Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Pria Blasteran
Seperti biasa, setelah sampai di Markas Pemadam Kebakaran, Kalandra akan memeriksa setiap alat yang mereka gunakan. Sementara itu, anggota yang lain akan beristirahat atau langsung membersihkan diri.
"Emang paling rajin Kapten kita ini." Kata Wildan yang menghampiri Kalandra sembari melemparkan kaleng minuman yang ia bawa.
"Memang udah tanggung jawabku, meriksa peralatan dan perlengkapan kayak gini." Jawab Kalandra yang membuat Wildan tertawa.
"Kata Komandan, kamu menolak tawaran untuk naik pangkat lagi, Kal?" Tanya Wildan yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Kenapa? Padahal kamu punya kesempatan bagus." Tanya Wildan yang penasaran.
Kalandra sendiri hanya tersenyum. Pria tampan itu kemudian meneguk minuman kaleng dingin yang terasa menyegarkan itu.
"Aku lebih suka kayak gini. Karna ini cita - citaku dari dulu. Kalau aku terima tawaran itu, udah pasti aku jarang turun ke lapangan." Jawab Kalandra sambil tersenyum dan menatap lurus ke arah deretan mobil truk pemadam yang berjajar rapi.
"Astaga! Cuma itu alasannya? Serius kamu, Kal?" Tanya Wildan dengan tatapan tak percaya.
"Iya!" Jawab Kalandra.
"Cita - citaku menyelamatkan warga dan selalu turun secara langsung ke TKP untuk membantu. Bukan cuma memberi perintah sambil mengawasi di dalam ruangan." Jawab Kalandra.
"Padahal pekerjaan kita ini berbahaya. Kamu, di kasih aman, malah nyari bahaya." Gerutu Wildan.
"Biar idup gak monoton, Wil. Semua hal yang menantang itu harus di cobain." Jawab Kalandra.
"Oh iya, Kal. Tadi itu, aku lihat sesuatu yang aneh, deh, waktu kamu nyelametin anjing tadi." Kata Wildan yang membuka percakapan baru.
"Ada apa?" Tanya Kalandra.
"Atap teras yang rubuh dan hampir nimpah kamu itu, jatuhnya gak wajar." Kata Wildan.
"Maksudnya?" Tanya Kal.
"Kalau di pikir secara logika, harusnya kayu besar yang jadi penyangga itu jatuhnya lurus, tepat di titik kamu berdiri. Karna posisinya gak mungkin kegeser. Tapi aku lihat sendiri dengan mata kepalaku kalau tiang itu sedikit bergeser." Kata Wildan sembari memeragakan posisi kayu pengangga yang ia maksud.
"Masak sih, Wil?" Tanya Kalandra.
"Ya Allah, serius, Kal. Makanya tadi mereka semua teriak dan panik setengah mati karna itu, perkiraanku dan perkiraan mereka itu sama." Jawab Wildan.
"Terus, masak dalam jarak yang cuma dalam hitungan senti meter dari tiang itu rubuh. Kamu gak ngalami apa - apa? Itu kayu yang di makan api loh, Kal, apinya pun nyala. Ya minimal lecet atau melepuh sedikit lah. Tapi, lihat nih." Kata Wildan sembari memeriksa wajah dan kedua tangan Kalandra.
"Tetep mulus, bersih, putih, bening, ganteng. Bahkan waktu kamu sampe, gak ada tuh merah - merah di mukamu. Cuma belepotan hitam aja." Ujar Wildan sambil menangkup wajah Kalandra dan mengamatinya.
"Apaan, sih, Wil! Geli banget, sumpah. Biasa aja lah, ngelihatinnya." Kata Kalandra sambil menoyor kepala Wildan yang wajahnya sangat dekat dengan wajah Kal.
"Apa yang di bilang sama Kak Awan itu jangan - jangan bener, ya?" Tanya Wildan.
"Apaan?" Tanya Kalandra.
"Itu, sosok tinggi besar yang di pundaknya bertengger burung Rangkong besar. Yang sering di sebut Kak Awan dengan sebutan Raja. Kata Kak Awan, dia itu selalu ngelindungin kamu, Kal." Kata Wildan.
"Setelah lihat kejadian kemari, aku kayaknya percaya deh." Imbuh Wildan.
"Hahahaha!" Kalandra tertawa.
"Ngaco kamu, Wil! Lagian Kak Awan juga ada - ada aja. Halu aja dia tuh." Kekeh Kalandra.
"Emang kamu gak percaya sama yang ghoib gitu?" Tanya Wildan.
"Ya percaya, lah. Allah aja ghoib. Tapi, di antara kita semua, yang lihat sosok itu kan cuma Kak Awan. Minimal separuh dari kita lihat itu, baru aku percaya." Jawab Kalandra.
"Terus, emangnya gak aneh? Kalo memang dia itu ada, kenapa kok gak pernah nampakin wujudnya ke aku? Katanya dia ngelindungin aku?" Imbuh Kalandra.
"Udah ah! Aku mau mandi. Bentar lagi magrib." Ujar Kalandra sambil meninggalkan Wildan.
"Eh, Kal! Tunggu. Aku juga mau mandi." Seru Wildan yang kemudian mengekor pada Kalandra.
Seperti biasa, seusai sholat magrib, mereka yang sedang bertugas jaga akan makan malam bersama. Kali ini, Kalandra pun turut mendapat tugas jaga. Setelah makan malam, mereka semua berkegiatan masing - masing, kecuali petugas operator yang harus selalu berjaga di dalam ruangan jikalau ada panggilan darurat.
Beberapa ada yang beristirahat di kamar, beberapa ada yang berolah raga di ruang gym, ada juga yang hanya bersantai dan mengobrol di garasi yang menjadi spot favorit mereka untuk bersantai. Kalandra bersama Oji dan Wildan memilih bersantai di garasi sembari menikmati kopi panas.
"Sllluurpp.... Aaaaakhh! Emang paling seger kopi buatan barista kita ini." Kata Oji yang memuji kopi buatan Kalandra yang rasanya tak pernah gagal.
"Iya, bener banget." Sahut Wildan.
"Kal, aku heran deh. Masih gak habis fikri, kenapa kok kamu malah milih kerja jadi petugas Damkar?" Tanya Wildan.
"Emang kenapa? Gak boleh?" Kalandra balik bertanya.
"Maksudnya, Papa kamu punya Perusahaan Properti yang besar dan terkenal, Kakakmu aja ngikutin jejak Papamu. Terus, Mamamu juga punya Resto besar, intinya kamu tuh anaknya seorang pengusaha besar di kota ini. Tapi, kenapa kamu malah memilih jadi anomali?" kata Wildan yang membuat Kalandra menyemburkan kopi yang baru ia seruput.
"Kampret kamu, Kal! Yang bener aja. Aku gak kesurupan, kenapa kamu sembur pake kopi!" Protes Wildan yang membuat Oji terbahak - bahak.
"Maaf - maaf. Kaget, tiba - tiba di sebut Anomali. Kayak anak - anak zaman sekarang aja ngomongnya." Kekeh Kal.
"Iya lah! Biar gak ketinggalan zaman. Emang kamu, anak zaman purba." Sewot Wildan sembari berjalan kembali ke tempatnya setelah mencuci wajahnya.
"Lagian ya, Kal. Kayaknya kalo kamu gak kerja pun, kamu gak akan denger suara meteran listrik yang teriak - teriak karena isinya mau abis deh." Timpal Oji.
"Dari kecil, aku memang suka berpetualang. Apa lagi, dulu waktu kecil aku sama Kakakku di titipkan di rumah Ni Tuwe dan Pui waktu Papa dan Mama sedang merintis usaha di sini. Setiap hari, aku selalu ikut Ni Tuwe keluar masuk hutan." Cerita Kalandra.
"Ni Tuwe? Pui?" Tanya Oji yang tentu asing dengan panggilan itu. Begitu juga dengan Wildan yang tampak bingung.
"Iya, Ni Tuwe itu Kakek, sedangkan Pui itu Nenek. Beliau adalah orang tua Mama yang tinggal di Kalimantan." Jawab kalandra.
"Ooh, jadi kamu ini blasteran, Kal?" Kekeh Oji.
"Iya, blasteran Jawa - Kalimantan." jawab Kalandra sambil tersenyum.
"Pantes aja, tiap ada kegiatan SAR kamu selalu di bawa. Ternyata emang basiknya penjelajah sejak dini." Kata Wildan.
"Hm'm, aku dapat banyak ilmu survival dari Ni Tuwe. Makanya di keluarga, aku di bilang cucu kesayangan Ni Tuwe. Karena dulu kemanapun Ni Tuwe pergi, aku selalu ikut." Cerita Kalandra.
Tak banyak rekan yang mengetahui mengenai latar belakang Kalandra dan keluarganya. Sejauh ini, hanya Oji, Wildan dan Kak Awan lah yang cukup tau banyak tentang ia dan keluarganya.
"Pak! Paaak! Tolong..." seorang pria berlari tergopoh - gopoh dengan wajah panik. Ia langsung menghampiri tiga pria yang sedang duduk bersantai di garasi itu.
"Kenapa, Pak, ada apa?" Tanya Wildan.
"Tolong... Tolong anak saya..." Kata si Bapak dengan nafas yang terengah - engah.
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk