NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam itu, Di sebuah apartemen kecil yang pengap di pinggiran kota, Bima berdiri di dekat jendela, menggenggam ponselnya dengan tangan yang gemetar. Namun, kegemetaran itu bukan karena ketakutan seperti malam di lantai 40, melainkan karena kegugupan akan sebuah rencana besar.

​"Halo? Tuan, saya baru saja mendapat kabar. Rangga sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Dokter menyatakan dia sembuh total," bisik Bima ke dalam sambungan telepon.

​Suara tawa berat dan sombong terdengar dari seberang sana. Suara yang penuh dengan nada kemenangan. "Bagus, Bima. Semuanya berjalan sesuai rencana. Biarkan si gila itu menghirup udara bebas sebentar."

​"Tapi Tuan, apakah ini tidak berbahaya? Dia hampir membunuhku terakhir kali," tanya Bima ragu.

​"Justru itu intinya! Lanjutkan tugasmu. Teruslah memancingnya, buat dia merasa terancam, buat sisi gelap Rangga keluar sesering mungkin di depan publik. Dengan begitu, dewan direksi akan memiliki alasan hukum untuk mencopotnya secara permanen. Sebentar lagi, kita akan menguasai Dirgantara Group sepenuhnya," ucap si penelepon itu dengan nada puas. "Dan setelah dia kembali membusuk di sel isolasi, Alya... Alya sepenuhnya akan datang kepadaku. Dia akan mencari perlindungan, dan aku akan menjadi pahlawannya."

​Bima menarik napas panjang. "Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa pun agar Rangga kehilangan kendali lagi. Tapi—"

​Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan pintu yang sangat pelan namun berirama terdengar. Tok. Tok. Tok.

​Bima membeku. Sambungan telepon masih menyala. "Tuan, ada seseorang di depan pintu..."

​"Bima? Siapa malam-malam begini?" suara di telepon bertanya.

​Bima mendekati lubang intip pintu dengan kaki yang terasa lemas. Saat ia mengintip, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, berdiri Rangga. Pria itu tidak lagi memakai baju pasien, melainkan jaket kulit hitam dengan kerah tegak. Wajahnya diterangi lampu lorong yang remang-remang, memberikan kesan malaikat maut yang tampan. Rangga sedang menatap langsung ke lubang intip, seolah dia tahu Bima sedang melihatnya.

​Rangga tersenyum. Bukan senyum gila, tapi senyum yang sangat tenang—yang jauh lebih menakutkan.

​"Bima, kau meninggalkan dokumen penting di kantorku," suara Rangga terdengar lembut menembus pintu kayu itu.

​Bima menjatuhkan ponselnya ke lantai. Brak! Pintu apartemen itu tiba-tiba ditendang dengan kekuatan yang luar biasa hingga engselnya jebol. Rangga melangkah masuk dengan sangat tenang, menutup kembali pintu yang rusak itu seolah-olah dia adalah tamu terhormat.

​"Siapa yang kau hubungi, Bima?" tanya Rangga sambil memungut ponsel yang masih menyala di lantai. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo? Kau masih di sana, Tikus Kecil?"

​Hening di seberang sana. Telepon langsung dimatikan.

​Rangga terkekeh, lalu menghancurkan ponsel itu dalam satu remasan tangannya. Ia menatap Bima yang sudah tersudut di tembok. "Kau tahu, Bima? Aku benci pengkhianat. Tapi aku lebih benci orang yang mencoba menggunakan Alya sebagai umpan dalam permainan bisnis yang kotor."

​Rangga mengeluarkan sebilah pisau bedah yang sangat tipis dari balik jaketnya. "Kau pikir aku tidak tahu kau bekerja untuk siapa? Kau pikir aku benar-benar gila sampai tidak bisa melihat rencana kalian? Aku sudah sembuh, Bima. Aku sembuh dari rasa kasihan, tapi tidak dari rasa lapar akan keadilan versiku sendiri."

​Di Mansion Dirgantara, Alya baru saja selesai mencuci muka saat ia menyadari suasana rumah terlalu sepi. Ia berjalan menuju ruang kerja Rangga, berharap suaminya sedang membaca buku di sana. Namun, ruangan itu kosong. Kursi kebesarannya dingin.

​Alya memeriksa laci meja kerja yang biasa dikunci Rangga. Kali ini, laci itu sedikit terbuka. Di dalamnya, Alya menemukan secarik kertas berisi alamat apartemen Bima.

​"Tidak... kumohon jangan sekarang," bisik Alya.

​Jantungnya berpacu hebat. Ia teringat tatapan mata Rangga saat makan malam tadi—terlalu tenang, terlalu jernih, seperti air yang menutupi pusaran maut di bawahnya. Alya segera menyambar tas dan kunci mobilnya. Ia tidak memanggil supir; ia mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi.

​Sepanjang jalan, Alya terus menghubungi ponsel Rangga, namun hanya suara operator yang menyahut. "Angkat, Rangga! Kumohon angkat!" tangis Alya pecah.

Ia takut. Bukan takut akan keselamatannya sendiri, tapi takut suaminya akan kembali menjadi monster yang tak bisa kembali lagi ke dunia manusia.

​Alya sampai di apartemen Bima sepuluh menit kemudian. Ia berlari menaiki tangga karena lift terasa terlalu lambat. Setibanya di lantai empat, ia melihat pintu apartemen Bima sudah terbuka lebar.

​Langkah kaki Alya melambat saat ia mencium aroma yang sangat ia benci: bau anyir darah.

​Ia masuk dengan kaki gemetar. Ruangan itu berantakan. Berkas-berkas berhamburan. Dan di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang bergoyang pelan, ia melihatnya.

​Rangga berdiri di sana. Kemeja putihnya sudah ternoda bercak merah yang artistik namun mengerikan. Di kakinya, Bima tergeletak tak bernyawa. Rangga tidak membunuhnya dengan brutal, ia membunuhnya dengan presisi seorang ahli—tak tersisa ruang untuk keselamatan.

​Rangga sedang menyeka pisaunya dengan kain sutra saat ia menyadari kehadiran Alya. Ia berbalik, dan untuk sesaat, kilatan gila itu muncul kembali di matanya, sebelum padam saat melihat wajah hancur istrinya.

​"Alya... kau datang terlalu cepat," ucap Rangga datar.

​Alya tidak lari. Ia justru berlari menerjang Rangga, namun bukan untuk memukul, melainkan memeluknya sekuat tenaga. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Rangga yang masih terasa panas karena adrenalin.

​"Kamu bilang tidak akan melakukannya lagi! Kamu janji padaku di rumah sakit, Rangga! Kenapa?! Kenapa harus begini lagi?!" isak Alya. Suaranya pecah menjadi raungan kesedihan yang memenuhi ruangan sempit itu.

​Rangga berdiri mematung. Tangannya yang masih berlumuran darah menggantung di udara, ragu untuk menyentuh baju Alya yang bersih. Namun akhirnya, ia melingkarkan lengannya di bahu Alya, menarik istrinya masuk ke dalam pelukan yang posesif dan gelap.

​"Sssshhh... diamlah, Sayang. Aku tidak suka melihat air matamu jatuh demi seorang laki-laki seperti dia," bisik Rangga dengan suara bariton yang menghipnotis. Ia menggunakan jarinya yang bersih untuk mengusap air mata di pipi Alya, meski ada sedikit noda merah yang tertinggal di sana—seperti tanda kepemilikan.

​"Dia mencoba menghancurkan kita, Alya. Dia mencoba mengambilmu dariku. Aku hanya sedang membuang duri di jalan kita," lanjut Rangga.

​Alya mendongak, menatap mata Rangga yang kini terlihat sangat tenang, seolah membunuh adalah hal yang paling logis untuk dilakukan. "Tapi ada hukum, Rangga! Kita bisa melapor!"

​Rangga tertawa rendah, sebuah tawa yang menyakitkan untuk didengar. "Hukum hanya untuk mereka yang punya waktu untuk menunggu. Aku tidak punya waktu jika itu menyangkut keselamatanmu. Mari kita pulang, Alya. Aku akan nurut kepadamu mulai sekarang, tapi mereka... mereka yang di luar sana tidak nurut. Mereka harus diajari cara menghormati apa yang menjadi milikku."

​Rangga menarik Alya keluar dari ruangan itu. Ia berjalan dengan tenang melewati mayat Bima tanpa penyesalan sedikit pun. Di dalam lift, ia terus menggenggam tangan Alya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Alya akan terbang menjauh.

​"Mas... apa yang akan kita lakukan setelah ini? Polisi akan datang," tanya Alya lemas.

​Rangga menatap bayangan mereka di cermin lift. Ia merapikan rambut Alya yang sedikit berantakan karena berlari tadi. "Jangan khawatir. Orang yang di telepon Bima tadi akan sangat sibuk membersihkan kekacauan ini jika dia tidak ingin namanya terseret. Kita akan pulang, mandi, dan tidur. Besok, Dirgantara Group akan memiliki pemimpin yang baru, dan kau... kau akan tetap menjadi ratuku."

​"Janji padaku, Mas... ini yang terakhir," bisik Alya pelan, sebuah janji yang ia tahu mungkin akan dilanggar lagi.

​Rangga mengecup kening Alya lama, sebuah ciuman yang terasa seperti segel abadi. "Selama mereka tidak menyentuhmu, aku akan menjadi suami paling manis di dunia. Tapi jika mereka mencoba lagi... aku akan meratakan dunia ini untukmu."

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!