Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arka Jatuh
Hari Rabu biasanya menjadi hari yang paling tenang di TK Pelangi Bangsa.
Anak-anak biasanya disibukkan dengan kegiatan melukis atau mendengarkan dongeng sebelum tidur siang.
Namun ketenangan itu pecah ketika jeritan kecil terdengar dari arah taman bermain belakang.
Alisa yang saat itu sedang merapikan buku di rak pun langsung berlari dengan jantung berdegup kencang.
Di sana, di dekat perosotan kayu Arka terduduk sambil memegangi lututnya.
Darah segar mengalir dari luka lecet yang cukup lebar, bercampur dengan pasir dan debu tanah.
Wajah Arka memerah dengan air mata mulai membanjiri pipi gembulnya.
“Arka! Sayang tidak apa-apa, bu Alisa di sini.” ucap Alisa selembut mungkin sembari berjongkok di samping anak itu.
Ia segera memeriksa lukanya, meski hanya luka lecet tapi posisi jatuhnya membuat luka itu terlihat cukup dalam dan kotor.
“Sakit, Bu Guru… Om Niko pasti marah kalau Arka luka.” isak Arka sesenggukan dan merasa takut dengan om nya itu.
Alisa merasa hatinya mencelos, mengingat wajah dingin Niko ia bisa membayangkan pria itu akan mengerutkan kening karena keteledoran ini.
Alisa segera membawa Arka ke ruang UKS dan membersihkan lukanya dengan air mengalir, namun ia menyadari bahwa serpihan pasir masuk terlalu dalam ke jaringan kulit, hal itu membuat Arka terus meringis kesakitan.
“Arka lukanya harus dibersihkan dengan benar supaya tidak infeksi, kita ke tempat Om Niko bekerja ya?” tanya Alisa.
Sejujurnya ia sendiri merasa ragu, masuk ke wilayah kekuasaan Niko terasa seperti memasuki gua singa yang dingin, namun keselamatan Arka adalah prioritas utamanya.
Setelah menghubungi kepala sekolah dan meminta izin Alisa membawa Arka menggunakan mobilnya menuju Rumah Sakit Medika Utama.
Sepanjang perjalanan Alisa berusaha menenangkan Arka meski tangannya sendiri sedikit gemetar saat memegang kemudi.
Ini bukan sekadar tentang luka Arka tapi ini tentang menghadapi Dokter Niko di habitat aslinya.
Gedung Rumah Sakit Medika Utama tampak megah dan megah.
Saat memasuki lobi aroma antiseptik yang tajam langsung menyambut indra penciuman Alisa.
Ia merasa asing di tempat yang serba putih dan kaku ini sangat berbeda dengan dunianya yang penuh warna primer dan aroma krayon.
“Permisi saya ingin bertemu Dokter Niko Arkana, ini keponakannya Arka, dia terluka saat di sekolah.” ujar Alisa pada bagian administrasi.
Petugas administrasi menatap Alisa dengan pandangan sedikit heran, lalu beralih ke Arka yang masih menangis pelan.
“Dokter Niko sedang berada di poli bedah lantai tiga, mari saya antarkan melalui lift khusus.” ucap petugas disana.
Lantai tiga terasa jauh lebih sunyi, Alisa melangkah menyusuri lorong yang sepi di mana hanya terdengar suara gesekan sepatunya di atas lantai mengilap.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu jati yang elegan dengan papan nama perak yaitu dr. Niko Arkana, Sp.B.
Alisa menarik napas panjang sambil merapikan blusnya yang sedikit berantakan karena tadi harus menggendong Arka, iaa mengetuk pintu itu tiga kali.
“Masuk.” suara bariton yang berat terdengar dari dalam.
Alisa membuka pintu perlahan, di sana di balik meja kerja yang sangat rapi Niko duduk dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya.
Ia sedang menatap layar komputer dengan fokus penuh, namun begitu ia mendengar isakan Arka kepalanya langsung mendongak.
Niko berdiri seketika, ekspresinya yang biasanya datar kini menegang.
Ia tidak melihat ke arah Alisa melainkan langsung tertuju pada lutut Arka yang terbalut kasa darurat.
“Apa yang terjadi?” tanya Niko dingin, namun ada nada kepanikan yang tersembunyi di dalamnya.
“Maaf Pak Niko, Arka jatuh di taman bermain tadi dan lukanya kemasukan pasir cukup banyak, saya khawatir jika saya bersihkan sendiri di sekolah akan semakin sakit.” Alisa menjelaskan dengan suara tenang, meski ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari pria itu.
Niko tidak menjawab, ia menghampiri Arka lalu dengan gerakan yang sangat efisien namun tak terduga lembut, ia mengangkat tubuh kecil keponakannya itu ke atas tempat tidur periksa di sudut ruangan.
“Jangan menangis Arka, laki-laki tidak boleh cengeng hanya karena lecet kecil.” ucap Niko. Tangannya mulai mengenakan sarung tangan karet tipis.
Alisa berdiri di samping tempat tidur dan memegang tangan Arka untuk memberikan dukungan moral, ia memperhatikan bagaimana Niko bekerja.
Di sekolah Niko tampak seperti pria sombong yang kaku, namun di sini, di bawah lampu periksa yang terang Niko adalah personifikasi dari profesionalisme.
Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan sangat presisi, ia mengambil pinset kemudian membersihkan serpihan pasir satu per satu dengan ketenangan yang luar biasa.
Meski Arka sesekali memekik kesakitan tapi Niko tetap fokus, ia tidak membentak namun ia juga tidak memberikan kata-kata manis yang kosong, ia hanya fokus pada penyembuhan.
“Sakit Om… pelan-pelan.” rintih Arka.
Niko berhenti sejenak lalu ia melirik ke arah Alisa.
“Pegang bahunya Bu Alisa, pastikan dia tidak banyak bergerak.” seru dokter Niko kepada Alisa.
Alisa mengangguk cepat, ia mendekatkan wajahnya ke Arka membisikkan kata-kata penenang sementara matanya tanpa sengaja terus memperhatikan profil samping wajah Niko.
Dalam jarak sedekat ini Alisa bisa melihat bulu mata Niko yang lentik namun tegas, serta konsentrasi yang mendalam di matanya.
Ada sesuatu yang sangat menarik dari pria yang sangat ahli dalam bidangnya, Alisa merasakannya yaitu sebuah rasa kagum yang mulai tumbuh tanpa permisi.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, Niko akhirnya selesai membalut luka Arka dengan sangat rapi, ia melepaskan sarung tangan karetnya dengan bunyi plak yang khas.
PLAK
“Selesai. Besok kau sudah bisa lari lagi tapi jangan di dekat perosotan yang rusak itu.” kata Niko sambil menatap Arka.
Ia kemudian menoleh ke arah Alisa, tatapannya kini kembali tajam dan menusuk.
“Terima kasih sudah membawanya ke sini Bu Alisa, anda melakukan hal yang benar dengan tidak mencoba mengorek pasirnya sendiri.” tutur Niko.
Alisa mengembuskan napas lega.
“Sama-sama Pak Niko, saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai gurunya.” seru Alisa merasa begitu bersalah.
Niko terdiam sejenak, matanya menatap Alisa yang tampak kelelahan namun tetap berusaha tersenyum.
Ia melihat ada noda darah kecil di lengan blus Alisa yaitu darah Arka.
Tanpa sadar Niko merasa dadanya berdesir, seorang wanita yang begitu tulus mengurus anak orang lain hingga bajunya kotor... itu adalah konsep yang asing baginya.
“Anda tidak perlu minta maaf, anak kecil memang begitu, sebaiknya Anda membersihkan baju Anda karena ada noda darah di sana.” Niko menunjuk lengan Alisa.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi