seperti bayangan tanpa wujud. Membunuh tanpa suara, tanpa jejak, tanpa saksi. Menghilang sebelum musuh menyadari ada yang tidak beres, meninggalkan hanya mayat-mayat yang bingung tentang bagaimana mereka bisa mati."
Ia tersenyum pahit pada kenangan yang jelas tidak menyenangkan. "Aku bangga waktu itu—merasa hebat dan tak terkalahkan. Mengira diriku pahlawan yang melindungi rakyat. Tapi setelah perang berakhir dan darah mengering di tanganku... aku sadar, aku hanyalah seorang pembunuh. Pembunuh yang terampil, ya, tapi tetap saja pembunuh. Semua orang yang kubunuh—mereka punya keluarga yang menunggu di rumah. Punya anak-anak yang tidak akan pernah mengenal ayah mereka lagi. Punya istri yang akan menjanda. Dan aku mengambil semua itu dari mereka dengan pedangku."
"Tapi Kakek bertempur untuk melindungi kerajaan, untuk melindungi orang-orang yang tidak berdosa—"
"Tidak ada yang murni dalam perang, Kael. Tidak ada hitam putih yang jelas." Ia menggeleng pelan. "Bahkan pihak yang 'benar', yang bertempur di bawah panji keadilan dan perlindungan, melakukan hal-hal mengerikan yang tidak berbeda dari musuh mereka. Aku melakukan hal-hal mengerikan atas nama kebaikan. Membakar desa yang dicurigai menyembunyikan musuh. Menginterogasi tahanan dengan cara yang memalukan bahkan untuk diingat. Dan semua itu mengikutiku seperti bayangan yang tidak pernah pergi—mimpi buruk setiap malam, rasa bersalah yang menggerogoti, wajah-wajah berbayang yang tidak akan pernah hilang dari ingatan."
Ia menatapku dengan mata yang penuh penyesalan.
"Aku tidak ingin kamu menjadi sepertiku. Aku tidak ingin kamu menanggung beban yang sama, tidak ingin kamu terbangun di malam hari dengan teriakan orang-orang yang kamu bunuh bergema di telingamu."
"Kalau begitu kenapa melatihku bertarung jika Kakek tidak ingin aku menjadi pejuang?"
"Karena dunia tidak sempurna dan kadang-kadang kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami." Kakek menyentuh bahuku dengan tangan yang keriput tapi masih kuat. "Aku melatihmu bertarung agar kamu bisa melindungi dirimu sendiri ketika diperlukan, agar kamu tidak menjadi korban yang tak berdaya. Tapi aku juga mengajarimu kapan tidak bertarung—kapan berlari lebih bijaksana daripada berdiri tegak dan mati sia-sia, kapan hidup untuk bertarung di hari lain lebih penting dari kebanggaan hari ini."
Kami kembali hening dalam kesunyian yang berat tapi tidak menyiksa. Matahari semakin tinggi, mengusir kabut pagi yang mulai menipis seperti kain transparan.
"Ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan sebelum waktuku habis," Kakek berkata pelan dengan nada yang hampir seperti membisikkan rahasia. "Tentang Perang Besar yang mengubah dunia. Tentang bagaimana semuanya berakhir."
Aku menatapnya, menunggu dengan napas tertahan.
"Perang itu berlangsung tiga ratus tahun, Kael—tiga abad penuh kekacauan dan darah." Suaranya berat dengan kenangan yang bukan miliknya sendiri melainkan diwarisi melalui cerita dan sejarah. "Ras melawan ras dalam kebencian yang tidak jelas akarnya. Faksi melawan faksi dalam perebutan kekuasaan yang tidak berujung. Jutaan mati—mungkin puluhan juta, tidak ada yang menghitung lagi. Kota-kota besar dihancurkan hingga fondasinya, tanah subur menjadi tandus karena terlalu banyak sihir yang dilepaskan, sungai-sungai berubah warna dari darah yang tidak pernah berhenti mengalir."
Ia menutup mata seolah melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. "Dan di akhirnya setelah tiga ratus tahun... tidak ada yang menang. Tidak ada kerajaan yang berdiri lebih tinggi, tidak ada ras yang mengklaim kemenangan. Semua terlalu lelah untuk melanjutkan, terlalu sedikit orang yang tersisa, terlalu banyak yang sudah hilang. Jadi kami berhenti—bukan karena mencapai perdamaian sejati atau kesepakatan yang mulia. Melainkan karena kehabisan orang untuk dibunuh. Sesederhana dan setragis itu."
Suaranya pahit seperti empedu.
"Dan dari kekacauan itu, dari energi sisa yang begitu besar dan terkonsentrasi, Philosopher Stones terbentuk secara alami—dua puluh batu mengkristal dari energi perang selama tiga ratus tahun. Masing-masing menyimpan aspek berbeda dari konflik itu, aspek-aspek yang begitu kuat hingga mengkristal menjadi wujud fisik."
Ia membuka mata, menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak berani berkedip.
"Azure Codex yang ada di lehermu itu, batu itu terbentuk dari ingatan kolektif—dari semua orang yang mati tanpa ada yang mengingat kisah mereka, dari semua nama yang dilupakan waktu. Dari semua pengetahuan yang hilang ketika perpustakaan-perpustakaan besar dibakar oleh prajurit-prajurit yang tidak tahu apa yang mereka hancurkan. Dari semua pelajaran yang tidak pernah diajarkan karena guru-gurunya mati sebelum sempat mewariskan kebijaksanaan mereka."
Aku menyentuh kalung di leherku dengan jari-jari yang gemetar. Tiba-tiba terasa berat. Lebih berat dari yang pernah kurasakan sebelumnya.
"Batu itu bukan hanya alat untuk membuat penggunanya kuat, Kael." Kakek menatapku dengan keseriusan yang membuatku menggigil. "Itu adalah peringatan. Pengingat bahwa ingatan penting—bahwa melupakan masa lalu, melupakan kesalahan yang pernah dibuat, berarti membuka jalan untuk mengulangi tragedi yang sama. Philosopher Stones adalah monumen kehancuran yang bisa terjadi ketika kekuatan digunakan tanpa kebijaksanaan."
Kakek bangkit dengan gerakan yang lebih mantap dari sebelumnya, lalu menghadapku dengan postur tegak yang mengingatkanku bahwa ia pernah menjadi pejuang yang ditakuti.
"Gunakan kekuatan itu dengan bijaksana. Jangan seperti mereka yang menginginkannya hanya untuk dominasi dan kekuasaan. Gunakan untuk belajar dari masa lalu, untuk memahami kenapa hal-hal terjadi, untuk memastikan generasimu dan generasi setelahnya tidak perlu mengalami 'Perang Besar' yang kedua. Karena dunia ini tidak akan bertahan jika ada perang lain seperti itu."
Aku pun bangkit, menatapnya dengan tekad yang mengeras di dalam dadaku.
"Aku berjanji, Kakek. Aku akan menggunakan Azure Codex dengan bijaksana. Aku akan belajar—bukan hanya untuk menjadi kuat, tapi untuk mengerti."
Ia tersenyum—senyum tulus yang menerangi wajah tuanya, senyum yang jarang kulihat tapi selalu kuingat. Pertama kalinya dalam hari-hari penuh ketegangan belakangan ini.
"Itu sudah cukup bagiku. Itu lebih dari cukup."
Sore itu, kami kembali ke desa dengan langkah yang lebih ringan meski hati sama-sama berat dengan pengetahuan tentang apa yang akan datang. Tapi tidak langsung pulang—Kakek membawaku ke kios kecil Bu Marta di ujung jalan utama, perempuan tua yang menjual roti dan kue dengan resep turun-temurun.
"Aldric!" Bu Marta tersenyum lebar melihat kami mendekat, wajahnya yang keriput penuh kehangatan yang tulus. "Kamu jarang sengaja ke sini! Dan membawa Kael juga! Ada acara spesial?"
"Hari istimewa," Kakek berkata dengan nada yang lebih ceria dari yang kuduga. "Kami ingin membeli kue apel andalanmu. Yang paling besar yang kamu punya."
Bu Marta tertawa—suara yang riang dan membuat aku ikut tersenyum meski dalam kondisi seperti ini. "Merayakan sesuatu?"
"Sekadar menghabiskan waktu bersama cucuku. Waktu yang berkualitas."
Kami membeli kue apel besar yang masih hangat dari oven, aromanya memenuhi udara dengan janji rasa manis dan kayu manis. Kakek juga membeli beberapa roti manis untuk perjalanan—meski aku tidak tahu perjalanan apa yang ia maksud, atau mungkin ia tahu dan aku tidak ingin tahu.
Dalam perjalanan pulang, beberapa penduduk menyapa kami dengan hangat meski beberapa juga menatap kami dengan aneh—terutama menatapku dengan mata ungu yang tidak wajar itu. Tapi Kakek membalas semua sapaan mereka dengan ramah, tidak membedakan yang bersahabat dari yang ketakutan.
"Mereka takut padamu setelah insiden Razorhorn kemarin," kataku pelan sambil mengamati bagaimana beberapa orang menghindar dari jalur kami.
"Ketakutan adalah reaksi wajar terhadap kekuatan yang tidak mereka pahami," Kakek menjawab dengan bijak. "Tapi ketakutan bukan berarti kebencian, dan ketakutan bisa berkurang seiring waktu dan bukti. Mereka hanya butuh waktu untuk terbiasa—untuk melihat bahwa kekuatan bisa digunakan melindungi, bukan menghancurkan."
Kami tiba di rumah ketika matahari mulai terbenam di cakrawala, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan merah yang indah. Kakek menyalakan perapian dengan gerakan terlatih yang sudah dilakukan ribuan kali, dan kami makan kue apel bersama—duduk di depan api yang berderak lembut, tidak banyak bicara, hanya menikmati kehangatan dari perapian dan kehangatan dari kebersamaan yang mungkin tidak akan lama lagi.
Untuk sesaat yang singkat namun berharga, aku bisa berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Bahwa tidak ada ancaman yang mengintai di luar sana. Bahwa hari esok akan sama seperti kemarin—latihan pagi, sarapan, cerita-cerita kecil.
Tapi ilusi tidak pernah bertahan lama.
Kenyataan tidak pernah membiarkan ilusi bertahan lama.
Tengah malam, aku terbangun oleh suara yang hampir tidak terdengar.
Bukan suara keras yang mengejutkan. Suara berbisik. Suara yang seharusnya tidak ada di rumah yang dihuni hanya oleh dua orang.
Aku duduk tegak di kasur dengan jantung yang mulai berdegup lebih cepat, mendengarkan dengan telinga yang tegang. Dari ruang utama, suara Kakek terdengar—pelan namun jelas dalam keheningan malam, berbicara pada seseorang atau sesuatu.
"...Aku tahu kamu ada di luar sana. Aku bisa merasakan kehadiranmu meski kamu bersembunyi dalam bayang-bayang."
Dengan siapa ia berbicara di tengah malam?
Aku keluar dari kamarku dengan gerakan lambat yang berusaha tidak membuat lantai kayu berderit, mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Kakek berdiri dekat jendela dengan postur tegak meski usianya sudah tua, menatap kegelapan malam di luar. Tangan kanannya bertumpu santai namun waspada di gagang pedang—posisi seseorang yang siap bertarung kapan saja.
"Tiga hari," ia melanjutkan dengan suara dingin seperti es musim dingin. "Kalian memberi tiga hari untuk menyerahkan anak itu. Dan sekarang waktu itu hampir habis, tinggal beberapa jam lagi sebelum fajar."
Tidak ada jawaban yang terdengar. Tapi aku bisa merasakannya—udara terasa berat. Tertekan. Seperti ada tekanan tak terlihat yang menekan dari segala arah, membuat pernapasan sedikit lebih sulit.
"Aku tidak akan menyerahkannya," Kakek berkata dengan keyakinan yang mutlak. "Jika kalian menginginkan anak itu, kalian harus melewatiku dulu. Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya tanpa membayar harga yang sangat mahal."
Keheningan yang mengerikan.
Kemudian, sebuah suara datang—bukan dari luar jendela, melainkan seperti gema di dalam kepala, suara yang melewati telinga dan langsung masuk ke pikiran:
"Seperti yang diduga, Hantu. Kamu tidak berubah bahkan setelah tiga puluh tahun pensiun. Tapi kamu tahu kamu tidak bisa menang melawan semua kami. Kami bukan hanya satu dua pembunuh bayaran murahan."
Kakek tersenyum—senyum tanpa humor, senyum seseorang yang sudah menerima takdirnya tapi tidak akan menyerah tanpa perlawanan.
"Mungkin tidak. Mungkin aku akan kalah dan mati besok." Ia mengangkat pedangnya sedikit dari sarungnya, cukup untuk memperlihatkan bilah yang berkilau dalam cahaya bulan. "Tapi aku bisa memastikan kalian membayar mahal untuk setiap langkah yang kalian ambil menuju rumah ini. Aku bisa memastikan kalian kehilangan cukup banyak orang hingga menyesal pernah datang ke desa terlupakan ini."
Tekanan di udara menghilang seketika—seperti gelembung yang pecah, seperti bayangan yang ditarik kembali ke kegelapan.
Mereka pergi.
Untuk sementara.
Kakek tetap berdiri di posisi yang sama, menatap kegelapan dengan mata yang tidak berkedip—seperti patung yang berjaga.
Kemudian ia berbisik—sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan dalam keheningan itu:
"Maafkan aku, Kael. Seandainya aku punya lebih banyak waktu. Seandainya aku bisa menyaksikanmu tumbuh besar, melihatmu lulus dari Academy, melihatmu menemukan kebahagiaanmu sendiri. Tapi waktu tidak pernah cukup."
Aku kembali ke kamarku dengan langkah yang gemetar, jantung berdegup begitu keras hingga aku yakin seluruh desa bisa mendengarnya.
Mereka akan datang besok.
Aku tahu dengan kepastian yang membuat perutku mual.
Dan Kakek juga tahu—sudah tahu sejak awal, mungkin bahkan sebelum orang asing bermaterai perak itu datang.
Aku menatap peta dan amplop yang tersembunyi di bawah kasur, mengambil keduanya dengan tangan yang gemetar seperti daun ditiup angin kencang.
Haruskah aku lari sekarang? Sebelum terlambat? Sebelum mereka datang dan menutup semua jalan keluar?
Tapi meninggalkan Kakek sendirian menghadapi kematian yang sudah pasti?
Tidak bisa.
Tidak akan.
Apa pun yang terjadi besok ketika matahari terbit.
Aku akan berdiri di sisinya.
Meski itu berarti mati bersama.
Meski itu berarti melawan semua yang Kakek ajarkan tentang bertahan hidup.
Karena ada hal-hal yang lebih penting dari nyawa.
Di hutan gelap beberapa kilometer dari Ashfall, sekelompok sosok berkerudung berkumpul membentuk lingkaran di bawah cahaya bulan yang redup.
"Veyron menolak negosiasi seperti yang sudah kita prediksi," Cassius berkata dengan nada datar, melaporkan hasil pertemuannya singkat di desa itu. "Ia tidak akan menyerahkan anak itu dengan damai. Hantu Medan Perang masih punya kebanggaannya."
"Kalau begitu kita ambil dengan paksa seperti rencana semula," jawab sosok berkerudung hitam dengan suara perempuan yang dingin seperti salju pegunungan. "Shadow Syndicate sudah dalam posisi mengepung desa—sepuluh pembunuh, tiga penyihir, dua pemanggil. Gereja juga sudah siap dengan kontingen mereka di jalur selatan—kesatria suci yang akan 'kebetulan' melintas untuk menyelidiki kekacauan. Dan kita..."
Ia menatap Cassius dengan mata yang bersinar merah di balik kerudungnya.
"Kita mengamati dari jarak yang aman. Biarkan mereka saling membunuh dalam kekacauan. Lalu kita ambil anak itu dan batunya dari reruntuhan yang tersisa—mudah, bersih, tanpa mengotori tangan kita sendiri."
Cassius terdiam, tidak setuju tapi tidak berani mengatakannya. "...Veyron adalah Sword Saint yang pernah membantai seluruh batalion sendirian. Ia tidak akan mati dengan mudah meski sudah tua."
"Tidak ada yang abadi, Cassius. Bahkan legenda punya batasnya." Sosok itu berbalik, kerudungnya berkibar ditiup angin malam. "Bahkan Hantu Medan Perang punya tanggal kedaluwarsa. Dan besok adalah hari itu."
Mereka menghilang ke dalam bayangan satu per satu—melebur ke dalam kegelapan seolah tidak pernah ada.
Meninggalkan hutan yang sunyi dengan hanya suara angin di antara pepohonan.
Dan Ashfall yang damai dalam tidurnya.
Tidak menyadari bahwa malam besok akan menjadi malam terakhir bagi banyak nyawa.
Tidak menyadari bahwa darah akan mengalir di jalan-jalan tanah itu.
Tidak menyadari bahwa segalanya akan berubah selamanya.