NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Perundingan

Udara di restoran privat bertema Jawa ningrat itu terasa lebih mencekik daripada gudang pengap di hotel tempo hari. Wangi kemenyan esensial dan melati segar menyeruak, mencoba menciptakan suasana damai yang justru terasa palsu bagi Laras. Di atas meja jati panjang yang dipelitur mengkilap, piring-piring porselen putih ditata dengan simetri yang mengerikan. Semuanya harus sempurna. Semuanya harus pada tempatnya.

Laras duduk di samping ibunya, mengenakan gamis sutra yang lebih tertutup, namun tetap saja, ia merasa seperti seekor hewan kurban yang sedang dipamerkan. Di seberangnya, Arka duduk bersama ayahnya, Jenderal Baskoro. Arka mengenakan kemeja batik tulis sutra yang dikanji kaku. Wajah pria itu datar, seperti telaga yang permukaannya tenang tapi dasarnya penuh bangkai.

"Jadi," suara Ayah Arka memecah kesunyian, berat dan penuh penekanan. "Saya rasa tidak perlu banyak basa-basi lagi. Kita semua sudah saling kenal. Keluarga kita punya sejarah panjang, dan saya rasa, menyatukan Arka dan Laras bukan hanya soal keluarga, tapi soal masa depan bisnis dan citra kita di mata publik." Laras merasakan perutnya melilit. Citra. Kata itu lagi. Ia melirik Arka, tapi pria itu hanya menatap piring kosong di depannya. Tangan Arka yang kemarin berdarah kini tertutup lengan kemeja panjang, namun Laras bisa membayangkan bekas luka yang mulai mengering di balik sana.

"Tentu saja, Pak Baskoro," sahut Ayah Laras dengan tawa kecil yang terdengar merendah. "Laras ini memang agak keras kepala, maklum anak kota. Tapi saya yakin, di bawah bimbingan pria sehebat Arka, dia akan tahu bagaimana cara menempatkan diri sebagai istri yang baik." Laras mencengkeram serbet kain di pangkuannya. Istri yang baik. Di kepala ayahnya, "baik" berarti diam, menurut, dan tidak punya suara. Ia ingin sekali berteriak, bertanya apakah mereka semua sadar bahwa mereka sedang membicarakan manusia, bukan barang dagangan. Namun, ia teringat kejadian di gudang. Ia teringat bagaimana Arka menghancurkan guci itu. Jika ia meledak sekarang, ia hanya akan memperburuk keadaan.

"Bagaimana menurutmu, Arka?" tanya Baskoro, matanya menatap tajam putra tunggalnya. Arka mendongak. Suaranya keluar dengan nada yang sangat terkontrol, nada yang biasa ia gunakan saat rapat direksi. "Saya rasa Laras adalah wanita yang mandiri. Saya menghargai prestasinya di bidang konstruksi. Jika perjodohan ini memang demi kebaikan kedua keluarga, saya tidak punya alasan untuk menolak."

Laras hampir saja mendengus. Bohong. Arka berbohong dengan sangat fasih. Laras tahu pria di depannya ini sedang merasa muak luar biasa.

"Bagus," puji Baskoro. "Sekarang, Laras. Bagaimana?" Semua mata tertuju padanya. Ibunya menyentuh punggung tangan Laras di bawah meja, sebuah cubitan kecil yang memberi peringatan: Jangan memalukan Ibu.

Laras menelan ludah. Ia menatap Arka tepat di mata. Untuk sesaat, topeng mereka seolah luruh hanya di antara mereka berdua. Laras melihat permohonan di mata Arka permohonan untuk ikut dalam sandiwara ini, atau mereka berdua akan hancur sendiri-sendiri. "Saya setuju," jawab Laras pendek. "Selama kita bisa menjaga batasan masing-masing."

Kedua orang tua mereka tertawa lega, menganggap kalimat "batasan" itu sebagai rayuan malu-malu seorang wanita. Mereka mulai mendiskusikan tanggal pertunangan, vendor katering, dan detail-detail teknis yang membuat Laras merasa mual.

"Arka, ajak Laras jalan-jalan ke taman belakang restoran ini," perintah Baskoro. "Kalian perlu bicara empat mata. Orang tua jangan terlalu lama ikut campur." Ini adalah perintah, bukan saran. Arka berdiri, menarik kursi dengan sopan, dan menunggu Laras. Laras berdiri dengan kaku, mengikuti Arka keluar dari ruangan VIP itu menuju taman belakang yang gelap dan sepi.

Begitu mereka keluar dari jangkauan pendengaran orang tua mereka, bahu Arka langsung merosot. Ia melepas kancing kerah batiknya yang mencekik. Ia bersandar pada pohon kamboja besar, menarik napas dalam-dalam seolah baru saja muncul dari dalam air setelah tenggelam. "Selamat datang di neraka yang sebenarnya, Laras," bisik Arka. Suaranya parau.

"Kamu tadi aktingnya hebat banget," sindir Laras, meski nada suaranya lebih ke arah simpati daripada ejekan. " 'Saya menghargai prestasinya'. Cih, aku hampir muntah dengarnya."

"Lalu aku harus bilang apa? 'Maaf Yah, aku nggak mau nikah sama dia karena kita berdua sama-sama hancur di gudang tempo hari'?" Arka menatap langit malam yang tanpa bintang. "Kita nggak punya pilihan. Ayahku nggak akan berhenti sampai dia dapat apa yang dia mau. Dan kamu tahu itu."

Laras mendekat, berdiri di samping Arka. Ia melepas wedges-nya, membiarkan kakinya bersentuhan dengan rumput taman yang dingin. "Doni terus-terusan meneleponku setelah pesta itu. Dia mulai curiga. Dia bilang dia sempat lihat sandal jepit biru di bawah kursiku sebelum kamu datang."

Arka menegang. "Laki-laki itu akan jadi masalah. Dia licik. Dia ingin menjatuhkan aku lewat kamu."

"Makanya kita harus kerja sama, Arka," Laras menatap Arka dengan serius. "Kalau kita dipaksa nikah, oke, kita nikah. Tapi ini aliansi. Di depan mereka, kita jadi pasangan sempurna yang mereka mau. Tapi di belakang? Kita tetap masing-masing. Kamu tetap dengan duniamu, aku dengan duniaku. Kita saling lindungi rahasia masing-masing. Aku nggak akan bilang kalau kamu punya panic attack, dan kamu nggak akan biarkan siapa pun menghinaku soal cara berpakaianku atau masa laluku." Arka menoleh, menatap Laras dengan intens. "Kamu mau kita bikin 'perjanjian'?"

"Bukan sekadar perjanjian kertas. Tapi komitmen untuk jadi perisai satu sama lain. Aku capek dipanggil 'ani-ani' atau 'lonte' cuma karena aku ingin jadi diriku sendiri. Dan aku tahu kamu capek dipaksa jadi robot baja."

Arka diam cukup lama. Ia melihat tangan Laras yang kini tanpa sengaja menyentuh bekas luka di buku jarinya yang mulai mengering. Ada sebuah rasa hangat yang aneh, sesuatu yang bukan cinta, tapi lebih seperti rasa aman karena menemukan seseorang yang sama-sama terluka.

"Oke," Arka akhirnya bersuara. "Aliansi. Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Kalau suatu saat nanti aku merasa nggak sanggup lagi... kalau aku merasa mau meledak... kamu jangan pernah tanya kenapa. Cukup biarkan aku punya ruang."

Laras mengangguk. "Deal. Dan syarat dariku: kalau ada yang merendahkan aku di depan umum, termasuk ayahmu atau keluargamu, kamu harus berdiri di pihakku Jangan jadi pengecut yang cuma diam demi kehormatan keluarga."

Arka mengulurkan tangannya. Bukan tangan kaku seorang calon pengantin pria, melainkan tangan seorang rekan seperjuangan. "Deal."

Mereka berjabat tangan di bawah bayangan pohon kamboja. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara orang tua mereka tertawa dari dalam restoran, merayakan kesepakatan bisnis yang dibungkus dalam bentuk pernikahan. Mereka tidak tahu bahwa di taman ini, dua "barang pajangan" mereka baru saja membentuk aliansi yang akan menghancurkan semua aturan yang telah mereka buat.

Laras memakai sepatunya kembali. Ia merasa sedikit lebih kuat sekarang. Bukan karena ia akan menikah, tapi karena ia tahu ia tidak akan menghadapi dunia yang kejam ini sendirian lagi. Ada pria baja yang sudah retak ini di sampingnya, dan bersama-sama, mereka akan memastikan bahwa etalase ini tidak akan pernah terlihat sama lagi. "Ayo masuk," kata Arka, kembali memasang topeng tenangnya. "Saatnya pertunjukan babak kedua dimulai."

Laras menarik napas, menegakkan punggungnya, dan tersenyum—senyum yang kali ini memiliki tujuan. "Ayo."

Mereka berjalan kembali ke dalam, berdampingan, melangkah dengan irama yang serasi. Orang tua mereka menyambut dengan wajah berseri-seri, tidak menyadari bahwa di balik langkah serasi itu, ada dua orang yang sedang merencanakan pemberontakan paling sunyi dalam sejarah keluarga mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!