NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Pelukan di Tengah Hampa

Adrian berdiri mematung di atas permukaan air yang tenang banget, saking tenangnya sampai pantulan dirinya di bawah sana kelihatan lebih nyata daripada aslinya.

Di sekelilingnya, ribuan sosok "Adrian" dari berbagai umur cuma berdiri diam, nggak gerak sedikit pun, kayak patung-patung di museum yang nunggu jam tutup. Suasananya sunyi, tipe sunyi yang bikin kuping berdenging karena nggak ada suara angin atau mesin sama sekali.

Di depannya, sosok wanita yang sangat dia kenali ibunya berdiri dengan zirah perak yang bersinar lembut. Tapi kali ini, zirah itu nggak kelihatan mengancam. Nggak ada aura haus darah atau niat jahat. Malah, ada rasa sedih yang sangat dalam terpancar dari matanya.

"Bu... apa lagi ini?" suara Adrian berat. Dia nggak lagi emosional kayak anak kecil yang tantrum. Dia berdiri tegak, bahunya lebar, dan tatapannya tajam. "Sekar sama Aris mana? Kenapa mereka ilang dari jangkauan gua?"

Ibunya melangkah maju. Tiap langkahnya di atas air menimbulkan riak kecil yang berwarna perak. "Mereka aman, Adrian. Mereka ada di jalur transmisi utama menuju menara cahaya. Tapi kamu... Ibu terpaksa ngebajak sinyal kamu. Ibu harus narik kamu ke sini, ke 'Ruang Antara', sebelum kamu bener-bener nyentuh inti The Harvester."

"Narik gua? Bu, di luar sana lagi kiamat! Kapal induk itu lagi mulai proses penghapusan fisik! Gua harus di sana buat matiin sistemnya!" Adrian mengepalkan tangannya. Energi emas di nadinya berdenyut-denyut, seolah-olah mau nembus ruang hampa itu buat balik ke dunia nyata.

"Itu bunuh diri, Nak," bisik ibunya. Dia sekarang sudah berdiri tepat di depan Adrian, tangannya yang terbungkus logam perak halus menyentuh pipi Adrian.

"Kamu pikir Bokap kamu kasih tahu semuanya? Dia cuma kasih tahu setengah kebenaran. Iya, kamu bisa jadi virus buat sistem mereka, tapi harganya bukan cuma raga kamu.

Begitu kamu nyentuh inti itu, jiwa kamu bakal dijadiin 'makanan' buat siklus baru mereka. Kamu nggak bakal mati, tapi kamu bakal terjebak jadi sistem operasi tanpa rasa selama ribuan tahun."

Adrian terdiam. Dia menatap ribuan sosok dirinya yang ada di sekitar. "Jadi ini semua... ribuan raga ini...?" "Ini adalah tempat persembunyian yang Ibu siapin selama puluhan tahun," ibunya menoleh ke arah barisan Adrian yang lain.

"Ibu tahu The Harvester bakal dateng. Ibu tahu ambisi Bokap kamu nggak bakal bisa dihentiin. Jadi, Ibu kerja di dalem sistem mereka sebagai panglima, cuma buat satu tujuan yaitu nyiptain celah di ruang data ini supaya Ibu bisa nyimpen kamu di sini. Di sini, mereka nggak bisa nemuin kamu. Kamu bisa hidup abadi di dalem memori-memori indah ini, jauh dari perang, jauh dari kehancuran bumi."

Adrian pelan-pelan ngelepasin tangan ibunya dari pipinya. Dia nggak kasar, tapi dia tegas. "Ibu mau gua hidup di dalem toples sementara temen-temen gua mati di luar sana? Ibu mau gua jadi satu-satunya yang selamat di dunia yang isinya cuma bayangan?"

"Ini demi keselamatan kamu, Adrian! Ibu udah kehilangan segalanya buat proyek ini. Ibu nggak mau kehilangan anak Ibu!" suara ibunya mulai bergetar. "Bu, liat gua," Adrian megang balik tangan ibunya. Kekuatannya sekarang kerasa sangat stabil, nggak lagi meluap-luap nggak karuan.

"Gua bukan lagi bayi di dalem tabung yang perlu Ibu lindungin dengan cara disembunyiin. Gua udah liat penderitaan Sekar. Gua udah liat pengorbanan Wak Haji. Gua udah liat kegilaan Bokap. Kalau gua diem di sini sementara bumi di-format ulang, berarti gua nggak ada bedanya sama mesin-mesin dingin itu."

Adrian melihat ke langit ruang hampa yang gelap. "Ibu bilang Ibu pengen gua selamat. Tapi selamat buat apa kalau gua nggak punya harga diri lagi sebagai manusia? Gua lebih milih hancur bareng bumi daripada hidup selamanya di dalem kotak cantik buatan Ibu."

Ibunya nunduk. Air mata perak menetes di zirahnya. "Kamu bener-bener mirip sama kakek buyut kamu. Keras kepala dan terlalu cinta sama tanah itu." "Itu karena tanah itu yang ngajarin gua arti hidup, Bu. Bukan zirah perak ini, bukan juga kode digital di otak gua," Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh keyakinan. "Sekarang, balikin gua ke transmisi. Gua harus nyusul Sekar sama Aris."

Ibunya narik napas panjang, seolah-olah lagi ngelepasin beban yang sangat berat. Dia ngangkat tangannya ke udara, dan seketika ribuan sosok Adrian yang lain mulai pudar, berubah jadi partikel cahaya yang muter-muter kayak badai salju emas.

"Ibu nggak bisa balikin kamu ke jalur yang sama," kata ibunya. "Jalur itu udah dideteksi sama sistem keamanan pusat. Tapi, Ibu bisa kasih kamu jalur pintas yang langsung nuju ke 'Ruang Mesin Jiwa'. Itu adalah titik paling lemah di kapal induk, tapi juga tempat yang paling panas radiasinya."

Ibunya mendekat lagi, kali ini dia meluk Adrian kenceng banget. "Ibu bakal buka gerbangnya. Tapi begitu Ibu buka, keberadaan Ibu di sistem ini bakal ketahuan. Ibu bakal dianggap pengkhianat dan kesadaran Ibu bakal dihapus secara permanen." Adrian kaget. "Tunggu, kalau gitu Ibu."

"Jangan khawatir soal Ibu, Nak. Ibu udah hidup terlalu lama di antara dua dunia. Ibu capek. Ibu cuma pengen liat anak Ibu jadi 'Akar' yang bener-bener kuat. Di dalem zirah Ibu ini, ada sebuah kode enkripsi. Ibu bakal transfer ke jantung emas kamu. Ini adalah kunci buat ngelepasin semua raga manusia yang udah diuap tadi supaya mereka bisa balik ke bumi."

Cahaya perak mengalir dari dada ibunya masuk ke dada Adrian. Rasanya hangat, kayak dipeluk sinar matahari pagi di puncak Malabar. Adrian ngerasa pengetahuannya tentang kapal induk itu makin lengkap. Dia bukan lagi cuma tahu cara ngerusak, tapi dia tahu cara memulihkan.

"Lari, Adrian. Jangan nengok ke belakang," bisik ibunya. Tiba-tiba, ruang hampa itu mulai retak. Suara alarm yang sangat nyaring terdengar dari segala arah. Langit yang gelap berubah jadi warna merah menyala. Sebuah lubang cahaya muncul di bawah kaki Adrian.

"Bu! Ibu ikut gua!" teriak Adrian sambil nyoba nangkep tangan ibunya. Tapi ibunya justru mundur. Dia ngangkat pedang peraknya, berdiri tegak menghadap kegelapan yang mulai ngeluarin ribuan tentakel hitam digital sistem pertahanan otomatis The Harvester.

"Tugas Ibu udah selesai, Sayang. Sekarang, tunjukin sama mereka kalau manusia bukan cuma parasit. Tunjukin kalau kita adalah pemilik sah dari perasaan ini!" Adrian jatuh ke dalem lubang cahaya itu. Hal terakhir yang dia liat adalah sosok ibunya yang mungil berdiri sendirian ngelawan badai hitam yang sangat besar, sambil tersenyum ke arahnya.

WUUUUUSSSHHHH!

Adrian mendarat dengan keras di sebuah lantai logam yang sangat panas. Suasana di sekelilingnya sangat gila. Dia ada di sebuah ruangan raksasa yang isinya adalah pipa-pipa transparan berisi cairan bercahaya biru jiwa manusia yang sedang diproses.

Di tengah ruangan, ada sebuah bola raksasa yang terus berdenyut, ngeluarin gelombang elektromagnetik yang bikin pandangannya goyang. "Adrian! Lu telat lima menit!" suara Aris kedengeran dari balik sebuah pilar.

Adrian berdiri, dia liat Aris lagi sibuk nembakin robot-robot penjaga pake senapan besarnya. Badannya Aris udah banyak yang lecet, kabel-kabel di tangan mekaniknya banyak yang putus dan ngeluarin percikan api.

"Sekar mana?!" tanya Adrian sambil lari nyamperin Aris. "Dia di atas sana! Lagi nyoba buat sinkronisasi memori leluhur ke konsol utama!" Aris nunjuk ke arah sebuah platform tinggi yang ada di atas bola raksasa itu.

Adrian liat Sekar lagi berdiri di sana, dikelilingi sama ribuan kabel yang nempel di punggungnya. Wajahnya kelihatan kesakitan banget, matanya merem rapat, dan badannya gemeteran hebat.

"Gua harus ke sana!" Adrian mau loncat, tapi tiba-tiba lantai di depan dia meledak.

Sesosok makhluk muncul dari dalem ledakan itu. Bukan robot, bukan Cleaner.

Bentuknya persis kayak Adrian, tapi badannya terbuat dari kristal perak yang bening. Di wajahnya nggak ada ekspresi, cuma ada simbol matahari di jidatnya. "Itu adalah 'The Avatar'," Aris teriak sambil terus nembak.

"Sistem pertahanan terakhir! Dia punya semua kemampuan lu, tapi nggak punya rasa sakit!" Adrian maju. Dia nggak takut. Dia ngerasa energi dari ibunya dan energi emas dari jantungnya nyatu jadi satu kekuatan yang solid. "Ris, lu urusin kroco-kroconya! Biar si kaca ini gua yang urus!"

Adrian nerjang si Avatar perak itu. Pertarungannya nggak kayak di film-film yang penuh ledakan gede, tapi lebih ke pertarungan energi yang diem tapi mematikan. Tiap kali tinju mereka beradu, udara di sekitarnya seolah-olah kesedot, bikin suara ledakan vakum yang nyaring.

Si Avatar gerakannya sangat efisien. Dia bisa baca gerakan Adrian sebelum Adrian gerak. Tapi Adrian punya satu kelebihan: kreativitas emosi. Dia nggak nyerang dengan pola yang teratur. Dia nyerang pake amarah, pake kesedihan, dan pake harapan.

DUM!

Adrian dapet pukulan telak di perut, bikin dia terpental nabrak pipa jiwa. Pipa itu retak, dan sedikit cairan biru keluar nyentuh punggung Adrian. Seketika, Adrian dapet penglihatan ribuan memori manusia ada yang lagi jatuh cinta, ada yang lagi nangis kehilangan anak, ada yang lagi ketawa sama temen-temennya.

Kekuatan dari memori-memori itu masuk ke dalem diri Adrian. Dia berdiri lagi, matanya sekarang nggak cuma warna emas, tapi ada semburat warna biru kehidupan.

"Lu cuma mesin yang niru rupa gua," kata Adrian ke si Avatar. "Lu nggak bakal pernah tahu rasanya berjuang demi orang lain!" Adrian lari lagi, kali ini lebih cepet. Dia nggak mukul, tapi dia megang kepala si Avatar, terus dia ngalirin seluruh energi enkripsi dari ibunya langsung ke inti kristal makhluk itu.

KREEEEAAAKKK!

Si Avatar perak mulai retak. Cahaya biru memancar dari dalem badannya, dan perlahan-lahan dia hancur jadi butiran debu kristal. Adrian nggak buang waktu. Dia langsung loncat ke arah platform tempat Sekar berada. Dia narik semua kabel yang melilit Sekar satu per satu.

"Kar! Bangun, Kar! Gua di sini!" Adrian meluk Sekar. Sekar ngebuka matanya pelan. Matanya sekarang bener-bener perak murni, tanpa ada pupil. Dia natap Adrian, tapi tatapannya bukan tatapan Sekar yang dia kenal.

"Adrian... prosesnya nggak bisa dihentiin," bisik Sekar. Suaranya bergema, kayak ada ribuan orang yang ngomong barengan. "Kapal ini udah mulai proses 'Pelepasan Inti'. Bumi bakal tetep diledakin buat jadi debu luar angkasa supaya energinya bisa dibawa pulang."

"Gak, kita punya kuncinya sekarang! Ibu gua udah kasih kodenya!" Adrian nyoba nempelin tangannya ke konsol utama. Tapi tiba-tiba, sebuah suara tawa yang sangat dikenal bergema di seluruh ruangan itu. Tawa yang bikin bulu kuduk Adrian berdiri.

"Sayang sekali, Adrian. Kunci dari Ibu kamu itu cuma setengah dari teka-tekinya."

Adrian noleh ke arah bola raksasa di tengah ruangan. Di dalem bola itu, pelan-pelan muncul sosok manusia yang lagi duduk bersila.

Sosok itu nggak pake zirah, nggak pake jas. Dia cuma pake baju kaos putih sederhana dan celana jeans, persis kayak penampilan Adrian kalau lagi santai di gubuk Malabar. Tapi yang bikin horor, wajahnya adalah wajah Adrian yang paling "asli" versi raga yang lahir dari rahim ibunya yang selama ini dia cari.

"Kenalin, gua adalah kesadaran 'The Harvester' yang sebenernya," ucap sosok itu sambil buka mata. Matanya bukan perak, bukan emas, tapi hitam pekat kayak lubang hitam. "Bokap lu emang jenius, dia berhasil masukin virus ke sistem gua. Tapi dia lupa satu hal virus itu butuh inang yang sempurna buat bisa aktif. Dan inang itu bukan lu, Adrian palsu..."

Sosok itu nunjuk ke arah Sekar. "Inang yang sebenernya adalah Sekar. Karena dia adalah satu-satunya manusia asli yang punya DNA alien murni di dalem darahnya. Dan sekarang, Sekar sudah jadi bagian dari sistem gua."

Seketika, kabel-kabel yang tadi dilepas Adrian mendadak hidup lagi dan melilit Sekar lebih kenceng. Sekar teriak kesakitan, dan dari dadanya mulai keluar cahaya hitam yang mulai "makan" energi emas dari tangan Adrian.

"Sekarang pilih, Adrian," ucap sosok itu sambil tersenyum licik. "Lu mau matiin sistem ini dan bunuh Sekar selamanya, atau lu biarin bumi hancur tapi Sekar tetep hidup sebagai bagian dari gua?"

Adrian membeku. Di depannya, Sekar mulai berubah jadi kristal hitam, dan di kejauhan, dia liat lewat jendela kapal, permukaan bumi sudah mulai retak-retak mengeluarkan cahaya merah api yang menandakan ledakan besar tinggal hitungan detik.

Pilihan mustahil apa yang akan diambil Adrian di tengah detik-detik kehancuran bumi? Benarkah Sekar harus dikorbankan demi menyelamatkan sisa umat manusia, ataukah ada cara ketiga yang disembunyikan dalam kode enkripsi terakhir ibunya?

Dan siapakah sosok "Adrian Asli" yang sekarang menjadi otak dari The Harvester tersebut apakah itu benar raga aslinya yang telah dicuci otak, ataukah hanya trik terakhir untuk menghancurkan mental Adrian?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!