NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Di pagi hari yang cerah ini, matahari bersinar terang, menyusup malu-malu di balik gorden sutra kediaman Giovano. Cahayanya menyambut Ashley yang masih setia bergelung di balik bantalnya yang empuk. Ini adalah kejadian langka, sebuah anomali besar mengingat bagaimana ia biasanya sudah rapi dengan setelan kerja bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing.

​Selama beberapa hari terakhir, gedung Giotech C&T kehilangan sang nakhoda. Ashley tidak pergi ke kantor karena Kevin melarangnya dengan sangat keras. Tentu saja, seorang Ashley Giovano bisa saja nekat melangkah keluar dan mengabaikan larangan suaminya, namun Kevin menggunakan senjata pamungkas yang tidak bisa ia bantah: ancaman untuk berhenti kuliah.

Kevin tahu betul bahwa pendidikan bisnisnya adalah salah satu syarat utama agar ia bisa membantu mengelola C&T di masa depan, dan Ashley tidak ingin investasi besarnya itu sia-sia. Maka, mau tidak mau, sang Ratu hanya bisa diam di rumah sambil beristirahat.

​Di sisi lain, Kevin justru menjadi pihak yang paling kewalahan. Tugas kuliahnya menggunung seiring masuknya semester baru yang lebih padat. Belum lagi menghadapi Ashley yang suasana hatinya sedang naik turun seperti roller coaster akibat pengaruh hormon kehamilan. Lingkaran hitam samar mulai terlihat di bawah mata Kevin, tanda bahwa ia sering terjaga tengah malam hanya untuk mengambilkan air minum atau sekadar memijat kaki Ashley yang mendadak kram.

​Pikirannya juga sering melayang pada percakapan telepon dengan ibunya tempo hari. Kevin belum sempat menelepon lagi, meskipun ia terus teringat nada suara ibunya yang penuh rindu memohonnya untuk pulang ke desa. Masalahnya, ia tidak mungkin meninggalkan Ashley dalam kondisi hamil muda yang rentan seperti sekarang. Ia sempat berpikir untuk mengajaknya, namun sebuah keraguan besar menyelinap: apakah wanita yang terbiasa tidur di atas kasur seharga mobil mewah ini mau menginjakkan kakinya di daerah yang bahkan sulit menemukan sinyal internet stabil?

​"Hm, aku bosan..." keluh Ashley.

​Saat ini, ia sedang berbaring dengan kepala di pangkuan Kevin yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Kevin sedang memangku laptopnya, mencoba menyelesaikan esai ekonomi makro, sementara jemari tangannya yang lain tak berhenti mengusap rambut panjang istrinya.

​Kevin menunduk sejenak, menatap wajah Ashley yang tampak lebih lembut tanpa riasan kantor yang tajam. "Mau jalan-jalan ke kebun belakang? Menghirup udara segar mungkin bagus untukmu."

​Ashley menggeleng kecil, wajahnya masih terbenam di paha Kevin. "Tidak, aku malas berjalan. Kakiku rasanya seperti terbuat dari timah."

​Kevin hanya terkekeh, jarinya mencubit pelan hidung Ashley. "Mau kugendong saja? Aku bisa membawamu berkeliling taman seperti putri raja."

​"Tidak, terima kasih," sahut Ashley pendek. "Aku khawatir tulangmu remuk seketika."

​"Hei, jangan meremehkanku begitu!" seru Kevin pura-pura tersinggung. "Walaupun aku jarang sekali olahraga dan lebih sering membaca manga, aku ini cukup kuat untuk menggendongmu seharian."

​Ashley memutar matanya malas, namun ada kilat geli di matanya. "Iya, iya, aku tahu. Aku sudah pernah merasakannya sendiri."

​Hening sejenak sebelum Ashley tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan duduk tegak. Ia menatap Kevin dengan wajah menyelidik, seolah-olah sedang menginterogasi bawahan yang melakukan kesalahan fatal. "Jujur padaku, Kevin. Apa kau membohongiku saat bilang bahwa aku adalah wanita pertama dalam hidupmu? Jika ya, aku akan sangat kecewa."

​Kevin tertegun, tangannya yang tadi mengetik di laptop langsung membeku. "Aku tidak berbohong, Ash. Sumpah. Kenapa tiba-tiba kau berpikir begitu?"

​"Karena kau... kau bersikap seperti seorang ahli," Ashley mendesis, wajahnya sedikit memerah. "Ugh, walaupun kau melakukannya dengan sangat lembut di malam pertama kita, tetap saja pinggangku terasa seperti mau putus keesokan harinya. Teknikmu tidak terlihat seperti seorang pemula."

​Kevin tak bisa menahan tawa. Ia menutup laptopnya dan meletakkannya di meja. "Kau tahu, ada yang namanya internet dan imajinasi, Ash. Tapi serius, kau menikmatinya, kan? Jadi di bagian mana yang membuatmu kecewa?"

​Ashley mendengus kesal sambil melipat tangan di dada. "Aku tidak bilang aku kecewa dengan performamu. Aku hanya akan kecewa jika kau ternyata berbohong padaku tentang statusmu."

​"Ah, jadi kau cemburu pada masa laluku yang sebenarnya tidak ada itu?" goda Kevin dengan senyum nakal.

​"Cemburu? Kata itu tidak ada di dalam kamusku," jawab Ashley angkuh, meskipun rona merah di pipinya berkata sebaliknya.

​"Ahahaha, kau lucu sekali kalau sedang cemburu begini. Wajahmu jadi mirip anak kucing yang makanannya mau diambil," tawa Kevin meledak, membuat Ashley melempar bantal kecil ke arahnya.

​"Sudah kubilang aku tidak cemburu!"

​"Iya, iya, Tuan Putri. Lagipula, kau mau cemburu pada siapa? Aku benar-benar belum pernah pacaran sebelumnya. Jangankan pacaran, mendekati perempuan saja aku dulu sering gemetar."

​Ashley menatapnya dengan tatapan ingin tahu yang dalam. "Kau belum pernah pacaran? Sekalipun? Bahkan saat SMA?"

​Kevin mengangguk mantap. "Iya, aku jomblo dari lahir sampai akhirnya terjebak denganmu."

​Mendengar itu, Ashley menyunggingkan senyum sombong yang penuh percaya diri. Ia kembali menyandarkan punggungnya di sofa dengan anggun.

"Yah, kalau begitu kau harus sangat bersyukur, Kevin. Kau melewatkan semua drama percintaan yang tidak berguna itu dan langsung menikah dengan wanita luar biasa sepertiku."

​"Percaya diri sekali ya, Nyonya Giovano," puji Kevin sambil menarik Ashley kembali ke dalam pelukannya.

​"Itu fakta, bukan kepercayaan diri," koreksi Ashley sambil memejamkan mata, menikmati detak jantung Kevin di telinganya.

​"Tapi kau tahu, Ash... terkadang aku merasa kau terlalu sempurna untukku. Kadang aku berpikir, apa kau tidak merasa rugi menikah dengan pria biasa yang hobi nonton anime sepertiku?"

​Ashley terdiam sejenak. Ia mengusap kancing kemeja hitam Kevin. "Mungkin awalnya iya. Tapi sekarang, aku sadar bahwa kesempurnaanku butuh seseorang yang bisa 'menarikku' kembali ke bumi. Jika aku menikah dengan pria kaku yang sama seperti aku, mungkin kita berdua sudah mati karena stres pekerjaan sekarang."

​Kevin tersenyum mendengar jawaban itu. Ia merasa atmosfer di antara mereka semakin mencair. "Ash, kau ingat beberapa hari lalu ibuku menelepon?"

​Ashley hanya bergumam kecil sebagai tanda ia mendengarkan.

​"Dia bilang dia sangat merindukanku. Setahun tidak bertemu itu waktu yang sangat lama bagi seorang ibu. Jadi, aku berniat akan pergi ke desa selama beberapa hari untuk menemui mereka."

​Seketika, Ashley menegang. Ia mendongak, menatap Kevin dengan tatapan tak percaya. "Kau akan meninggalkanku sendirian di sini?"

​"Tidak, tidak... bukan begitu," Kevin segera menenangkan. "Justru aku ingin bertanya padamu. Apa kau mau ikut denganku ke desa? Bertemu dengan orang tuaku secara langsung?"

​Ashley terdiam. Matanya berkedip beberapa kali seolah sedang memproses data yang sangat asing. "Ke desa? Rumah orang tuamu?"

​"Iya. Tapi aku mengerti kalau kau menolak. Aku hanya takut kau tidak nyaman di sana. Di desa tidak seperti di kota, Ash. Tidak ada AC di setiap ruangan, air hangat harus dimasak secara manual, ranjangnya pun keras karena hanya dari kayu jati lama. Apalagi, kau sedang hamil muda begini. Aku tidak ingin kau kelelahan atau jatuh sakit."

​"Memangnya kau berencana tinggal berapa hari di sana?" tanya Ashley dengan nada menyelidik.

​"Mungkin dua atau tiga hari. Hanya untuk melepas rindu dan memberitahu mereka secara langsung bahwa kau sedang mengandung cucu mereka."

​Ashley menatap langit-langit ruangan sejenak, menimbang-nimbang antara kenyamanan hidupnya dan rasa ingin tahunya terhadap asal-usul pria yang kini menjadi suaminya. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan menatap Kevin dengan mantap.

​"Kalau kau bisa bertahan hidup di sana selama belasan tahun, aku rasa aku juga bisa bertahan selama dua atau tiga hari," ujar Ashley tegas. "Bawa aku ke sana. Jangan tinggalkan aku sendirian di mansion ini. Aku akan ikut, bagaimanapun kondisinya."

​Kevin menaikkan alisnya, terkejut dengan keberanian Ashley. "Kau yakin? Tidak akan mengeluh jika tiba-tiba ada nyamuk atau suara ayam di pagi hari?"

​"Aku adalah CEO Giotech C&T, Kevin. Aku sudah menghadapi ribuan masalah yang lebih besar daripada seekor nyamuk. Siapkan keberangkatannya. Kita pergi ke desamu."

​Kevin tersenyum lebar. Ia tidak menyangka Ashley akan setuju semudah itu. "Baiklah, Nyonya Besar. Bersiaplah untuk petualangan yang tidak akan pernah kau lupakan."

​Malam itu, Kevin mulai mengepak beberapa keperluan, sementara Ashley hanya memperhatikan dengan cemas, bertanya-tanya apakah ia benar-benar bisa bertahan di tempat tanpa fasilitas bintang lima. Namun, ada secercah kehangatan di hatinya; ia ingin tahu seperti apa lingkungan yang membentuk Kevin hingga menjadi pria yang begitu sabar menghadapinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!