NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Waktu terus berlalu.

Malam itu begitu dingin. Di kamar Arif, Gea sudah tertidur nyenyak di bawah selimut, sedangkan Laras masih membuka mata, tatapannya tertuju ke atap kamar.

"Ugh, sakit perut, pengen ke kamar mandi," bisiknya pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke Gea.

"Gea udah tidur." Laras menarik napas, lalu duduk di ranjang. Pelan-pelan, dia menggeser dan menurunkan kakinya ke lantai.

Di ruang tengah, Arif tidak bisa tidur. Tatapannya sesekali tertuju pada Abdul yang tidur mengorok, terdengar begitu keras.

"Berisik banget, jir." Arif duduk, mengambil bantal. Saat akan melemparkannya ke muka Abdul, dia terhenti dan terdiam karena mendengar suara pintu terbuka.

Arif langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya. Terlihat Laras dengan hati-hati melangkah keluar sambil menutup kembali pintu kamar.

Arif yang sedang duduk memperhatikan, bahkan Laras tak menyadari Arif sedang duduk. Laras langsung melangkah pergi menuju kamar mandi.

"Kok Laras belum tidur?" bisik Arif pelan. dia pun menaruh bantal di tangannya, lalu berdiri dan melangkah untuk menemui Laras.

Arif melangkah masuk ke ruang dapur, sampai di depan pintu kamar mandi, langkahnya terhenti. dia berdiri dan menunggu

Beberapa saat berlalu. Arif bahkan begitu lelah menunggu sampai bersandar ke tembok di samping pintu kamar mandi.

Saat Laras selesai dari kamar mandi, dia membuka pintu dan melangkah keluar. Saat menutup pintu, Laras terkejut menatap Arif.

"Argh! han.." trial Laras, hingga terhenti karena Arif langsung berbicara,

"Sst... Jangan berisik. Lo ngapain malam-malam ke kamar mandi?" ucap Arif, tanganya di gerakan ke bibir Laras,

"I-itu abis..."

"Abis apa? Kok kaku gitu, sih?"

Laras menghela napas. "Jangan negatif. Aku abis buang air besar, tau. lagian kamu ngagetin."

"Kirain..."

"Kirain apa? Otak lo ngeres banget, sih. Eumm, lo juga kenapa belum tidur?"

"Nggak bisa tidur, nggak ngantuk." Arif menatap Laras, memegang tangannya lalu membawanya menuju pintu belakang.

"Mau ke mana?" tanya Laras, merasa heran.

"Udah, ikut aja." Arif membuka pintu dan berlalu keluar.

Di halaman belakang rumah, suasana begitu tenang, sepi, gelap, hanya penerangan dari lampu rumah. Di samping kursi meja, terdapat pagar yang membatasi halaman belakang. Arif membawa Laras lalu duduk di kursi itu.

"Kamu tunggu, aku bikin teh hangat dulu." Arif lalu melangkah pergi kembali masuk ke dalam ruang dapur.

Laras duduk sambil melihat sekeliling, merasakan suasana begitu dingin. Dalam hatinya dia berkata, "Ngapain malam-malam di luar?" gumamnya dalam hati.

"Kalau aku pikir-pikir, Arif itu baik, rajin, pandai masak, eh, apaan, gue jadi kepikiran Arif. Lagian aku sama dia cuma temenan," gumam Laras sambil menggelengkan kepalanya,

Arif membuatkan dua gelas teh hangat, melangkah dan duduk di kursi hingga berhadapan dengan Laras. Arif memberikan satu gelas untuk Laras.

"kamu lagi mikirin apa?" Tanya Arif, membuat Laras tersadar dari lamunannya. dia pun tersenyum menatap Arif.

"Nggak ada. Makasih udah bikinin teh hangat," ucapnya.

"Sama-sama. Aku ngajakin kamu ke sini, buat cerita sama kamu."

"Mau ceritain apa emang?"

"Aku nggak tau kenapa ya, Papa nikah lagi. Aku nggak nyaman banget punya Mama baru. Walaupun Mama baik, sayang sama aku, tapi aku rasa kaya perhatiannya nggak bisa digantikan kaya Mama kandung aku." Arif menatap lekat dan begitu serius.

"Eumm, coba kamu berikan ruang di dalam hatimu, Rif, untuk Ibu angkat kamu. Pasti nanti kamu pasti akan menerima lebih baik."

"Tapi aku nggak bisa."

"Coba dulu."

"Baiklah, aku akan coba." Arif menganggukkan kepalanya, menghela napas lalu kembali berbicara, "Laras," ucapnya terhenti.

"Kenapa, Rif?"

"Sebenernya..." Arif terhenti berbicara, dalam hatinya berkata, "Masa iya sih, baru beberapa hari kenal, aku langsung tembak dia gitu ajah? Tapi aku suka banget sama dia, gimana kalau ada yang lain?" gumam Arif, dengan tatapan begitu lekat.

Laras merasa bingung, lalu dia pun berbicara, "Rif, kamu bicara apa? Kok malah diam?" Tanya Laras.

"Eh, sebenernya udah malam, kamu belum ngantuk?" Arif tersenyum dengan kedua alis diangkat.

"Iya sih, besok sekolah. Baru masuk sekolah udah mulai bolos lagi. Kalau gitu aku tidur ya, Rif," Ucap Laras, lalu dia berdiri dari kursi itu.

"Laras," Panggil Arif dengan tatapan begitu lekat ke arahnya.

"Kenapa?" Laras berdiri sambil menatap.

"Eum, habisin dulu minumannya."

Laras mengangguk lalu kembali duduk. Tangannya pun mengambil gelas, memegang erat, lalu meminumnya.

Arif menatapnya dengan senyuman. Arif tiba-tiba berbicara pelan, "Laras cantik banget," Ucapnya pelan.

"Apa, Rif?" tanya Laras menatap begitu lekat.

"Enggak, enggak, nggak ada."

"Aku tadi denger, kamu bilang cantik, siapa yang cantik?" Tanya Laras penuh penasaran.

"Kamu cantik banget."

"Aku biasa aja tau," Laras menunduk, merasa malu karena dibilang cantik. Lalu Laras kembali berbicara, "A-aku, tidur ya," ucapnya dengan terbata-bata.

"Iya, silakan," Arif sambil tersenyum.

Dengan buru-buru, Laras berdiri. dia langsung melangkah pergi masuk ke dalam rumah, sedangkan Arif masih saja duduk, tersenyum sendiri.

"Kenapa gue bilang sih, kan gue yang malu jadinya, agrh," bisiknya. Arif menghela napas, "Udah lah, udah malam, harus tidur, biar nggak kesiangan," Arif berdiri, dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah.

Dalam pikiran, Arif terus terbayang-bayang dengan apa yang dikatakan, hingga membuat Laras merasakan malu.

Sampai langkah Arif masuk ke ruang keluarga, dia langsung melangkah dan duduk, senyuman terus hadir di dalam pikirannya.

Sampai dia membaringkan diri, ingatan sama sekali tak bisa dia lupakan, perkataan terus teringat saat berbicara.

Bahkan bukan hanya Arif, Laras yang sedang berbaring di dalam kamar, dia tersenyum-seyum, bahkan dalam hatinya berkata, "Kenapa Arif bilang begitu, kan jadi salting," gumamnya dengan wajah tersenyum.

"Kok aku rasa nyaman banget sama Arif? Udah berkali-kali dideketin cowok, tapi Arif udah memberikan banyak pelajaran," gumamnya, dengan tatapan tertuju ke atap kamar.

"Ahhh, kenapa aku jadi kepikiran terus?"

Laras menarik napas kasar, perlahan dia menutup matanya, namun dalam pikiran terus hadir dengan kenyataan.

"Susah banget buat tidur. Kenapa kepikiran Arif terus?" bisiknya, sambil membuka mata lebar-lebar.

Hingga hari berlalu. Ryuken dan Abdul terbangun dari tidur. Mereka berdua duduk, tatapan Ryuken tertuju ke Arif.

"Rif, bangun, Rif," panggil Ryuken dengan keras.

Arif masih saja tidur, di atas kasur lantai, saat Abdul berdiri dan kembali berjongkok di depan Arif.

Saat Abdul akan membangunkan, terdengar suara pintu kamar terbuka. Abdul terhenti lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar Arif.

"Kalian udah pada bangun?" tanya Gea sambil menutup pintu kamar itu.

"Tinggal si Arif, masih tidur, perasaan semalam dia tidur duluan dah," Ryuken merasa bingung, karena dia tau, tetapi kenyataan Arif hanya menutup matanya,n

"Iya, aneh banget, padahal dia yang tidur duluan," Abdul sambil berdiri.

"Sama kek Laras, susah dibanguninnya. Mana udah jam 6, kalau gitu aku mau duluan ke sekolah deh," Gea sambil menatap Abdul.

"Yaudah, bre, kita tinggal aja lah si Abdul," Ryuken menatap Abdul.

"eh janagn, tapi gue mau ikut mandi dulu ya," Abdul menatap Ryuken, lalu mengalihkan tatapannya ke Gea.

"Kalau gitu aku duluan ya," Gea lalu melangkah pergi untuk ke ruang depan.

"Gea tunggu, aku ikut ya," ucap Abdul dengan keras.

"Sama Ryuken aja," jawab Gea yang berlalu pergi untuk keluar rumah.

Abdul mengalihkan tatapannya ke Ryuken, lalu dia pun berbicara, "Ry, kita bareng ya," Ucap Abdul sambil tersenyum tipis.

"Iya, ayok," jawab Ryuken.

"Gue mau numpang mandi dulu tapi."

"Yaudah, gue tinggal aja."

"Tapi bau kalau nggak mandi."

"Lo Mau mandi nggak mandi juga, sama aja sih." Ryuken sambil tersenyum, lalu melangkah pergi untuk keluar rumah, Abdul terpaksa mengikuti dari belakang,

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!