NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Diawasi

“Dari mana kamu dapat itu?” suara Gio rendah.

Jantung Sasha berdegup makin kencang. Beberapa detik kemudian, Gio menutup telepon dengan keras.

Sasha menatapnya. “Apa yang terjadi?”

Gio menoleh pelan. Tatapannya kali ini bukan dingin, tapi serius. Sangat serius.

“Foto,” katanya singkat.

“Foto apa?”

Gio menatapnya lurus. “Foto kamu.”

Dunia Sasha seperti berhenti.

“Foto… apa?”

“Foto kamu bersama adikku. Di sebuah tempat parkir. Malam hari. Sudah beredar di beberapa forum bisnis dan grup internal media.”

Sasha menggeleng cepat. “Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah—”

“Besok pagi, itu bisa sampai ke media,” potong Gio.

Sasha merasa kakinya lemas.

“Tapi aku tidak pernah bertemu dia seperti itu… aku tidak pernah…”

Gio mendekat. “Itulah masalahnya.”

Sasha menatapnya dengan napas memburu. Seseorang bukan hanya menyebarkan gosip.Seseorang punya foto.

Foto yang bahkan Sasha sendiri tidak tahu kapan diambil. Dan di detik itu, Sasha sadar, permainan ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Sasha mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh dinding.

“Aku tidak pernah… aku tidak pernah bertemu adikmu di parkiran mana pun,” suaranya bergetar. “Aku bahkan jarang melihatnya.”

Gio menatapnya tajam. “Aku tahu.”

“Kamu… percaya padaku?” Sasha hampir tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri.

Gio tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke meja, menuangkan air ke gelas, lalu menyerahkannya pada Sasha.

“Minum.”

Sasha menerima gelas itu dengan tangan gemetar.

“Aku tidak peduli kamu hamil atau tidak,” lanjut Gio pelan. “Tapi satu hal yang aku tahu sejak awal—kamu bukan tipe perempuan yang cukup cerdik untuk merancang jebakan sebesar ini.”

Kalimat itu anehnya terasa seperti pembelaan.

Sasha menatapnya. “Jadi kamu sadar dari awal kalau aku dijebak?”

“Aku sadar ini terlalu rapi untuk sekadar kebetulan,” jawab Gio.

“Lalu kenapa kamu tetap menikahiku?”

Gio terdiam sejenak. “Karena menikahimu adalah cara tercepat untuk menghentikan serangan itu sementara waktu.”

Sasha memejamkan mata. Jadi benar. Ia bukan istri. Ia tameng.

“Tapi sekarang,” lanjut Gio, “mereka mulai naik level.”

“Mereka?” tanya Sasha cepat.

Gio menatapnya. “Orang yang melakukan ini tidak sendirian.”

Jantung Sasha kembali berdegup keras.

“Apa maksudmu?”

“Foto itu diambil dari sudut yang tinggi. Seperti dari CCTV atau kamera pengawas. Itu bukan foto ponsel biasa.”

Sasha mencoba mengingat. Parkiran. Malam hari. Kepalanya terasa penuh.

“Aku pernah… sekali,” katanya pelan. “Aku pernah berhenti di parkiran minimarket karena motorku mogok. Ada mobil hitam parkir di sebelahku. Tapi aku tidak melihat siapa pun di dalamnya.”

Gio langsung menoleh. “Kapan?”

“Beberapa minggu sebelum gosip itu menyebar.”

Tatapan Gio berubah tajam. “Itu bukan kebetulan.”

Sasha merasakan kedinginan merayap di kulitnya.

“Ada yang mengikuti aku?” bisiknya.

Gio tidak menjawab, tapi wajahnya sudah cukup memberi jawaban.

Tiba-tiba, Sasha merasa sesak.

Berarti selama ini… setiap langkahnya mungkin diawasi.

Setiap geraknya dicatat.

“Kenapa aku?” tanya Sasha lirih. “Kenapa bukan orang lain?”

Gio menatapnya lama. “Karena kamu orang biasa.”

Sasha mengerutkan kening.

“Orang biasa lebih mudah dihancurkan. Lebih mudah disalahkan. Dan lebih mudah dipaksa diam,” lanjut Gio.

Kalimat itu terasa pahit, tapi masuk akal.

Sasha terduduk di sofa. “Aku merasa seperti bidak catur.”

“Kamu memang bidak,” jawab Gio jujur. “Tapi sekarang kamu bidak yang sadar sedang dimainkan.”

Sasha menatapnya. “Dan kamu?”

Gio tersenyum tipis. “Aku pemain yang mulai sadar ada pemain lain di luar papan.”

Hening menyelimuti mereka.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini, Sasha tidak melihat Gio sebagai musuh. Tapi sebagai seseorang yang juga sedang diserang.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sasha berdiri di dekat jendela kamarnya, memandangi halaman yang gelap dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Rumah megah ini tidak lagi terasa seperti penjara yang dingin, tapi seperti panggung besar tempat ia sedang diawasi tanpa henti. Setiap bayangan pohon, setiap sudut taman, seolah menyimpan mata yang mengintainya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa terjebak—ia merasa sedang diburu oleh sesuatu yang tak terlihat.

Di sisi lain rumah, Gio berdiri lama di ruang kerjanya tanpa benar-benar bekerja. Pikirannya berputar cepat, menyusun potongan-potongan kejadian yang selama ini ia abaikan. Gosip yang terlalu rapi, kemunculan foto, tatapan Rafael, dan telepon misterius barusan. Semua bukan kebetulan. Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, Gio menyadari satu hal yang membuatnya jauh lebih gelisah daripada reputasi keluarganya sendiri: Sasha mungkin bukan sekadar alat dalam permainan ini, melainkan kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ponsel Sasha tiba-tiba bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Sasha ragu, tapi tetap mengangkat.

“Halo?”

Beberapa detik tidak ada suara.

Lalu terdengar napas pelan di seberang.

“Sasha,” suara pria terdengar rendah. Tenang. Dingin.

Tubuh Sasha langsung menegang.

“Siapa ini?”

“Bagaimana rasanya tinggal di rumah besar itu?”

Darah Sasha seperti berhenti mengalir.

Ia menatap Gio dengan mata membesar.

“Siapa kamu?” suaranya mulai gemetar.

“Ternyata kamu cocok juga jadi istri keluarga Wijaya.”

Klik.

Telepon terputus.

Sasha menurunkan ponsel dengan tangan gemetar.

Gio langsung mendekat. “Siapa?”

“Aku tidak tahu… tapi dia tahu aku di sini.”

Wajah Gio mengeras.

“Apa yang dia bilang?”

Sasha menelan ludah. “Dia bilang… bagaimana rasanya tinggal di rumah besar ini.”

Rahang Gio menegang.

“Itu bukan kebetulan,” katanya pelan.

Sasha merasa napasnya semakin pendek. “Dia mengawasiku, Gio. Dia benar-benar mengawasiku.”

Gio menatap sekeliling rumah seolah dinding pun bisa mendengar.

“Mulai malam ini, kamu tidak boleh sendirian di area rumah mana pun tanpa memberi tahu staf,” katanya tegas.

“Apa aku dalam bahaya?”

Gio menatapnya lama sebelum menjawab, “Kita berdua sudah ada di dalam bahaya sejak kamu masuk ke rumah ini.”

Sasha memeluk dirinya sendiri.

Ketakutannya kini bukan lagi tentang pernikahan paksa.

Tapi tentang seseorang yang bermain dalam bayangan.

Seseorang yang tahu setiap langkahnya dan yang paling menakutkan…

Seseorang yang menikmati semua ini.

Sasha merasa lututnya melemas. Ia duduk kembali tanpa sadar, sementara pikirannya berputar liar mencoba mencerna semuanya.

“Gio…” suaranya nyaris seperti bisikan. “Kalau dia tahu aku di sini… berarti dia bisa melihat rumah ini.”

Gio tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu langit-langit, sudut ruangan, lalu jendela besar di sisi kanan.

“Bukan melihat rumahnya,” katanya pelan. “Tapi melihat kamu.”

Kalimat itu membuat tengkuk Sasha meremang.

“Mulai sekarang, tirai kamar tidak boleh dibuka malam hari. Pintu balkon dikunci. Dan jangan berdiri terlalu lama di dekat jendela,” lanjut Gio tegas.

Sasha menelan ludah. “Seperti… aku sedang diawasi sniper?”

Gio tidak tersenyum. Itu yang membuatnya semakin menakutkan.

“Aku akan minta teknisi cek ulang semua CCTV malam ini.”

“Kamu pikir… sistem rumah ini bisa diretas?”

“Kalau orang itu bisa mendapatkan foto dari sudut setinggi itu, dia punya akses ke sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa.”

Sasha terdiam sejenak, ucapan orang itu kembali terngiang di telinganya dan membuat kepalanya berdenyut. Berarti lawan mereka bukan hanya iseng, juga bukan hanya gosip murahan.

Semua ini terencana. Terstruktur dan sudah berjalan cukup lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!