Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Bayangan Kehampaan
Ye Chenxu memutuskan untuk bergerak menuju Kota Tulang Hitam, sebuah pemukiman kumuh namun padat yang berfungsi sebagai pusat informasi.
Suasana di sana telah berubah total sejak ia terakhir kali mendengar kabar.
Patroli penjara kota bertambah tiga kali lipat. Pintu gerbang dijaga ketat oleh kultivator yang memeriksa setiap orang yang masuk dengan indra spiritual.
Di kedai-kedai yang biasanya bising, suasana kini terasa lebih waspada. Para pemburu dari berbagai organisasi berkumpul, berbagi informasi tentang target terbaru mereka.
Di salah satu sudut kedai yang remang-remang, sekelompok praktisi Pengumpul Qi duduk mengelilingi sebuah meja kayu yang penuh noda bir.
"Anak itu katanya masih sangat muda, mungkin belum genap dua puluh tahun," bisik salah satu dari mereka, seorang pria dengan kapak besar di punggungnya.
"Omong kosong!" sela yang lain sambil menenggak minumannya.
"Heilong yang punya teknik Pembelah Jiwa saja mati di tangannya. Dia pasti bukan manusia biasa. Beberapa orang bilang dia punya artefak yang bisa menghapus keberadaan."
Tawa kasar bergema di meja itu. "Artefak atau bukan, kepalanya adalah tiket kita untuk keluar dari lubang neraka ini."
Mereka tidak menyadari bahwa di sudut ruangan, hanya berjarak dua meja dari mereka, seorang pemuda berkerudung hitam duduk diam dengan segelas air di depannya.
Ye Chenxu bisa mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan dengan jelas.
Aura tubuhnya disembunyikan nyaris sempurna menggunakan teknik Jejak Kehampaan. Baginya, mereka semua tampak seperti mangsa yang berisik.
Namun di balik wajahnya yang tenang, pikirannya bergerak cepat. Ia menyadari satu kenyataan pahit bahwa dirinya tidak bisa terus bersembunyi.
Perburuan massal ini berarti semakin lama diam, semakin besar kemungkinan ia akan terjepit dalam jaring yang mustahil ditembus.
Satu-satunya pilihan adalah menyerang balik dan menggerogoti kekuatan mereka dari dalam, sebelum jaring itu benar-benar mengencang.
Malam turun menyelimuti Kota Tulang Hitam dengan kegelapan yang lebih pekat dari biasanya. Kabut yang dingin mulai merayap di gang-gang sempit, menyamarkan langkah kaki dan aroma kematian.
Di atap bangunan yang runtuh, Ye Chenxu bergerak tanpa suara. Langkah Sunyi Tanpa Jejak bekerja dengan sempurna, tubuhnya menyatu dengan bayangan malam hingga ia tampak seperti robekan di kain realitas.
Di bawahnya, enam kultivator dari Sekte Racun Roh berjalan dalam formasi tempur. Mereka adalah kelompok elit yang dikenal karena kekejamannya.
Di tangan pemimpin mereka, terdapat sebuah gulungan peta yang berisi koordinasi pengepungan dan titik-titik patroli pemburu lainnya.
Ye Chenxu mengamati mereka dari kegelapan atap. Matanya berkilat dingin.
Satu tarikan napas kemudian dia menghilang!
Serangan itu terjadi dalam keheningan yang mutlak. Tidak ada teriakan perang atau denting senjata yang keras.
Dua kultivator yang berada paling belakang tiba-tiba roboh ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara.
Jarum Pembunuh Jiwa telah menembus tengkuk mereka secepat kilat dan menghancurkan pusat kesadaran mereka dalam sekejap mata.
Empat orang lainnya berbalik dengan panik, senjata mereka terhunus.
"Apa—?! Siapa di sana?!"
Namun sebelum mereka sempat memfokuskan pandangan, kabut yang dingin telah menelan mereka. Dalam keremangan itu, satu sosok muncul seperti hantu.
Pisau hitam milik Ye Chenxu menyambar dan bergerak dalam pola yang tak terduga.
Crashh!
Sentuhan Kehampaan merobek meridian di lengan dan dada mereka. Energi hitam merembes masuk ke dalam pembuluh darah, membekukan Qi orang-orang itu seketika.
Jeritan-jeritan tertahan terdengar saat tubuh mereka mulai lumpuh dari dalam.
Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, keenam praktisi elit itu tergeletak tak bernyawa di atas aspal kotor gang tersebut.
Ye Chenxu berdiri di tengah genangan darah mereka, napasnya sedikit memburu.
Dadanya kembali berdenyut nyeri. Ia menyadari bahwa penggunaan teknik kehampaan secara beruntun menguras energi jiwanya jauh lebih besar dari yang ia perkirakan sebelumnya.
Namun ia menahan rasa sakit itu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menggeledah tubuh sang pemimpin tersebut.
Di sana, ia menemukan apa yang dicari, sebuah peta detail mengenai rencana pengepungan besar-besaran, jadwal pergerakan para pemburu elit, dan tanda koordinasi unik antar organisasi.
Matanya menyipit saat membaca koordinat yang tertulis di sana.
"Ternyata mereka tidak hanya mencari, tapi juga sedang membentuk jaring yang akan menutup seluruh pelarian di wilayah ini."
Selama dua hari berikutnya, suasana di Dunia Bawah berubah dari penuh semangat menjadi penuh teror. Satu demi satu kelompok pemburu yang keluar untuk mencari Bayangan Kehampaan tidak pernah kembali.
Tanpa saksi yang hidup. Tanpa suara pertarungan yang panjang. Dan tanpa perlawanan berarti.
Yang tersisa hanyalah simbol kehampaan yang terukir di tanah dan mayat-mayat yang membeku dalam ekspresi ketakutan yang murni.
Nama Bayangan Kehampaan dengan cepat berubah, ia bukan lagi target buruan yang menjanjikan kekayaan, melainkan hantu pemburu yang memanen nyawa dalam diam.
Saat Ye Chenxu mencoba melintasi wilayah Pegunungan Berdarah untuk keluar dari pengepungan, ia merasakan bahaya yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Instingnya berteriak sebelum serangan itu benar-benar terlihat.
Syuut—!
Sebuah panah energi berwarna perak menembus udara dengan kecepatan suara dan menghancurkan bongkahan batu tepat di samping kepalanya.
Ye Chenxu melompat mundur sambil berguling di tanah yang kasar.
Di atas tebing curam di hadapannya, tiga sosok berdiri tegak dengan aura yang sangat kuat.
Seorang pria berjubah perak dengan busur besar di tangannya melangkah maju ke tepi tebing. Auranya begitu padat dan menekan, menandakan bahwa ia berada di tingkat Pengumpul Qi tahap akhir.
"Bayangan Kehampaan," kata pria itu dengan suara yang jernih namun dingin. "Kami dari Aula Pemburu Langit. Perjalananmu berakhir di sini."
Dua orang di sampingnya mengeluarkan senjata mereka. "Menyerah sekarang, atau kami akan membawa kepalamu dalam keadaan hancur."
Ye Chenxu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi dan memasuki Dunia Bawah, ia merasakan tekanan kematian yang nyata.
Perbedaan level ini bukan sesuatu yang bisa ditutupi hanya dengan teknik pergerakan.
"Jika aku menyerah," Ye Chenxu berbicara dengan suara pelan, mencoba mengatur aliran Qi-nya yang kacau. "Kalian akan membiarkanku hidup?"
Tawa ringan yang menghina terdengar dari atas tebing. "Kau cukup pintar untuk tahu jawabannya, bocah. Kepalamu saat ini jauh lebih berharga daripada nyawamu yang tidak berguna itu."
Keheningan turun sejenak. Angin pegunungan meniup jubah mereka. Dalam sepersekian detik, sebelum panah perak kedua dilepaskan, Ye Chenxu menghilang.
Pertempuran itu menjadi kekacauan yang brutal. Panah-panah energi menghantam tanah dengan ledakan yang menghancurkan batuan granit.
Ye Chenxu bergerak seperti orang gila, memacu Langkah Sunyi Tanpa Jejak hingga batas maksimal yang bisa ditanggung tubuhnya.
Namun, tekanan dari kultivator ahli seperti mereka terlalu besar. Pria berjubah perak itu mampu melacak riak tipis di udara.
"Di sana!"
Sebuah gelombang energi perak dilepaskan dari telapak tangan sang pemburu, menghantam punggung Ye Chenxu.
Bukk!
Ye Chenxu memuntahkan darah dalam jumlah besar. Tubuhnya terpental sejauh sepuluh meter sebelum menghantam dinding tebing dengan keras.
Dadanya terasa nyaris runtuh, tulang rusuknya patah, dan meridiannya bergejolak hebat seolah hendak meledak.
"Sudah berakhir." Pria berjubah perak itu melompat turun, mendarat dengan ringan di hadapan Ye Chenxu yang tak berdaya.
Ia mengangkat pedang pendeknya dan mengarahkannya ke leher Ye Chenxu.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭