Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Arabelle terbangun oleh suara Catherine mengetuk pintu kamar.
"Bangun, sayang. Sudah pagi."
"Pagi, Bu," sahutnya dengan suara serak dan mata yang masih setengah tertutup.
"Kami mau makan siang di restoran sama Tante Ruth. Mau ikut?"
Arabelle langsung teringat, Tante Ruth, adik ayahnya. Perempuan yang ramah, tapi anak-anaknya? Anak-anaknya adalah alasan Arabelle percaya bahwa sabar itu ada batasnya.
"Nggak usah, Ibu pergi aja. Aku di rumah aja," jawabnya dengan senyum yang ia usahakan terlihat tulus.
Catherine mengangguk. "Ibu tinggalin uang di dapur ya, buat kalau kamu mau pesan makan. Kayaknya kami bakal pulang telat, habis dari restoran mungkin langsung main ke rumah mereka."
"Oke, hati-hati."
Catherine keluar, dan Arabelle berbaring sebentar sebelum akhirnya bangkit, menyeret dirinya ke kamar mandi untuk menjalani rutinitas pagi. Setelah selesai, ia turun ke dapur dan menemukan lembaran uang yang ditinggalkan Catherine di atas meja, cukup untuk makan bertiga, padahal yang makan sendirian cuma dia.
Ibu selalu lebay.
Dengan rumah yang sepi, Arabelle meringkuk di sofa dan menyalakan Netflix. Satu episode, dua episode, tiga, ia bahkan mulai seri baru yang belum pernah ia dengar judulnya. Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Sampai ketukan itu terdengar.
Arabelle mengernyit dan melirik ke arah pintu. Daniel dan Catherine tidak seharusnya pulang secepat ini. Ia bangkit dan mengintip melalui lubang pintu.
Lorenzo.
Ia berdiri di sana dengan ekspresi datar, tangan di saku, seolah-olah tidak ada yang aneh dari kunjungannya yang tidak diundang ini.
"Buka pintunya," suaranya terdengar dalam bahkan dari balik pintu.
Arabelle membuka pintu setengah. Lorenzo mendorong sisanya dengan ringan menggunakan tangannya.
"Kamu mau apa?" tanya Arabelle.
"Bersiaplah. Kita pergi."
Arabelle memandangnya. "Pergi ke mana?"
"Akan kamu lihat nanti."
"Aku tidak--"
"Aku tunggu di bawah." Ia melangkah masuk begitu saja dan berdiri di ruang tamu, seolah-olah ia sudah hafal di mana letak sofanya.
Arabelle menatapnya beberapa detik, lalu naik ke kamar dengan napas yang lebih keras dari biasanya. Ia memilih jins biru muda dengan ikat pinggang hitam dan kaus putih berpotongan pendek, lalu merapikan riasan secukupnya dan menyisir rambut. Ketika ia turun, Lorenzo sudah menunggu dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru saja memasuki rumah orang tanpa izin.
"Ayo," katanya.
Mereka keluar. Arabelle mengunci pintu, lalu masuk ke mobil Lorenzo yang hitam dan terasa seperti interior showroom. Mobil melaju meninggalkan perumahan.
"Ke mana kita?" tanya Arabelle lagi.
"Sabar."
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran. Tempatnya tampak mewah dari luar dan sepi dari dalam. Tidak ada satu pun tamu lain di sana.
Lorenzo turun lebih dulu. Arabelle tidak bergerak.
Ia membuka pintu sisi Arabelle. "Turun."
"Aku tidak mau ikut-ikutan urusan kamu, Lorenzo."
"Sekarang," katanya, nada suaranya tetap terkendali tapi ada sesuatu di sana, semacam peringatan yang tidak perlu diucapkan dua kali.
Arabelle turun.
Di dalam restoran, mereka duduk berhadapan di salah satu meja dekat jendela. Arabelle menoleh ke sekeliling, benar-benar tidak ada tamu lain.
"Kenapa kosong begini?"
"Karena ini Ristorante milikku," jawab Lorenzo santai. "Kalau aku makan di sini, aku tidak suka ada yang memandang."
Sebelum Arabelle sempat berkomentar, seorang pelayan datang dengan senyum yang sedikit terlalu formal.
"Mau pesan apa?"
"Saya mau pesan salad--" Arabelle mulai bicara.
"Steak dan kentang goreng untuk saya, pasta untuk dia," Lorenzo memotong tanpa melirik Arabelle. "Dan tolong bilang Andrei ada di sini. Soal wine-nya aku mau bicara langsung sama dia."
Pelayan itu mencatat pesanan dan pergi.
Arabelle menoleh ke Lorenzo. "Siapa yang bilang kamu boleh pesan atas namaku?"
"Kamu tidak suka pasta?"
"Itu bukan poin--"
"Kalau kamu tidak suka, bilang ke pelayannya nanti."
"Lorenzo." Arabelle menarik napas. "Aku serius. Jangan bertindak seolah kamu tahu apa yang aku mau."
Lorenzo menatapnya. "Turunkan nada bicaramu. Bersamaku, orang tidak bicara seperti itu."
"Lalu apa yang kamu mau dariku?" tanya Arabelle, kali ini lebih tenang tapi tidak kalah tegas.
Lorenzo bersandar ke kursi. "Aku ingin mengenalmu, Arabelle. Entah kenapa, kamu membuatku penasaran."
"Penasaran?"
"Sejak pertama kali aku melihatmu," katanya, "ada sesuatu yang berbeda. Kamu punya kecantikan yang... tidak pernah aku temukan sebelumnya. Bukan yang dibuat-buat. Itu yang membuatku penasaran."
Arabelle terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dan untungnya ia tidak perlu — karena pintu dapur terbuka dan seorang pria berusia sekitar lima puluhan keluar, mengenakan setelan jas biru rapi.
Lorenzo berdiri. "Andrei!"
Keduanya berpelukan layaknya kenalan lama.
"Apa kabar, Devereaux?" tanya Andrei.
"Baik. Eh, kamu belum kenal temanku." Lorenzo menoleh ke arah Arabelle dan ekspresinya berubah sekilas ketika Andrei ikut memandang ke arahnya dengan senyum hangat.
"Hai, aku Arabelle," sapa Arabelle duluan, mengulurkan tangan.
"Gadis yang cantik," kata Andrei, berjabat tangan dengannya. "Dari mana kamu kenal Devereaux ini?"
Lorenzo menatap Andrei dengan pandangan yang sulit dibaca. Andrei sepertinya menangkap isyarat itu dan cepat beralih ke topik bisnis, soal sebotol wine pilihan yang rupanya harganya mencapai satu juta lima ratus ribu dolar Amerika.
"Tapi harganya sekarang sudah naik," kata Andrei dengan nada santai. "Satu koma lima, kamu tahu."
Lorenzo mengangkat bahu. "Memangnya aku tidak bisa membelinya?"
Andrei tertawa kecil dan pergi ke belakang.
Makanan datang tidak lama kemudian. Arabelle harus mengakui, pasta itu luar biasa. Lorenzo menuangkan wine ke gelasnya, dan Arabelle meminumnya tanpa protes. Mereka makan dalam diam yang tidak sepenuhnya canggung.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Arabelle akhirnya, lebih untuk mengisi keheningan.
"Yang mana dulu?" jawab Lorenzo. "Yang legal atau yang tidak?"
Arabelle mengernyit. "Keduanya."
"Yang legal — aku punya tiga Ristorante dan beberapa klub malam." Ia memotong steak-nya dengan tenang. "Yang tidak legal... aku mengelola jaringan di dunia bawah. Geng yang cukup berbahaya untuk tidak perlu kamu ketahui detailnya."
Arabelle hampir tersedak.
"Kamu?" tanya Lorenzo.
Ia menelan makanannya pelan-pelan. "Aku... kerja di kedai kopi di mal."
Lorenzo mengangguk seolah itu adalah jawaban paling wajar di dunia.
Setelah selesai makan, Arabelle meraih dompetnya. "Biar aku bayar bagianku—"
"Tidak perlu." Lorenzo langsung menghentikannya.
"Lorenzo, aku juga makan--"
"Tidak perlu," ulangnya, kali ini lebih singkat. Ia mengeluarkan uang dalam jumlah yang membuat Arabelle tidak berani bertanya berapa totalnya, lalu berdiri.
Di dalam mobil, mereka kembali dalam diam. Arabelle menatap jendela.
"Perlu kamu tahu," ucapnya akhirnya, "makan siang tadi tidak akan terulang. Aku tidak mau ada hubungan apapun denganmu."
Lorenzo menoleh sekilas ke arahnya, lalu tersenyum tipis. "Kamu akan menjadi milikku."
Sesuatu bergetar aneh di dada Arabelle, sensasi yang langsung ia tepis.
"Dalam mimpimu," balasnya kering.
Pandangan Lorenzo berubah. Dan tiba-tiba mobil melaju jauh lebih kencang.
"Lorenzo!" Arabelle memegang dasbor. "Pelan-pelan! Kamu nyetir seperti orang gila!"
Tanpa sadar, tangannya menyentuh tangannya yang menggenggam setir.
Mobil melambat.
Ketika mereka tiba di depan rumah Arabelle, Lorenzo tidak langsung membiarkannya pergi. Ia menggerakkan tangannya dan tiba-tiba jarak di antara mereka terasa terlalu dekat. Arabelle bisa merasakan napasnya yang hangat hampir menyentuh bibirnya.
"Kamu akan menjadi milikku," bisiknya, kali ini lebih pelan, lebih dekat. Lalu ia melepaskan tangannya.
Arabelle turun dari mobil dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Ia masuk ke dalam rumah, mendengar suara ban mobil Lorenzo berderit meninggalkan halaman, dan langsung naik ke kamar.
Ia rebahan di kasur dan membuka chat grup dengan Tori, Chloe, dan yang lain. Ia mengetik semuanya, dari kedatangan Lorenzo tadi pagi, makan siang yang tidak ia rencanakan, sampai bisikan itu di dalam mobil.
Balasannya tidak butuh waktu lama.
Jauh-jauh dari dia, Belle. Serius.
Itu Damon. Jangan main-main.
Arabelle menutup ponselnya dan menatap langit-langit.
Mereka benar. Tentu saja mereka benar.
**
Malamnya Arabelle ada jadwal shift malam di Luminara Coffee. Ia berganti ke seragam kerja, mengikat rambutnya tinggi-tinggi dalam sanggul kencang, lalu mengenakan jaket, musim dingin mulai terasa menggigit. Ia memasukkan beberapa keperluan ke tas kecilnya, mengecek semua pintu dan jendela sudah terkunci, lalu keluar.
Ia berjalan ke halte bus dan berangkat.
Pekerjaan di Luminara Coffee sebetulnya tidak terlalu berat. Arabelle sudah hafal semua menunya, sudah hapal cara menghadapi pelanggan yang memesan dengan rincian lebih panjang dari essay kuliah. Shift malam biasanya lebih tenang, tapi "lebih tenang" tidak berarti tanpa pelanggan yang menyebalkan.
Ketika jam kerjanya habis, Arabelle melepas celemeknya, menandatangani absensi keluar, dan melangkah ke luar dari kedai.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk pipi.