Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Lampu merah ambulans membelah kegelapan malam dengan raungan sirine yang menyayat hati.
Di dalamnya, Adnan menggenggam tangan Kinan yang terasa sedingin es.
Darah di kemeja putihnya sudah mulai mengering, namun debaran jantungnya justru semakin kencang karena ketakutan yang luar biasa.
Sesampainya di rumah sakit, tandu besi itu didorong dengan tergesa-gesa oleh para perawat menuju ke ruang UGD.
Adnan terpaksa melepas pegangan tangannya saat pintu ganda itu tertutup rapat, menyisakan dirinya sendirian di lorong rumah sakit yang sunyi dan beraroma karbol yang tajam.
Adnan jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin.
Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih berbekas noda merah.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah tanpa suara di balik jemarinya.
"Ya Allah, hamba salah. Maafkan hamba, ya Allah..." bisik Adnan dengan suara yang serak dan penuh kepedihan.
Pikirannya melayang pada kata-kata terakhir Kinan sebelum terjatuh.
"Ceraikan aku saja," Kalimat itu terasa lebih tajam daripada silet yang mengiris jantungnya.
Ia membayangkan betapa hancurnya perasaan Kinan: tidak makan seharian, bekerja keras menyiapkan lima puluh porsi makanan demi menjaga nama baik suami, namun justru dibalas dengan pengabaian dan tuduhan keji di depan umum.
"Aku yang membunuhnya perlahan dengan keraguanku," ratap Adnan dalam hati.
"Aku lebih percaya pada fitnah luar daripada ketulusan istriku sendiri."
Tak lama kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar di lorong.
Kyai Mansyur datang bersama beberapa santri senior.
Wajah sang ayah tampak sangat menyesal dan penuh duka.
Ia melihat putranya yang hancur berkeping-keping di depan ruang UGD.
"Adnan..." panggil Kyai Mansyur lembut, sambil meletakkan tangan di bahu putranya.
Adnan mendongak, matanya merah dan sembab. "Abah... Kinan, Bah. Kinan jatuh dari tangga setelah minta cerai dariku. Dia belum makan apa pun karena mengurus pesanan cumi itu, tapi aku malah membiarkannya dipermalukan..."
Kyai Mansyur menghela napas berat, air mata juga menggenang di sudut mata tuanya.
"Sabar, Nak. Abah sudah mengurus semuanya di pondok. Fauziah sudah Abah keluarkan secara tidak hormat dan akan Abah serahkan ke pihak berwajib atas tindakan fitnah dan perusakan nama baik. Tapi sekarang, fokus kita adalah keselamatan Kinan."
Adnan menganggukkan kepalanya sambil menatap lampu merah.
Tak berselang lama pintu UGD terbuka perlahan. Seorang dokter keluar dengan wajah yang tampak sangat serius, membuat Adnan dan Kyai Mansyur serentak berdiri dengan jantung yang seolah berhenti berdetak.
Lorong rumah sakit yang biasanya sibuk, seketika terasa senyap saat pintu ganda ruang UGD terbuka perlahan.
Adnan dan Kyai Mansyur serentak berdiri, menatap dokter yang keluar dengan wajah yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan dan keprihatinan yang mendalam.
"Bagaimana istri saya, Dokter?" suara Adnan tercekat di tenggorokan, tangannya mencengkeram pinggiran kursi tunggu hingga memutih.
Dokter menghela napas panjang, melepaskan maskernya.
"Dokter mengatakan Kinan sempat sadar beberapa saat yang lalu. Kondisinya sangat tidak stabil, ia sempat gelisah hebat dan berteriak memanggil Adnan berkali-kali dengan nada yang sangat menyayat hati."
Harapan sempat membuncah di dada Adnan mendengar namanya dipanggil. Namun, kalimat dokter selanjutnya bagai hantaman gada yang meruntuhkan seluruh pertahanannya.
"Sampai akhirnya sekarang ia membuka matanya dengan tatapan kosong dan tidak ada kesadaran sama sekali. Secara medis, tubuhnya ada di sini, tapi kesadarannya seolah terkunci. Benturan di kepalanya cukup keras, ditambah kondisi fisiknya yang sangat lemah karena dehidrasi dan perut kosong," lanjut dokter dengan nada rendah.
Adnan terhuyung, beruntung Kyai Mansyur sigap menahan bahunya.
Dengan langkah yang lunglai dan gemetar, Adnan diizinkan masuk ke dalam ruang perawatan intensif.
Di dalam sana, pemandangan itu jauh lebih menyakitkan daripada bayangan kematian sekalipun.
Adnan melihat istrinya yang terdiam dengan mata terbuka, namun binar yang biasanya menghiasi mata itu telah sirna.
Kinan menatap lurus ke langit-langit, tak berkedip, tak bereaksi sedikit pun saat Adnan menggenggam tangannya yang dipasang selang infus.
"Sayang, jangan hukum aku seperti ini..." ucap Adnan dengan suara pecah.
Air matanya jatuh membasahi punggung tangan Kinan yang dingin.
"Pukul aku, maki aku, atau ceraikan aku seperti yang kamu minta tadi, tapi tolong jangan diam seperti ini. Bicaralah, Kinan. Lihat aku..." ratap Adnan, namun Kinan tetap bergeming.
Ia seperti boneka porselen yang indah namun tak bernyawa.
Teriakan histeris memanggil nama Adnan tadi seolah menjadi sisa terakhir dari jiwanya yang kini memilih untuk "pergi" karena terlalu sakit untuk tinggal.
Kyai Mansyur yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menunduk dalam doa.
Ia menyadari bahwa fitnah Fauziah bukan hanya melukai kulit, tapi telah menghancurkan kewarasan menantunya yang malang.
Di luar jendela, hujan mulai turun membasahi bumi, seolah ikut menangisi keheningan yang mencekam di ruangan itu.
Pagi itu, aroma karbol rumah sakit terasa semakin menyesakkan bagi Adnan.
Ia belum beranjak seinci pun dari samping tempat tidur Kinan.
Matanya merah, penampilannya kusut, dan hatinya hancur berkeping-keping setiap kali menatap mata Kinan yang masih terbuka lebar namun tak menatap apa pun.
Kesadaran istrinya masih terkunci di suatu tempat yang tak bisa ia jangkau.
Suasana hening itu pecah saat pintu kamar rawat terbuka.
Keesokan harinya, kunjungan Tuan Aris dan Ustadz Yusuf bersama rekan lainnya memenuhi ruangan setelah mereka mendapatkan kabar tentang Kinan.
Wajah Tuan Aris tampak mendung, penuh kekecewaan yang mendalam.
Ia berjalan mendekat, menatap sosok Kinan yang terbaring kaku dengan selang infus, lalu beralih menatap Adnan yang tertunduk lesu.
Tuan Aris menghela napas panjang, suara napasnya terdengar berat, seolah memikul beban kekecewaan yang besar terhadap guru yang selama ini ia banggakan.
"Semua orang punya masa lalu, dan seharusnya Anda tahu apa Tabayyun itu, Ustadz Adnan," ucap Tuan Aris dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ketegasan.
Adnan semakin menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata pria yang telah memberinya kesempatan kedua itu.
"Anda adalah seorang pengajar, seorang ahli agama. Anda tahu betul perintah Allah untuk memeriksa kebenaran sebuah berita sebelum bertindak. Tapi apa yang Anda lakukan?" lanjut Tuan Aris.
"Tidak langsung menuduh istri Anda. Apalagi setelah semua dedikasi yang ia berikan untuk Anda dan pondok kita."
Ustadz Yusuf yang berdiri di samping Tuan Aris juga tampak sangat menyesal.
"Ustadz Adnan, lima puluh porsi cumi yang Kinan masak kemarin, keluarga saya memakannya dengan penuh rasa syukur. Mereka memuji kebersihan hatinya lewat rasa masakan itu. Saya tidak menyangka, di balik keikhlasannya menyiapkan hidangan itu, ia sedang menahan luka karena tuduhan suaminya sendiri."
Adnan hanya bisa terisak pelan. Kata-kata "tabayun" itu menghantamnya lebih keras dari apa pun.
Ia telah gagal menerapkan ilmu yang ia ajarkan kepada orang lain justru kepada orang yang paling berhak mendapatkannya: istrinya sendiri.
"Kinan adalah aset berharga bagi kami, baik sebagai desainer maupun sebagai bagian dari keluarga pondok," tambah Tuan Aris lagi.
"Saya sangat kecewa, Adnan. Karena kecerobohanmu, kita mungkin akan kehilangan sosok semulia dia."
Tuan Aris meletakkan tangannya di bahu Adnan yang bergetar.
"Sekarang, berdoalah. Semoga Allah mengembalikan kesadaran Kinan. Dan jika ia bangun nanti, bersiaplah untuk menerima keputusan apa pun darinya. Karena luka di hati akibat fitnah terkadang lebih sulit sembuh daripada luka di kepala."
Setelah rombongan itu pergi, ruangan kembali sunyi.
Adnan menggenggam tangan Kinan, menciumnya berkali-kali dengan air mata yang mengalir deras.
"Bangunlah, Sayang. Mas janji akan memperbaiki semuanya. Tolong beri Mas satu kesempatan untuk menebus dosa Tabayyun yang Mas lupakan ini," bisik Adnan di telinga Kinan, berharap keajaiban datang menjemput kesadaran istrinya.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅