Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan
Dua hari setelah pertemuan dengan keluarga Ardhana, suasana di antara Alina dan Arsen berubah bukan menjadi dingin, tapi menjadi terlalu hati-hati.
Mereka tetap sarapan bersama. Tetap berangkat ke kantor dalam satu mobil. Tetap berdiskusi soal bisnis seperti biasa.
Namun ada jeda kecil dalam setiap percakapan.
Jeda yang tak pernah ada sebelumnya.
Alina menyadarinya setiap kali Arsen menatapnya seolah ingin bertanya sesuatu, lalu memilih diam. Dan ia sendiri pun melakukan hal yang sama menahan kalimat yang hampir keluar.
Kepercayaan.
Kata itu terus terngiang di kepalanya.
Siang itu, Arsen mendapat kabar yang membuat suasana kantor kembali memanas.
“Ardhana Capital membeli lima persen saham kita pagi ini,” lapor direktur keuangan dalam rapat darurat.
Ruangan langsung riuh.
“Itu bukan pembelian biasa,” lanjutnya. “Mereka masuk melalui beberapa anak perusahaan, tapi jejaknya jelas.”
Arsen bersandar di kursinya, wajahnya tak menunjukkan panik.
“Lima persen bukan angka kecil,” gumam salah satu anggota dewan.
“Itu cukup untuk mengirim pesan,” sahut yang lain.
Semua mata beralih pada Arsen.
Dan secara refleks, ia menoleh ke arah Alina.
Tatapan mereka bertemu.
Ada banyak hal tak terucap di sana.
“Apa menurutmu ini kebetulan?” tanya Arsen pelan, kali ini langsung padanya.
Alina tahu ia sedang diuji.
“Tidak,” jawabnya jujur.
“Jadi?”
“Mereka ingin duduk di meja yang sama.”
“Sebagai sekutu?” tanya salah satu direktur.
“Atau pengendali?” balas yang lain.
Alina menarik napas perlahan. “Tergantung bagaimana kita merespons.”
Arsen menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Dan bagaimana seharusnya kita merespons?” tanyanya.
Itu bukan hanya pertanyaan bisnis.
Itu pertanyaan pribadi.
Alina menegakkan bahunya. “Jika kita menolak mentah-mentah, mereka akan meningkatkan tekanan. Jika kita menerima tanpa syarat, kita terlihat lemah.”
“Jadi?”
“Kita ajukan pertemuan ulang. Tapi kali ini, kita yang menentukan agendanya.”
Beberapa anggota dewan mengangguk setuju.
Arsen tidak langsung bicara. Ia hanya berkata singkat, “Lakukan.”
Rapat selesai.
Namun ketegangan baru saja dimulai.
Di ruang kerja pribadi Arsen, suasana lebih sunyi dari biasanya.
“Lima persen,” ucap Arsen pelan setelah pintu tertutup. “Kau tahu artinya?”
“Ya.”
“Dan kau masih ingin bilang kau tidak punya hubungan khusus dengan mereka?”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Tidak tajam. Tidak marah.
Tapi langsung ke inti.
Alina berdiri tegak di hadapannya.
Ini momen yang tidak bisa lagi ia hindari.
“Aku punya hubungan dengan mereka,” katanya akhirnya.
Keheningan langsung terasa lebih berat.
“Hubungan seperti apa?” tanya Arsen.
Alina menatap matanya gelap, dalam, menunggu.
“Mereka keluargaku.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti kaca pecah.
Arsen tidak langsung bereaksi.
Tidak ada ledakan. Tidak ada suara tinggi.
Hanya diam.
“Ulangi,” katanya pelan.
“Mereka keluargaku,” Alina mengulang, suaranya tetap tenang meski jantungnya terasa hendak keluar dari dada. “Ardhana Capital adalah perusahaan keluargaku.”
Arsen menghembuskan napas perlahan, lalu tertawa kecil tanpa humor.
“Jadi,” katanya pelan, “aku menikahi pewaris keluarga finansial terbesar di negeri ini… dan aku baru tahu sekarang.”
Bukan amarah yang paling menyakitkan.
Melainkan rasa dikhianati.
“Aku tidak menikahimu karena nama keluargamu,” lanjut Arsen, suaranya tetap terkendali tapi lebih rendah. “Aku pikir kau datang dengan alasan sederhana.”
“Aku memang datang untuk menyelamatkan perusahaan ayahku,” jawab Alina cepat. “Itu tidak berubah.”
“Tapi kau tidak pernah bilang kau punya kekuatan sebesar itu.”
“Aku ingin kau melihatku tanpa bayangan nama itu,” ucap Alina, akhirnya membiarkan emosinya terdengar. “Aku ingin tahu apakah kau akan menghormatiku tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya.”
“Dan sekarang?” tanya Arsen.
“Aku takut jika kau tahu, semuanya akan berubah.”
Keheningan panjang.
Arsen berjalan menjauh, berdiri di depan jendela seperti kebiasaannya saat berpikir.
“Kau mengujiku,” katanya pelan.
“Aku menguji situasi,” koreksi Alina.
“Jangan bermain kata.”
Ia berbalik, matanya kini jauh lebih tajam.
“Apakah seluruh tekanan ini bagian dari rencanamu?”
Pertanyaan itu seperti pisau.
“Tidak!” Alina menjawab cepat. “Aku memang meminta dewan memperlambat tekanan awalnya, tapi bukan untuk menghancurkanmu. Aku hanya ingin melihat bagaimana kau bertahan.”
Arsen terdiam.
“Jadi benar,” gumamnya. “Kau memang menarik benang dari belakang.”
Alina merasakan dadanya sesak.
“Aku tidak pernah ingin menjatuhkanmu,” katanya lebih pelan. “Jika kau gagal, aku akan menghentikannya.”
“Itu tidak membuatnya lebih baik.”
Ia benar.
Tidak ada cara membungkus ini agar terdengar indah.
“Kau bilang tidak bisa menerima pengkhianatan,” ucap Alina pelan. “Aku tahu.”
“Dan menurutmu ini apa?”
Air mata hampir muncul, tapi ia menahannya.
“Ini ketakutan,” bisiknya.
Arsen menatapnya lama.
“Aku tidak peduli kau pewaris atau bukan,” katanya akhirnya. “Yang kupedulikan adalah kau tidak mempercayaiku sejak awal.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan.
Karena ia benar.
Malam itu, Alina tidak tidur di kamar utama.
Ia duduk sendirian di ruang tamu, lampu redup menyinari wajahnya yang pucat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari pamannya.
“Semua berjalan sesuai rencana.”
Alina menatap pesan itu lama sebelum membalas.
“Tidak. Ini tidak sesuai rencanaku.”
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
“Emosi tidak pernah ada dalam rencana bisnis.”
Ia mematikan layar.
Mungkin benar.
Tapi ini bukan lagi sekadar bisnis.
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Arsen turun, masih mengenakan kemeja yang sama seperti sore tadi.
“Kita perlu bicara lagi,” katanya datar.
Alina berdiri perlahan.
“Aku tidak ingin keputusan diambil saat kita sama-sama emosi,” lanjutnya.
“Aku tidak emosi,” jawab Arsen. “Aku hanya mencoba memahami.”
Itu lebih buruk.
“Kau ingin tahu semuanya?” tanya Alina.
“Ya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, tidak ada lagi permainan.
Tidak ada strategi.
Tidak ada setengah kebenaran.
Hanya dua orang yang berdiri di tengah retakan yang mereka buat sendiri.
Alina menarik napas panjang.
Malam itu, ia tahu apa pun yang ia katakan selanjutnya akan menentukan apakah pernikahan kontrak ini berubah menjadi sesuatu yang nyata…
Atau benar-benar berakhir.
(BERSAMBUNG)