NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH KAKI DI TENGAH HUJAN

Langit Jakarta seolah ikut menangis, menumpahkan seluruh airnya dengan sangat beringas ke atas bumi yang gerah. Rangga melangkah keluar dari pintu kontrakan yang selama ini ia anggap sebagai surga kecilnya, tapi kini berubah menjadi neraka yang penuh luka. Di pelukannya, Rinjani mendekap lehernya dengan sangat erat. Tubuh kecil itu gemetar, bukan cuma karena dinginnya angin malam yang merobek kulit, tapi juga karena rasa takut yang masih tersisa setelah badai kemarahan ibunya tadi. Rangga cuma membawa satu tas ransel besar yang talinya sudah nyaris putus, berisi beberapa pasang baju Rinjani dan surat-surat penting miliknya.

Hujan turun deras sekali. Butiran airnya menghantam wajah Rangga sampai terasa perih, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding lubang menganga di dadanya. Dia berhenti sejenak di halaman depan, menata letak gendongannya agar Rinjani tidak terkena air hujan secara langsung. Rangga menatap ke arah jendela rumah. Di sana, di balik kaca yang buram oleh uap air, ia bisa menatap bayangan Laras.

Wanita yang baru saja ia talak itu berdiri di sana dengan melipat tangan di dada. Tidak ada raut sedih, apalagi penyesalan. Laras justru menatap Rangga dengan senyum sinis yang sangat menyakitkan. Rangga bisa menatap bibir Laras yang bergerak, seolah sedang menertawakan kemalangan suaminya yang sekarang harus pergi luntang-lantung di tengah badai tanpa kendaraan.

"Mau ke mana kamu dengan motor butut yang mogok itu, hah?" Mungkin itu yang diteriakkan Laras di dalam sana. Laras tertawa sekali, menunjuk-nunjuk ke arah Rangga yang basah kuyup seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat lucu. Bagi Laras, Rangga tanpa dirinya adalah nol besar. Laras merasa menang karena akhirnya berhasil mengusir "parasit" yang menurutnya cuma menghambat kemajuannya untuk hidup mewah bersama Badru.

Rangga menarik napas panjang yang terasa sangat berat. Dia tidak sudi membalas tatapan itu lagi. Dia memutar tubuhnya, membelakangi rumah penuh kenangan pahit itu, lalu mulai melangkah kaki di atas aspal yang mulai tergenang air setinggi mata kaki. Dia bahkan tidak menyentuh motor tuanya yang terparkir bisu di pojok halaman. Motor itu sudah rusak, sama rusaknya dengan harapannya pada Laras. Dia lebih memilih berjalan kaki daripada harus meminta belas kasihan pada wanita yang sudah menginjak-injak harga dirinya.

"Ayah... dingin..." bisik Rinjani dengan suara yang nyaris hilang tertelan suara petir yang menggelegar.

"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai di terminal kok. Rinjani jangan takut ya, ada Ayah di sini," jawab Rangga sambil berusaha mengatur napasnya.

Lalu, Rangga melepas jaket ojeknya yang sudah kusam dan bau matahari. Meski jaket itu juga agak basah di bagian luar, tapi bagian dalamnya masih sedikit hangat. Dengan susah payah sambil tetap menggendong Rinjani, dia menyelimutkan jaket itu ke tubuh putrinya. Dia ingin memastikan Rinjani tidak kedinginan, meski dirinya sendiri sekarang cuma memakai kaus tipis yang sudah melekat di kulit karena basah kuyup. Dia terus melangkah, menembus derasnya hujan yang kian menggila. Setiap langkah kakinya terasa seperti sedang membuang satu per satu kenangan bersama Laras ke dalam selokan yang meluap.

Jalanan menuju terminal terasa jauh sekali malam ini. Lampu-lampu jalanan tampak temaram, membiaskan cahaya di atas permukaan air yang terus turun dari langit. Rangga sesekali harus berhenti di bawah emperan toko yang sudah tutup untuk sekadar membetulkan posisi Rinjani agar tidak merosot. Kaki Rangga mulai terasa pegal, jari-jarinya keriput karena terendam air hujan dalam waktu lama, tapi tekadnya sudah bulat. Dia tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Tidak akan pernah.

Setelah berjalan hampir empat puluh menit, bangunan terminal bus yang luas mulai terlihat di kejauhan. Suasananya ramai meski hujan deras, penuh dengan aroma solar, asap knalpot, dan suara teriakan para kernet bus. Rangga masuk ke dalam area tunggu yang lantainya becek. Dia menurunkan Rinjani di atas bangku plastik panjang yang agak kering di sudut ruangan.

Rangga duduk di sebelah putrinya, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tangannya gemetar saat ia merogoh kantong celananya yang basah. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas di sana-sini. Dengan jari yang kaku karena kedinginan, Rangga menghitung lembaran uang yang ada di sana.

"Ya Tuhan..." Rangga mendesah lirih.

Uangnya cuma tinggal seratus sepuluh ribu rupiah. Itu adalah sisa uang hasil menarik ojek tiga hari terakhir yang belum sempat ia serahkan pada Laras. Dia memutar otaknya dengan cepat. Tiket bus ekonomi menuju Bandung paling murah sekitar lima puluh ribu per orang. Kalau Rinjani dihitung satu tiket, berarti uangnya habis cuma untuk jalan. Rangga menatap Rinjani yang menatapnya dengan mata bulat yang bening.

"Ayah, Rinjani lapar..." suara bocah itu terdengar sangat memilukan di telinga Rangga.

Rangga menelan ludah yang terasa sangat pahit. Dia bangkit sebentar, berjalan menuju pedagang asongan yang ada di dekat pintu masuk. Dia membeli dua bungkus roti isi cokelat yang paling murah dan satu botol air mineral kecil. Setelah membayar, uang di dompetnya kini pas sekali untuk dua tiket bus ke Bandung. Tidak ada sisa sepeser pun untuk makan dirinya sendiri nanti atau ongkos dari terminal Bandung ke kampung halamannya.

Rangga kembali ke bangku tunggu. Dia menyobek bungkus roti itu dengan tangan gemetar, lalu menyodorkannya pada Rinjani. "Nih, makan ya, Nak. Ayah cuma bisa beli ini dulu. Nanti kalau sudah sampai di rumah Nenek, kita makan enak deh," ucapnya mencoba tersenyum meski hatinya terasa seperti diremas-remas.

"Ayah nggak makan?" tanya Rinjani sambil memegang rotinya.

"Ayah masih kenyang kok. Tadi Ayah sudah makan banyak di bengkel. Rinjani aja yang makan ya," dusta Rangga lagi. Padahal perutnya sudah terasa melilit karena sejak siang ia belum memasukkan apa pun selain air putih.

Rinjani diam sebentar, menatap wajah ayahnya yang pucat dan penuh tetesan air hujan yang mengering. Seketika, bocah kecil itu meletakkan rotinya di pangkuan, lalu merangkul leher Rangga dengan sangat lembut. Dia menyandarkan kepalanya di dada Rangga yang masih terasa dingin.

"Ayah... jangan nangis ya..." bisik Rinjani lirih.

Rangga tertegun. Dia bahkan tidak sadar kalau sedari tadi air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan yang kasar. "Ayah nggak nangis kok, Sayang. Ini cuma sisa air hujan tadi..."

"Bohong. Mata Ayah merah sekali," Rinjani mengusap pipi ayahnya dengan tangan mungilnya. "Ayah tenang aja ya. Nanti kalau Rinjani sudah besar, Rinjani yang bakal jaga Ayah. Rinjani nggak mau kayak Ibu yang suka marah-marah sama Ayah. Rinjani mau jadi anak pintar supaya Ayah bahagia terus."

Kalimat yang meluncur dari bibir bocah lima tahun itu terasa seperti tamparan sekaligus obat bagi jiwa Rangga yang hancur. Dia tidak menyangka Rinjani bisa merasakan luka sedalam itu. Rangga memeluk Rinjani dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil anaknya agar tangisnya tidak pecah makin keras.

"Iya, Nak... Ayah janji. Ayah bakal buktikan kalau kita bisa hidup tanpa Ibu. Ayah bakal sukses supaya Rinjani bisa sekolah tinggi dan jadi orang hebat," bisik Rangga dengan suara yang penuh dengan tekad yang membara.

Seketika, suara pengeras suara terminal mengumumkan bus jurusan Bandung akan segera berangkat. Rangga bangkit, menggendong Rinjani dengan sebelah tangan dan menenteng tas ranselnya dengan tangan yang lain. Dia melangkah menuju pintu keberangkatan dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, dia sudah menutup rapat-rapat pintu masa lalunya di Jakarta. Biarlah Laras hidup dengan pilihannya, karena mulai detik ini, satu-satunya tujuan hidup Rangga cuma satu: membesarkan Rinjani menjadi wanita yang jauh lebih terhormat daripada ibunya sendiri.

Langkah kaki Rangga memasuki pintu bus dengan mantap. Bus itu perlahan bergerak meninggalkan Jakarta yang penuh dengan luka, membawa mereka menuju takdir baru yang entah seperti apa rupanya di tanah Bandung nanti.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Kar Genjreng
semoga punya istri yang ke dua amanah benar benar tulus bisa menjadi istri dan menjadi ibu pengganti yang baik
Kar Genjreng
nah ras penyesalan memang datangnya belakangan,, kalau duluan namanya lamaran,,jadi sekarang nikmat rasa yang pernah kamu torehkan kepada Rangga dan Rinjani,,, sombongmu seperti malaikat pencabut nyawa ,,, sekarang justru mirip seonggok sampah 😆👍👍
Kar Genjreng
😮😮kapok tempe mu sudah ga laku mau balik ke mantan suami yang Lo buang Lo ko enak ,,,,ketika Lo senang ninggalin Suami yang bau oli,,, sekarang begitu si bau oli sudah mandiri bersama putrinya Lo ngemis ihhh menjijikan
Kar Genjreng
sekarang mau mencari pria sampah dan menjijikan ga malu dih kalau Ak jadi mantan Amel ogah amat ga usah di terima barang sudah di jamah pria lain ,,
Kar Genjreng
👍👍harus semangat ya Mas agar kelak bisa meraih kesuksesan Aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: ya harus itu
total 1 replies
Kar Genjreng
Oalah nasib kalau beruntung baru satu malam laku hanya lima ribu,,,dan toko itu sudah di sewakan semoga ada tempat lagi yang lebih ramai dan ramah lingkungan nya 😭😭
Mistikus Kata: semoga mas
total 1 replies
Kar Genjreng
semangat. menjemput rezeki
Mistikus Kata: itu suatu kewajiban
total 1 replies
Kar Genjreng
👍👍 semogaa berhasil ya Rangga tekatmu pasti akan terwujud bismillah,,🙏
Mistikus Kata: kita berdoa saja
total 1 replies
Kar Genjreng
😭😭mudah mudahan ketemu orang baik' dan menolong ayah dan putrinya,, kelak akan hidup bahagia dan bisa membagakan ayahnya,, aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: kerasa banget di bab ini
total 1 replies
Kar Genjreng
seru dan bagus,,
Kar Genjreng
biarpun laki laki jelaskan kumuh tetapi berjuang untuk menyenangkan mu apa balasan nya Lo hina suami li dan ayah dari Putrimu,,,lihat Lo hanya berdagang barang
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
Kar Genjreng
pergi saja Rangga kalau tidak biar binimu yang suruh pergi dan kamu tinggal berdua dengan Rinjani,,
Kar Genjreng
😭😭 terkadang seperti ini suami kerja kasar wanita kerja halus,,,tapi biasanya Wanita nya baik ini beda Wanita nya kejam
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,
Kar Genjreng
mampir semoga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!