Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang Tak Terkendali
Arka berusia tiga bulan tapi dalam ukuran naga. Tubuhnya kini sebesar kuda dewasa, sayapnya sudah sepenuhnya terbuka meski masih tipis di ujung, dan sisik merahnya sudah mengeras seperti baja yang baru ditempa. Setiap gerakannya meninggalkan jejak panas kecil di tanah gua. Rumput kering di sekitar pintu masuk gua selalu hangus jika Arka berlari terlalu cepat.
Sari sudah tidak lagi bisa menggendongnya. Arka terlalu berat, terlalu panas. Tapi ia tetap dekat, selalu tidur dengan kepala besarnya bersandar di pangkuan Sari, napasnya yang panas menghembus seperti angin dari tungku. Sari belajar menjahit selimut dari kulit rusa yang sudah dibakar api Phoenix-nya sendiri—selimut itu tidak terbakar meski Arka tidur di atasnya.
Pelatihan dimulai setiap pagi. Sari membawa Arka ke lereng terbuka di belakang gua—tempat yang jauh dari desa dan mata-mata klan. Di sana, ia mengajari Arka mengendalikan api dengan latihan sederhana: meniup api kecil ke batu tanpa membakar rumput di sekitar, atau membentuk bola api di mulut tanpa meledakkannya.
“Fokus pada napasmu,” kata Sari. “Api bukan musuh. Api adalah bagian dari dirimu. Kalau kau marah, api marah. Kalau kau tenang, api tenang.”
Arka mencoba. Ia menarik napas dalam—napas yang membuat dada sisiknya membesar—lalu meniup pelan. Api kecil muncul dari mulutnya, merah cerah, tapi terkendali. Api itu melayang seperti kunang-kunang besar, lalu mendarat di batu tanpa membakar apa pun di sekitar.
Sari tersenyum. “Bagus. Sekarang lebih besar.”
Arka mengangguk kecil. Ia menarik napas lagi—lebih dalam. Api muncul lagi, kali ini lebih besar, seperti bola api seukuran kepala manusia. Tapi tiba-tiba Arka panik—ia ingat mimpi malam sebelumnya tentang membakar Sari. Api itu meledak tak terkendali, membentuk badai api yang melesat ke segala arah.
Sari langsung bereaksi. Api Phoenix-nya meledak penuh, membentuk perisai merah yang menahan badai api Arka. Api bertabrakan—merah Phoenix vs merah Arka—uap panas menyelimuti lereng, rumput di sekitar hangus seketika.
Arka berhenti meniup, matanya melebar ketakutan. “Aku… aku hampir—”
Sari memeluk leher besar Arka. “Kau baik-baik saja. Itu hanya latihan. Kita belajar bersama.”
Tapi Arka gemetar. “Aku takut… kalau aku besar nanti… aku akan membakar kau. Aku tidak mau jadi monster.”
Sari mengusap sisiknya. “Kau bukan monster. Kau anakku. Dan anakku tidak akan jadi monster selama aku ada di sampingmu.”
Arka diam lama. Lalu ia berbisik, “Aku ingin belajar lebih cepat. Supaya aku bisa lindungi kau. Supaya aku tidak takut lagi.”
Sari mengangguk. “Maka kita tinggalkan gua ini. Kita pergi ke kawah Merapi. Di sana kau bisa latihan dengan lava. Api gunung akan ajari kau apa yang aku tidak bisa.”
Mereka berangkat malam itu. Sari naik ke punggung Arka—sayapnya sudah cukup kuat untuk membawa Sari meski hanya meluncur pendek. Arka terbang rendah, sayapnya mengibas pelan, api kecil dari mulutnya menerangi jalan seperti lentera hidup.
Mereka tiba di kawah saat fajar. Lava masih mengalir lambat di dasar kawah, merah menyala seperti darah dunia. Arka mendarat di tepi kawah, matanya melebar melihat lautan api itu.
“Ini… rumahku?” tanyanya.
Sari turun dari punggungnya. “Ini tempat kau lahir. Dan tempat kau akan belajar menjadi raja.”
Arka mendekati lava. Panas itu tidak menyakitinya—malah terasa seperti pelukan. Ia menunduk, menyentuh lava dengan moncongnya. Lava bereaksi—membentuk lingkaran api kecil di sekitar moncongnya, seolah menyambut.
Sari tersenyum. “Coba kendalikan. Tarik lava ke arahmu. Bentuk apa saja yang kau mau.”
Arka menarik napas dalam. Lava naik perlahan mengikuti napasnya—membentuk bola lava kecil yang melayang di depan moncongnya. Arka tersenyum—senyum naga yang lucu, gigi kecilnya berkilau.
“Aku… bisa!”
Tapi kegembiraan itu tidak bertahan lama.
Dari balik kabut kawah, suara langkah terdengar. Raden Surya muncul bersama sepuluh Phoenix bersenjata. Di belakang mereka, seorang tetua tua dengan jubah hitam—pengikut sisa roh Naga Tanah yang masih hidup dalam bayang.
“Kau sudah terlalu jauh, Sari,” kata Raden Surya. “Naga itu sudah bisa mengendalikan lava. Kalau kita biarkan ia tumbuh… ia akan membakar klan kita.”
Sari berdiri di depan Arka. “Ia tidak akan membakar siapa pun yang tidak mengancamnya.”
Tetua berjubah hitam maju. Matanya hijau beracun—tanda ia pernah bersatu dengan roh Naga Tanah. “Naga api ini adalah kesalahan. Ia lahir dari api yang tidak seharusnya ada. Dan kami… akan memperbaiki kesalahan itu.”
Ia mengangkat tangan. Bayang hitam muncul dari tanah—bayang yang sama seperti kegelapan luar yang pernah Sari lihat dalam mimpi. Bayang itu menyambar ke arah Arka.
Arka menggeram kecil—geraman bayi naga yang mulai berubah menjadi ancaman. Ia meniup api—bukan api kecil lagi, tapi badai api yang membakar bayang itu. Bayang surut, tapi tetua berjubah hitam tertawa.
“Kau masih bayi. Api-mu belum cukup kuat.”
Raden Surya melemparkan tombak api ke arah Sari. Sari menangkis, tapi kekuatannya terbagi—ia harus melindungi Arka juga.
Arka melihat itu. Matanya menyala terang. Ia melompat ke depan Sari, sayapnya membentang penuh. Api merah meledak dari seluruh tubuhnya—badai api yang lebih besar dari sebelumnya. Lava di kawah naik mengikuti gerakannya, membentuk tembok lava yang menghalangi serangan Phoenix dan bayang.
Raden Surya terdorong mundur. “Ia… ia sudah bisa mengendalikan lava!”
Tetua berjubah hitam menggeram. “Kita mundur! Ia belum dewasa. Kita serang lagi saat ia lengah.”
Mereka pergi, meninggalkan kawah yang sekarang berasap lebih tebal.
Arka berhenti meniup api. Tubuhnya gemetar—bukan karena lelah, tapi karena takut. Ia berbalik ke Sari, kepalanya menunduk.
“Aku… aku hampir membakar semuanya.”
Sari memeluk leher besar Arka. “Kau melindungi aku. Kau melindungi kita. Itu bukan membakar. Itu… menjaga.”
Arka bersandar di tubuh Sari. “Aku tidak mau jadi monster.”
Sari mengusap sisiknya. “Kau bukan monster. Kau anakku. Dan aku akan ajari kau sampai kau bisa mengendalikan api sepenuhnya. Sampai kau bisa jadi raja yang dunia butuhkan.”
Arka diam lama. Lalu ia berbisik, “Aku janji… aku akan jadi raja yang baik. Untukmu. Untuk ibu api.”
Sari tersenyum, air mata emas jatuh lagi.
Di kejauhan, gunung Merapi mengeluarkan asap tipis seolah setuju.
Tapi di balik asap itu, bayang hitam kecil masih mengintai.
Menunggu.
Dan merencanakan.