Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mahkota Tak Kasatmata dan Kehancuran Musuh
Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika Nadin Kirana berdiri di depan cermin raksasa di dalam ruang ganti penthouse.
Sisa-sisa kelelahan dari pergumulan panjang pagi tadi masih terasa di setiap persendiannya, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya hari ini. Ketakutan yang selama ini selalu menjadi bayang-bayang di setiap langkahnya telah menguap tak tersisa. Sebagai gantinya, sebuah rasa percaya diri yang tajam dan sedikit arogan mulai mengalir di dalam pembuluh darahnya.
Nadin menatap pantulan dirinya sendiri. Dia mengenakan setelan kerja yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya dia selalu memakai kemeja tertutup untuk menyembunyikan jejak kepemilikan Gilang, hari ini dia memilih sebuah gaun kerja berpotongan tegas berwarna biru malam. Gaun itu memiliki kerah berbentuk huruf V yang cukup dalam, menampilkan kulit leher dan tulang selangkanya dengan jelas, tempat di mana tanda kemerahan bekas gigitan Gilang masih tercetak samar.
Dia tidak lagi merasa perlu menyembunyikan tanda itu. Tanda itu bukan lagi sebuah aib pengkhianatan, melainkan sebuah mahkota tak kasatmata yang menyatakan bahwa dia berada di bawah perlindungan mutlak pria paling berkuasa di kota ini. Cincin ruby di jari manisnya berkilau memantulkan cahaya lampu gantung, melengkapi penampilannya sebagai ratu dari sang iblis.
Sepasang lengan yang kekar dan hangat melingkar di pinggang Nadin dari belakang.
Gilang Mahendra menempelkan dada bidangnya ke punggung Nadin, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Pria itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas hitam pekat yang dijahit khusus, siap untuk memimpin rapat darurat dewan direksi. Aroma parfum vetiver yang khas segera membungkus indra penciuman Nadin.
"Kau terlihat sangat berbahaya siang ini, Nadin," bisik Gilang dengan suara bariton yang rendah. Mata hitam pria itu menatap pantulan Nadin di cermin, menyapu setiap lekuk tubuh wanita itu dengan tatapan lapar yang tidak pernah padam. "Seolah kau siap untuk menghancurkan sebuah kerajaan."
"Bukankah itu tujuan kita mengadakan rapat darurat siang ini, Gilang?" balas Nadin dengan nada tenang dan penuh keyakinan. Dia memiringkan kepalanya sedikit, memberikan akses lebih bagi bibir Gilang untuk mengecup lehernya. "Menghancurkan kerajaan Wirawan Group hingga tidak tersisa satu batu bata pun."
Gilang menggeram pelan, sebuah suara yang dipenuhi oleh kebanggaan dan gairah. Pria itu sangat menyukai perubahan ini. Nadin tidak lagi menunduk atau gemetar saat berbicara tentang kehancuran musuh mereka. Wanita ini telah sepenuhnya menyerap kegelapan yang Gilang tawarkan dan menjadikannya sebagai senjata barunya.
"Tepat sekali," ucap Gilang sambil melepaskan pelukannya perlahan. Pria itu memutar tubuh Nadin agar menghadapnya. "Dimas sudah menyiapkan semua data kebangkrutan Bastian. Saham Wirawan Group terjun bebas sejak pagi tadi karena kepanikan pasar atas lumpuhnya sistem perbankan mereka. Kita akan masuk ke ruang rapat itu dan mengakuisisi semua aset berharga mereka dengan harga sampah."
"Termasuk proyek-proyek sentral mereka di selatan?" tanya Nadin dengan mata yang berbinar tajam.
"Termasuk apa pun yang kau inginkan," jawab Gilang mutlak. Pria itu mengulurkan lengan kanannya. "Ayo. Para direktur sudah menunggu instruksi kita."
Nadin menyambut uluran lengan itu. Mereka berjalan bersisian keluar dari penthouse, turun menggunakan lift, dan masuk ke dalam mobil Maybach yang sudah menunggu. Perjalanan menuju markas besar Mahendra Corp terasa sangat berbeda bagi Nadin kali ini. Dia tidak lagi merasa seperti seorang tahanan yang sedang dikawal. Dia merasa seperti seorang rekan, seorang penasihat strategi, dan seorang pendamping sejati.
Setibanya di lantai enam puluh, suasana tegang sudah menyelimuti seluruh lorong. Para karyawan bergerak dengan sangat cepat, membawa tumpukan dokumen tebal. Mereka menunduk hormat lebih dalam dari biasanya saat Gilang dan Nadin melangkah melewati mereka. Reputasi Nadin telah berubah drastis sejak presentasi terakhirnya, dan melihat wanita itu kini berjalan dengan dagu terangkat tepat di samping sang CEO, semua orang tahu bahwa hierarki kekuasaan di lantai ini telah berubah selamanya.
Pintu ganda ruang rapat utama dibuka. Seluruh jajaran direksi sudah duduk di kursi masing-masing. Suara obrolan yang ramai seketika terhenti. Gilang melangkah masuk menuju kursi utama di ujung meja, dan Nadin duduk dengan anggun di kursi sebelah kanannya, posisi yang secara tidak resmi telah menjadi hak milik mutlaknya.
"Kita mulai," perintah Gilang tanpa basa-basi. Suaranya menggema dingin di dalam ruangan luas tersebut. "Dimas, berikan laporan situasinya."
Dimas berdiri dari kursi asisten di sudut ruangan, menyalakan layar proyektor raksasa. Grafik garis berwarna merah yang menukik tajam ke bawah muncul di layar.
"Sesuai dengan instruksi Tuan Mahendra, kita telah melakukan serangan sentimen pasar sejak pembukaan bursa saham pagi ini," lapor Dimas dengan suara datar yang efisien. "Sistem operasional Wirawan Group mengalami kelumpuhan total akibat kerusakan server internal mereka. Pihak bank telah menahan semua pencairan dana kredit mereka. Saat ini, saham Wirawan Group anjlok hingga empat puluh persen. Mereka mengalami krisis likuiditas parah dan tidak bisa membayar para kontraktor lapangan."
Bisik-bisik keterkejutan dan kekaguman terdengar dari para direktur senior. Menjatuhkan saingan sebesar Wirawan Group hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam adalah sebuah langkah jenius yang sangat brutal. Pak Haris, Direktur Operasional yang biasanya banyak protes, kini menatap Gilang dengan rasa segan yang sangat besar.
"Ini adalah saat yang tepat untuk melakukan akuisisi paksa, Tuan Mahendra," usul salah satu direktur keuangan. "Kita bisa membeli saham mayoritas mereka sekarang dan mengambil alih perusahaan itu."
"Aku tidak tertarik untuk mengambil alih perusahaan sampah yang sudah memiliki nama buruk di pasar," tolak Gilang dengan suara sedingin es. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku ingin perusahaan itu bangkrut secara alami. Yang aku inginkan hanyalah aset tanah dan proyek setengah jadi mereka yang memiliki nilai strategis."
Gilang menoleh ke arah Nadin. Mata pria itu memberikan isyarat yang sangat jelas. Panggung ini sekarang adalah milik Nadin.
Nadin mengerti isyarat itu. Dia berdiri perlahan dari kursinya, merapikan gaun birunya, dan menatap seluruh direktur di ruangan itu dengan penuh percaya diri.
"Wirawan Group memiliki tiga proyek raksasa yang saat ini sedang terhenti akibat krisis ini," ucap Nadin dengan suara yang jernih dan tegas. Dia menekan tablet di depannya, menampilkan tiga buah gambar lokasi proyek di layar proyektor. "Proyek perumahan elite di barat, proyek pusat perbelanjaan di timur, dan proyek kawasan perkantoran terpadu yang letaknya berbatasan langsung dengan tanah Menara Selatan milik kita."
Nadin berjalan mendekati layar, menunjuk proyek perkantoran terpadu tersebut. Insting arsiteknya bekerja dengan sangat brilian.
"Jika kita mengakuisisi proyek perkantoran terpadu ini, kita bisa menyatukannya dengan desain Menara Selatan. Kita tidak hanya akan membangun sebuah gedung pencakar langit, tetapi kita akan membangun sebuah distrik bisnis baru yang terintegrasi secara penuh," jelas Nadin. Logikanya mengalir tajam membedah setiap potensi keuntungan. "Harga tanah mereka saat ini sedang hancur. Kita bisa membelinya melalui perusahaan cangkang dengan harga diskon hingga lima puluh persen dari harga pasar. Begitu tanah itu jatuh ke tangan kita, Wirawan Group akan kehilangan aset terbesar yang bisa menyelamatkan mereka dari kebangkrutan."
Penjelasan Nadin membuat ruang rapat itu menjadi sangat hening. Para direktur sedang memproses strategi yang sangat agresif dan mematikan tersebut. Strategi ini bukan hanya akan mencekik Wirawan Group hingga mati, tetapi juga akan melipatgandakan aset Mahendra Corp hingga nilai yang fantastis.
"Sebuah rencana yang sangat berisiko, Nona Kirana," tanggap Pak Haris akhirnya, meskipun nada suaranya terdengar sangat hormat. "Bagaimana jika Bastian Wirawan berhasil mendapatkan suntikan dana dari investor asing sebelum kita menyelesaikan proses akuisisi tanah tersebut?"
"Bastian Wirawan tidak akan bisa menemui investor mana pun dalam waktu dekat, Pak Haris," potong Gilang dengan nada suara yang sangat rendah dan dipenuhi aura bahaya. Sebuah senyum sinis terukir di wajah pria tampan yang memar itu. "Saya mendapat kabar yang sangat dapat dipercaya bahwa Tuan Bastian baru saja mengalami kecelakaan parah tadi malam dan harus dirawat intensif di rumah sakit dengan rahang hancur. Dia tidak akan bisa berbicara apalagi melakukan presentasi bisnis."
Kalimat Gilang itu membuat udara di dalam ruang rapat terasa menipis. Para direktur menelan ludah mereka dengan susah payah. Mereka bukanlah orang bodoh. Mereka tahu persis bahwa kecelakaan itu bukanlah sebuah kebetulan. Gilang baru saja secara halus memberitahu seluruh dewan direksi apa akibatnya jika ada yang berani melawannya.
"Eksekusi rencana Nona Kirana hari ini juga," perintah Gilang mutlak, mengakhiri semua keraguan di ruangan itu. "Beli tanah itu sebelum matahari terbenam. Rapat selesai."
Gilang berdiri, diikuti oleh Nadin. Pria itu mengulurkan tangannya secara terbuka di depan puluhan direktur. Nadin meletakkan telapak tangannya di atas tangan Gilang. Mereka berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah yang sangat selaras, meninggalkan para miliarder tua itu dalam keadaan tunduk dan penuh ketakutan.
Setibanya kembali di dalam ruang kerja CEO, Gilang menutup pintu ganda dan memutar kunci elektroniknya. Pria itu melepaskan jasnya, melemparkannya ke atas meja, lalu menarik Nadin ke dalam pelukannya dengan gerakan yang sangat posesif.
"Kau luar biasa di dalam sana," bisik Gilang tepat di telinga Nadin. Pria itu mengendus wangi sampo dari rambut wanita itu. "Caramu membedah aset Bastian dan merencanakan kehancurannya membuatku sangat bangga. Kau terlahir untuk berdiri di dunia ini bersamaku, Nadin."
Nadin membalas pelukan Gilang, meremas kemeja putih pria itu di bagian pinggang. Dia menengadahkan wajahnya, menatap luka memar di pelipis Gilang yang baru saja dia obati pagi tadi.
"Saya hanya menggunakan apa yang telah Anda ajarkan kepada saya, Gilang," ucap Nadin pelan. Dia menyentuh dada pria itu. "Bastian pantas mendapatkan semua ini karena telah mencoba menyakiti ayah saya dan memanipulasi saya. Saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengusik ketenangan kita lagi."
Mendengar kata kita keluar dari bibir Nadin, mata Gilang menyala oleh gairah yang sangat kelam dan mendalam. Pria itu tidak bisa menahan dirinya lagi. Gilang menunduk dan meraup bibir Nadin dengan ciuman yang memabukkan, penuh dengan luapan adrenalin sisa kemenangan di ruang rapat tadi.
Ciuman itu kasar, menuntut, dan dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang absolut. Nadin menyambut ciuman itu dengan intensitas yang sama. Tangannya menyelusup ke balik kemeja Gilang, merasakan otot-otot perut pria itu yang mengeras. Sengatan gairah mengalahkan semua akal sehat.
Gilang menyudutkan Nadin hingga punggung wanita itu menabrak dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke pemandangan kota Jakarta dari ketinggian lantai enam puluh. Di bawah sana, bangunan-bangunan terlihat kecil seperti mainan, dan jalanan dipenuhi oleh jutaan orang yang tidak tahu bahwa nasib ekonomi kota ini baru saja diputuskan di dalam ruangan ini.
"Kota ini, perusahaan ini, dan diriku. Semuanya kini berada di bawah kakimu, Nadin," geram Gilang di antara ciuman mereka yang memburu liar. Tangan pria itu menyusuri lekuk tubuh Nadin dengan sangat berani, meremas pinggul wanita itu dengan kuat. "Maka sebagai bayarannya, kau harus menyerahkan seluruh eksistensimu kepadaku. Tidak ada lagi jalan kembali."
"Saya tidak menginginkan jalan kembali," desah Nadin, suaranya terputus-putus oleh kenikmatan yang gelap saat Gilang mulai menciumi lehernya. Nadin menjambak rambut pria itu, menahan tubuhnya agar tidak jatuh karena kakinya terasa sangat lemas.
Sore itu, di dalam sangkar kaca yang megah di atas awan, mereka merayakan kemenangan berdarah mereka dengan cara yang paling purba dan mematikan. Penyatuan mereka bukan lagi didasari oleh paksaan atau ketakutan, melainkan oleh sebuah ikatan gila yang lahir dari kehancuran musuh mereka. Nadin telah mengubur dalam-dalam sisi rapuhnya, mengubah dirinya menjadi ratu yang sama kejamnya dengan sang iblis yang kini memujanya di atas segalanya.
Tiga minggu berlalu sejak kejatuhan Wirawan Group. Perusahaan saingan itu resmi menyatakan kebangkrutan, dan aset-aset utamanya telah berhasil diakuisisi oleh Mahendra Corp dengan harga yang sangat menguntungkan. Bastian Wirawan menghilang dari peredaran publik, bersembunyi di luar negeri untuk menghindari jeratan utang dan para kreditor yang marah.
Di waktu yang sama, kabar baik yang sangat dinantikan akhirnya datang.
Pagi itu, Profesor Lee menelepon langsung ke ponsel Nadin. Operasi transplantasi ginjal untuk Arya telah dijadwalkan hari ini. Donor yang cocok telah didatangkan, dan Arya sedang dipersiapkan di ruang pra-operasi.
Nadin dan Gilang segera meluncur ke rumah sakit dengan pengawalan ketat seperti biasa. Setibanya di sana, Nadin langsung memeluk Arya yang sudah mengenakan pakaian operasi. Adik laki-lakinya itu terlihat jauh lebih sehat dan penuh harapan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Arya. Kakak akan menunggu di luar sampai kamu bangun," bisik Nadin sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin adiknya melihatnya menangis sebelum masuk ruang operasi.
"Iya, Kak. Arya berani kok," jawab Arya dengan senyum tipis. Anak itu lalu menoleh ke arah Gilang yang berdiri di belakang Nadin dengan sikap tenang yang mengintimidasi. "Terima kasih, Tuan Gilang, karena sudah menolong Arya dan menjaga Kak Nadin."
Gilang tidak tersenyum, namun sorot matanya melembut sedikit saat menatap anak remaja itu. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan. "Fokuslah pada kesembuhanmu, anak muda. Kakakmu aman bersamaku."
Setelah Arya dibawa masuk ke dalam ruang operasi, pintu kaca ganda tertutup rapat, dan lampu merah di atasnya menyala. Proses menunggu kembali dimulai. Namun kali ini, Nadin tidak merasa sendirian dan putus asa seperti dulu.
Nadin duduk di kursi tunggu, dan Gilang duduk tepat di sebelahnya. Pria arogan yang biasanya tidak pernah mau membuang waktunya ini, kini menggenggam tangan Nadin dengan erat. Gilang mengusap punggung tangan Nadin dengan ibu jarinya, memberikan ketenangan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Tujuh jam berlalu dengan sangat lambat. Nadin sempat tertidur sejenak dengan kepala bersandar di bahu lebar Gilang, sementara pria itu tetap terjaga bagaikan patung penjaga yang menolak untuk mengendurkan kewaspadaannya.
Akhirnya, lampu merah padam. Profesor Lee keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah namun dihiasi oleh senyuman lebar.
"Operasi transplantasi berjalan dengan sangat sukses," ucap Profesor Lee kepada Nadin dan Gilang. "Tubuh Arya menerima ginjal baru itu dengan baik. Produksi urinenya langsung normal. Dia akan berada di ruang pemulihan intensif selama beberapa hari, tapi saya berani memastikan bahwa dia sudah melewati masa krisis terbesarnya."
Mendengar hal itu, Nadin langsung menutup wajahnya dan menangis lega. Air mata kebahagiaan akhirnya tumpah membasahi tangannya. Beban terberat yang selama ini menghancurkan hidupnya, alasan utama mengapa dia menyeret dirinya masuk ke dalam dunia gelap ini, akhirnya terselesaikan dengan tuntas. Adiknya akan hidup sehat kembali.
Gilang menarik Nadin ke dalam dekapannya, membiarkan wanita itu menangis melepaskan semua perasaannya di dadanya. Pria itu mengecup puncak kepala Nadin berulang kali.
"Semuanya sudah selesai, Nadin," bisik Gilang di telinga wanita itu. Suaranya terdengar sangat lembut, sebuah kelembutan yang hanya dia sediakan untuk satu orang wanita di seluruh dunia ini. "Ayahmu sedang dalam masa pemulihan di tempat yang aman. Adikmu sudah selamat. Musuh-musuh kita sudah hancur. Mulai detik ini, tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."
Nadin mengangguk di dalam pelukan pria itu. Dia membalas pelukan Gilang dengan sangat erat. Di tengah lorong rumah sakit yang dingin ini, Nadin menyadari bahwa dia tidak lagi membutuhkan kebebasan yang dulu dia idam-idamkan. Kebebasan di luar sana terasa kosong dan menakutkan. Yang dia butuhkan hanyalah pelukan posesif dari pria ini, sang penguasa kegelapan yang telah mengikat hatinya dengan rantai gairah dan perlindungan yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh kematian sekalipun.