Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Mie Zar dan Thia Du
Sementara itu, Ren Zen dan Lyra telah tiba di jalan utama ibu kota.
Jalan itu sangat luas, dipenuhi batu giok putih yang mengilap. Di sisi kanan dan kiri, berdiri bangunan-bangunan megah, toko-toko, penginapan, rumah makan, dan aula perdagangan.
Orang-orang berlalu lalang. Kultivator dengan berbagai tingkat kekuatan, pedagang yang menawarkan barang dagangannya, para bangsawan dengan pengawal pribadi, serta prajurit kekaisaran yang berpatroli dengan tombak dan zirah berkilau.
Lyra menatap semuanya dengan antusias.
“Tempat ini… sangat ramai,” katanya pelan, matanya berbinar.
Ren Zen tersenyum ringan. “Tentu saja. Ibu kota kekaisaran memang selalu seperti ini.”
Namun di balik senyumnya, Ren Zen mengamati sekitar dengan cermat. Dua tahun meninggalkan istana ternyata membawa banyak perubahan. Aura kota ini terasa berbeda—lebih padat, lebih kuat, lebih… ambisius.
Lyra tiba-tiba berhenti.
Ren Zen ikut berhenti. “Ada apa?” tanyanya.
Lyra menunjuk ke depan. “Tempat itu…”
Ren Zen mengikuti arah jarinya.
Dan ia pun terdiam.
Di hadapan mereka berdiri dua bangunan besar yang saling berhadapan, seperti dua raksasa yang menjaga jalan utama. Megah. Tinggi. Dan memancarkan aura kekuatan yang jelas terasa bahkan dari jarak puluhan meter. Banyak orang mengantri untuk memasuki keduanya.
Di sisi kanan, bangunan dengan ukiran emas, pilar-pilar besar dari batu kristal, dan simbol-simbol kuno yang terukir di dindingnya. Di atasnya tertulis: Paviliun Harta Karun
Di sisi kiri, bangunan yang lebih anggun, dindingnya berwarna putih perak, dengan cahaya lembut seperti sinar bulan yang menyelimuti seluruh struktur. Di atasnya tertulis: Paviliun Cahaya Bulan
Lyra menatapnya dengan kagum. “Bangunan apa ini?”
Ren Zen menggeleng pelan. “Entahlah. Dua tahun lalu, aku tidak pernah melihat kedua bangunan ini. Tapi, sepertinya tempat ini sangat terkenal.”
Aura yang terpancar dari kedua bangunan itu bukanlah aura biasa. Itu adalah aura formasi pelindung tingkat tinggi.
Ren Zen melangkah maju. Lyra mengikutinya dari belakang.
“Kita masuk ke Paviliun Harta Karun dulu.”
Lyra tersenyum lebar dan mengangguk.
Mereka pun berjalan menuju pintu masuk Paviliun Harta Karun.
Didepan Paviliun, dua penjaga berdiri tegak. Keduanya mengenakan jubah hitam dengan lambang emas berbentuk lingkaran berlapis sembilan. Aura mereka padat dan dalam—jelas bukan kultivator biasa.
Ren Zen dan Lyra berhenti beberapa langkah dari pintu.
Salah satu penjaga memandang mereka dengan ekspresi datar. “Tujuan?” tanyanya singkat.
Ren Zen menjawab tenang. “Berbelanja.”
Penjaga itu menatap Ren Zen beberapa detik. Lalu tatapannya berpindah pada Lyra.
Entah mengapa, ketika matanya bertemu dengan Lyra, alisnya sedikit bergerak—seolah merasakan sesuatu yang tidak biasa. Namun ia tidak berkata apa-apa.
“Silakan masuk.”
Pintu besar terbuka perlahan.
Begitu mereka melangkah masuk, dunia seakan berubah.
Interior Paviliun Harta Karun
Ruangan dalamnya sangat luas, jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Jelas terdapat formasi ruang terlipat di dalamnya.
Lantai marmer hitam mengilap memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit tinggi. Rak-rak kayu spiritual tersusun rapi, masing-masing dilindungi oleh formasi kecil transparan.
* Senjata : Pedang, tombak, kapak, busur, palu, belati, dan lainnya.
* Berbagai Artefak : Pelindung, Peningkatan, dan lainnya.
* Zirah berkualitas tinggi.
* Pil dalam botol giok.
* Batu roh dengan berbagai warna.
* Bahan langka dari binatang buas.
Lyra menghela napas pelan. “Energinya… sangat padat.”
"Lyra kau harus berhati-hati, setiap dinding ruangan Paviliun ini, di jaga oleh para pasukan bayangan. Pemilik Paviliun ini bukanlah orang sembarangan." suara Kakek Tua itu muncul kembali dalam pikiran Lyra.
Lyra hanya mengangguk tak membalas.
Ren Zen yang berdiri disebelahnya tidak begitu memperhatikan tingkah Lyra. Ia masih terdiam membisu, menyaksikan isi paviliun itu.
"Tidak salah Paviliun ini disebut Paviliun Harta Karun." batinnya.
Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan pakaian elegan segera menghampiri mereka. Rambutnya disanggul rapi, senyumnya profesional namun ramah.
“Selamat datang di Paviliun Harta Karun,” katanya lembut. “Apakah Tuan dan Nona memerlukan bantuan?”
Ren Zen mengangguk sopan. “Kami ingin melihat-lihat.”
“Dengan senang hati. Saya akan mendampingi Tuan dan Nona.”
Mereka pun mulai berkeliling. Melihat-Lihat Senjata dan Artefak. Pelayan wanita itu, membawa mereka ke bagian senjata terlebih dahulu.
Di depan mereka terpajang pedang panjang dengan bilah kebiruan.
“Pedang ini ditempa dari baja terbaik yang terdapat di Pegunungan Timur. Diperkuat dengan inti binatang buas puluhan ribu tahun.”
Lyra mendekat sedikit. Ia tidak menyentuhnya, hanya menatap.
Ren Zen memperhatikan detailnya. “Kualitasnya cukup bagus.”
Pelayan itu tersenyum. “Tuan memiliki mata yang tajam.”
Mereka lalu berpindah ke bagian artefak. Sebuah gelang perak kecil berkilau di balik formasi pelindung.
“Ini artefak pertahanan. Mampu menahan tiga serangan penuh dari kultivator ranah Suci.” Lyra memiringkan kepala. “Menarik… tapi energinya terlalu berat.”
Pelayan wanita itu terkejut.
Lyra hanya melihat sekilas, tapi bisa menilai karakteristik artefak.
Ren Zen melirik Lyra. Ia semakin sadar bahwa gadis ini memang tidak sederhana.
Mereka lanjut ke bagian pil. Aroma herbal memenuhi udara. Botol-botol giok berisi pil peningkat kultivasi, pil penyembuhan, hingga pil terobosan tingkat tinggi.
Lyra tersenyum. “Kalau semua ini aku makan sekaligus, mungkin aku langsung meledak.”
Ren Zen tertawa kecil. "Coba saja jika kau tidak ingin hidup lama.”
Suasana santai. Hingga—
“Ren Zen?”
Suara wanita terdengar dari koridor sebelah.
Ren Zen menoleh, ia tersenyum tipis. Dua sosok wanita berjalan mendekat kearah mereka berdua.
Wanita pertama memiliki wajah cantik dengan garis tegas dan ekspresi dingin. Rambut hitamnya diikat tinggi, dan sebuah pedang tergantung di pinggangnya. Langkahnya mantap dan terkontrol.
Dia adalah putri tunggal Jendral Ke-3.
Mie Zar.
Usianya 20 tahun.
Di sampingnya, seorang gadis dengan aura lembut dan bola mata biru cerah. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Wajahnya manis dan bersahabat.
Dia adalah putri bungsu Jendral Ke-2.
Thia Du.
Usianya 16 tahun.
“Jadi benar kau sudah kembali,” kata Mie Zar dengan suara datar namun jelas mengandung ketertarikan.
Thia Du tersenyum ceria. “Lama tidak bertemu, Ren!”
Ren Zen tersenyum tulus. "Mie Zar. Thia Du. Kalian disini juga.”
“Ya. Seharusnya kamilah yang berkata begitu Ren. Kau benar-benar pergi tanpa kabar selama dua tahun ini! Kami semua tidak menyangka!” balas Thia Du.
Ren Zen mengusap tengkuknya. “Aku juga tidak menyangka akan selama itu.”
Mie Zar menatapnya tajam. “Kudengar kau pergi meninggalkan istana untuk berlatih?”
Ren Zen tersenyum tipis. “Ya begitulah.”
Mie Zar mendengus pelan. “Baguslah. Aku tidak ingin kau mengecewakan keluarga kekaisaran, seperti kakakmu Ray Zen.”
Lalu tatapan keduanya tertuju pada Lyra. Thia Du memiringkan kepala. “Siapa wanita ini Ren? Jangan bilang...”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terusss........
lanjutkan dgn semangat bintang d langit,thor
lanjut dgn smngat bintang d langit,thor
reader yg setia masih menanti update yg terbaru