NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Orang Terdekat

Angin malam masih berdesir di dalam gedung kosong itu ketika Arkan menatap kertas kecil di tangannya.

Inisial itu seperti duri yang menancap tepat di pusat kepercayaannya.

K.W.

Kevin Wijaya.

Nama yang selama hampir sepuluh tahun berdiri di belakangnya dalam setiap keputusan penting.

“Itu bisa saja kebetulan,” suara Cemalia terdengar lebih pelan dari biasanya.

Arkan tidak menjawab.

Karena dalam dunia bisnis, kebetulan jarang benar-benar kebetulan.

Aluna berdiri di sampingnya, jantungnya masih berdebar akibat insiden tadi.

“Arkan…” bisiknya. “Kita tidak bisa langsung menuduh.”

“Aku tahu,” jawabnya datar.

Namun sorot matanya telah berubah.

Bukan lagi sekadar curiga.

Melainkan mulai menghitung.

Dalam perjalanan pulang, tak satu pun dari mereka banyak bicara.

Mobil melaju menembus jalanan malam yang basah oleh sisa hujan.

Aluna memandangi bayangan lampu kota yang memantul di kaca jendela.

“Kalau Kevin benar terlibat…” ucapnya perlahan.

Arkan menyelesaikan kalimatnya. “Maka semua akses internal ada di tangannya.”

“Itu berarti dia bisa membuka arsip.”

“Bisa membocorkan dokumen.”

“Dan tahu setiap jadwalmu,” tambah Aluna.

Arkan mengangguk tipis.

Keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Kenapa?” tanya Aluna akhirnya.

Arkan menatap lurus ke depan.

“Itu yang akan kutanyakan.”

Keesokan paginya, suasana kantor terlihat normal di permukaan.

Namun di dalam ruang kerja Arkan, udara terasa tegang.

Kevin masuk seperti biasa, mengenakan setelan rapi dan membawa tablet di tangannya.

“Selamat pagi, Pak.”

Arkan menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Pagi.”

Aluna berdiri di dekat jendela, pura-pura memeriksa dokumen.

“Kau sempat ke mana tadi malam?” tanya Arkan tiba-tiba.

Kevin sedikit terkejut, tapi cepat tersenyum. “Di rumah, Pak. Saya kirim laporan ke email Anda pukul sebelas.”

Arkan tidak mengalihkan pandangannya.

“Ada yang bisa membuktikan itu?”

Pertanyaan itu membuat senyum Kevin menipis.

“Maaf, Pak?”

“Jawab saja.”

“Saya tinggal sendiri.”

Hening.

Arkan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Gedung Sentral Park diserang tadi malam.”

Kevin tampak terkejut. “Diserang?”

“Beberapa orang bersenjata mencoba mengambil sesuatu.”

Kevin terlihat benar-benar kaget—atau setidaknya ia memainkan perannya dengan sempurna.

“Itu berbahaya, Pak. Anda tidak terluka?”

Arkan tidak menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya, ia mengeluarkan kertas kecil dari laci mejanya dan meletakkannya di atas meja.

“Pernah lihat ini?”

Kevin memandang inisial itu.

K.W.

Untuk sesaat—sangat singkat—matanya bergetar.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Itu bisa berarti banyak hal, Pak.”

“Seperti?”

“Nama siapa saja. Perusahaan mana saja.”

Arkan berdiri perlahan.

“Termasuk namamu.”

Kevin menegakkan tubuhnya.

“Apakah Bapak menuduh saya?”

“Belum.”

Jawaban itu lebih berbahaya dari tuduhan langsung.

Kevin terdiam.

Lalu ia berkata pelan, “Jika saya memang ingin menjatuhkan Anda, saya tidak akan meninggalkan tanda sejelas itu.”

Logika yang masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Arkan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kau bisa keluar.”

Kevin membungkuk ringan dan pergi.

Begitu pintu tertutup, Aluna langsung menoleh.

“Kamu percaya padanya?”

Arkan tidak langsung menjawab.

“Itu reaksi yang sangat terkontrol,” gumamnya.

“Artinya?”

“Entah dia sangat bersih… atau sangat berbahaya.”

Sore itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Seorang pria tua datang ke kantor tanpa janji.

Ia meminta bertemu langsung dengan Arkan.

Awalnya resepsionis menolak, tapi pria itu menyebut satu nama yang membuat Arkan langsung memerintahkannya masuk.

Nama ibunya.

Pria itu duduk di kursi tamu dengan tangan gemetar.

“Saya mantan kepala akuntan proyek Sentral Park,” katanya pelan.

Aluna yang ikut duduk di sana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Kenapa Anda datang sekarang?” tanya Arkan.

Pria itu menatapnya dengan mata penuh penyesalan.

“Karena saya takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.”

Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya.

“Saya menyimpan salinan laporan asli. Yang tidak pernah masuk arsip resmi.”

Arkan langsung membuka map itu.

Di dalamnya ada rincian transfer dana tambahan.

Dana yang dialihkan melalui perusahaan perantara.

Dan di bagian bawah halaman—

Tanda tangan elektronik yang digunakan atas nama Arkan.

“Itu bukan tanda tanganku,” kata Arkan pelan.

“Saya tahu,” jawab pria tua itu. “Karena saat itu Anda sedang berada di luar negeri untuk konferensi.”

Aluna membeku.

“Lalu siapa yang mengesahkan transfer itu?” tanyanya.

Pria itu menatap Arkan ragu-ragu.

“Saya hanya tahu satu orang yang punya akses penuh ke sistem dan otorisasi Anda saat itu.”

Ruangan terasa menyempit.

“Siapa?” suara Arkan menurun satu nada.

“Kevin.”

Hening.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Aluna merasakan perutnya mual.

“Kenapa Anda tidak melaporkan ini dulu?” tanya Arkan.

Pria itu tertawa pahit. “Saya mencoba. Tapi laporan saya hilang. Dan seminggu kemudian saya dimutasi tanpa alasan jelas.”

Potongan-potongan mulai menyatu.

“Kenapa sekarang?” tanya Aluna.

“Karena saya melihat berita tentang pernikahan Anda. Dan saya tahu masa lalu itu akan dibuka kembali.”

Arkan menutup map itu perlahan.

“Terima kasih.”

Pria itu berdiri.

“Tolong berhati-hati, Pak Arkan. Orang yang bermain di balik ini bukan hanya satu.”

Malam itu, Aluna duduk sendirian di kamar.

Pikirannya berputar cepat.

Jika Kevin benar dalangnya, berarti ia telah merencanakan semuanya sejak lama.

Tapi kenapa?

Uang?

Balas dendam?

Atau sesuatu yang lebih pribadi?

Pintu kamar terbuka.

Arkan masuk dengan wajah tegang.

“Aku sudah memeriksa ulang log sistem lima tahun lalu,” katanya tanpa basa-basi.

“Dan?”

“Akses terakhir sebelum transfer dilakukan berasal dari terminal pribadi Kevin.”

Napas Aluna tercekat.

“Itu berarti—”

“Belum berarti apa-apa secara hukum,” potong Arkan. “Tapi cukup untukku.”

“Kamu akan memecatnya?”

Arkan menggeleng pelan.

“Kalau aku langsung bergerak, dia akan menghilang.”

“Lalu?”

“Aku akan membiarkannya merasa aman.”

Aluna menatapnya.

“Berbahaya.”

Arkan mendekat perlahan.

“Lebih berbahaya lagi jika kita tidak tahu siapa yang berdiri di belakangnya.”

“Belakangnya?” Aluna mengulang.

Arkan menatapnya dalam.

“Kevin tidak cukup kuat untuk melakukan semua ini sendirian.”

Kata-kata itu menggantung berat.

“Menurutmu siapa?” bisik Aluna.

Arkan tidak menjawab.

Karena pada saat itu, ponselnya berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Ia mengangkatnya tanpa ragu.

“Ya.”

Suara berat seorang pria terdengar dari seberang.

“Sudah lama sekali, Arkan.”

Arkan membeku.

Aluna bisa melihat perubahan jelas di wajahnya.

“Siapa ini?”

Tawa rendah terdengar.

“Kau bahkan tidak mengenal suara ayahmu sendiri?”

Dunia Aluna terasa berhenti.

Ayah Arkan telah meninggal dua tahun lalu.

Itu yang semua orang tahu.

“Jangan bermain-main,” suara Arkan berubah dingin.

“Jika kau ingin tahu siapa yang sebenarnya memulai semua ini… datanglah ke rumah lama besok malam. Sendirian.”

Klik.

Telepon terputus.

Aluna berdiri perlahan.

“Itu… suara siapa?”

Arkan tidak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Ia terlihat benar-benar kehilangan kendali.

“Ayahku meninggal dalam kecelakaan,” katanya pelan.

“Tapi suara itu…”

Ia tidak melanjutkan.

Karena di layar ponselnya, pesan masuk muncul bersamaan dengan lokasi pin yang dikirim.

Lokasinya bukan gedung proyek.

Bukan kantor.

Melainkan rumah lama keluarga Wijaya.

Rumah yang telah kosong sejak ibunya meninggal.

Dan di bawah pin lokasi itu hanya ada satu kalimat pendek:

‘Kebenaran tidak pernah benar-benar mati.’

Aluna menatap Arkan dengan jantung berdegup liar.

“Arkan…”

Namun ia sudah tahu.

Babak berikutnya bukan lagi soal Kevin.

Bukan lagi soal Cemalia.

Melainkan sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang selama ini mereka kira telah terkubur.

Dan kini—

Kembali hidup.

END BAB 8 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!