NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH KAKI DI TENGAH HUJAN

Langit Jakarta seolah ikut menangis, menumpahkan seluruh airnya dengan sangat beringas ke atas bumi yang gerah. Rangga melangkah keluar dari pintu kontrakan yang selama ini ia anggap sebagai surga kecilnya, tapi kini berubah menjadi neraka yang penuh luka. Di pelukannya, Rinjani mendekap lehernya dengan sangat erat. Tubuh kecil itu gemetar, bukan cuma karena dinginnya angin malam yang merobek kulit, tapi juga karena rasa takut yang masih tersisa setelah badai kemarahan ibunya tadi. Rangga cuma membawa satu tas ransel besar yang talinya sudah nyaris putus, berisi beberapa pasang baju Rinjani dan surat-surat penting miliknya.

Hujan turun deras sekali. Butiran airnya menghantam wajah Rangga sampai terasa perih, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding lubang menganga di dadanya. Dia berhenti sejenak di halaman depan, menata letak gendongannya agar Rinjani tidak terkena air hujan secara langsung. Rangga menatap ke arah jendela rumah. Di sana, di balik kaca yang buram oleh uap air, ia bisa menatap bayangan Laras.

Wanita yang baru saja ia talak itu berdiri di sana dengan melipat tangan di dada. Tidak ada raut sedih, apalagi penyesalan. Laras justru menatap Rangga dengan senyum sinis yang sangat menyakitkan. Rangga bisa menatap bibir Laras yang bergerak, seolah sedang menertawakan kemalangan suaminya yang sekarang harus pergi luntang-lantung di tengah badai tanpa kendaraan.

"Mau ke mana kamu dengan motor butut yang mogok itu, hah?" Mungkin itu yang diteriakkan Laras di dalam sana. Laras tertawa sekali, menunjuk-nunjuk ke arah Rangga yang basah kuyup seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat lucu. Bagi Laras, Rangga tanpa dirinya adalah nol besar. Laras merasa menang karena akhirnya berhasil mengusir "parasit" yang menurutnya cuma menghambat kemajuannya untuk hidup mewah bersama Badru.

Rangga menarik napas panjang yang terasa sangat berat. Dia tidak sudi membalas tatapan itu lagi. Dia memutar tubuhnya, membelakangi rumah penuh kenangan pahit itu, lalu mulai melangkah kaki di atas aspal yang mulai tergenang air setinggi mata kaki. Dia bahkan tidak menyentuh motor tuanya yang terparkir bisu di pojok halaman. Motor itu sudah rusak, sama rusaknya dengan harapannya pada Laras. Dia lebih memilih berjalan kaki daripada harus meminta belas kasihan pada wanita yang sudah menginjak-injak harga dirinya.

"Ayah... dingin..." bisik Rinjani dengan suara yang nyaris hilang tertelan suara petir yang menggelegar.

"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai di terminal kok. Rinjani jangan takut ya, ada Ayah di sini," jawab Rangga sambil berusaha mengatur napasnya.

Lalu, Rangga melepas jaket ojeknya yang sudah kusam dan bau matahari. Meski jaket itu juga agak basah di bagian luar, tapi bagian dalamnya masih sedikit hangat. Dengan susah payah sambil tetap menggendong Rinjani, dia menyelimutkan jaket itu ke tubuh putrinya. Dia ingin memastikan Rinjani tidak kedinginan, meski dirinya sendiri sekarang cuma memakai kaus tipis yang sudah melekat di kulit karena basah kuyup. Dia terus melangkah, menembus derasnya hujan yang kian menggila. Setiap langkah kakinya terasa seperti sedang membuang satu per satu kenangan bersama Laras ke dalam selokan yang meluap.

Jalanan menuju terminal terasa jauh sekali malam ini. Lampu-lampu jalanan tampak temaram, membiaskan cahaya di atas permukaan air yang terus turun dari langit. Rangga sesekali harus berhenti di bawah emperan toko yang sudah tutup untuk sekadar membetulkan posisi Rinjani agar tidak merosot. Kaki Rangga mulai terasa pegal, jari-jarinya keriput karena terendam air hujan dalam waktu lama, tapi tekadnya sudah bulat. Dia tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Tidak akan pernah.

Setelah berjalan hampir empat puluh menit, bangunan terminal bus yang luas mulai terlihat di kejauhan. Suasananya ramai meski hujan deras, penuh dengan aroma solar, asap knalpot, dan suara teriakan para kernet bus. Rangga masuk ke dalam area tunggu yang lantainya becek. Dia menurunkan Rinjani di atas bangku plastik panjang yang agak kering di sudut ruangan.

Rangga duduk di sebelah putrinya, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tangannya gemetar saat ia merogoh kantong celananya yang basah. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas di sana-sini. Dengan jari yang kaku karena kedinginan, Rangga menghitung lembaran uang yang ada di sana.

"Ya Tuhan..." Rangga mendesah lirih.

Uangnya cuma tinggal seratus sepuluh ribu rupiah. Itu adalah sisa uang hasil menarik ojek tiga hari terakhir yang belum sempat ia serahkan pada Laras. Dia memutar otaknya dengan cepat. Tiket bus ekonomi menuju Bandung paling murah sekitar lima puluh ribu per orang. Kalau Rinjani dihitung satu tiket, berarti uangnya habis cuma untuk jalan. Rangga menatap Rinjani yang menatapnya dengan mata bulat yang bening.

"Ayah, Rinjani lapar..." suara bocah itu terdengar sangat memilukan di telinga Rangga.

Rangga menelan ludah yang terasa sangat pahit. Dia bangkit sebentar, berjalan menuju pedagang asongan yang ada di dekat pintu masuk. Dia membeli dua bungkus roti isi cokelat yang paling murah dan satu botol air mineral kecil. Setelah membayar, uang di dompetnya kini pas sekali untuk dua tiket bus ke Bandung. Tidak ada sisa sepeser pun untuk makan dirinya sendiri nanti atau ongkos dari terminal Bandung ke kampung halamannya.

Rangga kembali ke bangku tunggu. Dia menyobek bungkus roti itu dengan tangan gemetar, lalu menyodorkannya pada Rinjani. "Nih, makan ya, Nak. Ayah cuma bisa beli ini dulu. Nanti kalau sudah sampai di rumah Nenek, kita makan enak deh," ucapnya mencoba tersenyum meski hatinya terasa seperti diremas-remas.

"Ayah nggak makan?" tanya Rinjani sambil memegang rotinya.

"Ayah masih kenyang kok. Tadi Ayah sudah makan banyak di bengkel. Rinjani aja yang makan ya," dusta Rangga lagi. Padahal perutnya sudah terasa melilit karena sejak siang ia belum memasukkan apa pun selain air putih.

Rinjani diam sebentar, menatap wajah ayahnya yang pucat dan penuh tetesan air hujan yang mengering. Seketika, bocah kecil itu meletakkan rotinya di pangkuan, lalu merangkul leher Rangga dengan sangat lembut. Dia menyandarkan kepalanya di dada Rangga yang masih terasa dingin.

"Ayah... jangan nangis ya..." bisik Rinjani lirih.

Rangga tertegun. Dia bahkan tidak sadar kalau sedari tadi air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan yang kasar. "Ayah nggak nangis kok, Sayang. Ini cuma sisa air hujan tadi..."

"Bohong. Mata Ayah merah sekali," Rinjani mengusap pipi ayahnya dengan tangan mungilnya. "Ayah tenang aja ya. Nanti kalau Rinjani sudah besar, Rinjani yang bakal jaga Ayah. Rinjani nggak mau kayak Ibu yang suka marah-marah sama Ayah. Rinjani mau jadi anak pintar supaya Ayah bahagia terus."

Kalimat yang meluncur dari bibir bocah lima tahun itu terasa seperti tamparan sekaligus obat bagi jiwa Rangga yang hancur. Dia tidak menyangka Rinjani bisa merasakan luka sedalam itu. Rangga memeluk Rinjani dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil anaknya agar tangisnya tidak pecah makin keras.

"Iya, Nak... Ayah janji. Ayah bakal buktikan kalau kita bisa hidup tanpa Ibu. Ayah bakal sukses supaya Rinjani bisa sekolah tinggi dan jadi orang hebat," bisik Rangga dengan suara yang penuh dengan tekad yang membara.

Seketika, suara pengeras suara terminal mengumumkan bus jurusan Bandung akan segera berangkat. Rangga bangkit, menggendong Rinjani dengan sebelah tangan dan menenteng tas ranselnya dengan tangan yang lain. Dia melangkah menuju pintu keberangkatan dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, dia sudah menutup rapat-rapat pintu masa lalunya di Jakarta. Biarlah Laras hidup dengan pilihannya, karena mulai detik ini, satu-satunya tujuan hidup Rangga cuma satu: membesarkan Rinjani menjadi wanita yang jauh lebih terhormat daripada ibunya sendiri.

Langkah kaki Rangga memasuki pintu bus dengan mantap. Bus itu perlahan bergerak meninggalkan Jakarta yang penuh dengan luka, membawa mereka menuju takdir baru yang entah seperti apa rupanya di tanah Bandung nanti.

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!