Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAKET COD DAN BAPAK KAYA RAYA
BLAAAR!
Suara ledakan tumpul bergema di halaman Paviliun Teratai Hitam. Peti kayu hitam berlapis besi itu tidak menghancurkan kepala Feng, melainkan mendarat tepat di atas kedua telapak tangannya yang terbuka ke atas.
Dampak dari jatuhnya peti seberat ratusan kilogram dari langit itu sangat luar biasa. Gelombang kejutnya menyapu debu halaman hingga bersih. Kedua kaki Feng amblas menembus tanah keras hingga sebatas mata kaki. Namun, lengan kurus pemuda itu sama sekali tidak bergetar. Dia berdiri kokoh layaknya pilar penyangga langit.
Di dekat gerbang, Garang dan dua preman bawahannya menjerit histeris dan refleks memeluk satu sama lain. Mereka mengira kepala Kakak Senior baru mereka itu sudah pecah menjadi bubur daging.
"Woi! Burung gila!" teriak Feng sambil mendongak ke langit, wajahnya terlihat sangat kesal. "Kalau melempar barang itu kira-kira dong! Kurir macam apa ini?! Tidak ada adab sopan santunnya sama sekali!"
Garang perlahan membuka matanya yang tertutup rapat. Rahangnya seolah lepas dari engselnya saat melihat Feng masih hidup dan menahan peti raksasa itu seolah hanya menahan sebuah kardus kosong.
"K-Kakak Senior Feng..." gagap Garang dengan suara bergetar. "Kau menahan peti baja itu pakai tangan kosong? Ototmu terbuat dari apa?!"
SISTEM MENGELUARKAN NOTIFIKASI DENGAN NADA DATAR: PERINGATAN. MENAHAN OBJEK JATUH BEBAS BERBOBOT TIGA TON DARI KETINGGIAN DUA PULUH METER MEMBUTUHKAN LEDAKAN KEKUATAN FISIK. KALORI TERKURAS. WAKTU HIDUP INANG DIKURANGI SEBANYAK LIMA MENIT.
"Tuh kan, umurku berkurang lagi gara-gara kurir tidak kompeten ini," gerutu Feng di dalam hati. Dia membuang peti hitam itu ke samping dengan gerakan santai.
Brak! Tanah kembali bergetar saat peti itu mendarat.
Elang Botak Raksasa yang tadi terbang melintas kini berputar balik. Burung monster Tingkat Tiga itu mengepakkan sayapnya yang lebar, menciptakan angin topan kecil sebelum akhirnya mendarat dengan kasar di atas pagar kayu halaman paviliun. Pagar reot itu berderit ngeri menahan bobot si burung.
Elang itu memekik nyaring. Matanya yang tajam menatap Feng dengan angkuh. Ia menjulurkan salah satu cakarnya yang tajam, di mana sebuah gulungan perkamen emas terikat rapi.
"Apa ini? Surat jalan?" tanya Feng sambil melangkah mendekat dan menarik gulungan itu dari cakar sang elang.
Feng membuka perkamen itu dan membacanya dengan suara lantang.
"Nota Pengiriman Ekspedisi Sayap Angin. Layanan Kilat VIP Lintas Benua. Pengirim: Kediaman Keluarga Feng, Kota Daun Gugur. Penerima: Tuan Muda Feng, Sekte Pedang Langit."
Mata Feng berkedip beberapa kali membaca nama pengirimnya. "Dari Bapak? Tumben sekali orang tua itu mengirim paket. Biasanya cuma kirim surat suruh cepat lulus."
Feng melanjutkan membaca baris terakhir di perkamen tersebut, dan seketika itu juga, matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena syok berat.
"Status Pengiriman: COD (Bayar di Tempat). Total Biaya Pengiriman: Empat Puluh Sembilan Koin Emas. Harap bayar kepada kurir bersayap kami secara tunai," baca Feng dengan suara bergetar.
Keheningan yang mencekam melanda halaman tersebut. Angin pagi yang sejuk mendadak terasa seperti badai salju di hati Feng.
"EMPAT PULUH SEMBILAN KOIN EMAS?!" teriak Feng histeris, suaranya lebih nyaring dari pekikan hantu semalam. "Ini perampokan bersayap namanya! Bapak mengirimkan batu bata atau apa sampai ongkos kirimnya bisa buat beli satu desa?!"
Mendengar teriakan Feng, Elang Botak itu memekik marah. Ia mengepakkan sayapnya lebar-lebar, memamerkan bulu-bulu bajanya yang setajam pedang, bersiap menyerang pelanggan yang berniat kabur dari tagihan.
"Burung, dengarkan saya baik-baik," ucap Feng sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah paruh elang raksasa itu. "Saya baru saja ditindas oleh Patriark sekte dan cuma dapat pesangon lima puluh koin emas. Kalau saya bayar tagihan ini, sisa uang saya cuma satu koin. Saya bisa mati kelaparan bulan ini! Bisa kita negosiasi? Diskon sembilan puluh persen misalnya?"
Elang itu mendengus meremehkan, lalu membuka paruhnya lebar-lebar. Pusaran angin tajam mulai berkumpul di tenggorokannya, bersiap menembakkan peluru angin mematikan.
Feng menghela napas panjang dan menatap burung itu dengan tatapan kosong yang mematikan.
"Sistem," panggil Feng dengan nada dingin di dalam kepalanya. "Kalau saya panggang burung raksasa ini sekarang juga buat sarapan, dagingnya cukup buat tambahan kalori berapa hari?"
SISTEM MENGHITUNG CEPAT: DAGING ELANG ANGIN TINGKAT TIGA MENGANDUNG PROTEIN SPIRITUAL SANGAT TINGGI. JIKA DIKONSUMSI SELURUHNYA, BISA MEMPERPANJANG WAKTU HIDUP INANG HINGGA SATU MINGGU PENUH. BIAYA KALORI UNTUK MENCEKIK BURUNG INI SAMPAI MATI ADALAH TIGA MENIT. PROFIT SANGAT BESAR. REKOMENDASI: EKSEKUSI SEGERA.
Mendengar analisis sistem, tatapan Feng berubah menjadi sangat buas. Air liurnya nyaris menetes. Dia memandang elang itu bukan lagi sebagai kurir menakutkan, melainkan sebagai ayam panggang raksasa yang sudah dilumuri bumbu kecap manis.
Insting binatang buas Elang Angin itu luar biasa tajam. Tepat saat mata Feng berubah buas, burung monster yang biasa ditakuti oleh kultivator Tingkat Empat sekalipun itu mendadak merinding hebat. Pusaran angin di tenggorokannya padam seketika.
Burung raksasa itu langsung menutup paruhnya rapat-rapat, melipat sayapnya dengan rapi, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam seperti ayam kampung yang ketakutan. Ia mengeluarkan suara mencicit pelan, seolah memohon ampun agar tidak dijadikan sarapan.
"Bagus kalau kau paham situasi," kata Feng mendengus kesal. "Tapi masalahnya, di lehermu ada plat besi logo serikat ekspedisi. Kalau aku memakanmu, aku pasti akan diburu oleh seluruh serikat pengantar barang se-Benua. Membunuh orang itu sangat membuang kalori."
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Feng merogoh saku dadanya. Dia mengeluarkan kantong emas pemberian Patriark, menghitung tepat empat puluh sembilan keping emas dengan air mata virtual yang mengalir di wajahnya, lalu melemparkan koin-koin itu ke dalam kantong kulit di leher sang elang.
"Ambil ini dan pergi jauh-jauh sebelum aku berubah pikiran dan mencabut bulumu satu-satu!" usir Feng dengan nada mengancam.
Elang itu tidak menunggu perintah dua kali. Ia langsung mengepakkan sayapnya panik dan terbang melesat secepat kilat menembus awan, bersyukur nyawanya masih utuh.
Feng menatap satu keping koin emas yang tersisa di telapak tangannya dengan tatapan nanar. "Miskin lagi. Aku kembali jatuh miskin dalam waktu kurang dari satu jam."
"K-Kakak Senior Feng," panggil Garang ragu-ragu, mencoba memecah keheningan yang menyedihkan itu. "Apakah Anda mau kami bantu membuka petinya? Siapa tahu isinya jauh lebih berharga dari empat puluh sembilan koin emas."
Kata-kata Garang seketika mengembalikan semangat Feng. Benar juga! Ongkos kirimnya saja mahal gila, isinya pasti harta karun yang luar biasa!
"Mas Garang, tolong minggir sedikit. Biar saya yang buka," perintah Feng penuh semangat.
Feng melangkah mendekati peti baja hitam itu. Dia menjepit gembok baja sebesar kepala manusia yang mengunci peti tersebut dengan dua jari, lalu memelintirnya dengan santai.
KRAK! Gembok baja itu hancur seperti biskuit rapuh.
Feng menendang tutup peti itu hingga terbuka lebar. Ketiga preman di belakangnya menjulurkan leher dengan mata berbinar, menantikan cahaya pusaka sakti yang akan menyilaukan mata mereka.
Namun, tidak ada cahaya spiritual. Tidak ada aura dewa.
Isi peti itu adalah tumpukan kain sutra warna-warni yang sangat norak, puluhan toples kaca berisi dendeng sapi, sambal terasi, dan ikan asin khas kampung halaman, serta setumpuk uang kertas fana yang sama sekali tidak berlaku di dunia kultivasi.
Di atas tumpukan dendeng sapi itu, tergeletak sepucuk surat dengan tulisan tangan yang sangat berantakan.
Feng mengambil surat itu dan membacanya keras-keras dengan wajah datar.
"Untuk putraku tercinta, Feng. Ini Bapak. Bapak harap kau makan bergizi di sekte itu dan tidak kurus kering."
"Lanjutannya apa, Kakak Senior?" tanya Garang penasaran, ikut mencium bau sedap dari toples rendang.
Feng menarik napas panjang dan melanjutkan membaca.
"Bapak baru saja menemukan tambang berlian murni di belakang rumah kita saat sedang menggali sumur. Kita sekarang kaya raya, Nak! Bapak sudah memborong setengah ibu kota fana! Bapak bahkan membeli kereta kuda berlapis emas!"
"Wah! Ternyata Ayah Kakak Senior adalah seorang Sultan fana yang kaya raya!" puji Garang dengan nada menjilat.
"Kalau dia sudah kaya raya sampai beli kereta emas, kenapa aku tidak disuruh pulang saja buat foya-foya di kampung?!" gerutu Feng kesal. "Kenapa aku harus menderita kelaparan di sekte penuh orang gila ini?!"
Feng melanjutkan membaca kalimat berikutnya.
"Bapak dengar dari gosip tetangga kalau kau gagal ujian terus dan ditindas. Bapak tidak terima anak Bapak diremehkan! Jadi, dengan kekayaan baru ini, Bapak mencari pedagang gelap paling misterius di pasar gelap bawah tanah. Bapak membeli pusaka super langka seharga seratus ribu keping emas fana! Kata penjualnya yang memakai topeng, pusaka ini adalah Inti Bumi purba. Pakai ini untuk menyerap energi langit dan bumi. Semangat belajarnya ya, Nak. Dari Bapakmu yang tampan."
Feng melipat surat itu dan memijat pangkal hidungnya. "Bapak... Bapak tertipu sales asongan. Inti Bumi purba apanya. Barang selundupan mana yang dikirim pakai paket COD biasa?"
"Tunggu, Kakak Senior! Ada benda berat di dasar peti!" seru Garang yang sedari tadi sudah mengaduk-aduk tumpukan kain sutra di dalam peti.
Garang mencoba mengangkat benda itu dengan kedua tangannya, urat di lehernya sampai menonjol keluar, wajahnya memerah padam, namun benda itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari dasar peti.
"Berat sekali! Seperti mengangkat bongkahan gunung besi!" erang Garang terengah-engah.
Feng menyingkirkan tangan Garang, lalu dengan satu tarikan ringan yang sangat santai, dia mengangkat benda misterius itu dari dasar peti.
Benda itu adalah sebuah batu berbentuk oval sebesar buah semangka. Warnanya hitam pekat, tidak memantulkan cahaya matahari sama sekali, dan permukaannya sangat halus. Tidak ada ukiran magis, tidak ada aura energi Qi, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
"Pusaka apa ini?" komentar Feng sambil menimbang-nimbang batu itu di satu tangan. "Mirip batu asahan pisau di dapur ibu saya. Atau lebih tepatnya, mirip batu kali yang biasa dipakai orang kampung buat ganjalan pintu biar tidak terbanting angin."
SISTEM MERESPON CEPAT: MEMINDAI OBJEK... PROSES PEMINDAIAN GAGAL. ERROR. TIDAK DAPAT MENDETEKSI MATERIAL. OBJEK INI MENYERAP SELURUH GELOMBANG PEMINDAI SISTEM DENGAN TINGKAT KEPADATAN MUTLAK. STATUS OBJEK: ANOMALI.
"Anomali?" batin Feng. "Berarti batu ini memang bukan batu sembarangan. Tapi buat apa? Digoreng juga tidak akan matang."
Tepat ketika Feng sedang mengamati batu hitam di tangannya, udara di halaman Paviliun Teratai Hitam mendadak berubah menjadi sangat dingin. Suhu anjlok drastis dalam sekejap mata, membuat napas Garang dan dua temannya mengepul menjadi uap putih.
Suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar dari arah dinding pembatas paviliun.
"Ayah fana-mu memang tertipu bodoh oleh pedagang gelap," sebuah suara serak dan dingin menggema dari balik pepohonan kering, nadanya mengiris telinga seperti pisau berkarat. "Tapi dia secara tidak sengaja berhasil mencuri barang yang paling kucari selama puluhan tahun."
Tiga sosok berjubah merah darah melangkah keluar dari bayangan pepohonan, seolah mereka baru saja menembus dimensi ruang. Jubah mereka berkibar pelan meski tidak ada angin. Aura yang memancar dari tubuh ketiga orang ini sangat mencekik, jauh lebih gelap, lebih mematikan, dan lebih brutal daripada aura Tetua Li.
Bahkan udara di sekitar mereka bergemeretak seolah menolak kehadiran mereka. Ini adalah aura kultivator dari jalan iblis sejati.
"S-Sekte Darah Neraka!" jerit Garang dengan wajah sepucat kapas. Lutut preman itu langsung lemas dan dia jatuh terduduk di tanah. "M-Mereka adalah pembunuh bayaran tingkat Master!"
Pria yang berdiri di tengah, yang wajahnya tertutup separuh oleh topeng perak, menatap tajam ke arah batu hitam di tangan Feng. Seringai kejam terbentuk di bibirnya.
"Serahkan Telur Kosong itu padaku sekarang juga, Bocah," desis pria bertopeng perak itu, suaranya mengandung ancaman kematian yang absolut. "Atau aku akan membantai seluruh makhluk hidup di gunung ini, mencincang tubuhmu menjadi pakan anjing, lalu mencabut nyawa seluruh keluargamu di kampung!"
Feng menatap satu keping koin emas di saku dadanya, lalu menatap ketiga pembunuh bayaran tingkat tinggi di depannya secara bergantian dengan wajah luar biasa lelah. Perutnya kembali berbunyi pelan.
"Mas-mas sekalian," sapa Feng dengan nada datar sambil memasukkan batu hitam itu ke dalam ketiaknya. "Sebelum kita mulai acara bunuh-bunuhannya, saya mau tanya satu hal yang sangat penting. Kalian bertiga bawa uang tunai yang banyak tidak? Soalnya saya sedang butuh modal buat beli sarapan."