Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Panggilan "Mommy"
"Halo, Rudi? Tahan dulu. Saya nggak mau dengar alasan klasik soal fluktuasi pasar. Kalau grafik turun, berarti ada strategi yang salah. Coba kamu cek lagi laporan kuartal lalu..."
Gavin mondar-mandir di area kursi jemur yang agak jauh dari bibir kolam. Ponsel menempel di telinga, keningnya berkerut dalam, dan tangan kirinya berkacak pinggang. Mode CEO-nya aktif sepenuhnya, membuatnya lupa sejenak kalau dia sedang pakai celana renang bunga-bunga di pinggir tebing Uluwatu. Dia membelakangi kolam renang, fokus pada angka-angka di kepalanya.
Sementara itu, Kiana baru saja meletakkan gelas jus jeruknya yang tinggal setengah di meja bulat kecil.
"Asem banget jeruknya," gumam Kiana, menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Dia membetulkan letak rambutnya yang baru saja kering dan tertata rapi tertiup angin laut.
Matanya menyapu area kolam anak. Kosong.
Kening Kiana berkerut. Kemana bocah itu?
"Alea?" panggil Kiana, suaranya belum panik, hanya heran. "Sayang? Kamu ngumpet di mana?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara deburan ombak dari bawah tebing dan suara Gavin yang sedang mengomel soal deviden di telepon.
Kiana berdiri. Firasatnya mendadak tidak enak. Perutnya mulas tiba-tiba, seolah ada alarm bahaya yang berdering kencang di kepalanya.
Matanya bergerak cepat ke arah kolam utama—infinity pool yang airnya biru gelap dan tenang.
Di tengah kolam itu, ada riak air yang aneh. Bukan riak karena angin. Tapi riak yang bergejolak, seolah ada sesuatu yang meronta di bawahnya. Dan di permukaan air, sebuah bebek karet kuning mengapung sendirian, terombang-ambing tanpa tuan.
Lalu, Kiana melihatnya.
Sekilas bayangan warna pink neon di bawah permukaan air. Tangan kecil yang menggapai ke atas, lalu hilang lagi ditelan birunya air.
Darah Kiana berdesir hebat. Jantungnya seolah berhenti berdetak detik itu juga.
"ALEA!"
Jeritan Kiana melengking tinggi, memecah ketenangan villa mewah itu.
Tanpa pikir panjang, tanpa mempedulikan rambutnya yang baru saja kering, tanpa mempedulikan makeup-nya, Kiana berlari kencang.
Dia menerjang lantai deck kayu, melompati kursi santai, dan langsung terjun bebas ke dalam kolam.
BYUR!
Air dingin langsung menyergap seluruh tubuhnya. Kiana tidak menutup mata.
Di dalam air yang perih karena kaporit, dia membuka matanya lebar-lebar, mencari sosok kecil itu.
Di sana.
Alea sedang meronta-ronta panik sekitar dua meter di bawah permukaan. Tubuh kecilnya perlahan tenggelam karena dia membuang napas. Matanya terbelalak ketakutan, mulutnya terbuka menelan air.
Kiana menggerakkan kakinya sekuat tenaga, berusaha berenang secepat torpedo. Naluri melindunginya mengambil alih seluruh fungsi otaknya.
Tahan, Alea. Tahan. Tante di sini.
Tangan Kiana berhasil meraih pergelangan tangan Alea.
Dia menarik tubuh mungil itu, mendekapnya ke dada, lalu menendang dasar kolam kuat-kuat untuk mendorong mereka naik ke permukaan.
BUAHHH!
Kiana menyembul keluar dari air, menghirup udara rakus. Dia mengangkat kepala Alea setinggi mungkin agar wajah anak itu berada di atas air.
"Uhuk! Uhuk! Hoek!"
Alea langsung terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air dari mulut dan hidungnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru gemetar.
"GAVIN!" teriak Kiana dengan sisa napasnya, sambil berenang susah payah menuju pinggir kolam dengan satu tangan memegangi Alea yang lemas.
Gavin di ujung sana baru saja sadar. Dia mendengar teriakan pertama Kiana, lalu bunyi byur keras.
Dia menoleh dan melihat pemandangan yang membuat darahnya beku.
Ponsel mahalnya jatuh begitu saja dari tangannya, menghantam lantai batu dan layarnya retak, tapi Gavin tidak peduli.
"Alea! Kiana!"
Gavin berlari secepat kilat. Wajahnya pias, ketakutan setengah mati terpancar jelas di matanya. Dia sampai di pinggir kolam tepat saat Kiana mencapai dinding.
Gavin langsung menjatuhkan diri berlutut, mengulurkan kedua tangannya yang kekar ke dalam air.
"Sini! Angkat dia! Cepat!" perintah Gavin dengan suara bergetar.
Kiana mendorong tubuh Alea ke atas. Gavin menyambar ketiak putrinya, mengangkatnya keluar dari air dengan mudah seolah Alea seringan kapas, lalu membaringkannya di lantai kayu.
Kiana menyusul naik, merayap keluar dari kolam dengan napas memburu. Dia langsung merangkak mendekati Alea, mengabaikan tubuhnya sendiri yang basah kuyup dan menggigil.
"Alea? Alea, lihat Tante!" Kiana menepuk pipi Alea yang dingin. "Keluarin airnya, Nak. Batuk yang kencang!"
"Uhuk! Uhuk! Sakit... dada aku sakit..." rintih Alea disela batuknya. Air bening keluar lagi dari mulutnya. Dia menangis, tapi suaranya tertahan karena syok.
"Nggak apa-apa... nggak apa-apa... airnya udah keluar semua," Kiana mengusap punggung Alea dengan gerakan cepat dan tegas, membantu melancarkan napasnya. "Tarik napas panjang... buang..."
Gavin berlutut di sisi lain, wajahnya penuh rasa bersalah yang amat sangat. Tangannya gemetar saat hendak menyentuh bahu putrinya.
"Alea... maafin Papa... Ya Tuhan, Papa nggak liat..." bisik Gavin, suaranya pecah. "Sini, Sayang... Papa peluk..."
Gavin membentangkan tangannya, ingin mendekap tubuh kecil yang rapuh itu, ingin memastikan anaknya selamat dalam pelukannya.
Tapi reaksi Alea di luar dugaan.
Saat melihat tangan Gavin mendekat, Alea justru memundurkan badannya. Tatapan matanya masih liar karena trauma.
Dia tidak mengenali Papanya sebagai pelindung saat ini. Di memori singkatnya yang penuh kepanikan tadi, Papa adalah sosok yang membelakanginya.
Papa tidak ada saat dia butuh.
Yang ada adalah wanita ini. Wanita yang menariknya dari kegelapan air.
"Huwaaaaaa!" tangis Alea pecah, meledak keras.
Bukannya menyambut pelukan Gavin, Alea malah memutar tubuhnya dan menubruk dada Kiana. Dia melingkarkan kedua tangan kecilnya yang dingin ke leher Kiana, mencengkeram erat baju renang Kiana seolah hidupnya bergantung di sana.
"Lho? Alea?" Gavin terpaku, tangannya menggantung hampa di udara.
Kiana juga kaget, tapi insting keibuannya merespon otomatis. Dia langsung mendekap tubuh gemetar Alea, membenamkan wajah anak itu di ceruk lehernya yang basah.
"Sshhh... udah, udah... Tante di sini. Kamu aman. Kamu nggak tenggelam lagi," bisik Kiana lembut, menciumi puncak kepala Alea yang basah kuyup berulang kali. Dia mengusap punggung Alea dengan irama menenangkan.
"Takut... hiks... gelap... nggak bisa napas..." isak Alea histeris di pelukan Kiana.
"Iya, Tante tahu. Serem ya? Tapi sekarang udah nggak gelap. Liat, ada matahari. Ada Tante," bujuk Kiana, mengeratkan pelukannya. Dia menatap Gavin di seberangnya dengan tatapan tajam bercampur sedih, seolah bilang: Kamu kemana aja tadi?
Gavin menunduk, meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Dia merasa gagal.
Gagal menjaga satu-satunya harta berharganya. Dia kalah cepat.
Dia lalai. Dan sekarang anaknya menolak pelukannya.
"Alea, ini Papa, Nak..." panggil Gavin lirih, mencoba menyentuh lengan Alea lagi.
Alea menggeleng kuat-kuat di leher Kiana, menolak melepaskan cengkeramannya. Wajahnya semakin dibenamkan ke dada Kiana, mencari detak jantung yang tadi dia dengar saat diselamatkan.
Dan saat itulah, kata itu terucap.
Dalam kondisi setengah sadar, di antara isak tangis dan trauma yang mengaburkan logika, alam bawah sadar Alea yang merindukan sosok pelindung wanita—sosok ibu yang sudah lama hilang—mengambil alih lidahnya.
"Mommy..."
Satu kata itu keluar begitu saja. Lirih, tapi jelas.
Kiana membeku. Tangannya yang sedang mengusap rambut Alea berhenti bergerak.
Gavin mengangkat kepalanya cepat, matanya membelalak lebar menatap putrinya.
"Mommy... takut..." ulang Alea lagi, kali ini lebih jelas, diselingi sedu sedan. "Mommy jangan pergi... Alea takut air..."
Hening.
Suara deburan ombak di bawah tebing seolah lenyap. Suara angin seolah berhenti. Hanya ada suara tangis Alea yang memanggil "Mommy" berulang kali di pelukan ibu tirinya.
Kiana menatap Gavin. Gavin menatap Kiana.
Ada kejutan luar biasa di mata mereka berdua.
Panggilan itu sakral. Belakangan, Alea jarang bilang Mama atau Mommy kepada siapapun.
Bahkan pada foto ibunya pun dia jarang memanggilnya. Dia menyimpan kata itu rapat-rapat.
Tapi hari ini, nyawa yang nyaris melayang membuka kotak pandora itu. Dan orang yang menerima gelar itu bukanlah bayangan Sarah, melainkan Kiana Elvaretta.
Istri kontrak. Wanita karir yang katanya tidak punya naluri keibuan dan kasar.
Kiana merasakan tenggorokannya tercekat. Ada rasa panas yang menjalar di matanya, mendesak ingin keluar sebagai air mata.
Dia bingung harus menjawab apa. Haruskah dia meralat?
Alea, aku Tante Kiana. Bukan Mommy.
Tapi saat merasakan tubuh mungil itu bergetar hebat dalam dekapannya, saat merasakan betapa Alea membutuhkannya saat ini lebih dari apa pun di dunia... Kiana tidak sanggup mematahkan ilusi itu.
Kiana menelan ludahnya yang terasa seret dan pahit. Dia kembali menggerakkan tangannya, mengusap punggung Alea lebih lembut, lebih posesif.
"Iya..." bisik Kiana akhirnya, suaranya serak dan bergetar.
Dia menatap mata Gavin lekat-lekat, meminta izin lewat tatapan mata untuk memainkan peran ini sebentar saja. "Mommy di sini, Sayang. Mommy pegang kamu. Nggak akan ada yang jahatin kamu lagi."
Gavin tertegun. Dia melihat interaksi itu dengan hati yang campur aduk.
Ada rasa cemburu karena Alea memilih Kiana, tapi ada rasa syukur yang jauh lebih besar karena Kiana ada di sana menyelamatkan nyawa anaknya. Dan mendengar Kiana menjawab panggilan "Mommy" itu... entah kenapa, terdengar sangat benar di telinga Gavin.
"Mommy..." Alea mulai tenang, napasnya mulai teratur, meski tangannya masih mencengkeram erat. Efek syok dan lelah mulai membuatnya mengantuk.
Kiana mengangkat wajahnya, menatap Gavin yang masih berlutut kaku.
"Gavin," panggil Kiana pelan tapi tegas. "Bantu aku berdiri. Kita bawa dia ke kamar mandi. Dia butuh air hangat. Bibirnya biru."
Gavin tersadar dari lamunannya. Dia mengangguk cepat, menghapus air mata yang sempat menetes di sudut matanya sendiri.
"Iya. Sini, biar saya gendong."
"Nggak mau!" tolak Alea tiba-tiba, matanya masih terpejam tapi tangannya menolak lepas dari Kiana. "Mau sama Mommy!"
Gavin tersenyum kecut, tapi dia mengangguk pasrah. "Oke. Sama Mommy, ya."
Gavin berdiri, lalu dengan hati-hati membantu Kiana berdiri sambil tetap menggendong Alea di pinggangnya seperti koala.
Kiana yang basah kuyup, tanpa alas kaki, dan rambut berantakan, menggendong anak tirinya yang baru saja dia selamatkan dari maut.
Mereka berjalan masuk ke dalam villa.
Hari ini, liburan settingan Kakek Adijaya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Ikatan darah mungkin tidak ada di antara mereka, tapi, air kolam itu baru saja membentuk ikatan batin yang lebih kuat.
Ikatan seorang ibu dan anaknya.
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️