NovelToon NovelToon
Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Cinta Seiring Waktu / Romansa / PSK / Konflik etika / Mengubah Takdir
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.

Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.

Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.

Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Beberapa hari kemudian, Kayla resmi mulai bekerja di perusahaan milik Pak Zaenal. Gedung tinggi dengan kaca berkilau itu membuat Kayla sempat ciut nyali saat pertama kali melangkah masuk. Namun, sambutan ramah para karyawan membuatnya sedikit lebih tenang.

Kayla ditempatkan sebagai staf administrasi di bagian umum, pekerjaan yang relatif ringan, tetapi tetap menuntut ketelitian. Selain bekerja, Kayla juga mulai mempersiapkan diri untuk ujian Paket C.

Malam-malamnya kini diisi dengan membuka buku, menonton video pembelajaran di ponsel, dan mencatat materi dengan tulisan rapi. Kadang matanya terasa berat, tetapi ia selalu teringat wajah Nayla yang tersenyum lemah di sampingnya.

“Kalau Nayla bisa bertahan, aku juga harus bisa,” gumam Kayla setiap kali hampir menyerah.

Karena pekerjaannya, Kayla dan ketiga adiknya dipindahkan ke mess karyawan milik perusahaan.

Mess itu sederhana mirip kontrakan, tetapi bersih dan nyaman. Dua kamar tidur kecil, satu ruang tamu, dan dapur mini, jauh lebih layak dibanding kontrakan lama mereka. Kayla menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca.

“Sekarang kita tidak perlu pusing bayar kontrakan lagi,” kata Kayla pada adik-adiknya.

“Hore ...!” Fattan dan Fattah bersorak kegirangan, berlarian di dalam kamar.

“Kak, kamar mandinya pakai shower!” teriak Fattah.

Nayla yang masih tampak lemah tersenyum kecil di pangkuan Kayla. Gadis kecil itu tidak selincah dahulu lagi.

Hati Kayla terasa hangat. Setelah sekian lama, ia merasa sedikit tenang. Tidak cemas bocor atau banjir saat hujan, karena area di sana aman.

Meski sudah tidak bekerja di rumah Pak Ramlan, komunikasi Kayla dengan Ashabi tidak terputus. Hampir setiap dua atau tiga hari, Ashabi mengirim pesan.

[Bagaimana keadaan Nayla hari ini?]

[Jangan lupa makan.]

[Kalau butuh apa-apa, bilang sama aku.]

Kadang Ashani juga datang diam-diam ke rumah, membawakan buah, susu, atau makanan untuk Kayla dan adik-adiknya.

Kayla selalu berusaha menjaga jarak, bukan karena tidak nyaman, tetapi karena ia takut semakin bergantung.

Suatu malam, saat mereka duduk di koridor rumah sakit menunggu giliran kontrol Nayla, Ashabi berbicara pelan.

“Kamu kelihatan capek, Kayla.”

Kayla tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”

Ashabi menatapnya dalam-dalam. “Kamu tidak perlu terlihat kuat terus di depanku.”

Kayla terdiam. Kata-kata itu membuat dadanya bergetar. Namun, ia tetap menggeleng.

“Aku harus kuat, demi mereka.”

Ashabi menghela napas, tetapi tidak memaksa.

***

Seiring berjalannya waktu, Kayla semakin sibuk dengan pekerjaannya, sekolah Paket C, dan mengurus Nayla. Ia mulai berubah lebih tegar, lebih dewasa, lebih terarah.

Keluarga Pak Zaenal juga memberikan perhatian kepadanya. Bahkan mereka akan mengirimkan sopir untuk antar jemput saat Nayla pergi ke rumah sakit untuk berobat.

Namun, jauh di lubuk hati Kayla, perasaannya kepada Ashabi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menguburnya dalam-dalam, menutupinya dengan rasa tanggung jawab dan harga diri.

Sementara itu, Ashabi semakin sering memerhatikan Kayla dari jauh. Dia bangga, tetapi juga cemas. Ia tahu Kayla sedang berjuang keras, tetapi ia juga tahu ada tembok tak terlihat yang perlahan tumbuh di antara mereka.

***

Koridor kantor yang biasa selalu ramai oleh langkah kaki karyawan, derit pintu lift, dering telepon, suara printer yang tak pernah berhenti, semuanya membentuk irama keseharian yang familiar.

Namun, sore itu, setelah jam kerja hampir usai, lorong panjang berlantai marmer itu terasa sunyi. Lampu putih di langit-langit menyala terang, memantulkan bayangan dua sosok yang berdiri berhadapan.

Kayla baru saja keluar dari ruang arsip, map cokelat tebal terjepit di dadanya. Rambutnya tertutup rapi oleh jilbab krem, wajahnya tampak lelah, tetapi tegar.

Langkahnya terhenti ketika melihat sosok tinggi berdiri beberapa meter di depannya.

Dalfa. Pria itu berdiri tegak, satu tangan masuk ke saku celana, rahangnya mengeras. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak pucat, seolah ia baru saja dihantam kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.

Kayla spontan mundur setengah langkah. Jantungnya berdentum keras.

“Ma-Mas Dalfa?” ucap Kayla pelan, hati-hati.

Dalfa tidak menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Kayla, menelusuri wajahnya, terutama pada bagian mata amber yang selama ini menghantuinya. Kemudian langkahnya maju perlahan.

Kayla refleks mengeratkan map di dadanya, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki. “Jangan mendekat,” katanya tegas, meski suaranya bergetar.

Dalfa berhenti. Sunyi menggantung di antara mereka. Detik terasa seperti menit.

Akhirnya, Dalfa membuka suara. “Jadi, benar, itu kamu, ya?” suaranya rendah, serak, nyaris tak terdengar.

“Maksud Mas Dalfa, apa?”

“Kamu itu Queen, kan?”

Dada Kayla seperti diremas. Nama yang sudah ia kubur dalam-dalam kembali terangkat ke permukaan. Bibirnya bergetar.

“Aku tidak tahu apa yang Mas Dalfa bicarakan,” jawabnya dingin, berusaha menutup rapat pintu masa lalunya.

Dalfa mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menunjukkan sebuah foto. Foto lama Queen bergaun merah, riasan tebal, tatapan memikat dan sepasang mata amber yang tak mungkin salah.

Kayla menatap foto itu. Seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir. Wajahnya memucat. Map di tangannya hampir terlepas.

Dalfa mengamati reaksinya, dan di detik itu, kebenaran menghantamnya seperti badai. Jantungnya berdebar tak terkendali. Napasnya tercekat.

“Jadi, itu benar,” gumam Dalfa lirih. “Kamu juga gadis di malam itu, kan?”

Tubuh Kayla menegang. Ingatan pahit menyeruak tanpa permisi. Gang sempit, aroma alkohol, tangan kasar, jeritan yang tertahan, air mata yang tak pernah kering.

Mata Kayla memerah. “Jangan ...,” bisiknya, suaranya pecah.

Dalfa menatapnya lekat-lekat, wajahnya kini berubah bukan lagi dingin, tetapi diliputi keterkejutan dan penyesalan yang menghancurkan.

Kayla menggigit bibirnya kuat-kuat, air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. “Jangan bicarakan itu,” katanya lirih, penuh tekanan.

Namun, Dalfa sudah tenggelam dalam kenyataan yang baru ia sadari. Semua kepingan ingatan menyatu.

Mata amber itu. Air mata dalam mimpinya. Rasa asing setiap melihat Kayla. Dan kini, semuanya jelas. Ia tidak hanya mengenal Kayla. Ia adalah pelaku kehancuran hidupnya.

Tubuh Dalfa bergetar. “Tuhan ...,” gumamnya pelan, menundukkan kepala. “A-ku … aku tidak tahu itu kamu.”

Kayla tertawa pahit. Tawa yang terdengar seperti tangisan.

“Tidak tahu?” ulangnya getir. “Bukannya kamu adalah pelakunya.”

Dalfa menatapnya, matanya kini basah. “Aku tidak mencari pembenaran,” katanya dengan suara tercekat. “Aku hanya … aku tidak pernah menyangka kalau itu kamu.”

Kayla menghapus air matanya kasar. “Lalu, Mas Dalfa mau apa sekarang?” tanyanya dingin, meski hatinya hancur. “Mau minta maaf? Mau bilang kalau itu kesalahan masa lalu? Mau bilang sudah berubah?”

Dalfa melangkah maju tanpa sadar. “Ya, aku ingin minta maaf, Kayla. Dari lubuk hatiku yang paling dalam—”

Kayla mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan!” teriaknya, suaranya menggema di lorong kosong. “Jangan mendekat. Jangan berbicara. Jangan menyentuhku. Jangan mencoba masuk ke hidupku lagi.”

Dalfa terdiam, terpaku.

1
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tak apa lah kay itu wajar tp fomuslah dgn kerja saja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tp apakah betul itu dalfa atau siapa ya

dan ahh masih bikin bgg
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ayok lah kay ceritalah jgn kau pe dam biar tahu
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
hahhhh jadi ada alasan nya knp kayla bisa terjerumus ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ehh asabi orang kaya juga ya

trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sabar lah kay

nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ohh jd dulu kay org kaya juga ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
llha lah

kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
aduh itulah klo org punya harta

trus se enak nya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
yo harus kuat too kay
ini baru permulaan ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
wow kumkira akan lebih dr 100 jt aq dag deg2an klo menyebut nominal dgn depan nya pake M
Naufal Affiq
kenapa di gantung ceritanya,
nuraeinieni
orang itu pintar koreksi kesalahan orang,tapi tdk sadar utk inropeksi mulutnya utk berbicara yg sopan.
nuraeinieni
semoga saja sdh ada calon baby,,,biar aby dan kayla,merasakan juga jadi orang tua.
martiana. tya
bikin penasaran ihhhh.... 😄
Nar Sih
semoga usaha dan ihtiar mu kali ini sgra membuah kan hasil ya kayla sgra hadir buah cinta kalian
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
ken darsihk
Dengan kesabaran dan tawakal pasti semua nya akan indah pada waktu nya
Sugiharti Rusli
bahkan karena itu bu Aisyah tidak ragu tuk membela sang menantu yang sudah dipilih oleh Ashabi karena hatinya yang memilih dan bukan nafsunya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata ucapan Ashabi saat dulu mau meniatkan Kayla sebagai calon istri kepada kedua ortunya yang pada akhirnya meluluh kan pak Ramlan dan bu Aisyah tentang niat sang putra yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!