Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Siang ini Mingyu sudah rapi, dia mengenakan pakaian sederhana, karna menurutnya sangat leluasa, Mingyu juga hanya memakai aksesoris kepala alakadarnya.
''Nona, hari ini kita mau kemana?'' tanya Xiao Fei.
''Kedai Mi'' jawab Mingyu.
''Nona ingin makan mi?'' tanya Xiao Fei.
''Hem, kamu benar''
Kemarin saat pergi mencari hadiah untuk Ibu Suri, Mingyu tidak sengaja melihat ada kedai mi yang lokasinya ada di pinggiran sungai, bukan karna ingin makan mi nya, tapi Mingyu ingin menikmati pemandangannya, karna selain ada pemandangan sungai di sana juga ada gunung yang menjulang tinggi.
Setelah merasa sudah siap, Mingyu segera meninggalkan kamarnya, tapi sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk menemui Jendral Rong terlebih dahulu, bagaimanapun juga dirinya tetap harus menghormati Jendral Rong sebagai suaminya, jadi sebelum pergi dia berpamitan terlebih dahulu.
''Paman Han, dimana Pangeran?'' tanya Mingyu saat berpapasan dengan Paman Han.
''Pangeran ada di halaman belakang, Nona''
Tanpa bertanya lagi Mingyu langsung bergegas ke halaman belakang, dan benar saja dia melihat Jendral Rong bersama Han Bing, entah sedang apa mereka berdua, tapi terlihat seperti sedang membahas sesuatu.
''Pangeran''
Jendral Rong dan Han Bing sontak menoleh bersamaan.
''Ada apa?'' tanya Jendra Rong saat Mingyu berjalan menghampirinya.
''Saya izin mau jalan jalan ke pusat kota'' ucap Mingyu.
Jendral Rong mengerutkan dahinya. ''Kalau aku tidak mengizinkannya bagaimana?'' goda Jendral Rong.
''Saya tidak perduli, saya akan tetap keluar'' sahut Mingyu.
Jendral Rong seketika mendengus. ''Terus untuk apa kamu izin''
''Tidak ada, takut Pangeran panik, kalau tahu saya tidak ada di kediaman'' tukas Mingyu membuat Jendral Rong langsung membuang mukanya.
''Ck, percaya diri sekali kamu'' cetusnya.
Mingyu memutar bola matanya jengah. '' Terserahlah, saya mau berangkat dulu, ayo Fei'' ucapnya sembari berlalu pergi begitu saja.
Jendral Rong menatap kesal ke arah punggung Mingyu yang perlahan menghilang.
''Ck, wanita itu menyebalkan sekali'' decaknya.
Han Bing yang sejak tadi hanya menjadi penonton, diam diam mengulum senyum.
''Bing''
''Iya Pangeran''
''Suruh beberapa pengawal untuk mengikuti mereka'' perintah Jendral Rong.
''Baik Pangeran''
Di depan sebuah kedai mi yang terletak di tepi sungai, Han Bing menggelengkan kepalanya saat melihat Tuannya memakai penutup kepala untuk menutupi wajahnya, yang katanya agar tidak di kenali oleh Nonanya.
Beberapa saat yang lalu, saat Han Bing hendak pergi untuk memerintahkan beberapa pengawal agar mengikuti Nonanya, tiba tiba Tuannya melarangnya, dia pikir Tuannya memang sengaja mengurungkannya, tapi ternyata Tuannya sendiri yang diam diam mengikuti Nonanya ke kedai mi.
''Han Bing, apa makanan di sini enak?'' tanya Jendral Rong menatap papan nama yang menggantung di atas pintu masuk, dengan berkacak pinggang.
''Saya kurang tahu Pangeran'' jawab Han Bing.
''Memangnya kenapa, Pangeran?'' lanjutnya bertanya.
''Tidak papa, hanya penasaran saja, soalnya barusan aku lihat Mingyu semangat sekali saat masuk ke sini'' sahut Jendral Rong.
''Ayo masuk''
''Baik Pangeran''
Saat baru melangkah masuk, Jendral Rong sudah di buat terbatuk batuk, ketika aroma cabai menusuk hidungnya.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
''Pangeran, anda baik baik saja?'' tanya Han Bing kahwatir.
'' Sudah ku bilang, jangan panggil aku pangeran, nanti Mingyu curiga'' tegur Jendral Rong menatap tajam Han Bing.
''Ah, iya maaf, saya lupa pa,, maksud saya Tuan Muda'' timpal Han Bing.
''Ck'' decak Jendral Rong.
Setelah merasa baik baik saja Jendral Rong kembali menegakkan badannya, dia menelisik mencari keberadaan Mingyu, dan ternyata istrinya duduk di dekat jendela yang menghadap ke arah gunung yang menjulang tinggi.
''Bing, ayo ke sana'' ajak Jendral Rong.
''Gabung sama Nona?'' tanya Han Bing.
Satu geplakan dari Jendral Rong, melayang tepat di kepala Han Bing.
Plak
''Bodoh, tentu saja tidak'' ketusnya. ''Kita duduk di meja sebelahnya''
''Iya Tuan Muda''
Han Bing mengikuti Tuannya sembari mengusap kepalanya.
Mingyu yang sedang mengobrol dengan Xiao Fei, tidak begitu perduli dengan dua orang laki laki yang duduk di meja sebelahnya, dan kebetulan saat ini pengunjung di kedai hanya ada mereka berempat, entah memang sepi pengunjung atau ada jamnya mereka tidak ada yang tahu.
Jendral Rong menatap heran pada makanan di depannya, yang baru saja di antar oleh pelayan, lalu dia mendongak menatap ke arah Han Bing yang begitu santai melahap mi pesanannya.
''Apa iy mi seenak itu?'' gumamnya bertanya tanya, pasalnya selama ini Jendral Rong selalu makan makanan yang tidak mengandung minyak, dan itu juga yang menjadikan fisik Jendral Rong selalu terlihat segar dan sehat.
Dan saat hendak mencoba mi di depannya, Jendral Rong di kagetkan denga kedatangan tiga pria berbadan besar yang tiba tiba menendang kursi hingga terlempar.
Duag
Brakk
Han Bing bangkit untuk mengur tiga pria itu, karna sudah membuat Tuannya kaget, tapi Jendral Rong menahannya.
''Duduklah, kita pantau dulu, apa yang ingin mereka lakukan'' ucap Jendral Rong.
''Baik Tuan''
Dan ternyata kedatangan tiga pria itu, hanya ingin merampok uang pemilik kedai.
Xiao Fei gemetar saat melihat salah satu dari perampok itu berjalan ke arah mereka.
''No,,, Nona, me,, mereka ada yang ke sini'' bisik Xiao Fei dengan bibir gemetar.
Sedangkan Mingyu dia malah terlihat santai menikmati mie yang tinggal setengah.
''Hai Nona'' goda pria itu menatap penuh nafsu ke arah Mingyu.
''Jangan mengganggu makanku'' tegur Mingyu.
Di meja samping, wajah Jendral Rong sudah merah padam, saat melihat Mingyu di goda oleh perampok itu.
"Tamatlah kalian, beraninya menggoda Nona Lu di depan suaminya" batin Han Bing saat melihat amarah di wajah Jendral Rong.
''Jangan galak galak" goda pria itu hendak menyentuh dagu Mingyu.
Jendral Rong yang melihat itu langsung bangkit dengan kasar, bahkan kursi yang di dudukinya sampai ambruk, dan saat hendak beringsut maju untuk menendang perampok yang menggoda Mingyu, dia di buat kaget saat pria itu tiba tiba berteriak.
Akhhhhh
Jendral Rong membulatkan matanya, saat melihat Mingyu menjepit jari pria itu menggunakan sumpit, begitu juga dengan Han Bing, dia juga langsung reflek membalikkan badannya untuk melihat apa yang terjadi, dan matanya membola melihat Nona Mudanya.
''Sudah ku bilang, jangan mengangguku'' ucap Mingyu.
Setelah itu dia menendang bagian bawah pria itu dengan keras.
Duag
Brukk
''Akhh,,, sakit sakit'' ringis pria itu sembari memegang pusakanya yang sangat ngilu.
Melihat temannya kesakitan, salah satu dari mereka ingin menghajar Mingyu, tapi baru jarak satu meter, Mingyu mengayunkan kakinya, dan mendarat tepat di kepala pria itu, membuatnya langsung tersungkur tepat di bawah kaki Mingyu.
Wush
Dug
Brukk
''Dasar, wanita sialan, aku hajar kamu'' ucap satunya bergerak maju untuk memukul Mingyu, tapi dengan gesit Mingyu membungkukkan badannya, lalu mendaratkan tinjuannya di perut pria itu.
Duggg
Brukk
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Ketiga pria itu di buat tersungkur oleh Mingyu, dengan posisi Mingyu masih di tempatnya, lalu dia dengan santai duduk kembali di kursinya, dan menyilangkan kedua kakinya.
''Sudah ku bilang, jangan menganggu makanku'' ucap Mingyu.
Ketiga pria itu tidak terima di kalahkan oleh wanita dengan mudah, lalu mereka maju bersamaan untuk melawan Mingyu.
''Xiao Fei, mana sumpitmu'' pintu Mingyu.
Xiao Fei langsung memberikan sumpitnya pada Nonanya.
Mingyu berdiri dan beringsut maju, dia melawan sendiran ketiga perampok itu menggunakan sumpit kecil, dan dalam hitungan menit ketiga pria berbadan besar itu sudah di buat cacat jari jari tangan dan kakinya, hanya menggunakan sumpit saja.
''Nona, ampun, kami mengaku kalah'' ucap salah satu dari mereka, sembari bersujud di depan Mingyu, mereka tidak menyangka kalau wanita yang mereka lawannya ternyata sehebat itu.
''Ck, lemah, untung tidak aku buat buta sekalian'' ejek Mingyu sembari melempar sumpit yang di pegangnya ke depan tiga pria itu, lalu beranjak pergi dari kedai mi, dan di susul oleh Xiao Fei.