NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam Belas — Aroma yang Tersamarkan

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka ya...

Jika kota terasa seperti menahan nafas, hutan terasa seperti mengawasi. Angin bergerak pelan di antara batang-batang besar, membuat dedaunan berdesir lembut. Jay langsung memberi isyarat menyebar setengah lingkaran .

Jay langsung memberi isyarat menyebar setengah lingkaran. “Jangan berdiri di mulut saluran. Jejak kita terkumpul di sini.” Niki dan Regan langsung menghapus bekas pijakan tanah di dekat pintu keluar. Lyno membantu menarik beberapa ranting untuk menutupi bekas lumpur yang terbawa di kaki mereka.

Arsya menatap ke dalam hutan. Aroma tanah basah dan daun liar langsung menyamarkan bau mereka. Ia bisa merasakannya—udara di sini bergerak lebih bebas. Tidak terperangkap seperti gang sempit.

“Kita benar-benar keluar…” bisik salah satu dari kelompok Lyno. Jay tidak langsung menjawab. Ia berlutut, menyentuh tanah, dingin. Baik untuk menyamarkan jejak panas tubuh.

Jay berdiri, ia berpikir jika kanihu yang mengikuti mereka tentunya ada getaran di belakang mereka namun Alpha berbeda, dia mungkin memilih berjalan pintas bukan lewat jalur mereka melainkan jalur lain.

Sebelum terlambat, mereka langsung bergegas berlari menuju arah lain, Jay yang sedikit paham tentang hutan perbatasan ini langsung mengarahkan mereka untuk masuk lebih dalam lagi. Hutan ini sangat luas. Jika Kanihu dan Alpha benar-benar mengejar mereka kemungkinan tipis jika kita akan bertemu dengan mereka. Kecuali hidung penciuman mereka lebih tinggi dari seekor anjing.

“Ke kiri—jangan lurus!” bisik Jay tajam.

Ia langsung memotong jalur alami dan membawa mereka masuk lebih dalam, bukan mengikuti jalan setapak lama yang kemungkinan pernah dipakai pemburu. Semakin tidak beraturan jalurnya, semakin sulit dilacak.

Mereka berlari. Ranting-ranting kecil menyambar kaki. Daun kering bergerak pelan di bawah pijakan, nafas mulai memburu tapi tak ada yang berani melambat. Hutan ini luas, sangat luas.

Batang-batang pohon besar menciptakan labirin alami. Semakin masuk, cahaya semakin terpecah oleh kanopi daun tebal di atas mereka. Jay melompat melewati batang tumbang dan berbisik cepat, “jangan dalam satu garis! Pecah formasi zig-zag!”

Mereka langsung mengikuti—tidak berlari luru, tapi berpola acal. Itu teknik lama pemburu untuk mengacaukan jejak. Arsya menarik Lyno agar tetap di dekatnya, tapi tidak tepat di belakangnya. Regan membantu dua orang lainnya menjaga jarak antar langkah.

Niki sempat berbisik di sela nafas, “kalau penciuman mereka setajam anjing—” Jay menjawab tanpa menoleh, “Anjing butuh arah angin.” seolah mendengar itu, angin hutan berhembus dari sisi kanan mereka, membawa aroma tanah dan dedaunan basah.

Bagus. Aroma manusia akan cepat bercampur. Namun Jay belum sepenuhnya tenang. “Tapi jika Alpha lebih pintar,” lanjutnya pelan, “dia tidak akan mengandalkan hidung.” Arsya menoleh sekilas. “Maksudmu?”

“Dia akan membaca tujuan.”

Semua terdiam.

Jika mereka adalah mangsa yang berpikir, maka arah paling logis adalah menjauh dari kota dan masuk ke wilayah yang sulit dijangkau. Artinya, hutan memang pilihan paling cerdas. Tapi juga pilihan yang bisa diprediksi. Mereka terus berlari hampir sepuluh menit tanpa henti, sampai Jay mengangkat tangan memberi tanda berhenti mendadak. Semua langsung merunduk.

Sunyi.

Hanya suara nafas berat. Jay berlutut menyentuh tanah lagi, tidak ada getaran yang ia rasakan, tidak ada ranting patah maupun gema langkah kolektif.

Hanya hutan. Untuk saat ini, mereka tidak dikejar secara langsung. Lyno berbisik, “berhasil?” Jay berdiri perlahan, menatap sekeliling. “Belum tentu,” ujarnya jujur.

Karena jika Alpha benar-benar berpikir seperti manusia, maka ia tahu bahwa mereka akan berlari sejauh mungkin sebelum akhirnya berhenti karena lelah. Dan saat itulah perburuan tahap berikutnya di mulai.

Jay memperlambat langkahnya, “jangan luruskan pandangan. Lihat pijakan kaki kalian sendiri,” ujarnya pelan. Ia berbelok lagi. Lalu memutar, lalu menyilang di antara dua pohon besar yang batangnya hampir menyatu seperti gerbang alami. Arsya mulai menyadari sesuatu.

Arah matahari tadi ada di kiri mereka. Sekarang… seperti kembali ke posisi yang sama. Alisnya berkerut. “Jay… kita berputar ya?”

Jay tidak langsung menjawab. Ia hanya terus berjalan beberapa langkah lagi sebelum akhirnya berhenti di sebuah area yang tampak tidak berbeda dari yang lain—pohon tinggi, semak lebat, dan tanah lembab.

Jay tidak langsung menjawab pertanyaan Arsya. Namun Arsya memperlambat langkahnya sedikit.

“Jay, ini kita ke arah mana? Suasananya kok seperti kita sedang berputar - putar.”

Beberapa  yang lain mulai menyadari hal yang sama. Regan menoleh ke belakang. “Aku juga merasa kita lewat sini tadi.”

Jay akhirnya berhenti. Ia menoleh, bukan dengan wajah tegang—melainkan dengan senyum tipis yang justru membuat suasana sedikit ganjil. “Bagus.” katanya

Arsya mengernyit. “Bagus apanya?”

Arsya masih menatap sekeliling, memastikan ingatannya tidak salah. “Mungkin lebih ke mirip, Sya. Jalannya dan situasinya mirip dengan ketika kita masuk ke dalam hutan, tapi tentu saja aku tidak mungkin mengarahkan kamu ke jalan sesat.”

Nada Jay santai. Terlalu santai untuk situasi seperti ini. “Kamu,” potong Niki datar, “padahal disini banyak orang.” beberapa dari kelompok Lyno saling pandang, canggung.

Jay menoleh sinis. “Iri bilang, bos.”  niki langsung memutar bola matanya malas. “Ge-er.” Arsya mendesah pelan. “Kalian bisa tidak, berhenti dua menit saja?” Lyno menahan senyum kecil. Bahkan Regan yang biasaya tegang terlihat sedikit lebih ringan.

Namun Jay segera kembali serius. “Sudah. Kita lanjut jalan.”

Lyno diam, namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Sejak tadi ia memperhatikan. Cara Jay selalu berjalan sedikit di depan Arsya, cara kakaknya yang tanpa sadar mencari posisi di dekat Jay saat situasi genting, atau tangan mereka sempat saling menggenggam tanpa banyak tanya.

Perjalanan mencari dirinya, mungkin bukan hanya tentang bertahan hidup. Mungkin ada sesuatu yang tumbuh di sela-sela ketakutan itu. Lyno menunduk pelan, pura-pura membersihkan lumpur di sepatu nya. Regan yang berdiri di sebelahnya berbisik sangat pelan, “kakakmu dekat dengan Jay, ya?” Lyno tidak langsung menjawab. Ia menatap Jay yang sedang berdiri berjaga, siluetnya tegas di antara akar pohon besar.

“Sepertinya,” jawab Lyno akhirnya.

Arsya menarik nafas perlahan.

Masuk, tahan dan keluar.

Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah  karena lari tadi.. Atau karena hal lain. Tanpa sadar, matanya kembali terangkat.

Jay sedang berdiri sedikit lebih tinggi di atas akar pohon, mengawasi perimeter. Angin membuat rambutnya bergerak tipis.. Rahangnya tegas dan fokus.

Seolah tak terganggu apapun. Namun tepat saat Arsya menatap– Jay menoleh. Tatapan mereka bertemu, hanya sepersekian detik. Lalu sama-sama berpaling secepat mungkin, telinga Jay memerah. Pipi Arsya ikut menghangat.

Hening beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Niki yang melihat interaksi kecil itu hanya menghela nafas pelan, “drama di tengah kiamat.” gumamnya lirih, cukup pelan tapi tetap terdengar.

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan vote yaa.. kita lanjut besok jam 10.00am

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!