Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Siang berganti malam, cahaya matahari perlahan tenggelam di ufuk barat berganti cahaya bulan yang temaram. Langit begitu cerah bertaburan bintang, tak ada awan yang menyelimuti membuat suasana malam bertambah semakin indah dan mempesona.
Seorang wanita duduk termenung di balkon apartemennya sambil memperhatikan susan malam yang syahdu. Tatapan matanya mengisyaratkan ada beban yang begitu berat coba ia pikul. Beberapa kali terdengar hembusan nafas kasar untuk menghalangi sesak.
"Ya Allah kenapa jadi begini? Apakah aku harus membunuh anak yang tak berdosa ini?" Lidia mengelus perutnya yang masih datar dengan wajah sendu. Pertentangan bathin membuat kepalanya terasa berdenyut.
Perang bathin membuatnya seperti orang linglung. Sayu sisi ia tak mau menambah dosa dan sisi yang lain ia juga tak sanggup makin membuat orang lain terluka.
Di tengah lamunannya bel berbunyi. Lidia tersentak dan perlahan bangun untuk melihat siapa gerangan yang datang menganggu lamunannya.
Wajah Lidia seketika berubah makin keruh saat melihat siapa yang datang.
"Hallo sayang. Kok cemberut gitu, ada apa?" Panca merengkuh tubuh Lidia kedalam pelukanya setelah pintu tertutup.
"Ga kenapa - kenapa?" jawab Lidia tanpa semangat.
"Kamu jangan bohong? Ayo ada apa? apa ada yang menganggumu?" Panca menangkup wajah Lidia agar melihat kearah dirinya.
"Ga kenapa - kenapa, pak. Mungkin lagi capek aja." jawab Lidia asal.
"Capek kenapa?" lelaki itu masih saja bertanya apa dia tidak sadar jika capeknya Lidia ulah dirinya sendiri. Hampir tiap hari Lidia di gempur habis - habisan sampai tak bertenaga.
"Wajahmu kok pucat gitu? Kamu sakit?" Lidia mengeleng dan berjalan kearah jendela kaca sambil memperhatikan pemandangan kota dari atas. Cahaya lampu - lampu membuat hari sekalian tak pernah gelap. Tidak ada yang gelap semuanya terang benderang.
Panca memeluk kekasihnya itu dari belakang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Lidia sambil mengendus wangi aroma sabun yang Panca suka. Lidia merasa geli dan meremang saat sapuan nafas Panca menerpa kulitnya.
"Apa aku menyakiti kamu?" tanya lelaki itu berbisik di telinga Lidia.
"Ti - tidak." Suara Lidia tercekat menahan suara laknat yang tak bisa ia kontrol.
Panca menjilat dan mengigit kuping Lidia membuat Lidia tak bisa menahan percikan api gairah yang Panca nyalakan. Kembali ia terjatuh kedalam peluakn lelaki itu.
"Kenapa kamu bisa seenak ini, Lidia." tadi Panca di sela gerakan yang semakin menggila. Panca berpacu untuk melepaskan lahar yang siap meledak.
"Pak.... saya mau sampai." teriak Lidia yang merasakan gelombang itu datang.
"Tunggu aku sayang, kita keluarkan sama - sama." Panca mèmpercepat geraknya hingga gelombang itu meledak. Rahim Lidia di siram dengan begitu banyak cairan yang terasa hangat. Sesaat keduanya masih berpelukan menikmati sisa - sisa rasa yang memabukkan.
Panca menghempaskan tubuhnya jatuh di samping tubuh Lidia yang polos. Nafas keduanya nampak turun naik. Ada senyum kepuasan di sudut bibir mereka.
"Pak, ini seandainya. Bukan sebenarnya tapi andai kata aku hamil gimana?" tanya Lidia setelah nafasnya normal kembali dan tubuhnya juga sudah di tutupi oleh selimut.
Panca merubah posisi tidurnya menghadap Lidia. Matanya menatap lekat wajah kekasihnya itu sambil tersenyum.
"Aku langsung nikahi kamu."
"Gimana dengan Wulan?"
"Itu urusan aku. Kamu kenapa tanya kaya gitu?" Panca memindahkan rambut yang menutupi sebagain wajah Lidia.
"Ga kenapa - kenapa cuma mau tau aja." kekeh Lidia menutupi rasa gugup yang datang mendera.
Panca merasa ada sesuatu yang Lidia coba sembunyikan, ia akan coba cari tau apa yang kekasihnya itu sembunyikan. Apakah kekasihnya itu malah beneran hamil. Bathin Panca.
Karna sama - sama lelah keduanya tertidur saling berpelukan hingga pagi kembali datang.
...****************...
Assalamualaikum kk, apa kabar?
Jangan lupa like dan komennya kk serat vote yang banyak kk😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?