Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 Pertemuan yang tak terduga
Sakira menatap layar ponselnya dengan mata setengah tertutup. Pagi itu, kantornya masih sepi. Dia menyesap kopi panas dari cangkir favoritnya, mencoba menenangkan pikiran yang terus mengganggu sejak malam sebelumnya. Kontrak itu—yang secara resmi mengikatnya dengan Rafael, CEO tampan yang terkenal dingin dan sulit dijangkau—masih menimbulkan rasa campur aduk dalam dirinya.
Dia menghela napas panjang. “Kenapa aku selalu merasa tegang setiap kali dengar namanya?” gumam Sakira pada dirinya sendiri.
Belum sempat dia menenangkan diri lebih jauh, terdengar suara langkah berat di lorong. Pintu kantor terbuka, dan di sana berdiri Rafael, dengan setelan hitam rapi dan tatapan yang menusuk. Sejenak, dunia Sakira seolah berhenti.
“Pagi, Sakira,” suaranya dalam dan tenang, namun ada nada yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Pagi, Pak Rafael,” jawab Sakira sambil menundukkan kepala, berusaha terlihat profesional meski hatinya berdesir.
Rafael menutup pintu, berjalan mendekat, dan menaruh dokumen di mejanya tanpa berkata banyak. Sakira menatap dokumen itu. Proposal untuk proyek baru yang harus mereka kerjakan bersama.
“Apakah kau sudah membaca kontraknya?” tanya Rafael, matanya tidak lepas dari wajah Sakira.
Sakira mengangguk, mencoba menahan gemetar tangannya. “Sudah, Pak. Saya… saya hanya ingin memastikan semua detailnya jelas.”
Rafael tersenyum tipis, namun itu bukan senyum yang hangat; lebih seperti senyum yang membuat Sakira bingung antara nyaman dan takut. “Bagus. Aku ingin segalanya berjalan lancar. Kita harus menunjukkan profesionalisme, Sakira.”
Mereka berdua duduk berseberangan. Rafael membuka laptopnya, mengetik beberapa hal sambil sesekali menatap Sakira. Ada ketegangan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata; ketegangan itu mengambang di udara, membuat Sakira sulit berkonsentrasi.
“Kenapa kau selalu terlihat tegang saat bersamaku?” tiba-tiba Rafael bertanya, membuat Sakira hampir tercekik dengan kopinya sendiri.
“Aku… aku hanya ingin pekerjaan ini berjalan baik, Pak,” jawabnya terbata-bata, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
Rafael mencondongkan badan, matanya tajam menatapnya. “Hanya itu? Tidak ada alasan lain?”
Sakira menelan ludah. Ada sesuatu dalam tatapan Rafael yang membuatnya merasa seperti semua rahasianya terbaca. Namun, dia berusaha tegar. “Tidak ada, Pak. Aku hanya profesional.”
Rafael tersenyum lagi, kali ini lebih sulit ditebak. “Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai membahas proposal ini.”
Sepanjang pagi, mereka duduk berdampingan, membahas detail proyek. Rafael sangat perfeksionis, membuat Sakira harus berkonsentrasi penuh. Namun, setiap kali mata mereka bertemu, ada ketegangan yang membuat Sakira sulit menahan diri.
Di sela-sela pertemuan, Rafael menatap Sakira dengan serius. “Aku ingin kau tahu, Sakira… aku bukan tipe CEO yang mudah percaya orang. Tapi aku mempercayaimu untuk proyek ini.”
Sakira terkejut. Kata-kata itu, meski terdengar profesional, memiliki getaran yang membuat hatinya berdebar. “Terima kasih, Pak… aku tidak akan mengecewakan.”
Rafael menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya kembali fokus pada laptopnya. Namun, Sakira merasa ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ada kedekatan yang aneh, meski tetap dibungkus profesionalisme.
Siang harinya, Rafael mengajak Sakira keluar untuk makan siang di restoran kecil dekat kantor. “Aku ingin berbicara denganmu di luar kantor,” katanya singkat.
Sakira merasa gugup, tapi mengangguk. Mereka berjalan beriringan, dan untuk pertama kalinya, Rafael berbicara lebih santai. “Aku penasaran… apa yang membuatmu memilih bekerja di perusahaan ini?”
Sakira tersenyum tipis. “Awalnya hanya ingin pengalaman, Pak. Tapi… sekarang aku ingin membuktikan diri bahwa aku bisa.”
Rafael menatapnya, seolah menilai setiap kata. “Aku suka orang yang punya tekad. Itu jarang.”
Sepanjang makan siang, percakapan mereka mengalir lebih ringan. Namun, Sakira tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang terus muncul. Setiap senyum Rafael, setiap tatapan intensnya, membuat hatinya berdetak lebih cepat.
Ketika mereka kembali ke kantor, Rafael tiba-tiba berhenti di depan Sakira. “Sakura…” ia memanggil, tapi Sakira tersentak. Dia belum pernah dipanggil seperti itu sebelumnya.
“Ya, Pak?” jawabnya, mencoba tetap tenang.
Rafael mencondongkan badan sedikit, menatap matanya. “Aku berharap kau tidak hanya profesional saat bersamaku… tapi juga jujur tentang perasaanmu. Aku bisa merasakannya.”
Sakira hampir kehilangan kata-kata. Hatinya berdebar kencang. “Perasaan… Pak?”
Rafael tersenyum tipis, namun ada intensitas yang membuat Sakira gemetar. “Jangan khawatir, ini hanya… observasi profesional. Tapi… aku ingin melihat reaksimu.”
Hari itu berakhir dengan banyak pertanyaan tanpa jawaban di kepala Sakira. Setiap gerakan Rafael, setiap tatapan, membuatnya semakin bingung. Ia sadar bahwa kontrak yang mengikat mereka bukan hanya kontrak kerja, tapi sesuatu yang lebih kompleks: kontrak hati yang tidak bisa diatur dengan dokumen.
Malamnya, di apartemennya Sakira duduk termenung. Pikirannya melayang pada Rafael—cara dia menatap, cara dia tersenyum, cara dia membuat Sakira merasa campur aduk antara takut dan nyaman. Ia menyadari sesuatu yang menakutkan: hatinya mulai terikat pada CEO yang sulit dipahami itu.
Di sisi lain kota, Rafael duduk di kantornya sendiri. Ia menatap layar laptop, namun pikirannya jelas bukan pada pekerjaan.
Sakira. Cara gadis itu menatap dunia, cara dia menatap dirinya. Ia tahu ini bukan sekadar kontrak bisnis—ada sesuatu di antara mereka yang mulai tumbuh, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.
Malam itu, Rafael mengirim pesan singkat ke Sakira:
“Tidur yang nyenyak. Besok kita mulai tahap berikutnya. Jangan lupa, aku memperhatikanmu.”
Sakira menatap ponselnya, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu ini bukan pesan biasa. Ada perasaan yang diselipkan di antara kata-kata itu—perasaan yang membuat hatinya campur aduk antara takut dan bahagia.
Ia menutup mata, mencoba menenangkan diri. Tapi dalam hatinya, satu hal jelas: kontrak itu mungkin tentang pekerjaan, tapi untuk mereka berdua, ini juga tentang hati yang perlahan-lahan saling terikat… tanpa mereka sadari.
Sakira membuka mata keesokan harinya dengan rasa gelisah yang aneh. Meski ia mencoba menepis pikiran tentang Rafael, kenyataannya ia sudah terbiasa memikirkan CEO itu—dengan tatapan tajamnya, senyum tipis yang misterius, dan aura dominan yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.
Di kantor, Rafael sudah menunggu di ruang rapat, wajahnya serius seperti biasanya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda: mata hitamnya menyala dengan intensitas yang sulit dijelaskan. Saat Sakira masuk, ia menoleh, dan senyum tipisnya menyapanya.
Pagi, Sakira,” katanya, suara rendah yang membuat hati Sakira berdegup kencang.
“Pagi, Pak Rafael,” jawab Sakira sambil mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia tahu hari ini bukan hari biasa. Ada proyek baru yang harus mereka mulai, dan Rafael tampak ingin lebih dekat—bukan hanya secara profesional.
“Duduklah,” Rafael menunjuk kursi di seberangnya. Saat Sakira duduk, Rafael menatap dokumen di meja, tapi sepertinya pikirannya tidak fokus. Sesekali, matanya melirik ke arah Sakira, dan setiap tatapan itu membuat pipinya hangat.
“Aku ingin kita memulai tahap baru proyek ini,” Rafael berkata akhirnya, nada serius kembali menguasai suaranya. “Tapi aku ingin kau juga lebih terbuka denganku. Tentang ide, tentang perasaan… dan mungkin, tentang diri sendiri.”
Sakira tertegun. Kata-kata itu membuat dadanya sesak. Ia mencoba menahan senyum gugup. “Aku… aku akan berusaha, Pak.”
Rafael mencondongkan badan sedikit, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata itu bukan sekadar formalitas. “Aku bukan tipe CEO yang mudah percaya orang, tapi aku bisa melihat ketulusan. Aku ingin kau menjadi seseorang yang bisa kuandalkan… dan mungkin, seseorang yang bisa lebih dari sekadar rekan kerja.”
Sakira menelan ludah. “Lebih dari sekadar rekan kerja?” gumamnya, hampir tidak terdengar.
Rafael tersenyum tipis, tapi senyum itu berbeda—lebih hangat, lebih mengundang, sekaligus membuat hati Sakira berdebar kencang. Ia menundukkan kepala, mencoba menenangkan diri. “Aku… aku akan melakukan yang terbaik, Pak Rafael,” jawabnya dengan suara sedikit gemetar.
Seiring hari berjalan, ketegangan antara mereka semakin terasa. Rafael selalu ada di dekat Sakira, sesekali menyentuh dokumen di mejanya, atau berdiri terlalu dekat saat menjelaskan sesuatu. Sakira merasa campur aduk; di satu sisi, ia ingin menjaga jarak, tapi di sisi lain, ia tidak bisa menahan rasa nyaman yang muncul ketika Rafael menatapnya dengan intensitas itu.
Saat istirahat siang, Rafael mengajak Sakira keluar lagi. Kali ini, ia membawanya ke taman kecil di dekat gedung. Angin sepoi-sepoi dan matahari siang yang hangat membuat suasana berbeda dari kantor yang kaku.
“Kenapa kau selalu terlihat tegang saat bersamaku?” tanya Rafael tiba-tiba, menatap mata Sakira langsung.
Sakira tersentak, hampir menumpahkan air mineral yang dipegangnya. “Aku… aku hanya ingin fokus pada pekerjaan, Pak,” jawabnya cepat.
Rafael tersenyum, namun ada nada yang membuat Sakira merasa seperti rahasianya bisa terbaca. “Aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
Sakira menunduk, memikirkan kata-kata itu. “Aku… aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, Pak Rafael.”
Rafael menepuk bahunya lembut, dan sentuhan itu membuat Sakira hampir kehilangan kendali. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau jujur… dengan dirimu sendiri, juga denganku.”
Mereka duduk di bangku taman, saling menatap tanpa kata-kata. Ada ketegangan yang mengalir di antara mereka, bukan hanya karena kontrak yang mengikat, tapi karena perasaan yang mulai tumbuh, perlahan dan diam-diam.
“Rafael…,” Sakira akhirnya berani membuka suara, “aku… aku tidak tahu bagaimana harus menempatkan perasaanku.”
Rafael tersenyum tipis, namun sorot matanya tetap tajam. “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku juga sedang belajar bagaimana menempatkan perasaanku padamu.”
Sakura hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Kata-kata Rafael begitu jujur, tetapi sekaligus membingungkan.
Ia ingin percaya, tapi juga takut. Takut jika hubungan mereka, yang awalnya hanya kontrak profesional, berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.
Hari-hari berikutnya, Sakira merasakan perubahan dalam cara Rafael memperhatikannya. Ia mulai mendapat pesan singkat dari CEO itu—tidak hanya tentang pekerjaan, tapi juga tentang hal-hal kecil yang membuat Sakira tersenyum. Sebuah foto kopi hangat dengan catatan singkat: “Untukmu, semoga membuat pagimu lebih baik.”
Atau sebuah pesan sebelum tidur: “Tidur yang nyenyak, Sakira. Ingat untuk menjaga diri sendiri.”
Sakira merasa hatinya perlahan-lahan terkikis oleh perhatian kecil itu. Ia mencoba menepis perasaan itu, berkata pada diri sendiri bahwa ini hanyalah bagian dari kontrak profesional, tapi kenyataannya… ia mulai menunggu setiap pesan dari Rafael.
Suatu sore, ketika mereka sedang bekerja lembur di kantor, Rafael tiba-tiba menutup laptopnya dan menatap Sakira. “Kau terlihat lelah,” katanya dengan nada lembut. “Kenapa tidak istirahat sebentar?”
Sakira tersenyum tipis, mencoba tetap profesional. “Aku bisa menangani ini, Pak.”
Rafael mencondongkan badan, wajahnya begitu dekat dengan Sakira. “Aku ingin kau benar-benar jujur padaku. Apakah kau lelah atau hanya berpura-pura?”
Sakira tersentak. Tidak ada yang pernah menanyakan itu dengan cara seperti Rafael. Hatinya berdetak cepat. “Aku… aku sedikit lelah, Pak Rafael,” jawabnya akhirnya.
Rafael menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. “Bagus. Aku senang kau jujur. Aku juga ingin kau merasa nyaman bersamaku, bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai seseorang yang aku pedulikan.”
Sakira menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Kata-kata itu membuat hatinya campur aduk: bahagia, bingung, dan sedikit takut. Bahagia karena Rafael peduli, bingung karena perasaannya sendiri mulai berubah, dan takut karena ia tidak tahu bagaimana menghadapi intensitas hubungan ini.
Malam itu, Sakira pulang dengan kepala penuh pikiran. Ia menatap langit gelap dari jendela apartemennya. Semua yang terjadi hari ini membuatnya sadar bahwa kontrak itu bukan hanya tentang pekerjaan. Ia dan Rafael—tanpa mereka sadari—sudah mulai menandatangani kontrak lain, kontrak hati yang lebih rumit dan berisiko.
Di sisi lain kota, Rafael duduk di kantornya, menatap layar laptop yang kini mati. Ia menarik napas panjang, menatap kursi kosong di seberang mejanya. “Sakira… kau membuatku kehilangan kontrol lebih dari yang kukira,” gumamnya pelan. “Aku harus hati-hati, tapi… aku juga ingin membiarkan ini tumbuh.”
Mereka berdua tidur malam itu dengan pikiran yang sama: perasaan yang sulit dijelaskan mulai mengikat mereka, kontrak yang awalnya hanya formalitas kini mulai berubah menjadi permainan hati yang rumit. Dan mereka sadar, satu langkah yang salah bisa membuat semuanya kacau.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang jelas—mereka mulai jatuh, perlahan tapi pasti, dalam kontrak cinta yang tidak bisa diatur oleh dokumen, tapi oleh hati yang saling ingin dimiliki.
Bersambung..