Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Pagi itu, gedung pencakar langit Smith Company yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi sarang lebah yang terusik. Di ruang rapat utama, Tuan Smith ayah Danesha membanting berkas laporan di atas meja jati dengan wajah merah padam. Di hadapannya, beberapa direktur menunduk dalam, tak berani menatap mata sang singa tua yang sedang murka.
"Jelaskan padaku!" suara Tuan Smith menggelegar. "Kenapa tiga proyek strategis kita di pesisir barat mendadak dibatalkan? Kenapa bank pendana kita tiba-tiba meninjau ulang suku bunga pinjaman? Dan yang paling gila, kenapa Desmon Group berani mengambil alih suplai bahan baku utama kita secara paksa?"
Tuan Smith menoleh ke arah Danesha yang duduk di ujung meja dengan wajah pucat. "Danesha! Selama ini keluarga Desmon dan keluarga kita punya wilayah masing-masing. Kita tidak pernah menyenggol mereka, dan mereka tidak pernah mengusik kita. Apa yang kau lakukan di luar sana sampai bocah ingusan bernama Fharell Desmon itu mengibarkan bendera perang?"
Danesha terdiam. Tenggorokannya terasa kering. Ia teringat tatapan mata Fharell di kafe beberapa hari lalu, tatapan dingin yang menjanjikan kehancuran. Ia tidak menyangka bahwa ejekannya tentang perawan dan anak titipan akan dibalas dengan serangan ekonomi berskala besar.
Fharell Desmon tidak bermain-main. Di kantor pribadinya, ia duduk dengan tenang sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Di layar monitornya, grafik saham Smith Company mulai menunjukkan tren menurun. Fharell baru saja menginstruksikan divisi legal dan akuisisi Desmon Group untuk memotong semua jalur napas bisnis keluarga Smith.
"Tuan Fharell," asisten pribadinya masuk dengan langkah cepat. "Tuan Smith senior mencoba menghubungi Anda sebanyak sepuluh kali sejak tadi pagi."
Fharell tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih dewasa dari usianya yang baru dua puluh tahun. "Abaikan. Biarkan dia bertanya-tanya. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan kendali atas sesuatu yang mereka banggakan."
Fharell tahu, menyerang Smith Company adalah cara tercepat untuk membuat Danesha berlutut. Jika Danesha kehilangan takhtanya, ia tidak akan punya kekuatan lagi untuk mengganggu Paroline atau mempertanyakan status Andreas Sunny.
"Kirimkan dokumen hadiah itu ke kantor Danesha sekarang," perintah Fharell dingin. "Aku ingin dia tahu bahwa ini baru permulaan."
Di kantornya, Danesha menerima sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya bukan berisi ancaman fisik, melainkan lembar-lembar kontrak kerja sama yang telah dibatalkan oleh vendor-vendor terbesar mereka, semuanya beralih ke tangan Desmon Group dalam semalam.
Di lembar terakhir, ada sebuah catatan tulisan tangan yang rapi dan tegas:
"Danesha, kau bilang aku masih polos? Mari kita lihat seberapa 'polos' aku saat aku membuatmu kehilangan kursi empukmu itu. Kau menyentuh harga diri istriku, maka aku akan menghancurkan duniamu. Ini bukan soal bisnis, ini soal kau yang terlalu banyak bicara di depan pria yang salah. - Fharell Desmon."
Danesha meremas kertas itu hingga hancur. Ia merasa seperti tikus yang sedang dipojokkan oleh predator. Ia tidak pernah mengira bahwa bocah yang dulu ia remehkan bisa bergerak secepat dan sebrutal ini. Fharell tidak menyerang secara frontal di media, ia menyerang langsung ke pembuluh darah finansial mereka.
Tuan Smith masuk ke ruangan Danesha tanpa mengetuk pintu. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Danesha, katakan yang jujur. Ini soal wanita itu, kan? Paroline Benedicta?" tanya ayahnya dengan nada rendah namun tajam. "Aku dengar kau menghina dia dan suaminya di tempat umum. Kau gila? Kau mempertaruhkan ribuan karyawan dan aset triliunan hanya karena egomu yang terluka sejak SMA?"
"Ayah, dia hanya beruntung menikahi pewaris Desmon!" teriak Danesha frustrasi.
"Bukan dia yang beruntung, tapi kau yang bodoh!" balas Tuan Smith. "Desmon Group jauh lebih kuat dari kita. Jika Fharell mau, dia bisa membuat kita bangkrut dalam tiga bulan. Dia bukan lagi bocah yang bisa kau rundung, Danesha. Dia adalah pria yang sedang melindungi keluarganya. Dan pria seperti itu... adalah lawan yang paling berbahaya."
Danesha terduduk lemas di kursinya. Ia teringat kembali kata-kata Paroline dulu, "Kau pecundang yang tidak akan pernah bisa memuaskanku".
Dan sekarang, kenyataan itu menghantamnya kembali. Ia tidak bisa memuaskan ambisinya, ia tidak bisa mengalahkan Fharell, dan ia perlahan kehilangan kendali atas warisannya.
Di kediaman Desmon, Fharell pulang dengan wajah lelah namun puas. Ia melihat Paroline sedang bermain dengan Andreas di ruang tengah. Suara tawa mereka adalah bahan bakar bagi Fharell untuk terus bertarung.
Paroline menghampiri suaminya, merapikan dasi Fharell yang sudah longgar. "Fharell, Ayah menelepon tadi. Dia bilang kau sedang sibuk mengusik Smith Company. Apa ini benar-benar perlu?"
Fharell menarik Paroline ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Sangat perlu, Sayang. Aku ingin memastikan bahwa saat Danesha melihatmu di jalan nanti, dia tidak akan berani mengangkat kepalanya. Aku ingin dia tahu bahwa setiap kata buruk yang keluar dari mulutnya tentangmu, akan dibayar dengan kerugian jutaan dolar."
Fharell menatap Andreas yang merangkak menuju mereka. Dalam hati, Fharell berbisik: Aku akan membuat ayah biologismu memohon padaku untuk tetap menjadi papamu, Sunny. Karena dia tidak layak mendapatkan anak sehebat kau.
"Fharell, kau terlihat sangat menyeramkan saat sedang serius seperti ini," goda Paroline mencoba mencairkan suasana.
Fharell tertawa kecil, kembali ke mode suami berondong nya yang manis. "Menyeramkan ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke kamar? Aku butuh hadiah karena sudah bekerja keras menjadi panglima perang hari ini."
"Fharell! Masih siang!"
"Justru karena masih siang, cahayanya bagus untuk melihat betapa cantiknya istriku," balas Fharell sambil menggendong Paroline menuju kamar, meninggalkan tawa riang Andreas di belakang mereka.
Fharell telah menyatakan perang. Dan bagi keluarga Smith, ini adalah awal dari mimpi buruk yang panjang, karena Fharell Desmon tidak akan berhenti sampai musuhnya benar-benar kehilangan segalanya, kecuali satu hal, penyesalan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰